26 Agustus 2025
Desaru Coast Bawa Pamor Asia Tenggara ke Panggung Dunia

doc. Desaru Coast & Heavens Portfolio
Di pesisir tenggara Johor, Malaysia, terbentang garis pantai sepanjang 17 kilometer yang seolah diciptakan untuk memeluk segala bentuk perayaan hidup. Laut Cina Selatan yang biru berkilauan menjadi latar, sementara hutan hujan tropis yang rimbun melingkupi setiap langkah. Inilah Desaru Coast, sebuah destinasi yang tengah bertransformasi dari sekadar resor pesisir menjadi ikon gaya hidup Asia Tenggara.
Baru-baru ini, kawasan ini menegaskan ambisinya melalui kemitraan strategis dengan ONE°15 Marina, nama besar dalam dunia yachting. Terminal Feri Desaru Coast bukan lagi sekadar pintu masuk; ia akan menjelma menjadi dermaga premium yang menyambut kapal pesiar, komunitas pelaut, hingga penjelajah laut yang mencari persinggahan eksklusif. “Desaru Coast kini resmi masuk dalam peta global yachting,” ujar Karina Ridzuan, Direktur Layanan Bisnis Destination Resorts and Hotels Sdn. Bhd., seraya menekankan visi menjadikan kawasan ini magnet internasional.
Dengan langkah ini, Desaru Coast bukan hanya memperluas akses maritim dari Singapura, melainkan juga memperkuat identitasnya sebagai destinasi berkelas dunia—dimana petualangan, rekreasi, dan budaya berpadu dalam lanskap tropis yang menenangkan.
Ombak Festival 2025: Gelombang Budaya dan Kreativitas
Puncak perayaan tahun ini akan hadir pada 12–14 September 2025, ketika Ombak Festival kembali mengguncang pantai Desaru. Festival ini, yang tahun lalu sukses menarik lebih dari 5.000 pengunjung, kini hadir dengan skala yang lebih besar, lebih berani, dan lebih bernyanyi dalam bahasa Asia Tenggara.
Di panggung utama, nama-nama legendaris seperti Simply Red, George Clinton & Parliament Funkadelic, Joss Stone, dan Flight Facilities siap menghipnotis ribuan penonton. Mereka akan berbagi ruang dengan bintang regional: Phum Viphurit dari Thailand, Diskoria dari Indonesia, The Pinholes dari Singapura, hingga ikon hip-hop Malaysia seperti Joe Flizzow dan SonaOne. Perpaduan ini menjadikan Ombak bukan sekadar festival musik, melainkan panggung kebersamaan ASEAN.
Namun Ombak lebih dari sekadar dentuman ritme. Taste & Toast menghadirkan kurasi gastronomi—dari tapas ala Andrew Walsh, barbeku berapi dari Carbon KL, hingga cita rasa otentik Johor. Sementara Arts & Play membuka ruang ekspresi, dari cetakan blok Segaris Art Center hingga Pasar Seloka yang meriah. Anak-anak pun mendapat panggungnya sendiri lewat Ombak Kids, lengkap dengan tantangan LEGO, layang-layang raksasa, hingga patung festival Meera & Fiz yang ikonis.
“Untuk tahun kedua, kami ingin menghadirkan visi yang lebih berani dengan jiwa Asia Tenggara yang lebih bersemangat,” tutur Karina Ridzuan, Direktur Festival Ombak.
Sirēya Desaru: Menjadi Mandarin Oriental
Di sela hiruk pikuk persiapan festival, Desaru Coast juga menorehkan babak baru di dunia perhotelan. Sirēya Desaru, resor tepi pantai nan elegan tempat saya bermalam, segera bereinkarnasi menjadi Mandarin Oriental, Desaru Coast pada Januari 2026.
Dirancang oleh Kerry Hill Architects—firma arsitektur yang masyhur dengan modernisme tropisnya—resor ini berdiri di atas 128 hektar lanskap hijau yang menghadap langsung ke laut. Dengan hanya 44 suite dan vila, masing-masing berbalut privasi dan pemandangan alami, properti ini menjanjikan pengalaman yang intim namun megah. Dari spa yang menawarkan ritual khas negara Timur hingga klub anak-anak dengan kolam renang, Mandarin Oriental akan membawa filosofi kemewahan tenang ke jantung Desaru Coast.
Transformasi ini menegaskan reputasi kawasan Desaru Coast sebagai destinasi dengan portofolio resor kelas dunia: Hard Rock Hotel, The Westin, Anantara, One&Only, dan segera Mandarin Oriental.
Mengapa Desaru dan Ombak Menarik bagi Dunia dan Indonesia
Daya tarik Desaru Coast tak sekadar pada infrastruktur kelas dunia atau nama-nama besar yang hadir. Yang menjadikannya unik adalah posisinya sebagai simpul baru pertemuan Asia Tenggara. Dari Singapura, kawasan ini bisa dicapai dalam waktu singkat melalui jalur laut. Dari Indonesia—khususnya Batam, Bintan, hingga Jakarta—akses menjadi semakin terbuka, baik melalui jalur udara ke Johor Bahru maupun konektivitas laut yang diperkuat dengan marina baru.
Bagi wisatawan internasional, Desaru menawarkan versi Asia Tenggara yang autentik: garis pantai alami, budaya Melayu yang masih hidup, namun dikemas dengan kenyamanan modern dan pengalaman global. Sementara bagi wisatawan Indonesia, Ombak Festival memberi kesempatan langka untuk menyaksikan musisi dunia sekelas Simply Red atau Joss Stone tampil dalam suasana tropis yang intim, tanpa harus terbang jauh ke Eropa atau Amerika.
Lebih dari itu, festival ini mencerminkan wajah baru Asia Tenggara yang percaya diri menampilkan dirinya sebagai pusat kreativitas global. Kehadiran musisi, seniman, dan koki dari berbagai negara ASEAN menghadirkan rasa kebersamaan yang familiar bagi publik Indonesia—dari musik Diskoria yang mengajak berdansa, hingga cita rasa kuliner yang serupa namun berbeda dalam detail.
Singkatnya, Desaru Coast dan Ombak Festival adalah cermin identitas regional yang bersifat inklusif, modern, dan tetap hangat. Di sinilah wisatawan dunia bisa menemukan alasan untuk jatuh cinta, sementara bagi orang Indonesia, ia menawarkan rumah kedua yang dekat, namun dengan nuansa yang berbeda dan segar.
Ombak, Marina, dan Masa Depan Asia Tenggara
Kombinasi antara festival budaya, infrastruktur maritim premium, dan kehadiran nama-nama besar di dunia perhotelan membuat Desaru Coast kian menegaskan posisinya. Ia bukan hanya destinasi liburan tropis, melainkan laboratorium hidup untuk gaya hidup Asia Tenggara masa depan—tempat tradisi bertemu inovasi, dan di mana komunitas lokal berpadu dengan pengunjung global.
Tahun 2025 menjadi momentum krusial: Malaysia bersiap menjadi tuan rumah Tahun Kepemimpinan ASEAN, Johor tengah mempersiapkan Tahun Kunjungan 2026, dan Desaru Coast berdiri di garis depan sebagai wajah baru pariwisata kawasan.
Saat Ombak Festival 2025 memecah senja Desaru dengan dentuman soul, funk, dan pop; ketika yacht-yacht berlabuh di marina baru; dan ketika Mandarin Oriental membuka pintunya bagi para pencari ketenangan, satu hal menjadi jelas: ombak yang lahir di Desaru kini tengah menggema hingga ke seluruh Asia Tenggara, membawa pesan bahwa inilah destinasi yang tak lagi bisa diabaikan.
Ketika Festival Bertemu Keheningan
Keistimewaan Desaru Coast tidak hanya terletak pada lanskap tropisnya yang memesona atau pada gelaran Ombak Festival yang menghubungkan lintas budaya, melainkan juga pada pengalaman menyeluruh yang ditawarkan bagi setiap pengunjung. Dari musik yang bergema di tepi pantai hingga dialog lintas bangsa yang tercipta di sela-sela festival, Desaru menghadirkan ruang perjumpaan yang tak hanya bersifat hiburan, tetapi juga refleksi akan bagaimana alam, seni, dan manusia saling menghidupi. Inilah yang membuatnya menarik bukan hanya bagi warga Malaysia, melainkan juga bagi para pelancong dunia—termasuk Indonesia—yang melihat Desaru sebagai tempat untuk merayakan kebersamaan sekaligus menemukan keintiman dengan diri sendiri.
Pengalaman itu kian terasa utuh saat bermalam di Sireya, yang nantinya akan rebranding menjadi Mandarin Oriental Desaru Coast, resor yang menyatukan kemewahan modern dengan kedalaman alam. Dari balkon kamar, laut seakan membisikkan irama yang sama dengan festival: kadang riuh, kadang tenang, selalu menggugah. Interiornya, dengan dominasi kayu hangat dan garis-garis arsitektur elegan, mengundang tamu untuk berdiam dan merenung, sementara kolam pribadi yang menghadap samudera menghadirkan ruang intim untuk kembali menyatu dengan alam.
Di sinilah perjalanan ke Desaru menemukan keseimbangannya—antara selebrasi dan kontemplasi, antara energi festival dan keteduhan pribadi. Seakan-akan, setiap detail di Sireya melanjutkan narasi Ombak Festival, menjadikan pengalaman di Desaru bukan sekadar liburan, melainkan sebuah perayaan kehidupan itu sendiri.