CULTURE

26 Januari 2026

Identitas Desain Minimalis Karya Miminat Shodeinde yang Tumbuh dari Akar Rasa


Identitas Desain Minimalis Karya Miminat Shodeinde yang Tumbuh dari Akar Rasa

Di era di mana batas antara seni dan desain, serta fungsi dan bentuk, semakin samar; hadir sebuah gaya desain baru yang memberikan napas segar. Di persimpangan yang kian digemari itu, identitas Miminat Shodeinde bersinar terang lewat karyanya yang menyeimbangkan struktur dan kehalusan. Sederet karya interior dan furnitur meneguhkan kapabilitasnya. Begitu pula kolega dunia desain, yang menasbihkan namanya dalam daftar bergengsi The ELLE Decor A-List pada tahun 2023.

Perempuan alumni Universitas Herior-Watt jurusan Interior Architecture di Edinburgh, Skotlandia, ini sukses menghadirkan perspektif baru dalam dunia interior. Karyanya tersebar di London, India, Kuwait, hingga berbagai negara lain di belahan Bumi. Dimensi proyeknya pun beragam, meliputi proyek hunian pribadi dan spasial komersial seperti hotel. Salah satu yang menarik ialah hunian pribadi di Cape Town, Afrika Selatan. Dengan luas lebih dari 5.700 meter persegi, proyek ini merupakan contoh arsitektur dan interior yang megah sekaligus memukau. Tata ruangnya dinamis, dan dominan material batu alam pada tiap sudutnya. Sebuah karya yang menampilkan gaya Brutalism dibalut sentuhan kontemporer penuh magis.


Sisi interiornya sengaja dibuat lapang, dengan beberapa furnitur masif sebagai penghuni utama ruangan. Terlihat dari desain ruang makan dan dapur yang mengusung konsep open space, menampilkan pemandangan alam yang terbentang luas. Lanskap 360 derajat tersebut meresonansi gaya hidup masa depan, di mana kursi makan ikonis karya Shodeinde dan lekukan organis tangga yang melingkari tabung kaca berpadu menciptakan rupa Brutalism Futuristic yang terasa hidup dan meruang. Tak diragukan, proyek ini menampilkan perpaduan bentuk organis dan struktur arsitektur yang harmonis—setiap bentuk seperti saling merespons membentuk narasi.

Karya Shodeinde, yang sarat esensi seni, menyuguhkan dimensi rasa yang lebih dalam. Selain deretan residensi, Ia turut merancang hotel bintang lima Carlisle Bay yang menawan di Antigua, Kepulauan Karibia. Setiap kamar ditata dengan detail akurat yang mengisi tiap sudut secara presisi. Mengusung konsep barefoot luxury, setiap ruang memperkuat gaya resor yang mengedepankan kemewahan, namun tetap terkoneksi dengan suasana pinggir pantai. Kemewahan yang ditawarkan bukanlah “shimmer and gold”, melainkan hadir melalui bentuk-bentuk seni yang terasa hidup selayaknya Anda berada di tengah galeri. Di dalam unit kamar, setiap karya dapat dinikmati secara visual dan digunakan fungsional. Material kayu dan batu alam dipadukan dengan lekukan serta garis-garis feminin yang sarat harmoni, membawa nuansa budaya dan lanskap sekitar masuk ke tiap-tiap ruang.



Bagi Shodeinde, semuanya berpusat pada rasa—sebuah dialog antara minimalisme dan kehangatan yang selalu ia olah di setiap proses kreatif. “Saya senang bereksperimen dengan bentuk-bentuk yang berani dan tegas, tapi saya selalu memikirkan bagaimana sebuah ruang terasa ketika seseorang masuk ke dalamnya, bagaimana ruang itu bisa menyambut dan merangkul mereka,” jelasnya akan dasar pemikiran yang melandasi penciptaan keseimbangan dalam desainnya. Dari sana, detail seperti tekstur, pencahayaan, dan proporsi berperan sebagai kesunyian yang membuat semua elemen lebih terasa harmonis. Desainer yang kerap mendapatkan inspirasi dari momen travelling, terutama ketika mengunjungi Timur Tengah dan India, ini menambahkan, “Bukan tentang mendominasi, tetapi tentang menghadirkan sebuah kehadiran yang percaya diri sekaligus terasa sangat manusiawi.” Lalu lahirlah dua kata yang kerap dipakai Shodeinde untuk menggambarkan benang merah karya-karyanya: relaxed elegance.

Omi Table

Sebagai perempuan berlatar belakang budaya Nigeria dan Eropa, Shodeinde secara konsisten mengangkat dialog yang berakar pada budaya. Perspektifnya dalam memandang kontemporer dan inovasi secara alami berpadu dengan kemuliaan kerajinan tangan. Kekuatan karya handmade disertakan ke dalam setiap desainnya, menjadikan karyanya bernuansa autentik dan terhubung secara mendalam dengan para pemakainya. Hal ini lekat terasa pada karya furnitur ikonis miliknya, Omi D-3 Chair dan Omi Table. Sebuah koleksi dining yang secara visual berfokus pada seni pahat, yang memang selalu menarik perhatiannya sejak awal membangun studio Miminat Design miliknya pribadi di tahun 2014.

Oscar Floor Lamp

Omi Chair

Seiring waktu, desain Shodeinde terkait spasial hidup meluas. Tak hanya berhenti di ruang tinggal, kini bahasa estetikanya turut hadir di ranah yang lebih dinamis: ia merancang tatanan yacht. Secara garis besar, tiap karyanya menghadirkan kesan bentuk yang mengalir, asimetris, seolah merespons ruang atau benda tanpa teori pakem, hanya melalui rasa. “Bagi saya, menggabungkan ketertarikan pribadi akan bentuk seni patung dengan material alami adalah tentang menciptakan karya yang terasa abadi, sekaligus sangat terhubung dengan pengalaman hidup. Karya yang tidak hanya digunakan, tetapi juga dirasakan,” pungkasnya.