LIFE

16 Agustus 2026

Ari Irham Mengeksplorasi Identitas Karier bersama Waktu


PHOTOGRAPHY BY Ikmal Awfar

Ari Irham Mengeksplorasi Identitas Karier bersama Waktu

stying Ismelya Muntu & Alia Husin; fashion Valentino; makeup Morin Iwashita; hair Ichaana; production assistants Rachel Noriska, Kyla Shabia, Sarah Aliyyah

Ari Irham berbicara seperti seseorang yang tidak merasa perlu tergesa-gesa. Ia memilih kata-katanya dengan tenang, tidak berusaha terdengar lebih bijak dari usianya, juga tidak sibuk membangun citra sebagai anak muda yang selalu memiliki jawaban. Di balik wajah yang telah akrab muncul di layar lebar sejak remaja, ada pribadi yang tampak menikmati proses untuk bertumbuh. Ia tidak sedang mengejar identitas sebagai aktor, musisi, disjoki, atau penulis. Semuanya tumbuh beriringan, menjadi medium yang berbeda untuk mengungkapkan kegelisahan yang sama.

Generasi kreatif Indonesia hari ini lahir di ruang yang nyaris tidak lagi mengenal sekat antardisiplin. Seorang aktor dapat menulis novel, seorang musisi dapat menyutradarai film, sementara media sosial menghapus batas antara pencipta karya dan figur publik. Di antara lanskap baru tersebut, Ari Irham menjadi salah satu representasi perubahan itu. Ia bergerak di antara seni peran, musik, sastra, dan budaya digital, tanpa merasa perlu memilih satu label sebagai definisi tunggal dirinya.

Menariknya, hidup tidak pernah ia rancang ke arah tersebut. Ketika banyak anak seusianya memiliki cita-cita yang jelas, Ari justru mengaku tidak pernah benar-benar tahu ingin menjadi apa. Ia pernah ingin menjadi polisi, sebelum jatuh cinta pada musik elektronik setelah melihat seorang disjoki tampil. Ketertarikan yang lahir dari rasa penasaran itu berkembang menjadi profesi. Pada usia lima belas tahun, ia sudah tampil sebagai DJ dan menghasilkan uang sendiri—sebuah pengalaman yang datang jauh lebih cepat daripada proses menjadi dewasa yang dialami kebanyakan remaja.

Jalan menuju akting bahkan lebih tak terduga. Saat menemani saudaranya mengikuti casting, Ari justru diminta ikut mencoba dan akhirnya mendapat peran dalam serial Super Puber. Sebuah kebetulan kecil yang mengubah arah hidupnya. “Saat itu saya benar-benar terkejut karena baru tahu yang namanya akting. Saya diajarkan soal dialog, urusan blocking, ekspresi wajah. Saya termasuk orang yang kikuk berhadapan dengan banyak orang. Kalau jadi disjoki, saya ada di belakang meja dan tidak bertatapan langsung dengan audiens, sementara akting memaksa saya melawan rasa malu karena harus berinteraksi begitu intens.”

Di balik wajah yang kini akrab menghuni layar lebar, Ari sesungguhnya tumbuh sebagai anak yang pemalu. Ia canggung memulai percakapan, tidak nyaman menjadi pusat perhatian, dan lebih senang mengamati daripada tampil. Ironisnya, dua profesi yang kemudian membesarkan namanya justru menuntut keberanian untuk hadir di hadapan publik. Barangkali di situlah seni bekerja dengan cara yang paling sunyi. Ia bukan hanya melahirkan karya, tetapi perlahan membentuk manusia yang mengerjakannya. “Kalau melihat kembali Ari yang berusia lima belas tahun dengan Ari hari ini, perubahan terbesar adalah kemampuan berkomunikasi. Dulu saya benar-benar kesulitan berinteraksi dengan orang lain. Sekarang saya bersyukur karena pekerjaan mempertemukan saya dengan begitu banyak orang dari latar belakang yang berbeda. Rasanya saya tidak akan menjadi pribadi yang lebih supel kalau tidak ditempa oleh pengalaman-pengalaman itu.”

Kematangan, bagi Ari, lahir dari pengalaman yang diulang berkali-kali. Lokasi syuting, studio musik, dan panggung pertunjukan menjadi ruang belajar yang mengajarkannya sesuatu yang tak pernah ia temukan di ruang kelas: membaca orang lain sekaligus mengenali dirinya sendiri. Tentu proses itu tidak selalu mudah. Ia pernah dimarahi seorang sutradara karena satu adegan harus diulang hingga dua puluh satu kali. Pengalaman tersebut membuatnya sempat berpikir bahwa akting bukan bidang yang tepat baginya. Namun, dunia kreatif sering kali bergerak justru setelah seseorang memutuskan bertahan sedikit lebih lama. Ari memilih bertahan.

Keputusan sederhana itu membawanya melintasi berbagai lanskap perfilman Indonesia. Mulai dari ILY from 38.000 FT, Promise, Terlalu Tampan, Ratu Ilmu Hitam, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Generasi 90an: Melankolia, Mencuri Raden Saleh, Jagat Arwah, hingga Ketika Berhenti di Sini. Filmografi tersebut memperlihatkan keberaniannya berpindah dari drama remaja, horor, aksi, hingga drama psikologis.

Di luar layar, ia juga menulis novel After Met You, yang kemudian diadaptasi menjadi film dengan dirinya sebagai pemeran utama. Langkah itu menegaskan bahwa baginya, bercerita tidak pernah bergantung pada satu medium. Film, musik, atau tulisan merupakan wadah yang berbeda untuk menyampaikan kegelisahan yang sama. “Musik dan akting mungkin berbeda secara teknis, tetapi dari sisi kreativitas keduanya saling berkaitan. Sama-sama punya tempo. Sama-sama mengajarkan saya soal disiplin.”

Tempo menjadi kata yang paling tepat untuk membaca perjalanan Ari. Ia memahami bahwa setiap karya memiliki ritmenya sendiri. Musik membutuhkan jeda sebagaimana sebuah adegan membutuhkan keheningan. Tidak semua hal harus dipercepat hanya karena dunia bergerak semakin cepat. Ada proses yang hanya bisa dipahami ketika seseorang bersedia tinggal lebih lama di dalamnya. Cara berpikir itu pula yang kemudian membentuk hubungannya dengan ambisi. Bagi Ari, menjadi muda bukan berarti harus terburu-buru mencapai garis akhir. Yang lebih penting adalah menjaga rasa ingin tahu dan kesediaan untuk terus belajar. “Saya senang mencoba hal-hal baru, tapi tidak ada keharusan sesuatu itu harus begini atau harus begitu. Saya percaya pada proses. Sesuatu yang dikejar buru-buru, apalagi dengan cara instan, biasanya akan mudah tenggelam.”

Tahun ini, Ari kembali mewarnai layar lebar melalui tiga film baru—Tetangga Masa Gitu, Seni Merayu Tuhan, dan Tak Kan Kubiarkan Kau Menangis. Ketiga proyek tersebut melanjutkan kecenderungannya untuk terus mengeksplorasi karakter dan dunia yang berbeda, sambil memelihara mimpi lain yang belum selesai: merilis album musik dan, suatu hari nanti, menyutradarai filmnya sendiri. Ia berujar, “Saya berharap dan berusaha membangun karier lewat karya-karya yang sanggup bertahan melampaui zamannya. Sebab saya percaya pada akhirnya, seorang seniman tidak benar-benar hidup di dalam popularitas, tetapi di dalam ingatan orang-orang yang pernah disentuh oleh cerita yang ia ciptakan. Saya ingin menempuh jalan itu yang bergerak perlahan, konsisten, dengan keyakinan bahwa perjalanan saya ini memiliki ritmenya sendiri”.