22 April 2026
Deretan Karya Arsitektur dan Desain Interior Paling Estetis yang Jadi Sorotan ELLE Deco International A-List Tahun Ini
Wulingshan Eye Stone Spring (photography Liu Guowei)
The ELLE Deco International A-List mengurasi daftar proyek-proyek desain interior paling luar biasa tahun ini dari seluruh dunia. Dipilih oleh para editor dari 25 edisi Elle Decoration, program tahunan ini merayakan tidak hanya proyek-proyek yang luar biasa, tetapi juga talenta mengagumkan di baliknya.
FENIX MUSEUM

Karya : MAD Architect
Negara: China
Gudang Fenix yang bersejarah di Rotterdam kini bertransformasi menjadi landmark budaya yang mengeksplorasi kisah universal migrasi manusia. Dibangun pada 1923, bangunan ini pernah menjadi salah satu pusat transit terbesar di dunia—titik keberangkatan bagi jutaan migran yang meninggalkan Eropa menuju benua lain. Transformasi arsitekturalnya mempertahankan karakter industrial asli, sembari mengintegrasikan elemen kontemporer secara sensitif. Dinding-dinding kaca ditambahkan untuk membuka ruang dan menghadirkan limpahan cahaya alami, menciptakan dialog antara struktur lama dan pendekatan desain masa kini.
Di jantung proyek ini berdiri Tornado, tangga spiral ganda yang dramatis, menghubungkan tiap lantai sekaligus mengarahkan pengunjung menuju dek atap berpanorama. Terbuat dari baja tahan karat dan kayu, tangga ini bukan sekadar elemen sirkulasi, melainkan simbol pergerakan dan transisi—gema dari perjalanan panjang para migran. Membentang di dua lantai, Fenix akan menampilkan seni, fotografi, serta artefak sejarah, termasuk komisi karya dari seniman internasional yang memperkaya narasi kuratorialnya. Dibuka pada 2025, Fenix menjembatani masa lalu dan masa depan, mengundang pengunjung untuk merefleksikan makna migrasi melalui arsitektur, sejarah, dan seni kontemporer.
RESIDENSIAL DI BAGALUR

Photography by Ishita Sitwala.
Karya: George Seemon of Stapati
Negara: India
Dirancang oleh George Seemon dari Stapati Architects, rumah mungil seluas 250 meter persegi ini berdiri di Bagalur, Tamil Nadu, di atas kebun mangga yang tenang di perbatasan Karnataka. Komposisinya terbagi menjadi dua massa bangunan yang saling terkait, dibangun di satu-satunya area tanpa pepohonan guna menjaga kelestarian lanskap alami tapak. Berlandaskan filosofi kesederhanaan dan kejujuran desain, rumah ini merangkul esensialisme melalui penggunaan material lokal yang dibiarkan tampil apa adanya. Dinding tanah yang dipadatkan serta detail bebatuan menghadirkan tekstur alami yang akan menua dengan anggun seiring waktu. Salah satu elemen kunci desainnya adalah atap lengkung jack-arch yang menyamarkan instalasi utilitas, sekaligus mempertegas karakter arsitekturalnya. Interiornya dilengkapi furnitur rancangan Seemon dan sentuhan aksen vintage. Hasilnya, atmosfer yang tenang dan membumi di mana arsitektur, lanskap, dan cahaya berpadu harmonis, menciptakan kedekatan intim dengan alam.
RESIDENSIAL DI VALSAD

Photography by Ishita Sitwala.
Karya: Studio Lagom
Negara: India
Bungalow di Valsad, Gujarat, yang semula dibangun pada 1939, dipugar dan direvitalisasi oleh Studio Lagom untuk keluarga Desai. Konsep perancangannya berangkat dari penghormatan terhadap lapisan sejarah bangunan, menjaga warisan serta jejak memorinya, sekaligus membukanya pada kehidupan kontemporer. Sumur air asli dan kolam teratai menjadi poros utama dalam tata letak berbentuk C, yang secara subtil menjalin hubungan antara ruang dalam dan ruang luar. Dinding bata ekspos, lantai batu Kota, serta kayu daur ulang dari struktur lama dimanfaatkan kembali untuk daun jendela dan anak tangga. Tangga beton yang tampak melayang, pintu geser-lipat menuju halaman, jendela atap, dan jendela berpanel memperkuat keterbukaan ruang serta memaksimalkan pencahayaan dan ventilasi alami.
SUN TOWER

Karya: OPEN Architecture
Negara: China
Sun Tower merupakan fasilitas publik kebudayaan di tepi laut, berlokasi di Zona Pengembangan Yantai Yeda. Kompleks ini menghadirkan teater terbuka, ruang pameran digital, perpustakaan, kafe, serta bar yang dirancang sebagai ruang temu bagi publik. Di puncak menara, terdapat “Spasial Fenomena”, ruang semi terbuka yang menjadi elemen arsitektural paling ikonis sekaligus pengalaman ruang yang unik. Bangunan berbentuk kerucut asimetris ini seolah terbelah oleh pancaran sinar matahari, membuka interiornya ke arah bentang laut yang megah. Gestur desain tersebut bukan sekadar estetika, melainkan pernyataan konseptual: menghadirkan dialog antara cahaya, ruang, dan lanskap.
Di tengah kawasan industri yang berkembang pesat, Sun Tower menjawab kebutuhan akan fasilitas budaya dan ruang komunal yang inklusif. Lebih dari itu, bangunan ini menangkap sekaligus mentransformasikan fenomena alam menjadi pengalaman yang nyata dan kontemplatif. Pendekatan ini merepresentasikan tipologi arsitektur baru, perpaduan antara penghormatan kuno terhadap alam dan dinamika kehidupan urban kontemporer, sebuah “mercusuar” modern yang memberi penghormatan pada alam sekaligus perjalanan waktu.
TONANA BAR

photography Leandro Bulzzano.
Karya: Andrés Gutiérrez
Negara: Mexico,
Nama Tonana berasal dari kata Tonantzin, istilah dalam bahasa Nahuatl berarti “ Ibu Kita Yang Terhormat.” Tonana merupakan sebuah suaka yang didedikasikan bagi para dewi pre-Hispanic–kekuatan feminin yang menganugerahkan, menyerap, dan memperbarui kehidupan. Sebuah tempat berlindung yang keindahannya bersinar melalui kualitas. Setiap elemen desain menghormati simbol-simbol kuno: tezontle, menyelimuti lantai dan dinding; furnitur berbentuk buaya yang membangkitkan Cipactli, dan air mancur yang mengingatkan pada Chalchiuhtlicue, yang airnya memelihara tanah. Tonana adalah bar di atap di mana koktail merayakan memori Bumi dan kebijaksanaan para leluhur dukun perempuan. Melalui setiap detail, sosok Dewi Ibu seolah membisikkan realitas abadi: segala kehidupan muncul, larut, dan terlahir kembali dalam ritme yang tak berujung.
THE FRAGONARD MUSEUM

photography François Deladerriēre, Noel Manalili
Karya: Studio KO
Negara: Prancis
Setelah lima tahun renovasi, The Fragonard Museum meresmikan Musée de la Mode et du Costume (Museum of Fashion and Costume) di Arles. Studio KO memimpin proyek pembangunannya, dengan memperkenalkan lantai yang berkilau seperti ubin Marseilles berlapis kaca; dinding yang dipenuhi warna-warna yang terinspirasi oleh perahu layar-kanvas, yang pernah berlayar di Rhône; dan pintu kuningan berlapis emas sebagai bentuk penghormatan kepada perhiasan Provençal. Dengan pendekatan yang subtil, Studio KO memadukan warisan arsitektur abad ke-17 dan ke-18 dengan estetika kontemporer. Studio desain asal Paris tersebut juga menyingkap kembali volume asli bangunan serta menguratori pameran Collections-Collection sebagai ekshibisi perdana di pusat kebudayaan Provence.
GRYBOVA HATA RESTAURANT

photography Andriy Bezuglov, Uliana Vinichuk.
Karya: YOD Group
Negara: Ukraina
Grybova Hata (alias Rumah Jamur) yang terletak di Pegunungan Ukrainian Carpathians, merupakan restoran tradisional yang dirancang ulang oleh YOD Group. Konsepnya menafsirkan kembali keramahtamahan Ukraina melalui jamur—simbol sekaligus identitas kuliner utama restoran ini. Interior minimalisnya terbentang dalam palet warna netral yang hangat dan pola organik, yang seluruhnya dibuat dari dua material: plester bertekstur dan travertin yang ditambang secara lokal. Furnitur buatan pengrajin setempat, elemen pahatan, serta lampu rancangan Valerii Kuznetsov, yang dibuat dari plastik daur ulang, memperkuat komitmen keberlanjutan proyek ini. Ketakterdugaan alam menginspirasi desain yang bersifat sensoris, berpuncak pada elemen unggulan berupa tirai dari bio-tekstil berbahan dasar jamur karya Dasha Tsapenko. Hasilnya adalah atmosfer yang tenang dan alami, di mana keahlian, keberlanjutan, serta desain terroir Ukraina berpadu harmonis merayakan jamur sederhana sebagai sumber inspirasi sekaligus medium kreasi.
Gr Itamambuca II

photography Fran Parente.
Karya: Gui Mattos
Negara: Brasil (São Paulo)
Kediaman Itamambuca Il terletak di Ubatuba, negara bagian São Paulo, Brasil. Dengan luas 369 meter persegi, rumah pantai ini dirancang oleh arsitek Gui Mattos sebagai ruang tinggal yang menawarkan momen relaksasi di tengah lanskap alam. Kayu menjadi salah satu material utama yang digunakan di seluruh proyek. Baik dalam bentuk brise-soleil (penghalang sinar matahari) maupun furnitur, kayu menghadirkan kehangatan sekaligus kualitas pencahayaan ke interior, yang diperkuat oleh palet warna netral dan estetika minimalis. Kurasi desainnya menampilkan karya-karya dari para modernis seperti Sergio Rodrigues dan Lina Bo Bardi, berdampingan dengan kreasi desainer kontemporer seperti Jader Almeida. Proyek ini juga dilengkapi bukaan kaca berukuran besar yang memperkuat koneksi visual dan spasial dengan alam asri yang mengelilingi areanya.
WULINGSHAN EYE STONE SPRING

Karya: Vector Architects
Negara: China
Vector Architects merampungkan Wulingshan Eye Stone Spring, sebuah retret pemandian air panas yang tersembunyi di tengah hutan Pegunungan Wuling, Hebei. Dirancang oleh Dong Gong, proyek ini tampak “melayang” ringan di atas lembah sungai, ditopang oleh sepuluh kolom ramping yang dirancang untuk meminimalkan intervensi terhadap kontur alam. Komposisi ruangnya tersusun dalam tiga tingkat. Pada level inti, struktur berlapis kayu jati menampung area resepsionis dan fasilitas pemandian. Di atasnya, ruang-ruang relaksasi berbingkai jendela transparan yang menghadirkan lanskap sebagai bagian dari pengalaman interior. Sementara itu, kolam air panas di atap diterangi delapan sumur Cahaya yang menghidupkan atmosfer hening sekaligus kontemplatif. Dengan keseimbangan antara ketegasan struktur dan keheningan alam, desainnya merefleksikan filosofi puitis Vector Architects, mengolah cahaya, air, dan lanskap menjadi arsitektur yang menghadirkan ruang, pengalaman reflektif dan relevan bagi konteksnya.
AOI CELESTIE COFFEE ROASTERY

Karya: Yuko Nagayama
Negara: Jepang
AOI Celestie Coffee Roastery merupakan kafe sekaligus fasilitas pemanggangan biji kopi setinggi tiga lantai, lengkap dengan aula acara di lantai bawah tanah. Berlokasi di sudut Jalan Nishiki-dori dan Jalan Raya 153 di Nagoya, proyek ini dirancang dikelilingi halaman dan ditandai dengan atap khas yang tampak seolah-olah “jatuh” dalam Gerakan lambat di antara gedung-gedung tinggi di sekelilingnya. Kafe ini membentang di lantai pertama dan kedua, dimana tempat duduk yang menjorok ke dalam di sepanjang halaman menawarkan pemandangan pohon zaitun yang menenangkan. Di lantai tiga, sebuah bar yang terletak di bawah atap melengkung dan menghadap ke arah kota. Atapnya dilapisi ubin gradasi biru dari Tajimi, yang memantulkan perubahan warna langit, menghadirkan Kesan ringan dan lapang. AOI Celestie tampil sebagai landmark urban baru, ruang budaya yang dinamis di jantung Nagoya.
BIUM

photography Sungjae Park.
Karya: Daekyun Kim
Negara: Korea Selatan
Bium merupakan restoran fine-dining Korea modern di Seoul, yang digagas oleh chef berbintang Michelin, Daechun Kim, (mantan Chef Seventh Door) berkolaborasi dengan arsitek Daekyun Kim, kepala Chak Chak Architecture Office (Chak Chak Studio). Restoran ini menafsirkan ulang filosofi kuliner tradisional Korea yang berakar pada masakan kuil berbasis sayuran serta gagasan bahwa “kekosongan melahirkan keberadaan” ke dalam pengalaman gastronomi sekaligus rancangan ruang. Arsitektur mencerminkan warisan ruang melalui pintu masuk taman yang tenang, struktur atap batu tulis yang mengingatkan pada atap genteng tradisional Korea, dan gerbang besar yang terinspirasi oleh Hongsalmun, yang ditafsirkan kembali secara kontemporer. Material alami seperti kayu, batu, dan kertas hanji ditata berlapis dengan presisi artistik, membangun atmosfer meditatif di mana keheningan dan pengendalian diri justrru menghadirkan kedalaman. Setiap detail, dari struktur ruang hingga furnitur, dirancang untuk mewujudkan filosofi kesederhanaan yang subtil namun penuh makna.