10 Desember 2025
Dior Rayakan Sepuluh Tahun Metamorfosis Artistik Proyek Dior Lady Art
PHOTOGRAPHY BY DIOR
Tak terasa, sepuluh tahun telah berlalu sejak proyek Dior Lady Art pertama kali diluncurkan. Menyoroti salah satu kreasi tas paling ikonis di dunia, Lady Dior, proyek ini telah menjadi sarana ekspresi nan unik, di mana savoir-faire tiada banding berpadu dengan keberanian kontemporer. Dari musim ke musim, tahun ke tahun, jinjingan bergaris rancang abadi ini telah menjadi kanvas kosong bagi reinterpretasi inovatif dan puitis dari sederet nama-nama besar di dunia kesenian.
Kini di tahun 2025, Dior kembali mengundang sejumlah seniman dari seluruh dunia untuk ‘mendandani’ kreasi legendaris ini dan mengubahnya menjadi perwujudan visi mereka, di titik pertemuan antara seni dan adibusana, memuliakan takdir dan garis khasnya melalui prisma dunia mereka sendiri. Sepuluh orang seniman terpilih pun didapuk Dior untuk proyek kesepuluhnya ini, meliputi nama-nama besar seperti Jessica Cannon, Patrick Eugène, Eva Jospin, Ju Ting, Lakwena, Lee Ufan, Sophia Loeb, Inès Longevial, Marc Quinn, dan Alymamah Rashed. Dari Prancis hingga Korea Selatan, Brasil hingga Tiongkok, kesepuluhnya pun unjuk gigi untuk menyingkap keberagaman perspektif dan dialog antara warisan dan avant-garde, antara materi dan gagasan. Lihat lebih dekat empat di antaranya yang menyingkap intensitas sensorik luar biasa melampaui batas imajinasi.
EVA JOSPIN

Photography by MARION BERRIN
Dikenal lewat instalasi dan patung-patungnya yang mengundang pelarian dan mimpi-mimpi, seniman visual asal Prancis ini telah menciptakan dunia khayalan fantastis yang membangkitkan suasana dari kisah masa kecil serta berbagai perjalanan dan tempat tinggalnya. Menggabungkan ketelitian tanpa batas dan karakter monumental, lanskapnya membentuk banyak alam semesta yang sungguh menakjubkan.

Photography by MARION BERRIN
Untuk edisi kesepuluh Dior Lady Art, Eva Jospin melanjutkan dialog kreatif yang ia mulai bersama rumah mode tersebut selama peragaan mode Dior Haute Couture untuk musim gugur/dingin 2021-2022 dan telah merancang tas Lady Dior baru yang pesonanya tak tertahankan, dan merujuk pada karya tanda tangannya, Balcon. Menggambarkan suasana berjalan santai di pedesaan, tas ini dihiasi oleh berbagai sulaman halus yang membentuk vegetasi spektakuler. Luar biasa mewah, tas ini berpadu oleh pesona ikonis seperti balustrade miniatur yang terinspirasi dari balkon butik Dior di 30 Montaigne. Kontras bahan menonjolkan kerapuhan dari alam yang rimbun ini. Sebuah penghormatan terhadap adibusana, alam, dan arsitektur.
JU TING

Photography by LEI WENGQINGAO
Berasal dari Provinsi Shandong, Tiongkok, Ju Ting adalah seniman abstrak yang berbasis di Beijing, yang karyanya menonjol lewat perpaduan antara medium konvensional—lukisan dan patung—dan caranya mengaburkan batas di antara keduanya. Menggunakan lapisan tebal cat akrilik yang terputus oleh lipatan dan retakan, permainan tekstur pada permukaan dieksplorasi Ju Ting untuk memberikan rasa realitas material pada siapapun yang melihatnya.
|
|
Photography by LEI WENGQINGAO
Sejalan dengan pendekatannya, ia memperkenalkan dua versi ulang dari tas ikonis Lady Dior untuk peringatan sepuluh tahun Dior Lady Art; menggabungkan keanggunan gaya Dior dengan semangat eksentrik dari pendekatan kreatifnya. Versi mini sepenuhnya dihiasi garis-garis yang dibuat menggunakan teknologi frekuensi tinggi dan disulam menggunakan manik-manik berbentuk tabung, sementara versi keduanya yang berukuran sedang, terdiri atas panel berombak yang menciptakan gerakan dan ilusi optik, meminjam prinsip dari seni kinetik. Diterangi oleh rona cerah yang mengingatkan pada palet warna Ju Ting, kedua variasi ini diperkaya oleh detail luar biasa, seperti pelapis dan finishing akhir dengan efek ‘cermin’—termasuk pegangan dan charm ‘D, I, O, R’—dalam bentuk balon yang menggemaskan, menciptakan dialog menarik antara bahan serta mengaburkan batas antara proses dan konvensi artistik.
LEE UFAN

Photography by MARION BERRIN
Lahir di Korea Selatan, Lee Ufan tinggal dan membagi waktunya antara Paris, New York, dan Jepang. Ia adalah seorang teoretikus dan juru bicara gerakan avant-garde Mono-ha (‘Sekolah Benda’), yang berfokus pada pertemuan dan ketergantungan antara bahan alami dan industri, serta hubungan keduanya dengan ruang. Sebagai pelukis, pematung, penyair, dan filsuf yang terkenal di dunia, karya Lee Ufan menjadi saksi dari ikatan yang tak terpisahkan antara dunia tumbuhan, seni, dan kesadaran manusia.
|
|
Filosofi ini pula yang mendasari karya-karya Lee Ufan untuk proyek kesepuluh Dior Lady Art di mana sang seniman menciptakan tiga karya puitis yang mengungkapkan gaya dan praktik uniknya. Desainnya mencerminkan estetika minimalis dari lukisannya, yang sering kali terdiri atas satu sapuan kuas tunggal, mencerminkan keinginan Lee Ufan untuk mencapai kemurnian mutlak. Karya pertamanya sepenuhnya dilapisi bulu imitasi; kreasi keduanya dihiasi oleh banyak rumbai mini, sementara yang terakhir menampilkan efek relief yang memukau; dihasilkan oleh keahlian sulam pada kulit yang dijahit tangan. Seluruhnya hadir dalam warna monokrom—hitam, biru, putih—tas-tas tersebut menampilkan satu area datar cat berwarna cerah di bagian depan, yang mewujudkan ketegangan antara gerak dan bidang piktorial yang menjadi ciri khas kanvasnya.
SOPHIA LOEB

Photography by JAMES ROBJANT
Mendorong keberadaan yang harmonis antara manusia dan alam, lukisan abstrak karya Sophia Loeb terinspirasi oleh sensasi berada di alam, baik secara fisik maupun batin. Menggabungkan sapuan kuas ekspresif dengan momen ketenangan, karyanya diwujudkan melalui gerak intuitif, membawa siapapun yang melihatnya ke dalam hubungan dengan kenangan akan Bumi purba yang belum tersentuh oleh manusia.

Lewat perpaduan tekstur yang memesona, empat tas Lady Dior yang ia rancang untuk proyek Dior Lady Art kesepuluh ini menawarkan panorama indah dari estetika uniknya. Tas pertamanya membawa kita pada perjalanan ajaib melalui taman impresionis yang terbuat dari mutiara, benang, dan sentuhan kawat logam, sementara kreasi keduanya melanjutkan perjalanan bunga ini dalam perpaduan bahan dan savoir-faire. Luar biasa anggun, karya ketiganya yang sepenuhnya dihiasi kulit emas, memanfaatkan teknik leluhur— embos kulit—untuk menciptakan pola organik dan grafis. Terakhir, ia memperkenalkan sebuah tas dalam warna merah monokrom yang menjadi gema halus dari siluet flamboyan sang pendiri couturier yang disebut Trafalgar, tampak meniru logam cair, sebuah efek visual memikat yang menyingkap lukisan puitis di bagian dalam sebagai pelapisnya.
Dari Chanel Hingga Bottega Veneta, Inilah Deretan Direktur Kreatif Baru yang Menjadi Sorotan di Fashion Week 2025
Merayakan Kebebasan Lewat Warna dalam ‘Life on a Parisian Street’ di Koleksi Musim Gugur/Dingin 2026 Ami Paris
Women In Film dan Max Mara Umumkan Aktris Maude Apatow sebagai Pemenang Women In Film Max Mara Face of the Future 2025



