CULTURE

27 Agustus 2026

Lewat Ekshibisi Kolaboratif 'Culture Spirit', Espolòn Tequila Rayakan Peluncuran Cristalino di Jakarta


Lewat Ekshibisi Kolaboratif 'Culture Spirit', Espolòn Tequila Rayakan Peluncuran Cristalino di Jakarta

Photo DOC. Espolòn

Espolòn Tequila bawa kesegaran spirit Espolòn Cristalino di Indonesia. Peluncuran resminya digelar secara immersive lewat sebuah ekshibisi kolaboratif bertajuk Culture Spirit pada 25 Juli 2026 silam. Bertempat di ASHTA District 8, Jakarta, ekshibisinya menyuguhkan suatu pengalaman lintas disiplin yang merangkai elemen-elemen representatif dari filosofi spirit asal Mexico tersebut: hospitality, cita rasa, musik, desain visual, dan komunitas.

Memasuki Culture Spirit, pengunjung terlebih dahulu diarahkan melewati sebuah lorong yang berfungsi layaknya mesin waktu mini. Sepanjang dindingnya memaparkan rekam jejak sejarah, warisan, hingga nilai-nilai yang sejak awal membentuk DNA Espolòn. Sebuah prolog visual yang memberi konteks bahwasanya ada cerita mendalam di balik tiap karakter tequila Espolòn.


Di ujung lorong, sejarah memberi jalan bagi interpretasi yang lebih kontemporer. Bersama Jakarta Illustration & Creative Arts Fair (JICAF), Espolòn berkolaborasi dengan sepuluh ilustrator Indonesia untuk menjadikan botol Cristalino sebagai kanvas kreativitas personal. Wickana Laksmi Dewi, misalnya, membawa sensibilitas surealis dark-yet-cute lewat komposisi monokrom bertema tengkorak. Di lain sisi, Cahyo Destianto memilih simbol-simbol vektor yang tegas serta kaya warna. Permainan geometris juga diangkat oleh Oldie, alias Alphabad, yang menggurat nuansa grafiti sebagai kreasinya. Bersama tujuh seniman lain, presentasi karya-karya tersebut menjelmakan galeri artistik di mana warisan visual Meksiko, kejernihan Cristalino, dan karakter berani Espolòn bertemu dengan perspektif kreatif Indonesia hari ini.

Sisi visual malam itu turut dihidupkan lewat kolaborasi dengan Jakarta Illustration & Creative Arts Fair (JICAF), yang mengajak sepuluh ilustrator Indonesia menerjemahkan karakter Espolòn Tequila dengan menjadikan botol Cristalino sebagai medium berkarya. Wickana Laksmi Dewi menghadirkan gaya surealis yang memadukan nuansa dark-yet-cute lewat visual monokrom bertema tengkorak, sementara Oldie atau Alphabad, mengeksplorasi grafiti dan elemen geometris, dan Cahyo Destianto mengangkat simbol-simbol vektor yang tegas dan berwarna. Bersama tujuh seniman lainnya, karya-karya tersebut membentuk sebuah galeri hidup yang menghubungkan warisan budaya Meksiko, kejernihan Cristalino, dan karakter berani Espolòn dengan perspektif kontemporer Indonesia.



Dari spasial galeri, interpretasi kreatif beralih lebih dekat dengan budaya urban. Ageless Galaxy, brand gaya hidup asal Jakarta, berpartisipasi merancang sebuah koleksi merchandise eksklusif bertema Mexican Spirit, Creative Soul. Lewat sentuhannya, Ageless Galaxy menerjemahkan karakter berani dan kejernihan Espolòn Cristalino ke dalam bahasa visual yang lebih dekat dengan keseharian komunitas kreatif urban Jakarta.


Merayakan tequila, tentu saja, tidak lepas dari daya pikat rasa spiritnya. Hari itu, sejumlah bar artisan di Jakarta (beberapa di antaranya masuk dalam Asia’s 50 Best Bars) mengambil alih performa di balik meja bar. Espolòn Tequila bekerja sama dengan Carrots, The Golden Tooth, Dualism, dan Truce dalam suatu rangkaian bar takeover. Masing-masing menyuguhkan racikan cocktail spesial yang menggugah palet rasa para pengunjung dalam memahami karakter Espolòn Tequila. Sajian dari Kilo Jakarta turutmelengkapi pengalaman tersebut, sementara musik perlahan mengubah tempo ruangan.



Menemani suasana menyesap Espolòn Cristallino, Gerry Blaze meggemakan melodi R & B. AX-cuse Me meningkatkan energi dalam permainan nada house dan disco. C.N.M kemudian membawa hip-hop dan musik klub dari berbagai penjuru dunia ke dalam campuran. Di sela-sela set musik, Emir Sulaikan memandu panel kreatif bersama Tamish Aswani dari Ageless Galaxy, Edson Sabajo (salah satu pendiri Patta, streetwear dan sneaker brand asal Amsterdam), dan Gabriel dari Cat Bite Club, mengulik bagaimana kolaborasi dapat membentuk kultur. Diskusi itu menjadi jeda reflektif di tengah hiruk-pikuk malam, sebelum EastRiderz Crew menutup rangkaian acara lewat pertunjukan breakdance yang melengkapi pengalaman lintas indera tersebut.


Espolòn Cristalino tidak diperkenalkan di Jakarta dengan meminta orang-orang sekadar memahami apa yang terkandung di dalam botol. Espolòn membangun sebuah dunia di sekelilingnya; melalui ilustrasi visual, dialog aktif, musik, cocktail penggugah rasa, dan komunitas yang membentuk kehidupan di dalamnya. Sebab spirit, pada akhirnya, bukan hanya perkara apa yang dituangkan ke dalam gelas. Terlebih Espolòn adalah tentang budaya yang tumbuh mengelilinginya.