BEAUTY

3 September 2026

Menyelami Inovasi dan Warisan Guerlain Lewat Butik Baru dan Parfum L’Heure Bleue


Menyelami Inovasi dan Warisan Guerlain Lewat Butik Baru dan Parfum L’Heure Bleue

Doc. Guerlain

Beberapa jam sebelum perhelatan pembukaan butik terbaru Guerlain sekaligus peluncuran parfum khusus perempuan terbarunya, ELLE Indonesia mendapat kesempatan untuk berbincang dengan sosok perempuan asal Prancis yang memiliki peran penting dalam perjalanan rumah kecantikan tersebut. Ini merupakan kunjungan keduanya ke Jakarta, meski ia sempat menyayangkan singkatnya waktu yang dimiliki sehingga belum berkesempatan menjelajahi Pulau Bali, salah satu destinasi yang ingin ia eksplorasi lebih jauh. Senyuman dan gestur ramah menjadi kesan pertama dari Gabrielle Saint-Genis. Sosoknya terasa begitu approachable, meski ia mengemban tanggung jawab besar sebagai Presiden dan CEO Guerlain—rumah kecantikan yang telah melalui perjalanan panjang selama hampir dua abad. Sejak 2023, ia turut menjadi bagian dari perjalanan tersebut, membawa Guerlain untuk terus berkembang tanpa kehilangan karakter dan warisan yang telah membentuknya.

Gabrielle Saint-Genis, Presiden dan CEO Guerlain.

Senyuman, sapaan hangat, antusiasme yang begitu passionate, hingga beberapa tawa kecil mengisi percakapan sore itu. Saat ditanya tentang produk Guerlain kesukaannya, pilihannya jatuh pada produk skincare Abeille Royale Youth Watery Oil Serum. Pilihan tersebut sedikit banyak memperlihatkan sosok Saint-Genis yang menempatkan hal-hal esensial dalam keseharian, sekaligus memaknai perawatan diri sebagai sebuah ritual yang dinikmatinya. Dalam perbincangan eksklusif bersama ELLE Indonesia, Saint-Genis berbagi pandangan tentang tren, identitas, serta perjalanan Guerlain dalam merangkul perubahan tanpa meninggalkan warisan yang telah membentuknya.

ki-ka: Sandra Talbot Arnal, Viro Octavianti, Gabrielle Saint-Genis, Charline Tang. 

Industri kecantikan bergerak begitu cepat, dengan tren, inovasi, dan kandungan baru yang terus bermunculan. Dari berbagai perubahan tahun ini, tren apa yang paling menarik perhatian Anda, dan bagaimana pengaruhnya terhadap Guerlain?

"Menarik sekali melihat bagaimana konsumen kecantikan kini semakin bijak dan penuh pertimbangan dalam memilih produk. Mereka tidak lagi sekadar mencari efektivitas, tetapi juga ingin mengenal sebuah rumah kecantikan secara lebih mendalam—mulai dari sejarah, nilai-nilai yang diusung, produk yang dihadirkan, hingga sosok-sosok di baliknya. Bagi saya, perkembangan ini terasa begitu selaras dengan visi Guerlain. Di rumah kami, setiap produk bukan sekadar sesuatu yang bisa dibeli, tetapi juga membawa pengalaman, pengetahuan, dan cerita. Salah satu nilai yang sangat dekat dengan Guerlain adalah perlindungan lebah, yang diwujudkan melalui berbagai program edukasi. Kepedulian terhadap alam dan keanekaragaman hayati juga telah menjadi bagian dari perjalanan Guerlain selama 200 tahun. Akhirnya, semua ini demi membangun kedekatan melalui cerita dan hubungan emosional yang membuat siapa pun merasa benar-benar terhubung dengan Guerlain."

Lewat peran Anda sebagai Presiden dan CEO, apa yang menjadi perhatian utama untuk menjaganya tetap terasa dekat sekaligus terus berinovasi tanpa kehilangan nilai-nilai yang telah menjadi identitasnya?

"Ada kutipan Winston Churchill yang mengatakan bahwa seni tanpa tradisi ibarat sekawanan domba tanpa gembala, sementara seni tanpa inovasi seperti tubuh yang tak bernyawa. Keduanya harus berjalan bersama. Memiliki usia 200 tahun bukan berarti Guerlain terpaku pada tradisi. Justru, untuk dapat bertahan selama itu, sebuah rumah harus terus berkembang dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Kami beruntung memiliki warisan kuat yang menjadi akar dan selalu kami jaga. Semakin dalam akar tertanam, semakin tinggi pohon menjulang. Produk wewangian luncuran terbaru kami menjadi contoh sempurna dari filosofi tersebut. Inspirasinya berasal dari kisah L’Heure Bleue karya Jacques Guerlain pada 1912, kemudian diterjemahkan ke dalam dunia wewangian modern oleh Delphine Jelk. Hasilnya terasa baru, tetapi tetap memiliki kedalaman karena berakar pada sesuatu yang telah ada sebelumnya. Sesuatu yang memiliki cerita dan sejarah. Saya rasa kedalaman inilah yang membuatnya begitu relevan dengan konsumen masa kini, termasuk di Indonesia."

Berbicara tentang L’Heure Bleue, ini menjadi peluncuran wewangian untuk perempuan pertama dari Guerlain setelah 10 tahun. Apa yang membuat momen ini terasa begitu tepat?

"Ini bukan karena kami sengaja menunggu hingga tepat 10 tahun untuk meluncurkan yang baru. Ini bukan karena perhitungan waktu. Di Guerlain, kami memahami betapa berharganya waktu dalam proses penciptaan. Jika berbicara tentang wewangiannya sendiri, kami melakukan sekitar 2.000 kali percobaan di laboratorium internal dan 'nose' kami sendiri. Bagi kami, proses ini terasa sangat personal. Begitu pula dengan kualitas bahan bakunya utamanya: iris tincture. Dalam dunia wewangian, aroma ini sangat populer. Namun, Guerlain memiliki proses yang berbeda sehingga mampu menonjolkan sisi yang lebih bercahaya, lembut, dan creamy. Proses ini membutuhkan waktu sekitar tujuh tahun. Rancangan botolnya pun melalui proses kreatif yang tak kalah panjang. Untuk mendapatkan efek gradasi biru yang sempurna, proses pengembangannya memakan waktu hingga tiga tahun. Prinsipnya sederhana, kami tidak ingin terburu-buru. Selama belum benar-benar siap, peluncurannya bisa saja ditunda hingga 2027 atau bahkan tahun berikutnya."

Selain meluncurkan L'Heure Bleue, Anda juga hadir di Jakarta untuk pembukaan butik terbaru. Apa yang Anda harap setiap orang rasakan saat datang ke butik Guerlain?

"Merupakan sebuah kehormatan bagi kami dapat hadir di jantung Jakarta, di sebuah tempat yang begitu indah. Ini bukan sekadar butik, tetapi sebuah ruang di mana kami ingin setiap orang menikmati pengalaman dan meluangkan waktu untuk mengenal Guerlain lebih dekat. Tersedia berbagai layanan, mulai dari deretan wewangian hingga makeup. Namun, salah satu layanan yang paling spesial adalah perawatan bersama terapis di ruang perawatan kami di mana pengunjung dapat merasakan langsung bagaimana kami merawat dan membantu memulihkan kondisi kulit lewat rangkaian Abeille Royale, atau menikmati perawatan longevity dari Orchidée Impériale. Keduanya merupakan layanan khas Guerlain yang telah melalui proses panjang selama puluhan tahun untuk mencapai hasil perawatan terbaik."

Butik Guerlain di Plaza Indonesia Lt. 2.

Lewat kehadiran butik terbaru ini, bagaimana Anda melihat perannya dalam perjalanan dan visi jangka panjang Guerlain?

"Guerlain telah hadir di dunia kecantikan Indonesia selama 50 tahun. Namun, sebelumnya, kehadiran kami terasa lebih 'sunyi'. Dalam lima tahun terakhir, kami memutuskan untuk lebih berani merayakan perjalanan tersebut. Setelah sebelumnya hadir melalui butik di Plaza Senayan, kini kami merasa dapat menampilkan identitas Guerlain secara utuh melalui butik terbaru di Plaza Indonesia. Secara personal, saya melihat Indonesia sebagai pasar dengan potensi yang begitu besar. Energi positif, generasi muda, serta keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia menjadi kekuatan yang luar biasa."

Jika Anda ingin memperkenalkan Guerlain kepada mereka yang belum begitu mengenalnya, produk apa yang pertama kali Anda rekomendasikan?

"Pertanyaan sulit, tetapi saya mungkin akan merekomendasikan Abeille Royale Youth Watery Oil Serum, karena bagi saya produk ini benar-benar merepresentasikan Guerlain. Saya sendiri menyukai sensasi saat menggunakannya—teksturnya terasa ringan, tetapi tetap memberikan pengalaman yang kaya dan hyper-sensorial, mulai dari aroma hingga sentuhannya di kulit. Dan yang paling saya sukai, produk ini juga membawa cerita tentang bahan alami yang berharga, sekaligus kecintaan Guerlain pada lebah dan komitmen untuk menjaga keanekaragaman hayati."