21 September 2026
Selebrasi Babak Baru Chanel Coco Mademoiselle di Pesta Khas Paris
Photo DOC. Chanel
Paris. Kota yang memiliki kemampuan untuk menjadikan kejutan terasa seperti bagian dari keseharian. Terutama di malam hari. Di antara barisan meja kafe yang ditata rapat, jalanan di sisi bangunan tua yang dipenuhi cahaya, serta kehidupan malam yang terus bergerak. Di kota ini, selalu ada ruang bagi sesuatu yang tidak dapat diprediksi. Sebuah energi yang membuat seseorang ingin keluar dar rutinitas, mengikuti insting, dan membiarkan malam menentukan arahnya sendiri. Malam-malam yang tidak pernah benar-benar direncanakan. Percakapan singkat yang berubah menjadi pertemuan panjang. Musik yang semula terdengar dari kejauhan seketika menjadi alasan untuk berhenti berjalan. Ketika Anda keluar hanya untuk menikmati udara kota, lalu berakhir di sebuah tempat yang tidak pernah ada dalam agenda.
Pada Kamis 17 September silam, Chanel membawa semangat tersebut ke Le Trianon Paris melalui Coco Mademoiselle Party. Sebuah perayaan yang menjadi penutup perjalanan Café Mademoiselle yang telah terselenggara di berbagai kota di dunia, sekaligus memperkenalkan babak baru Coco Mademoiselle Crush Absolu, yaitu wewangian teranyar Chanel dengan Gracie Abrams sebagai wajah barunya.
Hampir 750 tamu berkumpul menjadi saksi bagaimana Chanel—dengan pesona khasnya—menerjemahkan spirit Coco Mademoiselle sebagai sebuah malam istimewa yang bergerak layaknya malam Paris itu sendiri, yang dimulai dengan percakapan, berkembang menjadi permainan, lalu berakhir dengan musik, tarian, dan energi yang seolah tak terkendali. Interpretasi sebuah sikap yang terwujud dari wewangian elegan yang mencintai kehidupan.
|
|
Skenario awal, Anda memasuki sebuah kafe yang seluruh atmosfernya dibangun dalam nuansa Coco Mademoiselle. Di sini, Chanel sama sekali tidak memilih pendekatan beauty event yang konvensional. Sebaliknya, Anda diajak masuk ke dalam dunia parfum tersebut. Ada maîtres d’hôtel, bartender, Crush Tellers, dan Elixir Masters yang membuat Anda dan tamu-tamu lainnya menjadi bagian dari sebuah permainan. Kafe di Paris sendiri familier sebagai lokasi di mana berbagai kemungkinan mampu terjadi—perkenalan, percakapan, hingga agenda yang berlanjut spontan. Narasi ini dan berbagai figurnya menceritakan tentang sebuah wewangian yang diterjemahkan lewat kejutan dan interaksi, seakan Chanel ingin mengatakan bahwa memahami sebuah parfum tidak selalu harus dilakukan dengan membaca daftar notes. Ada kalanya aroma lebih tepat dipahami lewat perasaan yang ditimbulkan.

Di tengah atmosfer tersebut, Chassol, musisi yang tersohor lewat pendekatan eksperimentalnya terhadap jazz dan improvisasi, membuka malam dengan sebuah set yang berada di antara puisi dan groove. Alunan musiknya seolah memberikan pembuka yang tidak tergesa dan membiarkan suasana terbentuk sedikit demi sedikit. Sesuatu yang sangat Parisian. Di mana malam tidak terburu-buru membuka seluruh barisan kartunya, dan justru membiarkan rasa penasaran bekerja.
Lalu pintu ballroom terbuka. Dan ritme seketika berubah.
Para penari memenuhi lantai dansa yang berada di jantung ballroom. Sementara musik bergerak dari disco menuju funk dan electro. Pesta telah berjalan. Breakbot membuka babak berikutnya dengan remix Young Hearts Run Free milik Candi Staton, lagu yang juga menjadi soundtrack kampanye Coco Mademoiselle Crush Absolu. Pilihan musik yang terasa tepat. Dalam melodinya, ada sesuatu yang bebas, sedikit nakal, dan tidak terlalu ingin patuh dalam aturan. Persis seperti karakter yang ingin dibangun Chanel untuk Coco Mademoiselle Crush Absolu.
|
|
Kemudian muncul 30 penari yang dipimpin Sidi Larbi Cherkaoui, koreografer untuk kampanye Crush Absolu. Mereka kembali menciptakan adegan dari film kampanye ke dalam ruang pesta. Apa yang sebelumnya hanya terlihat lewat layar kini berlangsung nyata di hadapan Anda. Di momen ini, batas antara kampanye dan kenyataan menjadi tipis.
Bila menelaah lebih dalam, di sini strategi Chanel terasa luar biasa menarik. Film kampanye tidak dibiarkan berdiri mandiri sebagai materi komunikasi yang terpisah dari produk. Skenario kampanye dibawa masuk ke dalam pengalaman fisik. Gerakan para penari menjadi perpanjangan dari bahasa visual parfum, sementara musik menjadi elemen yang mengubah narasi tersebut menjadi sesuatu yang bisa dirasakan secara langsung.
Coco Mademoiselle tidak lagi hanya dilihat dalam bentuk sebuah botol. Ia bergerak. Ia terdengar. Dan dalam konteks tertentu, ia terasa seperti berada di udara, mengangkat dinamika energi Parisian dalam aroma. A vibe.
Di dalam ballroom teater Anda berdansa bersama para Friends of the House dan para seniman yang hadir. Di antaranya Gracie Abrams—tentu saja, Angèle, Go Young-jung, Miu Natsha, Lena Lalina, Bhavitha Mandava, Lux Pascal, Mackenyu, Jorja Smith, Guillaume Diop, Timur Gabriel, Hannah Quinlinvan, hingga Yasamin Jasem dari Indonesia. Seorang Friends of the House yang menjadi salah satu figur penting dalam kultur house music dan disco, Honey Dijon, mengambil alih meja DJ. Ia tampil dalam set back-to-back bersama DJ Prancis Chloé Caillet. Dua karakter dari dunia dancefloor bertemu dalam satu set, membawa energi pesta kian jauh dari format peluncuran parfum pada awamnya. Kemudian Alissia, produser asal Amerika Serikat yang tersohor sebagai kolaborator musisi Anderson .Paak, menutup malam dengan set yang menggabungkan funk dan electro-soul. Le Trianon, sebagai salah satu ruang pertunjukan paling ikonis di Paris menjadi setting ideal untuk selebrasi malam itu.
|
|
|
|
|
|
|
|
Mulai dari awal melangkah masuk ke suasana kafe hingga ingar-bingar pesta malam itu menggambarkan Coco Mademoiselle Crush Absolu sebagai sesuatu yang datang tanpa perhitungan. Pengalaman yang berkaitan dengan gagasan tentang spontanitas dan kemungkinan. Karena ketika seseorang mengalami sebuah crush, ia akan seketika terbuka terhadap dunia. Dan ini menjelaskan mengapa Chanel memilih pesta sebagai medium untuk memperkenalkan Coco Mademoiselle Crush Absolu, di mana parfum yang merupakan pengalaman individual mampu melebur ke latar pesta yang menjadi sebuah pengalaman kolektif. Di mana seseorang membuka diri pada dunia dan mengubah cara memandangnya.
Seseorang itu adalah Gracie Abrams, yang didapuk sebagai wajah terbaru Coco Mademoiselle dan membawa karakter yang berbeda ke dalam dunia parfum Chanel. Kehadirannya tidak dibangun melalui gagasan tentang perempuan yang sempurna ataupun citra yang terlalu terkontrol. Sebaliknya, kampanye Crush Absolu memperlihatkan Abrams yang membiarkan dirinya terseret oleh spontanitas.
Gracie Abrams
Layaknya formula Crush Absolu yang dikembangkan oleh Olivier Polge, In-House Perfumer-Creator Chanel. Parfum ini mempertahankan hubungan dengan DNA Coco Mademoiselle, namun menggeser intensitasnya ke arah yang lebih sensual dan dalam. Komposisinya bermain dengan kontras, seperti segarnya citrus, karakter floral dari mawar dan melati, kemudian berkembang menuju dimensi vetiver dan woody-ambery yang lebih hangat, dengan aksen vanila yang menyuguhkan kelembutan sekaligus sensualitas. Sebab crush sendiri tidak memiliki emosi tunggal, maka kontras menjadi elemen penting. Bayangkan saat Anda memiliki crush, emosi ini bisa terasa ringan sekaligus intens. Manis, tapi mengganggu ketenangan. Membuat sesorang merasa percaya diri, tapi di saat yang sama, membuatnya kehilangan kemampuan untuk berpikir rasional. Dan Polge melihat ini sebagai pengalaman yang sangat personal, “Saya membayangkan parfum ini menemani perempuan yang mengenakannya untuk tidak sekadar mengikuti arus, melainkan untuk mengungkapkan jati diri dan mengejutkan diri sendiri.” Coco Mademoiselle Absolu Crush adalah eksplorasi terhadap keadaan emosional yang membuat seseorang berani bergerak keluar dari kebiasaan.

Di Le Trianon tengah malam itu, Paris berada dalam suasana perayaan penuh. Namun kalimat terakhir dari Chanel terasa seperti sebuah catatan yang sengaja dibiarkan terbuka: “But the crush was only just beginning.” Hampir 750 pasang mata membaca tulisan ini dan membiarkan dirinya mengalami cerita yang sama melalui cara yang berbeda. Ada yang hadir untuk parfum. Ada yang hadir untuk musik. Ada yang hadir untuk reportase. Ada yang hadir untuk fashion ataupun para Friends of the House. Pada akhirnya, semua bertemu di dancefloor, ruang bagi setiap orang untuk menemukan interpretasinya sendiri lewat spontanitas yang dihadirkan aroma malam khas Paris.




Angèle
Go Youn-jung
Miu Natsha & Lena Lalina
Bhavitha Mandava
Lux Pascal
Mackenyu
Guillaume Diop
Hannah Quinlivan
Gracie Abrams