4 Agustus 2026
Kebangkitan Marseille sebagai Destinasi Selatan Prancis yang Kian Didambakan
text by LENA DE CASPARIS
text: Lena De Casparis
Seiring waktu berjalan, kota kedua terbesar di Prancis ini kini tampil dengan karakter yang lebih berani dan menjadi alasan mengapa semua orang berpelisir ke selatan.
Saya punya ingatan samar saat berusia enam tahun: menggunakan mobil menelusuri pusat kota Paris bersama beberapa kerabat. Mobil-mobil membunyikan klakson ke arah kami, orang-orang berteriak; bahkan seorang laki-laki paruh baya mengangkat tangannya seolah ingin meninju ke arah saya. Saya menoleh menghadap ke ibu saya yang sedang duduk di sebelah saya saat kami duduk di kursi belakang. "Kita memiliki plat nomor mobil Marseille, sebab itu mereka semua mengira kita pembuat masalah," ia bergumam menjelaskan. Sebagian besar keluarga dari pihak ibu saya memang berasal dari kota kedua terbesar di Prancis tersebut, sehingga wajar saja kalau saya tidak memahami situasi ini—karena selama ini saya hanya pernah menyaksikan perdebatan soal perbandingan porsi peterseli di dalam tabbouleh (salad khas Lebanon), dan tidak pernah ada lagi sesuatu yang lebih serius.
Namun, seiring saya bertambah dewasa dan kami terus kembali ke wilayah tersebut di setiap musim panas, saya mulai melihat sisi kota yang lebih keras dan mencolok. Dalam perjalanan dari bandara menuju Marseille, barisan kapal industri tampak mendominasi, seolah bayangannya memayungi lanskap di sekitarnya. Bangunan-bangunannya sebagian besar dipenuhi grafiti mencolok. Banyak area yang memiliki aroma kurang sedap, seolah setiap anjing di sana memilih tempat yang sama sebagai toilet. Lalu ada penduduk yang tersebar di berbagai area. Marseille dihuni lebih dari 800.000 penduduk (termasuk campuran imigran yang sangat beragam dari Aljazair, Maroko, dan Tunisia), dan di musim panas, jalanan membengkak, dipenuhi lautan manusia yang bergerak dan menari di lorong-lorong tropis.
Jendela berhias bunga di area Le Panier yang khas.
Bagi saya, justru semua itu yang membuatnya terasa seru. Kota ini berbeda dari tempat mana pun yang pernah saya kunjungi di Eropa, dengan suasana yang lebih mirip medina (kota tua atau distrik bersejarah) khas Afrika Utara. Namun selama bertahun-tahun, kota ini nyaris tidak banyak diperhatikan—kecuali kalau Anda penggemar rapper Jul atau pesepak bola Zidane yang menjadi dua bintang terbesar dari wilayah ini. Namun saat ini, Marseille sedang mengalami momen puncaknya. Desainer Simon Porte Jacquemus menjadi salah satu penyebabnya—ia tumbuh besar bermain di kota ini, menggelar berbagai fashion show di sekitarnya, merilis koleksi yang terinspirasi dari orang-orangnya, bahkan menerbitkan buku Marseille Je T'aime tentang kecintaannya pada kota ini. Kini, restoran-restoran baru bermunculan hampir setiap minggu, sektor seni berkembang pesat, gerakan fashion sirkular juga semakin hidup-ditambah pilihan belanja yang cukup menggoda sampai layak membayar bagasi tambahan di penerbangan EasyJet. Bahkan, banyak warga Paris yang pindah ke sini saat pandemi, mengejar kehidupan baru yang dibuai oleh kelezatan semangkuk bouillabaisse (sup ikan khas Marseille) ditemani menyesap segarnya pastis di tepi laut.
Lorong di kota tua Le Panier berlatar Marseille Cathedral.
"Saya mencintai Marseille karena kedalaman dan kejujurannya—-kota ini punya sisi keras, tapi sangat jujur. Ini bukan tempat yang paling mudah untuk menjadi domisili. Anda benar-benar harus 'menggali untuk menemukan hal-hal di sini. Tapi cahayanya luar biasa, dan tidak ada kota yang lebih pantas sebagai lokasi ideal untuk menikmati pemandangan dan suasana Mediterania di musim panas," ujar supermodel Erin Wasson, yang baru-baru ini membuka Cécile Food Club yang vegan-friendly di Marseille bersama suamina-yang berasal dari sana. "Salah satu tempat favorit saya untuk minum adalah Ivresse, wine bar natural yang cantik di kawasan Le Panier. Saya juga suka melangkan waktu cukup lama untuk menikmati makan siang di Sepia. Tempatnya menghadap ke taman, dan kerap ditemani penampakan anjing-anjing dan anak-anak kecil yang berlarian di sekitarnya."
Le Panier, kawasan yang disebutkan Wasson, kini menjadi tempat yang wajib dikunjungi. Terkenal dengan adanya tiga bukit curam yang membentang dari laut, area ini dipenuhi jalan antar bangunan sempit yang saling terhubung, mengarah ke alun-alun cantik dengan barisan kafe. Namun di sisi lain, kuliner di seluruh kota juga sedang berkembang pesat. Untuk on-the-go sandwich yang menggoda, coba Pétrin Couchette, atau restoran sejenisnya, Livingston, yang menyajikan tapas dan natural wine di teras. Kalau ingin sesuatu yang lebih mewah, kunjungi AM par Alexandre Mazzia, yang kini sudah mengantongi tiga bintang Michelin namun masih menawarkan menu makan siang seharga €60. Dan jangan pulang tanpa makan di Limmat, untuk mencicipi moules-frites terbaik yang pernah Anda coba.
Seni dan desain telah menjadi denyut nadi kota ini, dan bangunan karya Le Corbusier, Cité Radieuse-sebuah blok apartemen berwarna-warni dari era 1920-an—masih menjadi destinasi yang wajib dikunjungi. Namun, skenario baru juga mulai bermunculan: La Pavillon de la Reine Jeanne, sebuah mansion awal abad ke-20 yang terletak di atas bukit di kawasan pelabuhan Malmousque, kini telah direstorasi menjadi studio bagi seniman-seniman baru sekaligus menjadi galeri.
Teras restoran bergaya Mediterania di jalanan kota.
Berbelanja di Marseille kini juga menjadi daya tarik besar bagi para pecinta mode. Kunjungi Maison Empereur untuk menemukan peralatan dapur klasik Perancis dan stok sabun lavendel seumur hidup (kalau Anda benar-benar tida rela untuk pergi, Anda bahkan bisa menginap di apartemen yang berlokasi di belakangnya). Concept store Jogging menjadi destinasi untuk menemukan koleksi dari brand seperti Wales Bonner hingga Telka, sementara Azul memadukan aksesori meja makan dengan tote bag terbaik di Eropa. Perjalanan belanja juga belum lengkap tanpa berhenti sejenak ke toko baru Sensible milik Sarah Espeute, yang menjual taplak meja bordir khasnya yang ikonis, Terakhir, para pecinta print dan buku pasti akan jatuh hati pada Ensemble, sebuah toko buku sekaligus ruang pameran dan ruang untuk perayaan spesial yang terletak di jalanan tenang di belakang kawasan pusat Vieux Port,
"Hal favorit saya dari Marseille adalah kenyamanan untuk kita dapat berpindah dari mendaki lalu berenang di laut bersama warga lokal, lalu berpindah lagi untuk berbelanja sabun mewah hanya dengan memakai busana favorit Anda apa adanya-yang semanya dapat dilakukan dalam satu hari. Kota ini memberi ruang untuk semua sisi diri Anda dan kota ini pun menerima semuanya. Ada seni yang indah, toko-toko super keren, dan scallop panggang yang lezat. Tapi juga ada daging panggang di pinggiran jalan, kios yang menjual kerajinan anyaman, dan suasana yang penuh penerimaan," ujar Lydia Pang. Tempat favoritnya untuk duduk santai di kota ini adalah sebuah kafe kecil bernama Deep Coffee Roasters. "Saya sangat menyukai tempat kecil yang menyegarkan dan tersembunyi ini-mulai dari breakfast bowl ala India, merchandise-nya, sampai dinding penuh ilustrasi zine. Dan lucunya, saya bahkan tidak minum kopi."
Danau berbatu khas Prancis Selatan.
Kini, saat saya kembali ke Marseille setiap musim panas bersama anak-anak, saya lebih menginginkan perjalanan yang tenang dan santai. Sebab itu, kami pergi ke Les Goudes, sebuah desa nelayan di pinggiran kota. Lokasinya cukup tersembunyi dan dikelilingi Calanques National Park (tebing limestone yang mencolok di atas laut), dengan banyak teluk kecil privat untuk bersantai di tepi Laut Mediterania yang berkilau-jauh dari kesibukan kota besar. Area ini juga baru-baru ini jadi destinasi fashionable sejak dibukanya Tuba Club, restoran sekaligus penginapan lima kamar yang dibangun menyatu dengan bebatuan di tepi pantai. Di sana, tote bag hijau khas Bottega Veneta dan sepatu mesh Alaïa berserakan di samping kursi santai bergaris kuning cerah, dengan pengunjung yang terlihat seperti baru saja minum orange wine di Dover Street Market. "Rasanya seperti London di tepi laut," ucap seorang Editor ELLE setelah kunjungannya. "Saya bahkan bertemu banyak fotografer dan stylist dari London saat sedang makan ceviche yang luar biasa lezat dan salad Yunani."
Saya selalu menginap di Cabanon des Goudes, sebuah kabin dua kamar yang tersembunyi dengan warna cerah, rasanya seperti menginap di daftar liburan ala Modern House. "Les Goudes itu seperti hidup dalam slow motion yang menyenangkan di setiap musim-mendaki Calanques National Park saat musim dingin, bersantai di atas batu saat musim semi, makan malam ikan bakar sederhana di musim panas, dan berenang sepanjang musim gugur," kata pemiliknya, Camille de Laurens. Jangan lupa coba hidangan ikan di Chez Paul, lalu jalan melewati bebatuan menuju Baie des Singes untuk menikmati semangkuk spageti dan menghabiskan sore di kursi berjemur oranye ikonis mereka dengan pemandangan laut.
Jelas bahwa Marseille sedang berubah. Memang, kalau salah belok, aroma khas anjing itu masih bisa tercium—tapi dengan berkembangnya skenario kuliner, seni, dan mode yang menjanjikan, masa depannya belum pernah terasa semanis ini.
