22 Februari 2026
Desain Jadi Bahasa Personal di dalam Rumah Chrisye Octaviani
PHOTOGRAPHY BY Liandro N. I. Siringoringo
Bagi Chrisye Octaviani, arsitektur selalu lebih dari sekadar mengatur bentuk dan ruang. Ia menganggapnya sebagai bahasa yang merekam karakter, kebiasaan, bahkan mimpi seseorang. Setiap ruang yang ia rancang adalah cerminan karakter penghuninya, sekaligus wadah cerita yang akan terus bertumbuh seiring waktu. Lahir di Jakarta pada 1987, Chrisye menempuh pendidikan arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Karier profesionalnya dimulai pada 2010 di LABO, dilanjutkan dengan bergabung di Andramatin setahun kemudian. Dua pengalaman ini membentuk fondasi kokoh, perpaduan antara ketelitian teknis dan kepekaan artistik yang kelak menjadi ciri khasnya.
Pada 2012, ia bersama Agatha Carolina mendirikan Bitte Design Studio, sebuah firma desain yang merangkul arsitektur, interior, dan furnitur dalam satu visi. Lebih dari satu dekade, Bitte telah menggarap restoran, butik, hotel, hingga hunian pribadi, selalu dengan pendekatan holistik: setiap elemen, dari tata cahaya hingga material, dirancang untuk menciptakan suasana, bukan sekadar bentuk. Mempertimbangkan estetika, fungsi, dan atmosfer dalam satu tarikan napas desain.
Namun proyek yang paling personal bagi Chrisye adalah rumah yang ia bangun di BSD, Tangerang Selatan. Hunian ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan refleksi jujur dari kehidupannya, kebiasaan sehari-hari, dan nilai-nilai yang ia anut. Rumah yang ia tinggali bersama keluarganya menjadi semacam manifesto pribadi. “Saya ingin rumah ini menjadi ruang yang memeluk penghuninya, memberi jeda, dan menyaring hiruk-pikuk dari luar sebelum saya benar-benar masuk ke kehidupan pribadi,” ujarnya. Tantangan kawasan urban diatasi lewat penciptaan taman dalam, jendela besar yang memeluk cahaya pagi, dan aliran udara alami yang menghapus sekat antara dalam dan luar.

Dari perspektif profesional, merancang untuk diri sendiri justru yang sangat menantang. “Banyak pertimbangan dari sisi bujet dan timeline,” katanya sambil tersenyum. Namun ia punya satu prinsip yang tak berubah: fungsi, tata ruang, sirkulasi udara, dan pencahayaan alami yang baik.
Desain rumah ini mengedepankan palet warna netral—putih, krem, abu lembut—sebagai latar, yang kemudian diperkaya dengan tekstur kayu, batu alam, dan kain yang memberi kedalaman visual. Pencahayaan alami menjadi elemen kunci: jendela besar, skylight, dan bukaan lebar memastikan setiap ruang terasa hidup pada siang hari tanpa bergantung penuh pada lampu.

Interior terinspirasi dari desain gaya Scandinavian yang menekankan kesederhanaan, minimalis, dan fungsionalitas. Palet warna netral dipadu tekstur kayu dan kombinasi warna, menciptakan atmosfer yang tenang tanpa terasa steril. Salah satu sudut favoritnya adalah ruang baca di dekat jendela, tempat ia memulai hari dengan secangkir kopi.
Furnitur sebagian besar adalah karya custom yang lahir dari observasi kebutuhannya sendiri. “Keistimewaan mendesain untuk diri sendiri adalah kita tahu persis kebutuhannya, tapi justru itu juga membuat prosesnya menantang karena jadi sangat personal dan sesuai dengan kebutuhan,” ungkap Chrisye.
Titik favoritnya adalah area tengah yang menyatukan ruang keluarga, dapur, dan taman kecil di belakang rumah. Zona transisi ini menjadi pusat aktivitas, dari sarapan cepat di pagi hari hingga sesi ngobrol santai sambil menikmati senja. Karya seni yang menghiasi dinding pun punya kisah—ada lukisan dari seniman lokal favorit dan karya sang anak, foto perjalanan yang memotret momen kebersamaan, serta benda-benda kecil yang menjadi penanda fase hidup. “Saya ingin setiap sudut punya makna. Tidak harus mahal, tapi harus punya cerita,” katanya.

Sebagai arsitek sekaligus penghuni, Chrisye mengakui ada kompromi. “Desain yang ideal di kepala kadang harus menyesuaikan ritme hidup sehari-hari. Tapi di situlah seni sebenarnya,” katanya. Di setiap proyeknya, ia membawa prinsip bahwa rumah harus mewadahi fungsi penghuninya dan menampilkan karakter penghuninya, keduanya hadir lewat sentuhan yang lebih personal.
Tak hanya indah, rumah ini dirancang untuk beradaptasi. Beberapa ruang bersifat modular, siap berubah fungsi mengikuti kebutuhan. “Ruang tamu bisa menjadi ruang makan saat acara keluarga besar,” tuturnya. Kamar utama yang terletak di lantai atas menjadi oasis pribadi bagi Chrisye. Menghadap langsung ke arah timur, ruang ini sengaja dirancang untuk menerima sinar matahari pagi melalui jendela besar berbingkai kayu. Interiornya memadukan nuansa putih dan beige, menciptakan atmosfer yang menenangkan. Di satu sisi, terdapat walk-in closet yang rapi dengan sistem penyimpanan tersembunyi, sementara kamar mandi dalamnya memadukan marmer putih dan aksen kayu, menghadirkan kesan yang intim. Sebuah balkon kecil menjadi koneksi visual yang melengkapi ruang ini, menjadi tempat favoritnya untuk menyeruput teh hangat sambil menikmati udara segar sebelum hari dimulai.

Masih di lantai yang sama, kamar anak dirancang dengan nuansa putih kalem yang memancarkan ketenangan. Dindingnya diberi sentuhan off-white yang lembut, dipadukan furnitur minimalis beraksen kayu terang. Cahaya alami masuk melalui jendela lebar memberikan kesan lapang dan segar. Beberapa detail personal seperti rak buku mungil, boneka kesayangan, dan lukisan hasil karya sang anak, memberi sentuhan hangat yang membuat ruang ini terasa sangat personal sekaligus fungsional.
Rumah Chrisye Octaviani bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah potret kepribadian, perjalanan, dan filosofi desain yang terwujud dalam bentuk fisik—sebuah ruang yang berbicara dalam bahasa personal, dengan aksen kehangatan yang tak lekang waktu. Tentang tren, ia percaya material alami akan selalu relevan. “Kuncinya adalah sentuhan personal yang tahu fungsi dan karakter penghuninya,” ujarnya, menutup percakapan.
Pada akhirnya, rumah ini menjadi representasi utuh dari perjalanan Chrisye: dari arsitek yang membangun untuk banyak orang, menjadi arsitek yang membangun untuk dirinya sendiri—sebuah proses introspektif yang mengajarkan bahwa desain terbaik bukan yang paling megah, tetapi yang paling tulus melayani penghuninya.