26 Januari 2026
Jelajah Kanada: Dari Kota Ikonis hingga Alam Memukau
PHOTOGRAPHY BY Getty Images
Text by Naomi May
Menebar eksotisme dari bentangan hutan berkabut, bukit-bukit terselimuti salju, hingga dunia seni yang semarak, Kanada menjadi tempat bermain bagi para pencari petualangan dan penggemar budaya. Kini saatnya bepergian meninggalkan batasan-batasan Anda.
Ada masanya ketika keberhasilan sebuah liburan diukur dari berapa banyak tidur yang hilang, minuman yang tandas, dan malam-malam liar. Mexico City, Tokyo, dan Manhattan—semuanya telah saya warnai merah dengan tampilan mata sayu, bergandengan tangan bersama sahabat-sahabat saya, sambil tertawa dan terhuyung-huyung menembus malam. Sulit menentukan tepatnya kapan standar bepergian saya berubah. Tapi saat saya dan pasangan merencanakan perjalanan tahunan kami, saya menyadari bahwa saya merindukan sesuatu yang berbeda dari mata yang lelah dan kerumunan pesta yang riuh: sebuah pelarian. Mungkin ini adalah pergeseran generasi: menukar mabuk minuman dengan pendakian gunung sedang menjadi tren di kalangan Gen Z dan Milennial; cooler box Yeti menjadi aksesori wajib tahun 2025 (apa itu tas Loewe Puzzle?); merek outdoor Kanada, Arc’teryx, kini menjadi seragam bagi editor mode di mana-mana; dan aplikasi yang mendengarkan kicau burung dan memberi tahu jenis burung yang bersuara (ya, Shazam untuk burung) kini wajib ada di TikTok. Banyak tempat yang memancing rasa ingin tahu kami, namun akhirnya kami memilih Kanada: destinasi musim panas santai, di mana liburan kota yang hidup berpadu sempurna dengan alam liar yang menakjubkan. Toronto sedang berada di puncak momen kulinernya, berkat para koki ternama seperti Matty Matheson dari serial The Bear, sementara dunia wellness di Vancouver menantang Los Angeles dengan sentuhan magnesium yang mewah. Tujuan perjalanan kami? Untuk dibuat terpesona oleh alam yang tersembunyi di belantara negara terbesar kedua di dunia.
Vancouver

Jembatan Lions Gate di Vancouver
Vancouver menjadi pemberhentian pertama dalam perjalanan kami—untuk 36 jam. Aturan utama saya saat mengunjungi kota untuk pertama kali adalah menaiki tur bus hop-on, hop-off sebagai moda berkendara yang wajib dicoba, terutama jika hanya punya waktu singkat. Meski sering dipenuhi banyak turis, tur ini menjadi cara yang cepat dan praktis untuk memahami tata letak kota dan menangkap suasana sekitarnya.
Begitu menjejak di Vancouver, segera terlihat mengapa kota ini memiliki begitu banyak penggemar: Stanley Park—hutan seluas dua kali Monaco dan 20% lebih besar dibandingkan Central Park di New York—menjadi jangkar di sisi barat kota, sementara kawasan yang sudah mengalami gentrifikasi seperti Gastown memikat dengan pencahayaan industrial, dinding bata terbuka, dan kerumunan hipster yang santai. Kota ini hidup dan segar, dipenuhi energi yang menular, dibalut langit biru dan deretan pepohonan hijau zamrud. Secara kebetulan, kami menemukan sebuah restoran Italia kecil yang tenang bernama Ask For Luigi, yang layak dikunjungi meski hanya untuk menikmati segelas gavi dingin sambil menatap perairan yang tenang. Kami juga memastikan untuk mampir ke Mine & Yours, sebuah toko designer-resale keren di Davie Street yang penuh dengan koleksi vintage terbaik yang pernah memanjakan mata saya.
Whistler

Hutan taman air terjun Brandywine di Whistler
Road trip kami dimulai dengan Jeep Wrangler vintage, disewa untuk mengarungi 120 kilometer sepanjang Sea-to-Sky Highway dari Vancouver menuju Whistler, yang selama bulan-bulan di musim dingin dikenal sebagai resor ski terbesar di Amerika Utara. Namun di musim hangat, tempat ini berubah menjadi utopia bagi penggemar sepeda gunung, para pencari adrenalin yang penuh lumpur, dan penduduk lokal yang menikmati kombucha di bawah sinar matahari. Kami berhenti sejenak, membiarkan diri benar-benar menyerap pesona panorama sekitar yang tenang, lalu berkunjung ke Araxi, destinasi kuliner yang dinobatkan sebagai restoran terbaik di Whistler selama lebih dari satu dekade. Keesokan paginya—setelah menyaksikan matahari terbit—kami ke Peak 2 Peak Gondola untuk menikmati pemandangan 360 derajat yang menghampar di atas desa dan pegunungan Blackcomb.
Telegraph Cove
Dermaga dan perahu yang mengapung di Telegraph Cove |
Kawasa paus orca di perairan Alert Bay, British Columbia |
Dari Whistler, kami melanjutkan perjalanan menuju Horseshoe Bay, tempat kami menumpang feri sore menyeberang ke Nanaimo. Dari Nanaimo, kami mengambil mobil kedua dalam perjalanan ini dan berkendara selama lima jam menuju Telegraph Cove, sebuah pos kecil seukuran kartu pos di pesisir utara Vancouver Island, tempat yang terasa seperti tanpa sengaja menemukan lokasi syuting film Wes Anderson yang tertata dengan begitu cermat. Dalam keadaan lelah, kami kemudian menyeberang dengan feri ke Alert Bay dan merebahkan diri di tempat tidur ukuran king di Seine Boat Inn, sebuah hotel tepi laut dengan suasana tenang yang tidak sekadar menawarkan kedamaian, tetapi seolah menuntutnya.
Tentu saja, pelarian sejati ke alam liar tidak akan lengkap tanpa sensasi menyaksikan paus pembunuh beraksi. Beruntung bagi kami, Telegraph Cove adalah salah satu tempat terbaik di dunia untuk melihat paus orca di habitat aslinya, dengan sirip punggung mereka yang megah dan bergerak perlahan membelah kabut. Kami pun mengatur tur whale-watching melalui penyedia lokal, serta tur kayak saat matahari terbenam untuk menyaksikan mereka lebih dekat. Dalam momen itu, hati saya terasa begitu tenang dan pikiran saya benar-benar hening. Saat duduk terombang-ambing di atas kayak, menyaksikan permukaan air yang selembut beledu beriak perlahan, saya merasakan beberapa tetes air mata kebahagiaan di pipi.
Tofino

Cox Bay Beach di Tofino, yang kerap jadi destinasi peselancar
Menyeruput kopi panas sambil duduk di balkon kamar, kami bertanya-tanya betapa beruntungnya bisa melarikan diri ke sudut dunia yang begitu memesona. Tujuan berikutnya adalah Tofino, yang kami capai menjelang senja, setelah kembali berkendara ke Nanaimo lalu melanjutkan perjalanan selama tiga jam lagi. Kota pesisir di Vancouver Island ini terkenal akan keindahan alamnya yang alami, Antara November hingga Februari, tempat ini berubah menjadi pusat pelarian bagi para warga Vancouver yang ingin bersantai di pondok-pondok mewah sambil menyaksikan Samudra Pasifik bergolak. Di musim yang lebih cerah, mereka datang ke sini untuk berselancar—itulah sebabnya Tofino dijuluki Long Beach, yang memang sangat luas. Kami mencatat langkah harian hingga lima digit saat berjalan menyusuri Pacific Rim National Park Reserve, lalu singgah di Hot Springs Cove pada sore hari, tempat kami berendam di kolam geotermal alami dan menguji keseimbangan saat melangkah di atas bebatuan tak beraturan. Bagian terbaiknya? TIdak ada sinyal ponsel sama sekali di sini—tidak ada pengalaman yang lebih “off-grid” dari ini. Tempat terbaik untuk menginap di Tofino—bahkan satu-satunya pilihan jika Anda cukup beruntung mendapatkan reservasi—adalah The Wickaninnish Inn, yang terletak di dalam UNESCO Biosphere Reserve, persis di tepi perairan Pasifik Utara yang bergelora. Entah bagaimana, kami berhasil mendapatkan meja di restoran hotelnya, The Pointe, tempat kami duduk terpukau menyaksikan ombak yang menghantam garis pantai sambil menikmati segelas pinot grigio.
Banff
Suasana pagi di lereng perbuktikan kota Banff |
Valley of Ten Peaks di kawasan Moraine Lake, Banff |
Akhirnya, dengan berat hati kami meninggalkan pesona Samudra Pasifik yang begitu memesona dan bergerak ke arah timur menuju pegunungan Rockies. Perjalanan panjang dimulai dari Tofino kembali ke Nanaimo, lalu menyeberang lagi dengan feri menuju Horseshoe Bay, sebelum melanjutkan perjalanan darat (ya, ada banyak road trip di sini) ke Abbotsford. Dari sana, kami terbang ke Calgary dan kemudian melaju dengan mobil sewaan ketiga kami—sebuah BMW klasik—menuju Banff, tempat di mana, sekali lagi, seluruh lanskapnya seolah terlalu sempurna untuk nyata, seakan-akan hasil editan yang hidup di depan mata.
Pusat kota ini memadukan pesona desa ski khas Kanada dengan nuansa mimpi Swiss yang memesona. Sementara Lake Louise, dengan airnya yang biru menyala hasil lelehan gletser, menjadi permata sejati dalam mahkota Banff. Suatu sore yang tak terlupakan kami habiskan dengan berkendara menyusuri Icefields Parkway yang luar biasa menuju Jasper National Park—rute yang sering disebut sebagai salah satu perjalanan darat terbaik di dunia—di mana gletser-gletser tampak menggantung seperti anting di setiap puncaknya. The Malcolm, yang terletak tepat di tepi Quarry Lake Park, menjadi rumah kedua kami. Di sana, kami memesan beberapa putaran koktail menyegarkan yang disajikan di kolam renang luar ruangan berpemanas milik hotel, sambil menikmati beef tartare dan menyaksikan matahari perlahan tenggelam di cakrawala.
Toronto
Gedung-gedung pencakar langit dan CN Tower di Toronto
Untuk penutup perjalanan, kami kembali berkendara ke Calgary dan terbang menuju Toronto, sebuah metropolis multikultural yang berbeda dari kota-kota besar Amerika Utara lain yang pernah kami temui. Kota ini memancarkan perpaduan antara kemewahan yang penuh gaya dan keramahan yang menghangatkan hati. Dua malam terakhir kami habiskan di kawasan Yorkville, tepatnya di Four Seasons, yang menjadi titik awal sempurna untuk menjelajahi berbagai sudut Toronto. Untuk menikmati restoran small-plate yang trendi dan toko-toko vintage penuh karakter, kami menyusuri kawasan Kensington Market, lalu berjalan santai ke Cabbagetown, tempat deretan rumah era Victoria yang terawat indah berdiri anggun. Di St Lawrence Market—pasar yang telah ada sejak awal tahun 1800-an—lebih dari 120 penjual menawarkan segala hal mulai dari hasil Bumi segar hingga karya seni. Dan di mana tempat terbaik untuk menikmati senja? Soho House, yang menempati bangunan bergaya Georgia dari tahun 1830-an yang telah dipugar. Dari atapnya, Anda bisa menemukan sudut ideal untuk people-watching, menyaksikan keramaian kota dari ketinggian sambil menyeruput dirty martini terasa berat di malam terakhir, anggap saja itu bukti bahwa Anda telah menikmati Kanada dengan cara yang seharusnya.



