Deret Pencipta Mimpi dalam Rumah Mode Dior

Telusuri perjalanan rumah mode Dior dimulai dari penciptaan tampilan New Look yang inovatif hingga visi feminisme Maria Grazia Chiuri untuk gaya perempuan kini.

Dikenal lewat siluet New Look yang begitu inovatif, rumah mode Dior seolah-olah diciptakan untuk menjadi ‘rumah’ bagi para desainer legendaris dunia. Nama-nama anyar seperti Yves Saint Laurent, Gianfranco Ferré, John Galliano dan Maria Grazia Chiuri, hanyalah beberapa nama dari sekian banyak pencipta mimpi yang telah sukses menorehkan warisannya baik untuk sang rumah mode sendiri maupun industri mode secara keseluruhan. 

Berbicara tentang Dior tentu saja tak boleh melupakan sang pendiri, Christian Dior. Didaulat sebagai pahlawan mode di masa pasca-perang dunia kedua, sang desainer melalui kreasinya, seolah-olah berikan angin segar kepada para perempuan Paris saat itu yang sangat mendambakan tampilan cantik dan penuh gaya. Koleksi perdana nya yang bertajuk Corolle atau circlet of flower petals, langsung menuai atensi para penikmat mode berkat siluetnya yang tampil begitu bersahabat – ramping di bagian pinggang dengan rok a-line megah di bagian bawah. 

Putri Margaret disebut-sebut sebagai salah satu penggemar setianya. Begitu pula dengan deretan aktris Hollywood seperti Elizabeth Taylor, Ava Gardner dan Sophia Loren yang kerap tertangkap mengenakan kreasinya. Sang maestro mungkin telah lama tiada namun warisannya jelas akan terus terkenang berkat tangan-tangan dingin para penerusnya. 

Yves Saint Laurent (1957-1959)

Dior haute couture spring/summer 1958 (Trapèze) courtesy of Musée Yves Saint Laurent Paris.

Saat mengambil alih Dior di tahun 1957, Yves Saint Laurent sontak menjadi desainer adibusana termuda dunia di umur 21 tahun. Rehat sejenak dari siluet signature sang maestro yang memeluk tubuh, koleksi pertama Yves Saint Laurent berfokus pada siluet trapeze yang ringan dan rileks dengan tetap mengedepankan teknik adibusana yang presisi khas rumah mode Dior. Menyajikan sebuah tampilan yang cukup revolusioner di masa nya dan kembali mengukuhkan Dior sebagai rumah mode yang penuh inovasi. 

Marc Bohan (1960-1989)

Memulai karirnya di rumah mode Dior sebagai perancang khusus untuk lini Dior di kota London, Marc Bohan terpilih menjadi pengganti Yves Saint Laurent setelah sang desainer meninggalkan posisi nya untuk memenuhi tugas militer. Dikenal akan garis rancangnya yang lugas dan elegan, kreasinya jadi favorit para figur perempuan ternama di masa itu seperti Grace Kelly dan Jacqueline Kennedy. Koleksinya untuk musim gugur/dingin 1966 yang terinspirasi oleh film Doctor Zhivago diakui kritikus mode sebagai salah satu kreasinya yang paling mengesankan hingga kini.

Gianfranco Ferré (1989-1996)

Kemahiran dari rumah adibusana Dior berikan kesempatan bagi desainer asal Italia, Gianfranco Ferré untuk dapat bereksperimen dengan materi, konstruksi dan konsep yang mutakhir. Garis-garis yang ia rancang penuh dengan napas arsitektural serta semakin menegaskan reputasinya sebagai ‘arsitek mode’ di Paris. Tak hanya busana, sketsa yang ia hasilkan juga tak kalah menawan. Bahkan banyak pula yang menyebut jika diperlukan pengamatan lebih terhadap sketsa tersebut untuk dapat memiliki pemahaman mendalam akan metode sang desainer dalam merancang.

John Galliano (1996-2011)

Dior haute couture fall/winter 2009.

Tak hanya seorang perancang mode, John Galliano juga merupakan maestro dalam menampilkan peragaan busana. Dimulai dari persembahannya akan eksotisme Mesir yang ditampilkan dalam koleksi adibusana musim semi/panas 2004 sampai selebrasi perayaan ulang tahun Dior yang ke-60 tahun di istana Versailles yang dipenuhi oleh elemen dekor extravagan, semuanya tampil begitu spektakuler dan meriah berikut dengan atraksi utama berupa deretan busana kreasinya yang selalu mencengangkan. Teknik bias-cut yang selalu dihadirkan telah jadi ciri khas nya. Begitu pula dengan elemen teatrikal yang tak pernah lupa disisipkan di setiap koleksinya.

Raf Simons (2013-2015)

Garis rancang sleek dan estetika modernisme yang kental jadi identitas yang dicanangkan oleh Raf Simons selama periode kepemimpinannya di rumah mode asal Prancis tersebut. Ia pun sukses menginterpretasikan kembali beberapa atribut ikonis nya seperti bar jacket dan rok a-line serta membuatnya kembali relevan untuk gaya hidup perempuan kini. Tas Diorama dan kacamata hitam So Real juga merupakan salah satu peninggalannya yang masih menjadi favorit para penggemar mode hingga kini.

Maria Grazia Chiuri (2016 – kini)

Sebagai desainer perempuan pertama yang menduduki jabatan direktur kreatif, Maria Grazia Chiuri sukses membawa visi feminisme-nya serta meleburkannya bersama kreasi busana dan aksesori. Ia pun turut menuangkan visinya akan pemberdayaan perempuan melalui deretan konsep peragaan busana distingtif yang langsung menuai atensi. Bertanggung jawab dalam menghidupkan kembali lini tas Saddle yang ikonis, kemahiran sang desainer dalam merancang dan memprediksi tren juga tampak dalam lini tas Book Tote yang masih menyandang status ‘wajib-punya’ di musim ini. 

Images courtesy of GettyImages, Imaxtree, and Musée Yves Saint Laurent Paris.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.