21 September 2026
Indonesia Design Week: Dari Milan ke PIK2, Ketika Desain Menjadi Percakapan
PHOTOGRAPHY BY INDONESIA DESIGN WEEK
Indonesia Design Week 2026 memperluas pengertian tentang desain—dari koleksi global SaloneSatellite, pertemuan seni dan desain melalui ICAD by The Bay, hingga kekayaan kriya dan kreativitas lokal di Artisan Alley. Di tengah semuanya, muncul satu gagasan: desain tidak pernah benar-benar lahir sendirian.
Ada sesuatu yang menarik dari sebuah objek desain ketika ia dipindahkan dari meja kerja penciptanya ke ruang publik. Ia tidak lagi semata-mata menjadi benda, melainkan mulai membawa cerita tentang tangan yang membuatnya, material yang membentuknya, budaya yang melatarinya, dan manusia yang kelak menggunakannya.
Gagasan semacam itu terasa di Indonesia Design Week 2026. Mengusung tema “The Collective Culture”, perhelatan yang berlangsung 18–27 September ini untuk pertama kalinya memperluas pengalaman desain ke sejumlah destinasi di PIK dan PIK2. Indonesia Design District menjadi salah satu pusatnya, sementara program-program satelit membawa desain, seni, kriya, mode, dan kreativitas ke ruang-ruang yang lebih beragam.

Perluasan ini membuat IDW terasa bukan sekadar sebagai tempat untuk melihat desain, melainkan sebuah lanskap yang perlu dijelajahi. Di satu titik, pengunjung berhadapan dengan karya yang merekam hampir tiga dekade perjalanan desain global. Beberapa langkah kemudian, seni kontemporer mengambil alih ruang. Di tempat lain, material, kerajinan, dan produk karya kreator Indonesia berbicara dengan bahasa yang lebih dekat dengan keseharian. Di sinilah makna collective menemukan bentuknya: bahwa desain tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh dari pertemuan.
Dari Milan, Sebuah Arsip yang Masih Hidup
Perjalanan itu dimulai dari Townhall Indonesia Design District, tempat SaloneSatellite Permanent Collection Exhibition 1998–2026 untuk pertama kalinya hadir di Indonesia. Sebanyak 55 karya pilihan ditampilkan dari total 415 objek dalam koleksi permanen SaloneSatellite. Koleksi tersebut merekam perjalanan hampir tiga dekade desain kontemporer—termasuk bagaimana sebuah gagasan yang pada awalnya mungkin hanya berupa prototipe atau eksperimen dapat berkembang menjadi produk, memasuki produksi massal, bahkan kemudian menjadi ikon desain.
Ada fakta yang membuat perjalanan koleksi ini semakin menarik. SaloneSatellite sendiri sejak 1998 dikenal sebagai ruang yang memberi panggung kepada desainer muda, khususnya talenta di bawah usia 35 tahun, untuk memperkenalkan gagasan mereka kepada industri desain internasional. Dengan kata lain, banyak karya yang kini dapat dibaca sebagai bagian dari sejarah desain dunia pernah bermula sebagai sesuatu yang belum selesai, belum pasti, dan belum tentu akan menemukan jalannya menuju pasar.

Itulah yang membuat sebuah permanent collection terasa lebih seperti arsip kehidupan daripada museum benda mati. Yang dipamerkan bukan hanya hasil akhir, tetapi jejak kemungkinan: tentang bagaimana ide bergerak, diuji, diterima, ditolak, dikembangkan, lalu menemukan kehidupan keduanya.
Kehadiran koleksi tersebut di Jakarta juga bukan sekadar perpindahan geografis. Jakarta menjadi destinasi internasional ketiga bagi SaloneSatellite Permanent Collection setelah Hong Kong pada 2024 dan Paviliun Italia dalam Expo 2025 Osaka, sekaligus menjadi pemberhentian pertama dalam rangkaian tur internasional terbarunya.
Bagi Maria Porro, President of Salone del Mobile Milano, pertemuan dengan Indonesia membuka ruang bagi pertukaran gagasan dan kemungkinan kolaborasi yang lebih luas. Ia juga melihat kekayaan craftsmanship Indonesia—dari teknik tenun hingga ukiran kayu—sebagai salah satu potensi penting yang dapat diterjemahkan kembali oleh generasi desainer muda ke dalam bahasa kontemporer.
Menariknya, tema SaloneSatellite tahun ini sendiri adalah “Craftsmanship + Innovation”—sebuah gagasan yang menempatkan keterampilan tangan bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai kemungkinan untuk membentuk masa depan. Di tengah dunia yang semakin digital dan ketika kecerdasan artifisial ikut mengubah cara manusia menciptakan, nilai dari sesuatu yang disentuh, dikerjakan, dan dibentuk oleh tangan justru memperoleh makna baru.
Di titik ini, pertemuan Milan dan Jakarta menjadi lebih dari sekadar pertukaran karya. Ia menjadi percakapan tentang masa depan desain: seberapa jauh teknologi dapat membawa kita, dan mengapa manusia masih mencari sesuatu yang terasa dibuat oleh manusia lain.

Ketika Seni Menolak Berjarak
Dari SaloneSatellite, percakapan bergerak ke ICAD by The Bay. Jika SaloneSatellite membawa sejarah desain internasional ke Jakarta, program ini mempertemukan seni kontemporer dan desain dalam satu pengalaman yang lebih cair.
Dikurasi oleh Indonesian Contemporary Art & Design, ICAD by The Bay menghadirkan karya dan gagasan di area Emporium Indonesia Design District. Pameran ini mengeksplorasi pertemuan antara seni, desain, dan ekspresi kreatif kontemporer—membuat batas di antara ketiganya terasa semakin lentur.

Di sinilah desain tidak lagi harus dipahami sebagai kursi, lampu, meja, atau objek dengan fungsi tertentu. Ia dapat menjadi pertanyaan, pengalaman visual, bahkan cara baru membaca ruang.
Menarik untuk melihat karya seni kontemporer ditempatkan di tengah sebuah kawasan yang juga dihuni berbagai aktivitas komersial dan publik. Seni tidak lagi berada di balik jarak institusional yang membuatnya terasa eksklusif. Ia hadir di tengah arus manusia, percakapan, dan kehidupan sehari-hari. Dan mungkin justru di sanalah gagasan “Art for Everyone” menemukan relevansinya: bukan dengan menyederhanakan seni agar mudah dipahami, melainkan dengan membuka lebih banyak pintu agar publik dapat bertemu dengannya.

Dari Material, Tangan, dan Cerita yang Tumbuh di Indonesia
Jika SaloneSatellite membawa kita melihat ke luar, Artisan Alley membawa perjalanan kembali ke dalam—kepada material, tangan, dan kreativitas yang tumbuh di Indonesia. Berada di Mandapa Area, Artisan Alley menghadirkan pilihan karya handmade dan produk dari para artisan lokal. Program ini memperlihatkan bagaimana craftsmanship dapat tetap berakar pada tradisi sekaligus menemukan bentuk baru melalui desain kontemporer.
Di ruang seperti ini, sebuah benda memiliki lapisan cerita yang berbeda. Material bukan sekadar bahan baku. Kayu, tekstil, keramik, anyaman, atau berbagai elemen natural lainnya membawa pengetahuan yang telah berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ketika bertemu dengan desainer atau kreator baru, pengetahuan tersebut tidak harus berhenti sebagai warisan; ia dapat berubah menjadi bahasa baru.

Itulah salah satu paradoks menarik dalam desain kontemporer: semakin cepat dunia bergerak menuju masa depan, semakin penting pula kemampuan untuk mengetahui dari mana sebuah material, teknik, dan gagasan berasal.
Artisan Alley memperlihatkan kemungkinan itu dalam bentuk yang lebih dekat dengan keseharian—melalui fashion dan aksesori, wellness, home décor, craft, hingga berbagai produk kreatif lainnya.
Jika SaloneSatellite berbicara tentang perjalanan sebuah gagasan menuju dunia, Artisan Alley mengingatkan bahwa banyak gagasan besar justru bermula dari sesuatu yang sangat dekat: sebuah material, sepasang tangan, sebuah teknik, dan keinginan untuk membuat sesuatu dengan cara yang berbeda.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Perayaan
Ketiga pengalaman tersebut pada akhirnya bertemu pada pertanyaan yang lebih besar: seperti apa ekosistem desain yang ingin dibangun Indonesia?
Bagi IDD, perluasan IDW tahun ini merupakan bagian dari upaya menjadikan desain sebagai pengalaman yang dapat dijelajahi di berbagai kawasan PIK, bukan hanya sebuah festival yang terpusat pada satu lokasi. Dengan demikian, IDW 2026 terasa seperti sebuah upaya untuk menggeser cara kita memandang desain. Dari sesuatu yang dipajang menjadi sesuatu yang dialami; dari disiplin yang berdiri sendiri menjadi ruang pertemuan berbagai disiplin; dari objek menjadi percakapan.

Ada desain yang datang dari Milan. Ada seni kontemporer yang menemukan ruang baru di PIK2. Ada pula craftsmanship Indonesia yang membawa sejarahnya sendiri ke dalam bahasa masa kini. Ketiganya mungkin tampak berbeda, tetapi justru perbedaan itulah yang membuat percakapan menjadi hidup.
Sebab pada akhirnya, desain tidak pernah benar-benar hanya tentang benda. Ia adalah tentang siapa yang membuatnya, dari mana ia berasal, untuk siapa ia diciptakan, bagaimana ia digunakan, dan gagasan apa yang ingin ditinggalkannya setelah kita beranjak pergi. Dan di tengah dunia yang semakin dipenuhi benda-benda yang dapat dibuat dengan cepat, nilai desain justru semakin terletak pada kemampuannya untuk membuat manusia berhenti sejenak, melihat lebih dekat, dan merasa terhubung dengan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Itulah yang coba dirayakan Indonesia Design Week 2026, bukan hanya desain sebagai hasil akhir, melainkan pertemuan yang membuat desain terus bergerak.
Samantha Hauvette dan Lucas Madani Mengadopsi Kepekaan Desain khas Jepang dalam Rancangan Hunian Modern di Paris
Deretan Karya Arsitektur dan Desain Interior Paling Estetis yang Jadi Sorotan ELLE Deco International A-List Tahun Ini