1 November 2026
Mikha Tambayong Merayakan Perubahan dan Berteman dengan Waktu
PHOTOGRAPHY BY IKMAL AWFAR
Styling Ismelya Muntu
Shanghai selalu terasa seperti kota yang menolak dipahami dalam sekali pandang. Dari balik jendela mobil yang melaju di sepanjang tepian Huangpu, gedung-gedung kaca memantulkan langit pucat, sementara bangunan-bangunan tua berdiri tenang, menyimpan percakapan yang telah berlangsung jauh sebelum kota ini menjadi salah satu pusat modernitas Asia. Masa lalu dan masa depan tidak saling meniadakan di sini. Keduanya hidup berdampingan, seperti dua lapisan waktu yang terus bergerak dalam satu lanskap. Pagi itu, perjalanan ELLE menuju lokasi pemotretan membawa kami melintasi wajah Shanghai yang berlapis: jalan-jalan lebar, pepohonan yang mulai menguning di penghujung musim, serta ritme kota yang bergerak cepat tanpa kehilangan perhatian pada detail. Ada sesuatu yang menarik dari kota ini—perubahan tidak datang untuk menghapus apa yang telah ada sebelumnya, melainkan menambahkan lapisan baru di atasnya.
Di sebuah ruang yang dipenuhi cahaya, Mikha Tambayong berdiri di hadapan kamera, mengenakan perhiasan Bvlgari dalam semangat Kaleidos—sebuah perayaan atas pertemuan warna, cahaya, budaya, dan perspektif. Selama empat tahun terakhir, Mikha telah menjadi bagian dari perjalanan Bvlgari, sebuah hubungan yang mempertemukan dirinya dengan Maison yang berakar di Roma, tetapi terus menemukan cara baru untuk berbicara dengan dunia. Kali ini, pertemuan itu berlangsung di Shanghai, kota yang seperti Bvlgari sendiri, menyimpan banyak lapisan sejarah sekaligus terus bergerak menuju masa depan.
Sesaat sebelum shutter berbunyi, ia menundukkan kepala, membiarkan rambutnya jatuh perlahan. Perhiasan yang dikenakannya menangkap cahaya dari berbagai sudut, tetapi yang lebih menarik justru adalah jeda-jeda di antara pengambilan gambar: ketika musik dipelankan, kru merapikan detail terakhir, dan percakapan kecil mengalir di antara pergantian look. Di sanalah sosok di balik bingkai terasa lebih dekat—seorang perempuan yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya di depan kamera, tetapi kini semakin tahu kapan ia ingin dilihat dan kapan ia ingin kembali kepada dirinya sendiri.
Usianya baru menginjak 32 tahun, tetapi ada ketenangan tertentu dalam cara Mikha memandang fase hidupnya sekarang. Ia memilih warna biru muda untuk menggambarkannya—sky blue, sea blue, ocean blue, warna yang menurutnya memiliki keluasan dan ketenangan. “Sekarang saya merasa lebih tenang, lebih luas seperti ocean. Full of contentment,” katanya. Ketenangan itu bukan datang karena hidup telah selesai dengan segala pertanyaannya. Justru sebaliknya. Mikha masih memiliki mimpi, ambisi, proyek, dan keinginan yang belum tercapai. Yang berubah adalah cara ia memandang semuanya. Dulu, bergerak maju terasa seperti kewajiban; sekarang, ia mulai memahami bahwa tidak setiap gerak harus lahir dari kegelisahan.
Perubahan itu juga mengubah hubungannya dengan masa lalu. Tumbuh di depan publik sejak usia muda membuatnya pernah melihat popularitas sebagai sesuatu yang harus ditanggung. Platform yang dimilikinya terasa seperti beban karena berarti kehilangan sebagian kehidupan yang normal dan privat. Kini ia melihatnya dari tempat yang berbeda. “Saya sekarang melihat pekerjaan saya, platform yang saya punya sebagai blessing, sebagai kesempatan untuk bisa lebih berdampak untuk lingkup yang lebih luas,” ujarnya.

Ada pergeseran yang penting di sana. Menjadi figur publik tidak lagi semata-mata berarti hidup dengan sorotan, melainkan memiliki kemungkinan untuk menggunakan sorotan itu bagi sesuatu yang lebih berarti. Setelah bertahun-tahun berada di industri yang akrab dengan angka—popularitas, pekerjaan, eksposur, pencapaian—Mikha mulai menggunakan ukuran yang jauh lebih sederhana untuk mendefinisikan keberhasilan. “Untuk bisa tahu bahwa ada seseorang yang hidupnya dimudahkan, jadi lebih mudah, atau bahkan berubah karena ada sedikit atau banyak pengaruh dari saya, itu sudah luar biasa,” katanya. “Just to have one life that is being changed for the better because of me, itu sudah a huge success to celebrate.” Ukuran tersebut terasa sederhana justru karena tidak membutuhkan pembuktian yang besar. Satu kehidupan yang menjadi sedikit lebih baik sudah cukup untuk memberi makna pada semua yang ia lakukan.
Barangkali di titik inilah Mikha mulai memahami bahwa dirinya tidak pernah benar-benar bisa diringkas oleh pekerjaan. Aktris, penyanyi, pengusaha, bahkan perannya sebagai istri, semuanya merupakan bagian dari hidupnya, tetapi bukan inti dari siapa dirinya. “Saya ingin menjadi manusia yang baik hatinya, manusia yang terus peka, mau punya empati tinggi, terus berusaha untuk menjadi versi terbaik diri saya,” katanya. “Dan itu lebih besar dari semua peran-peran yang saya jalankan di dunia ini.” Ada sesuatu yang dewasa dalam pemikiran tersebut: kesadaran bahwa peran dapat berubah, sementara nilai yang dibawa ke dalam setiap peran itulah yang seharusnya tetap dijaga.
Pandangan itu kemudian berpengaruh pada cara Mikha bekerja. Tahun ini ia kembali ke layar lebar melalui Gak Ada Matinya. Namun setelah bertahun-tahun menjalani berbagai karakter, film kini tidak lagi semata-mata menjadi medium untuk memastikan dirinya tetap berkarya. Ia telah sampai pada posisi di mana kesempatan untuk memilih menjadi bagian dari pekerjaannya. Sepuluh tahun lalu, pilihan itu belum sebesar sekarang. Ketika sebuah proyek datang, ada dorongan untuk menerimanya agar tetap produktif dan terus berkarya. Kini, ketika film bukan satu-satunya medium yang tersedia baginya, ia bisa memberi dirinya waktu untuk menunggu cerita yang benar-benar terasa tepat.
“Sekarang saya lebih selektif, bisa lebih idealis dalam memilih karakter,” katanya. Yang menarik, selektivitas itu bukan hanya tentang karakter. Mikha mulai memilih berdasarkan energi, waktu, cerita, orang-orang di balik proyek, dan apakah dirinya merasa mampu memberikan sesuatu yang utuh. Ia percaya bahwa sebuah karakter akan menemukan aktornya sendiri, sebuah film menemukan pembuatnya, dan sebuah lagu menemukan penyanyinya. Dengan demikian, “kesempatan besar” pun mengalami perubahan makna. Bukan lagi tentang seberapa besar sebuah proyek terlihat dari luar, tetapi apakah semua elemennya terasa tepat ketika dijalani dari dalam.
Setiap karakter yang pernah ia mainkan, menurut Mikha, meninggalkan sesuatu. Proses mendalami seseorang selama berbulan-bulan membuat batas antara dirinya dan karakter perlahan menjadi lebih permeabel. Tidak selalu berarti ia membawa sifat karakter itu pulang, tetapi ia membawa sesuatu yang lebih penting: kemampuan untuk memahami orang lain dari sudut yang berbeda. “Kadang-kadang apa yang karakter lakukan mungkin tidak fully saya setujui. Tapi itu yang membangun kepekaan saya sebagai seorang manusia,” katanya. “Orang-orang di sekeliling saya tidak selalu berpikir sama dengan saya karena cara mereka dibesarkan berbeda, pengalaman mereka berbeda, who we surround ourselves with is different.” Akting, dengan demikian, bukan hanya pekerjaan untuk memainkan orang lain. Ia menjadi latihan empati—sebuah cara untuk memahami bahwa perbedaan pilihan sering kali berakar pada sesuatu yang tidak selalu terlihat.
Jika akting memberinya kesempatan untuk masuk ke kehidupan orang lain, musik memberinya jalan pulang. “Musik adalah rumah untuk saya,” katanya. “Rasa nyamannya, rasa rindunya, rasa bahagianya, bahkan rasa sakitnya tidak bisa saya temukan di hal lainnya.” Musik telah menjadi bagian dari hidup Mikha jauh sebelum karier profesionalnya terbentuk. Ia tumbuh dalam rumah yang penuh musik dan menggunakannya bukan hanya untuk menggambarkan perasaan, tetapi untuk menyalurkannya. Bahkan ketika sedang mempersiapkan sebuah karakter, ia kerap membayangkan lagu apa yang mungkin didengarkan karakter tersebut.

Tahun ini, musik kembali mendapat ruang yang lebih besar. Album yang sedang dipersiapkannya merupakan kumpulan pengalaman dan perasaan dari sebuah fase kehidupan yang mengubah cara pandangnya terhadap banyak hal. Beberapa lagu ditulisnya sendiri, sebagian lahir dari pengalaman orang lain yang diceritakan kepadanya. Ia ingin album itu menjadi lebih dari sekadar potret personal. “Saya ingin orang yang mendengarkan album ini bisa menggunakan album ini untuk tell a story about themselves juga,” ujarnya. “Saya ingin ini menjadi semacam pelukan hangat untuk yang mendengar.” Ada bagian dirinya yang mungkin lebih mudah terdengar daripada terlihat. Mikha mengaku bukan orang yang terlalu ekspresif. Karena itu, musik menjadi tempat untuk menyampaikan perasaan-perasaan kecil yang tidak selalu mudah diterjemahkan melalui wajah atau kata-kata sehari-hari. Namun menjadi performer tetap berarti memiliki tanggung jawab kepada orang yang mendengarkan. Ia ingin musiknya jujur, tetapi juga ingin menyampaikannya dengan baik. Teknik, menurutnya, tetap penting karena latihan yang terus-menerus memungkinkan seorang penyanyi berhenti memikirkan teknis ketika berada di atas panggung, lalu benar-benar hadir di dalam rasa. Di situlah musik bagi Mikha menemukan keseimbangannya: antara keinginan untuk didengar dan kebutuhan untuk mengatakan sesuatu, antara profesi dan kejujuran.
Di luar film dan musik, Mikha juga membangun dunia lain melalui entrepreneurship, termasuk bisnis padel yang dijalankannya bersama Deva Mahenra. Deva, yang lebih dulu memiliki pengalaman dalam bisnis, menjadi salah satu tempat bertukar gagasan ketika Mikha mulai memasuki wilayah tersebut. Ada sesuatu yang menarik dari cara ia berbicara mengenai bisnis. Ia tidak melihatnya semata sebagai perpanjangan dari ambisi personal, melainkan sebagai latihan untuk membangun sesuatu yang dapat berdiri di luar dirinya. Ia ingin bisnis yang mereka bangun memberi ruang bagi orang lain untuk bekerja dan ikut tumbuh, sekaligus berkontribusi pada ekosistem olahraga yang memang dekat dengan kehidupan mereka. Justru di dunia bisnis, Mikha menemukan salah satu pelajaran yang paling sulit: manusia tidak dapat diperlakukan seperti angka. Risiko, biaya, peluang, bahkan break-even point dapat diproyeksikan. Manusia tidak selalu demikian. Memiliki tim berarti belajar mempercayai, mendengarkan, merawat, sekaligus memahami bahwa energi dan hubungan antarmanusia menentukan sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dihitung dalam spreadsheet. Pelajaran itu membuatnya melihat kepemimpinan dengan cara yang lebih personal. Membangun sesuatu bukan hanya tentang membuatnya tumbuh, tetapi tentang memastikan orang-orang yang berada di dalamnya juga memiliki ruang untuk tumbuh.
Di luar semua itu, kehidupan bersama Deva memberinya ruang yang berbeda lagi. Ia menyebut suaminya sebagai sahabat terdekat—seseorang yang mendengarkan, memberi dukungan, dan tidak segan merayakan hal-hal kecil. Ada bentuk validasi yang tidak perlu dicari dari luar ketika seseorang memiliki orang-orang terdekat yang mampu mengatakan, sederhana saja, good job, congratulations, atau I’m proud of you. Mungkin itu pula yang membuat Mikha kini lebih mampu membedakan ambisi dari dorongan untuk terus produktif. Dulu, ia pernah merasa harus selalu bekerja, berpindah dari satu proyek ke proyek berikutnya tanpa benar-benar mendengarkan tubuhnya sendiri. Sekarang, ia mulai melihat kemampuan untuk berhenti sebagai pencapaian juga. “Sekarang saya lebih mindful, lebih tenang, lebih intentional. Saya masih belajar untuk punya mimpi dan goals tanpa harus mengorbankan my sanity.”

Ada kedewasaan tertentu dalam kemampuan untuk mengatakan bahwa istirahat bukan lawan dari ambisi. Bahwa hidup yang produktif tidak harus selalu hidup yang penuh. Perubahan serupa terjadi dalam hubungannya dengan tubuh. Semakin bertambah usia, Mikha justru semakin berhati-hati dalam menilai tubuhnya sendiri maupun tubuh orang lain. Ia pernah mengalami fase membandingkan kulit dan bentuk tubuhnya dengan apa yang dilihat di media sosial dan layar. Kini, ia memilih hubungan yang lebih penuh rasa syukur. Ia bahkan berbicara kepada tubuhnya sendiri. “Kalau saya lagi dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, saya bilang, terima kasih. Yuk, boleh, kita sembuh sama-sama.” Baginya, merawat diri tidak lagi berhenti pada apa yang tampak dari luar. Apa yang dimakan, dipikirkan, bagaimana tubuh beristirahat, hingga kesempatan menghirup udara segar menjadi bagian dari keseimbangan yang sama. Tubuh bukan lagi objek yang harus selalu diperbaiki, melainkan rumah yang perlu didengarkan.
Mungkin di situlah gagasan tentang warna dan cahaya yang mengelilingi pemotretan hari itu menemukan maknanya. Sebuah warna tidak selalu tampil sama ketika bertemu cahaya, ruang, sudut, dan waktu. Namun perubahan cara ia terlihat tidak membuatnya kehilangan identitas. Manusia barangkali bekerja dengan cara yang sama. Pengalaman, usia, hubungan, pekerjaan, kegagalan, keberhasilan—semuanya mengubah cara seseorang memandang dirinya, tanpa harus menghapus siapa dirinya sebelumnya. Mikha pun tidak lagi ingin mengejar satu bentuk kehidupan yang dianggap paling ideal. Ketika masih lebih muda, ia pernah membayangkan bahwa pada usia tertentu ia harus sudah memiliki semuanya: karier, pendidikan, pernikahan, pencapaian. Waktu terasa seperti sesuatu yang harus ditaklukkan sebelum terlambat. Kini ia memilih metafora yang berbeda. “Saya sudah tidak mau kejar-kejaran sama waktu. Saya mau berteman dengan waktu.” Kalimat itu mungkin merangkum perubahan terbesar dalam dirinya. Ia ingin lebih banyak mengingat: perjalanan bersama suaminya, waktu bersama ayahnya, date night, perjalanan, pekerjaan, bahkan momen-momen kecil yang dulu mungkin terlewat karena terlalu sibuk menuju sesuatu yang berikutnya.
Ada kota-kota yang terus bergerak tanpa pernah benar-benar meninggalkan masa lalunya. Shanghai adalah salah satunya. Di antara gedung-gedung baru dan bangunan yang menyimpan jejak masa lalu, kota ini seperti mengingatkan bahwa bergerak maju tidak selalu berarti meninggalkan sesuatu di belakang. Begitu pula Mikha. Ketika lampu pemotretan padam dan kamera berhenti merekam, yang tersisa bukan lagi daftar identitas yang melekat pada namanya. Bukan aktris, penyanyi, pengusaha, atau figur publik. Ia adalah perempuan yang menikmati rumah, musik, kucing-kucingnya, lingkaran kecil orang-orang yang telah lama mengenalnya, dan waktu bersama seseorang yang ia sebut sebagai sahabat terdekatnya.
Di balik semua yang terlihat, ia mengatakan sesuatu yang jauh lebih sederhana: ia hanya ingin terus menjadi versi terbaik dirinya, hadir di setiap fase kehidupan, dan memberikan waktunya kepada orang-orang yang ia cintai. Mungkin kedewasaan memang bukan tentang akhirnya mengetahui akan menjadi siapa. Barangkali kedewasaan justru tentang berhenti terburu-buru untuk menjadi seseorang yang kita bayangkan. Tentang membiarkan masa lalu tetap menjadi bagian dari diri, tanpa harus tinggal di dalamnya; menerima masa depan tanpa harus terus mengejarnya. Dan di antara keduanya, Mikha kini memilih untuk tinggal sedikit lebih lama. Bukan untuk berhenti bergerak, melainkan untuk benar-benar merasakan perjalanan. Untuk pertama kalinya, waktu bukan sesuatu yang harus ia menangkan. Ia ingin menjadikannya teman.