19 Februari 2026
Penerapan Falsafah dalam Material Bertekstur dan Desain Modern di Rumah Garapan Suresh Yadav
PHOTOGRAPHY BY Yadnyesh Joshi
Tenteram. Sebuah karakteristik energi yang dengan mudah ditangkap rasa manakala menyelisik hunian karya arsitek Suresh Yadav dari studio Infinity Design ini. Ketika Suresh Yadav memulai rancangan hunian yang berlokasi di kota Mumbai, India, ini, instruksi yang ia terima jelas; sang klien—yang menganut filosofi Jain—menginginkan tempat tinggal yang penuh kehangatan dengan desain tak lekang zaman. Berangkat dari angan kliennya, Yadav menciptakan ruang bernarasi meditatif. Arsitekturnya tidak sekadar dibangun dari pertimbangan visual, tetapi dari filosofi hidup yang terstruktur, hening, dan penuh kesadaran.
Inti desain rumah ini bertumpu pada keharmonisan material yang raw. Alih-alih menciptakan drama melalui kontras, Yadav memilih kayu ash sebagai materi utama untuk menyatukan dialog seluruh ruang. Veneer rotary-cut mengalir lembut pada plafon, furnitur, hingga panel dinding, membentuk kesinambungan visual yang merangkul setiap sudut rumah. Lewat pergeseran serat tekstur material, kayu tersebut menjalin sebuah narasi intimasi. Dinding berlapis plester kapur menjadi latar subtil yang kian memperdalam tekstur dan menyederhanakan transisi ruang.

Setiap gestur arsitektur di dalamnya merupakan hasil perenungan. Bentuk-bentuk melengkung memandu pandangan sekaligus melarutkan ketegasan struktur—sudut membulat, tiang berbalut lengkung, hingga detail nyaris pahatan menciptakan fluiditas yang menenangkan. Kurvakurva tersebut bukan sekadar estetika, melainkan respons intuitif terhadap gaya hidup yang mengutamakan ketenangan dan aliran rasa. Sementara itu, aksen kuningan hadir menyisipkan kehangatan serta kilau kemewahan melalui railing tangga, aksen pencahayaan, hingga detail karya seni.
Karya seni tampil cukup signifikan mewarnai paras interior hunian. Alih-alih sebagai elemen pemanis, penempatannya selayaknya perangkat ruang yang memperdalam atmosfer ruang. Lihat saja bagaimana sederet lukisan di area foyer memberikan tekstur sekaligus emosi. Lalu kreasi kanvas 3D di area makan yang menonjolkan dimensi pahatan menciptakan hiruk-pikuk visual secara lembut, sementara karya terinspirasi Samakhya di ruang keluarga memanifestasikan pijakan spiritual dan keberlanjutan yang kuat.

Salah satu intervensi arsitektural yang paling memukau berada di atas ruang makan. Aplikasi plafon kayu waffle berbahan veneer ash, yang menyembunyikan unit pendingin udara dan sistem pencahayaan, memadukan fungsi dan estetika secara gemilang. Aplikasinya yang dibuat dengan panel-panel berengsel membuatnya mudah diakses dan dibersihkan. Detail ini menjadi manifestasi paling jelas dari filosofi rumah: kompleksitas yang elegan.

Tangga turut menjadi elemen penting yang menghubungkan lantai dasar berlapis marmer dengan lantai atas berbahan kayu. Dibentuk dari engineered wood yang sama dengan lantai atas, anak tangga dan risernya dipahat membentuk lengkungan halus, mengubah fungsi menjadi bentuk yang nyaris koreografis. Dilengkapi railing kuningan yang ramping, aksennya menghadirkan keseimbangan antara kehangatan sentuhan dan keringanan visual.
Di seluruh hunian, pintu-pintu rata dinding dengan engsel tersembunyi melebur nyaris tak terlihat, mempertegas bahasa arsitektur yang mengutamakan kontinuitas. Kehadiran tanaman hijau tidak menjadi ornamen, melainkan bagian intrinsik dari arsitektur yang membawa kehidupan dalam ritme tenang. Rumah ini tidak dipenuhi dekorasi; ia dibangun dari momen terkurasi tentang tekstur, cahaya, dan jeda.