3 Februari 2026
Bagaimana Musik dapat Melunturkan Perbedaan dan Menggumpalkan Kesetaraan?
Bruno Mars live at Grammy 2026 (photo via Instagram.com/@grammys)
Sejak berdekade-dekade silam, diversitas senantiasa mewarnai laju kehidupan dari berbagai sisi. Tidak terkecuali budaya pop. Berbagai figur dan pergerakan datang silih berganti menjadi penanda zaman. Pada dekade ‘60-an, ketika masalah rasisme berembus kencang di Amerika Serikat (pun sampai sekarang belum sepenuhnya menghilang), muncul figur seorang gitaris yang bisa dibilang menulis ulang tata cara bermain gitar elektrik, sekaligus mengubah arah dan tatanan musik, khususnya rock, selama berdekade-dekade setelahnya. Ia adalah Jimi Hendrix.
Sosok Jimi Hendrix yang tidak lain adalah laki-laki berkulit hitam menjadi sebuah anomali dan dobrakan tersendiri. Terlebih lanskap musik rock kala itu sangat didominasi oleh orang kulit putih. Namun nyatanya, Jimi Hendrix hingga kini tetap diakui salah seorang gitaris terbaik yang pernah berjalan di muka bumi. Boleh jadi orang yang rasis sekalipun tidak mampu menyangkalnya. Jimi Hendrix merupakan salah satu dari sekian banyak musisi kulit hitam yang menorehkan tinta emas dalam sejarah musik dunia.

Jimi Hendrix (photo Getty Images).
Beranjak ke masa sekarang, menurut sebuah studi bertajuk Inclusion in the Music Business: Gender & Race/Ethnicity Across Executives, Artists & Talent Teams yang dilakukan oleh USC Annenberg Inclusion Initiative dan disponsori oleh Universal Music Group, ada 43,8% musisi kulit hitam yang sudah tergolong mapan. Angka ini tentunya menggembirakan, karena ini berarti hampir 50% musisi kulit hitam telah menikmati kesuksesannya dan diakui keberadaannya. Selain itu, terdapat 30,8% manajer berkulit hitam yang menangani musisi kenamaan. Di sisi lain, studi tersebut menemukan bahwa yang menduduki posisi top executive di 70 perusahaan musik, hanya ada 13,9% dari ras atau etnis tertentu yang cenderung minoritas, 4,2% yang berkulit hitam, dan 13,9% yang berjenis kelamin perempuan.
Menilik dari sisi perempuan, meski kekuatan dan pengakuan terhadap kaum perempuan kian meningkat, persentase perempuan dalam posisi eksekutif menurun secara signifikan. Tren ini masih didominasi oleh keberadaan perempuan berkulit putih. Lebih dari seperempat (26,9%) eksekutif perempuan adalah mereka yang berkulit putih. Hanya ada 8,4% eksekutif perempuan dari kelompok minoritas dan 3% yang berkulit hitam.

Olivia Dean menyanyikan lagu Man I Need di Grammy 2026 (photo DOC. Chanel)
Terlepas dari angka-angka statistik yang mengungkap tingkat penerimaan dan keterbukaan atas keberagaman, semangat menjunjung kesetaraan tiada henti-hentinya disuarakan melalui alunan nada, entakan irama, dan lirik yang menyentuh. Entah sudah seberapa sering kita terpapar atau menjadikan sejumlah lagu yang lekat nilai kemanusiaan sebagai bagian dari playlist di Spotify.
All You Need is Love karya The Beatles mengekspresikan keyakinan yang bersahaja, namun mendalam; bahwa cinta dapat mengatasi segalanya. Masih ada kaitannya dengan The Beatles, salah seorang personelnya yang menjadi legenda, yakni John Lennon, menulis lagu timeless berjudul Imagine. Sebuah anthem tentang kesetaraan yang telah menginspirasi begitu banyak orang untuk terus berjuang demi kedamaian dan cinta.
Ada pula lagu Black or White dari Michael Jackson yang menyampaikan harapan akan harmoni segala ras di dunia. Sementara ikon reggae, Bob Marley, melantunkan kedamaian dan persatuan dunia dalam lagu One Love. Kemudian di awal dekade 2000-an, Black Eyed Peas merilis lagu Where is the Love? yang merupakan respons terhadap kebencian dan ketakutan yang timbul setelah peristiwa 11 September 2001, sekaligus ajakan bagi umat manusia untuk saling mencintai satu sama lain.

Eminem & Rihanna tampil di MTV Movie Awards 2014 (photo Getty Images)
EFEK HUMANISASI
Sebuah studi lainnya juga mengungkap temuan menarik bahwa mendengarkan musik dari kultur yang berbeda dapat meningkatkan penerimaan dan apresiasi akan keberagaman. Jake Harwood, seorang profesor di Department of Communication University of Arizona, melakukan sebuah penelitian dan menemukan bahwa musik tidak hanya sebuah bahasa universal. Musik ternyata juga dapat memproduksi efek ‘humanisasi’ bagi anggota kelompok yang memiliki persepsi tertentu terhadap kelompok lainnya.
“Musik tidak akan berkembang dalam peradaban jika tidak memberikan pengaruh yang penting bagi kita,” ujar Harwood yang mempresentasikan hasil penelitiannya di ajang International Communication Association annual conference ke-67 di San Diego pada 2017 silam. “Musik memungkinkan kita untuk mengomunikasikan nilai kemanusiaan kepada orang lain. Ini adalah cara penyampaian nilai keberagaman yang unik dan berbeda dengan elemen-elemen lainnya dalam kehidupan.”

Rosè dan Bruno Mars tampil menyanyikan lagu APT di Grammy 2026 (photo via Instagram.com/@grammys)
Dalam penelitiannya, Harwood bekerja sama dengan peneliti lulusan University of Arizona, Farah Qadar dan Chien-Yu Chen untuk membuat sebuah video berita fiktif yang menampilkan seorang Arab dan seorang Amerika bermain musik bersama. Para peneliti kemudian menunjukkan video tersebut kepada partisipan Amerika yang tidak memiliki keturunan Arab. Tim peneliti menemukan bahwa dengan melihat dua kultur yang berbeda saling berkolaborasi dalam memainkan musik, menciptakan persepsi yang lebih positif terhadap Arab dalam diri para partisipan.
“Aksi memadukan musik adalah sebuah metafora untuk apa yang kami lakukan: Dengan membaurkan dua perspektif dalam musik, Anda dapat melihat adanya sebuah koneksi emosional, dan efeknya bersifat universal,” ungkap Qadar. Tim peneliti mempublikasikan temuan-temuan tersebut dalam sebuah artikel berjudul Harmonious Contact: Stories About Intergroup Musical Collaboration Improve Intergroup Attitudes yang dimuat di Journal of Communication.
Temuan lainnya yang tidak kalah menarik: efek dan manfaat yang ditimbulkan ternyata tetap sama, meski para individunya tidak bermain musik bersama. Hanya dengan menyimak musik yang dimainkan oleh ras atau etnis lain, akan membantu mengurangi stigma atau persepsi negatif terhadap ras atau etnis tersebut.
Rosè & Bad Bunny di Grammy 2026 (photo via Instagram.com/@grammys) |
Queen Latifah & Swamp Queen di Grammy 2026 (photo via Instagram.com/@grammys) |
“Ini bukan hanya soal memainkan musik tradisional Arab. Jika Anda melihat seorang Arab memainkan musik yang meleburkan batasan antara Amerika dan Arab, maka Anda akan mulai menghubungkan kedua kelompok tersebut secara positif,” kata Harwood. Orang-orang yang menghargai keberagaman akan memiliki kecenderungan untuk menikmati musik dari kultur atau negara lain, dan perilaku tersebut akan lebih meningkatkan toleransi terhadap keberagaman.
Michael Jackson (photo Getty Images) |
Bob Marley (photo Getty Images) |
Harwood merujuk pada album Graceland milik Paul Simon sebagai sebuah contoh karya musik yang menonjolkan keberagaman. Dirilis pada 1986, album tersebut menghadirkan pengaruh dari permainan instrumen dan irama Afrika Selatan. “Album itu menandai dimulainya fenomena ‘world music’,” ucap Harwood. “Dampaknya, banyak orang ingin mendengarkan musik Afrika. Kemudian musik Indonesia, kemudian musik Algeria. Pada akhirnya Anda menjadi lebih mengapresiasi musik yang segar dengan perpaduan berbagai kultur berbeda dan orang-orang berbeda yang saling berkolaborasi.” Harwood juga menyebut Eminem dan Rihanna sebagai musisi yang bereksperimen dengan musik yang menerabas batasan budaya. “Musik jenis ini tidak mungkin mampu berkembang jika penikmatnya tidak memiliki ketertarikan akan kolaborasi antarkultural.”

Clipse, Pharrell & Voices of Fire tampil di Grammy 2026 (photo via Instagram.com/@grammys).
Pada akhirnya, kita perlu mempersepsikan musik dalam wujudnya sebagai aktivitas manusia dan sosial, selain bentuk seni yang indah dan sarat estetika. Dan musik pun menjadi medium yang fundamental. Dengan begitu, kita akan dapat menyingkap sisi yang menakjubkan bahwa orang- orang dari ras, etnis, negara lain sebenarnya hanyalah berbeda dari tampilan luarnya saja. Namun esensinya tidak lain adalah bahwa kita semua sama-sama beridentitas sebagai manusia.



