CULTURE

30 Oktober 2026

Desain Fungsional, Estetis Sarat Seni, dan Padanan Koleksi Antik dalam Kediaman Louise Breguet di Paris


PHOTOGRAPHY BY MAXIMEL CARÉMEL

Desain Fungsional, Estetis Sarat Seni, dan Padanan Koleksi Antik dalam Kediaman Louise Breguet di Paris

text Monique Van Der Reijden

Di jantung kota Paris, tepat di seberang balai kota distrik ke-10 yang megah berusia 130 tahun, Louise Brequet menciptakan hunian lindung. Sebuah kediaman privat yang menitikberatkan desain fungsional, estetika seni, sekaligus penuh benda-benda koleksi pribadi. Hunian sarat karakter.

Louise Brequet, desainer sekaligus salah satu pendiri label La Chance, dan suaminya, Jean-Maxime Carrier, memulai sebuah petualangan baru di Paris. Perjalanan tersebut berangkat dari kebiasaan Brequet yang kerap bolak-balik mengunjungi Paris hampir setiap minggu terkait urusan pekerjaan. Dengan Lyon sebagai lokasi domisilinya, kebutuhan untuk memiliki kediaman pribadi pun kian bersifat signifikan. “Saya mencari tempat tinggal yang compact. Namun, menyuguhkan atmosfer ruang nan menawan, dipadu suasana lingkungan yang tenteram, dan lokasinya dekat dengan galeri kami,” kata Brequet.

Sebuah apartemen mungil di seberang balai kota distrik ke-10 ini memenuhi kualifikasinya akan kebutuhan kepraktisan. Lokasinya pun cukup strategis. Di atas segalanya, lingkungan itu bersifat nostalgik bagi memori Brequet sepuluh tahun silam, tatkala ia tinggal di rumah perahu dekat Canal Saint-Martin. “Saat menelusuri jalanannya, saya mengenali berbagai tempat yang dahulu sering saya lewati. Perjalanan ini membangkitkan perasaan nostalgia!” ujar Brequet. Sifat nostalgik bukan satu-satunya daya pikat kediaman ini. Dari titik gedungnya berdiri, Brequet menggambarkan keindahan panorama yang tersaji selayaknya, “Melihat kastil di tengah Paris.”



Resminya, sebagaimana dihitung berdasarkan peraturan Prancis, rumah ini berukuran 30 m². Tetapi jika Anda memasukkan spasial ekstra di bawah atap miring, luas totalnya meliputi 52 m². Kendati lahannya tak terlalu luas, atmosfernya terasa sangat lapang. Strategi cerdasnya ialah melalui intervensi desain yang secara subtil mendefinisikan ruang-ruang. Misalnya, dengan memindahkan tangga, hingga menciptakan berbagai tingkat dan partisi. Dari skema ini muncul alur spasial yang terpisah, yang masing-masing dapat berdiri sendiri sesuai fungsinya. “Dengan mendefinisikan ruang, keseluruhan ruangan jadi terasa lebih besar,” kata Brequet.

Spasial duduk di bawah jendela loteng yang berlapis material cermin merupakan area favorit Brequet di dalam rumah. Di luar dari fungsi yang membuat ruangan terasa lapang, pemanfaatan material cermin turut membawa pemandangan luar ke dalam rumah. Lewat pantulan balai kota (‘mairie’), bangunan tersebut seolah-olah menjadi bagian dari interior. Sebuah sentuhan modern pada arsitektur klasik Paris. Terlebih dengan suasana terang yang diantarkan oleh jendela cermin ke dalam rumah.

Bagi Brequet, pemilihan material sangat penting untuk menciptakan kenyamanan. Sebab itu, ia memilih lantai parket kayu ek klasik Palazzo dari Quick-Step, dengan papan ekstra lebar dan cahaya keemasan yang hangat. “Materialnya alami; terasa jujur, hangat, dan natural.” Lantai parket tersebut terpasang di seluruh apartemen, termasuk kamar mandi dan area tidur, menciptakan kesan ketenangan visual dan kelapangan.



Kebanyakan orang cenderung memilih konsep minimalis untuk mendesain rumah berukuran compact. Brequet berlaku sebaliknya. Misalnya, ia mengaplikasikan palet warna gelap yang bisa membuat atmosfer terasa berat: hijau menjadi rona utama. Pilihan beraninya bukan tanpa pertimbangan. Aliran pencahayaan natural yang secara maksimal diterima tiap ruangan dengan lugas mengimbangi karakter berat paletnya.

Ia juga meletakkan benda-benda koleksi dan karya seni dalam jukstaposisi tanpa membuatnya terasa berantakan. “Setiap objek menceritakan sebuah kisah,” katanya. Buaya kayu dari Senegal berdiri di samping seni kertas abstrak dari Prancis, dan barang pusaka dari neneknya. “Saya menemukan kontras itu menarik. Ini bukan tentang nilai, tetapi tentang emosi yang dihadirkan,” ujarnya. Interior selayaknya buku harian visual. “Saya masih ingat persis kapan dan mengapa saya membeli sesuatu. Memori tersebut membuatnya personal,” ungkapnya.

Nilai emosional merupakan elemen esensial dalam garis rancangnya, sebagaimana makna kediaman pribadi ini baginya, “Memiliki tempat tinggal pribadi di Paris telah mengubah hidup saya. Saya seolah-olah telah menemukan kembali sebagian dari hidup saya. Apartemen ini kecil, tetapi menyediakan semua kebutuhan saya!”