16 Agustus 2026
Bernadya Menemukan Kebebasan Bersuara dalam Musik
PHOTOGRAPHY BY Ikmal Awfar
stying Ismelya Muntu & Alia Husin; fashion Loewe; makeup Fidi Annisa; hair Kristalianti; production assistants Rachel Noriska, Kyla Shabia, Sarah Aliyyah
Bernadya menyimpan banyak pertanyaan di kepalanya. Namun, setiap kali ingin mengutarakan, bibirnya kerap kesulitan merangkai kata-kata. Lidahnya seakan-akan terbelit dan suaranya berujung terbata-bata. Kadang ia mengaku bisa sampai frustasi dibuatnya. “Saya menyukai musik karena ketika mendengarkan sebuah lagu yang mampu merefleksikan kegelisahan saya, rasanya sangat melegakan,” ujarnya. Sebuah karya, baginya, tak berhenti pada gagasan pribadi penciptanya. Pengalaman tersebut kemudian membentuk caranya mencipta musik. “Semoga orang lain juga dapat menemukan dirinya masing-masing manakala mendengarkan lagu-lagu saya.”
Jika menyimak diskografi penyanyi dan penulis lagu berusia 22 tahun itu, sejauh ini, kompleksitas hubungan antar manusia menjadi tema sentral. Sebetulnya, bukan sesuatu yang asing. Tetapi ada nestapa yang menghantui rasa dalam cara Bernadya bernyanyi. Suaranya tenang, bahkan ketika ia menyuarakan antitesis sederhana paling menyakitkan dari kegelisahan hati: Mungkin kamu yang tak lagi cinta? Romansa gubahannya bukan kisah yang berbunga-bunga. Ia mengisahkan upaya seseorang memahami hati yang tak pernah benar-benar bisa dipahami. Narasinya penuh tanda tanya hingga harapan tidak berujung.
“I’m an overthinker,” ujar Bernadya. Buat sebagian orang, kecenderungan memikirkan segala hal secara berlebihan—terutama perihal terburuk—sangatlah melelahkan. Namun tidak bagi sang musisi peraih nominasi Pendatang Baru Terbaik di Anugerah Musik Indonesia 2023. Kebiasaannya justru bahan bakar pemantik daya kreativitas. “Entah mengapa, dari kebiasaan mengeksplorasi skenario terburuk itu pula, saya justru bisa merangkai lirik lagu dengan kedalaman,” katanya setengah tergelak, “Dipikir-pikir, tajuk utama lagu-lagu saya sebenarnya adalah tentang overthinking.” Meski terdengar seolah-olah kelakar, pernyataan tersebut sekaligus fakta tak terbantahkan.
Lahir dan tumbuh besar di Surabaya, Bernadya Ribka Jayakusuma menemukan ketertarikan pada musik melalui budaya pop. Masa kanak-kanaknya semarak dengan kehadiran film-film Disney Channel seperti Teen Beach Movie hingga drama musikal High School Musical. Kala itu, film tidak ia rasa lebih dari hiburan selepas sekolah. Bertahun-tahun setelahnya baru ia temukan bahwa dunia yang ia serap dari layar kaca telah membangun fondasi awal proses kreatifnya sebagai penulis lagu.
Usia 12 tahun, Bernadya menindaklanjuti animo bermusik dengan mengikuti The Voice Kids. Ia mendaftar audisi kategori grup bersama kakak perempuannya. Namun semesta membuka jalan untuk ia mengarung seorang diri. Langkahnya terhenti di babak 72 besar. Pengalaman tersebut jadi pelajaran awal tentang ekspektasi dan penolakan, serta cara menghadapi keduanya. “Apa yang menyenangkan dari mengikuti ajang kompetisi adalah bertemu banyak orang berbakat di bidang musik,” kenangnya. Salah satu sosok paling membekas ialah Tulus, yang kala itu berperan sebagai coach. “Beliau menegaskan bahwa kesempatan bagaikan pasir di pantai yang tak terhitung jumlahnya,” ceritanya. Melihat situasinya sekarang, petuah Tulus membuktikan kebenaran.
Sebelum menjadi artis solo, Bernadya sempat berkarya membentuk grup bersama sang kakak di bawah alias Celine & Nadya. Keduanya merilis album studio berisi delapan lagu di tahun 2021. “Proyek sekadar senang,” ujarnya bernostalgia. Ia tak menyangka proyek senang-senang itu malah merekonstruksi ulang hubungannya dengan profesinya sekarang.
Ketika pandemi mengubah kehidupan banyak orang, keluarga Bernadya tak luput merasakan dampaknya. Praktik dokter gigi milik sang ibu terhentikan. Ketakpastian ekonomi menjadi tantangan nyata. Di tengah situasi itu, proyek musik independen Celine & Nadya menunjukkan hasil melalui platform digital. Untuk pertama kalinya, Bernadya menyaksikan musik bekerja melampaui fungsi emosional. Musik berdaya menopang kehidupan. “Di titik itulah saya meyakini ingin menekuni musik sebagai jalan hidup dan profesi,” katanya.
Keyakinan Bernadya menjadi signifikan, bilamana Anda tumbuh dalam lingkungan keluarga sebagaimana ia dibesarkan. Ayah Bernadya mengajar filsafat dan teologi di universitas. Ibunya adalah dosen kedokteran gigi sekaligus praktik mandiri. Dengan latar belakang profesi orangtua yang terpetakan jelas, pilihan karier menjadi seniman tidaklah selalu dianggap realistis. Kendati paham kekhawatiran tersebut, sang anak kedua dari empat bersaudara juga tak pernah benar- benar membayangkan masa depannya selain di ranah musik. Sebab itu, tatkala dihubungi Juni Records untuk bekerja sama, Bernadya melihatnya sebagai pertanda yang sulit diabaikan.
Juni Records datang mengetuk pintu pada 2021. Tawarannya adalah mencari seorang penulis lagu. Di saat bersamaan, Celine mulai mempertimbangkan untuk memusatkan perhatian pada pendidikannya. Sekali lagi, Bernadya berdiri di persimpangan yang menuntutnya melangkah seorang diri. Ia sempat ragu. Benaknya kerap memandang label rekaman hadir sebagai institusi yang gemar mengatur kebebasan seorang musisi. Namun, usai maju mundur, “Saya melihat Juni bisa memfasilitasi mimpi-mimpi saya,” katanya. Tahun 2022, Bernadya menandatangani kontrak bersama Juni Records.
Bergabung dengan Juni Records memperkenalkan Bernadya pada ritme kreatif yang berbeda. Selama bertahun-tahun, ia menciptakan musik dengan cara yang sangat personal. Sebagian besar ide lahir dalam kesendirian. Ketika proses tersebut mulai bersinggungan dengan perspektif orang lain, adaptasinya tak selalu mulus. Pertukaran ide kerap berubah menjadi tarik-ulur yang panjang. Musik dan lirik bisa dibongkar dan disusun kembali secara berbeda dari bentuk awal “Kami banyak berdebat,” ujarnya tergelak. Tetapi bukankah karya yang baik sering lahir dari gesekan? Lewat gesekan itu Bernadya belajar bahwa sebuah lagu tidak selalu kehilangan kejujurannya ketika disentuh tangan lain. Kadang, justru menjadi lebih tajam. Hasilnya mewujud nyata melalui album Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan. Debutnya menjelma sebagai salah satu karya paling menonjol sepanjang 2024, sekaligus mengantarkannya meraih penghargaan album terbaik di Anugerah Musik Indonesia dan Indonesian Music Awards.
Pun rasanya sulit membayangkan Bernadya bekerja minim gesekan. Seluruh musiknya lahir dari kebiasaan menguji logika dan rasa dari berbagai sisi. Kecenderungan itu semakin terdengar jelas dalam album barunya, Semoga Hanya Di Mimpi. Jika banyak lagu pop berbicara meraih kedamaian, Bernadya mempertanyakan kemungkinan sebaliknya. Bagaimana jika hidup yang berjalan tenang bersifat ilusi? Selayaknya kesementaraan sebelum tiba giliran kekacauan, pikirannya.
Alhasil sajak-sajak di tangan Bernadya terdengar selayaknya proses kontemplasi diri. Ia tidak memperhalus kecemasan. Ia mengajak kita meresapinya lebih lama untuk memahaminya. Barangkali karena itu suaranya memikat kelompok pendengar tertentu, hopeless romantic dan terutama mereka yang sedang berjuang pulih dari patah hati. Ia tak menawarkan kebijaksanaan paripurna. Jawaban pun, bilamana ada, diserahkan kepada pendengar. Yang ia tawarkan ialah perasaan dipahami. Sesuatu yang rasanya lebih langka di era di mana musik pop kerap berlomba menarik perhatian melalui narasi-narasi trendi.