LIFE

16 Agustus 2026

Aziz Hedra Menjelmakan Musik sebagai Bahasa Universal


PHOTOGRAPHY BY Ikmal Awfar

Aziz Hedra Menjelmakan Musik sebagai Bahasa Universal

styling Ismelya Muntu & Alia Husin; fashion Hermès; makeup Rommy Andreas; hair Yez Hadjo; production assistants Rachel Noriska, Kayla Shabia, Sarah Aliyyah

Banyak orang mengira musik bekerja melalui bunyi. Padahal, sering kali musik bekerja melalui sesuatu yang jauh lebih sunyi: perasaan yang akhirnya menemukan bahasa. Di situlah lagu-lagu Aziz Hedra berada. Musiknya tidak menawarkan jawaban atas kehilangan, kesepian, atau keraguan, tetapi menghadirkan ruang bagi orang-orang untuk menyadari bahwa apa yang mereka rasakan tidak pernah benar-benar mereka alami sendirian. Barangkali itu yang membuat lagu-lagu seperti Somebody’s PleasureNo More You and I, I Don’t Know Anymore menemukan pendengarnya dengan cara yang begitu personal.

Di tengah generasi yang tumbuh dengan kebebasan untuk membagikan hampir segala hal di media sosial, paradoksnya, semakin banyak pula yang kesulitan mengungkapkan apa yang benar-benar mereka rasakan. Generasi kini fasih memperlihatkan momen-momen terbaik dalam hidupnya, tetapi tidak selalu memiliki bahasa untuk menjelaskan kesepian, rasa bersalah, atau ketakutan yang diam-diam mereka simpan. Aziz hadir membangun hubungan dengan pendengarnya melalui kejujuran emosional yang terasa nyaris tanpa jarak. Aziz sendiri mengaku bukan pribadi yang mudah bercerita. “Saya sebenarnya tidak gampang menceritakan isi hati atau pikiran saya. Lewat musik, saya merasa bisa membicarakan hal-hal yang tidak bisa saya bicarakan di kehidupan nyata. Musik seperti buku harian tempat saya menyimpan cerita.”

Aziz memandang musik sebagai ruang aman yang memungkinkan emosi hadir tanpa harus lebih dahulu dijelaskan. Apa yang sulit diucapkan perlahan menemukan bentuknya melalui melodi dan lirik. Nyaris semua lagu yang ia tulis berangkat dari pengalaman pribadi. Somebody’s Pleasure, misalnya, lahir dari pergulatannya sebagai seseorang yang terlalu sering mengutamakan perasaan orang lain. “Saya sering merasa tidak enak hati, takut mengecewakan orang lain, dan ingin membuat semua orang senang. Lama-lama saya jadi tidak tahu lagi sebenarnya saya sendiri maunya apa.” Aziz menulis tentang rasa takut, kebingungan, kehilangan arah, bahkan kecenderungannya menjadi people pleaser. Bukan untuk mencari simpati, melainkan karena ia percaya emosi yang tidak pernah diberi ruang hanya akan terus tinggal di dalam diri. 

Dalam beberapa tahun terakhir, musik Indonesia melahirkan gelombang baru penyanyi-penulis lagu yang tumbuh bersama internet. Mereka tidak lagi hanya menulis tentang romansa, tetapi juga tentang kesehatan mental, kesepian, pencarian identitas, dan relasi manusia dengan dirinya sendiri. Aziz memang memulai perjalanannya lewat platform digital, tetapi yang membuatnya bertahan bukan algoritma, melainkan kemampuan menghadirkan pengalaman yang terasa begitu personal sekaligus sangat universal. Lahir dan besar di Medan, Aziz telah akrab dengan musik sejak taman kanak-kanak. Ibunya memperkenalkan Michael Jackson dan Broery Marantika, sementara masa remajanya diwarnai lagu-lagu Afgan, Raisa, Boyz II Men, Brian McKnight, Mariah Carey, hingga Bruno Mars. Ia belajar bernyanyi secara otodidak, mengunggah lagu-lagu cover ke SoundCloud, YouTube, dan media sosial, sembari tetap menyelesaikan pendidikan Ekonomi Bisnis di Universitas Sumatera Utara. 

Kesempatan datang ketika salah satu lagu cover yang ia unggah menarik perhatian Sony Music Indonesia. Dari sana perjalanan profesionalnya dimulai. Bersama label tersebut, ia akhirnya merilis Somebody’s Pleasure—lagu yang sebenarnya telah ia tulis sejak masa pandemi. Apa yang terjadi setelahnya nyaris di luar perkiraannya. Lagu itu masuk tangga lagu Viral 50 Spotify di tiga belas negara, meraih sertifikasi Double Platinum di Indonesia dan Malaysia, membawanya menjadi bagian dari program Spotify Radar Global, tampil di papan reklame Times Square, New York, serta memenangkan penghargaan Artis Solo Soul/R&B Terbaik di Anugerah Musik Indonesia 2023. Namun ketika ditanya apa yang paling mengejutkan dari seluruh perjalanan itu, Aziz tidak menyebut angka pendengar, penghargaan, ataupun Times Square. Ia justru berbicara tentang perubahan dalam dirinya. “Dulu rasanya semua harus cepat, sekarang saya lebih sering menginjak rem. Yang paling penting ternyata belajar percaya sama diri sendiri.” 

Menulis lagu, bagi Aziz, adalah proses berdamai dengan pengalaman yang belum selesai. Ia tidak sedang mencari jawaban, tetapi berusaha mendengarkan dirinya sendiri dengan lebih jujur. Menariknya, kejujuran itulah yang justru membuat lagu-lagunya terasa sangat dekat bagi banyak orang. “Saya ingin mewakili orang-orang yang mungkin merasakan hal yang sama seperti saya. Tidak semua orang bisa cerita segamblang itu di kehidupan nyata. Mudah-mudahan lewat musik, mereka merasa tidak sendirian.” Di sini kekuatan seni bekerja. Sebuah lagu tidak menghapus kesedihan seseorang, tetapi mampu mengubah pengalaman yang semula terasa sangat pribadi menjadi sesuatu yang dibagi bersama. Pemahaman itu datang kepada Aziz melalui cara yang sama sekali tidak ia duga. Beberapa minggu setelah Somebody’s Pleasure dirilis, ia mulai menerima ratusan pesan langsung di media sosial. Sebagian besar berisi cerita tentang bagaimana lagu itu menemani orang melewati masa-masa sulit. Namun ada satu pesan yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.

“Ada seseorang yang cerita kalau dia hampir melakukan hal bodoh karena kesedihan yang dia rasakan. Tapi setelah mendengarkan Somebody’s Pleasure berulang kali, dia membatalkan niatnya. Waktu baca itu saya benar-benar terdiam.” Untuk pertama kalinya, Aziz menyadari bahwa sebuah lagu dapat hidup dengan cara yang sama sekali berbeda setelah meninggalkan penciptanya. Musik ternyata tidak berhenti ketika rekaman selesai diproduksi. Ia baru benar-benar hidup ketika bertemu pengalaman orang lain. “Saya ingin bilang kepada mereka untuk tetap menjadi diri sendiri dan tetap bertahan.” Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun di zaman ketika kesehatan mental menjadi percakapan yang semakin terbuka, tidak ada pesan yang lebih dibutuhkan selain pengingat bahwa seseorang tidak harus melewati semuanya sendirian. 

Ketika berbicara tentang mimpi, Aziz memang menyebut keinginan menggelar tur keliling Indonesia, Asia, bahkan dunia. Namun jauh di balik semua itu, ada harapan yang terdengar jauh lebih sederhana. “Saya ingin mereka merasa nyaman dan lega setelah mendengarkan musik saya.” Aziz Hedra menulis lagu agar dirinya merasa lega. Pendengarnya mendengarkan lagu-lagu itu agar mereka juga merasa sedikit lebih lega. Hubungan yang terbangun di antara keduanya bukan hubungan antara idola dan penggemar, melainkan antara dua manusia yang sama-sama pernah merasa kehilangan arah, lalu bertemu di tempat yang bernama musik. Di zaman ketika begitu banyak orang belajar menyembunyikan perasaannya, kemampuan untuk membuat seseorang merasa tidak sendirian barangkali adalah bentuk seni yang paling manusiawi, dan sekaligus yang paling dibutuhkan.