21 April 2026
Di Balik Visi Toton Januar Terus Memuliakan Identitas Indonesia Di Panggung Mode Dunia
Toton Januar (photo DOC. Toton Januar)
Ketika membicarakan identitas berbusana perempuan Indonesia, mungkin ada banyak hal yang muncul dalam benak pikiran kita. Kain batik dan kebaya serta ragam wastra Tanah Air seperti tenun, ulos, dan songket mungkin menjadi beberapa di antaranya. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Terdiri dari 38 provinsi, Indonesia memiliki setidaknya 38 pakaian adat utama yang mewakili setiap provinsi; dari Aceh hingga Papua. Tiap-tiap daerah memiliki lebih dari satu jenis pakaian yang digunakan untuk berbagai acara penting, seperti pernikahan atau upacara adat. Fakta ini menjadi cerminan kekayaan identitas berbusana dan berbudaya perempuan Indonesia yang begitu beragam. Tentu sulit rasanya untuk merangkum identitas berbudaya perempuan Indonesia menjadi satu rumusan. “Identitas berbusana perempuan Indonesia tidak hanya satu,” ujar Toton Januar, “Identitas budaya Indonesia sendiri begitu beragam dan saya tidak dapat menyederhanakannya. Namun, apabila saya dapat menemukan kata yang tepat untuk mewakilinya, mungkin kata itu adalah ‘Bhinneka’.”
Toton Januar adalah salah seorang desainer yang telah mewarnai kancah mode Tanah Air selama 14 tahun lamanya dengan mengadopsi budaya Indonesia sebagai DNA garis rancanganya. Lewat label eponimnya, TOTON, sang desainer hadir menarasikan kembali kisah-kisah yang melekat dalam kebudayaan Indonesia melalui sudut pandang baru. Ia merayakan warisan budaya Indonesia sekaligus mendekonstruksi tradisi sebagai pendekatan barunya dalam mengkreasikan koleksi-koleksi busana siap pakai untuk perempuan.

Lahir dan besar di Makassar, Toton Januar Heri Nugroho menghabiskan banyak masa kecilnya bersama sang ibu, yang merupakan seorang ibu tunggal, serta keluarga sang ibu yang kebanyakan perempuan. Ia pun tumbuh menjadi seorang anak yang memiliki ketertarikan khusus akan keindahan dan kerajinan tangan. “Sejak kecil, saya senang menggambar dan prakarya,” kenang Toton. “Ibu saya secara tidak sengaja menjadi seorang penjahit karena ayah meninggal ketika saya masih bayi. Ia pun memutuskan untuk menjadi seorang penjahit untuk menyambung hidup, menerima pesanan menjahit untuk orang-orang terdekat dan tetangga sebelum akhirnya ia kerja kantoran.” Sedari kecil, Toton menginginkan karier di industri kreatif. Ia bahkan bercita-cita ingin menjadi seorang pelukis. Meski demikian, pilihannya tersebut bertentangan dengan harapan sang ibu yang menginginkan Toton untuk mengenyam pendidikan dan berkarier di bidang yang lebih konservatif dan dinilai ‘aman’ seperti menjadi dokter atau insinyur. “Mungkin mama tidak ingin melihat saya membuat pilihan yang membuat saya sengsara secara finansial di kemudian hari,” kenangnya.
Ketika tiba saatnya bagi Toton untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, ia pun berkompromi dengan pilihan sang ibu. Ia mengenyam Pendidikan Teknik Sipil di Universitas Hasanuddin selama satu tahun sebelum pindah ke Jakarta dan berkuliah di Universitas Indonesia di jurusan D3 Penyiaran. Ia bahkan berjanji kepada sang ibu, “Saya akan benar-benar kuliah sampai selesai, tetapi sesudahnya saya ingin memilih apa yang saya mau.”

Koleksi Toton untuk Dewi Fashion Knight 2017.
Usai mengantongi gelar sarjana, Toton kemudian melanjutkan pendidikannya di Parsons School of Design di New York. Pengalaman mengenyam pendidikan mode di Amerika Serikat pun membukakan mata Toton pada realitas industri mode sesungguhnya. “Dunia fashion di sana dan apa yang sudah saya ketahui di Indonesia, begitu berbeda,” bebernya. “Di Parsons, saya belajar bahwa dari awal merencanakan sebuah koleksi atau bahkan sebuah brand, kita perlu memikirkan sisi bisnisnya. Kita perlu memikirkan pasar dan apa yang bisa kita tawarkan di sebuah pasar yang semakin hari semakin tersaturasi. Kami diajarkan untuk melihat secara makro dan bagaimana kita bisa masuk ke dalam pasar tersebut. Sekilas mungkin terdengar kurang artistik dan terlalu kapitalis, tetapi saya pikir hal tersebut begitu penting.”
“Di sisi lain, yang lebih fun, saya menemukan diri saya di New York,” kenangnya sambil tertawa kecil. “Sebagai orang Indonesia di New York, saya banyak menerima banyak pertanyaan dari mana saya berasal dan pada saat itu—bahkan hingga kini—paparan terhadap budaya Indonesia belum banyak. Saya pun melihat kembali betapa berharganya tempat ini bagi saya pribadi, dan seharusnya saya bangga dan bisa menjadikan Indonesia sebagai energi saya untuk berkarya dan menghasilkan desain kontemporer ke depannya.”
|
|
Toton kemudian pulang ke Tanah Air dan mendirikan label eponimnya, TOTON, bersama partnernya, Haryo Balitar, pada tahun 2012. Dari segi brand sendiri, Toton menawarkan sesuatu yang belum familier pada saat itu, yaitu sebuah lini busana siap pakai yang berakar pada warisan dan kebudayaan Indonesia namun tidak etnik dan tidak hanya untuk dikenakan di acara resmi saja. Toton pun memutuskan untuk menjajakan koleksi pertamanya di luar Indonesia terlebih dahulu, dan meluncurkan koleksi pertamanya di Blueprint, sebuah trade show mode di Singapura yang mempertemukan para desainer Asia dengan para buyer dari seluruh dunia. “Pada saat itu, saya berpikir mungkin label saya dapat lebih mudah dimengerti di luar negeri karena tidak ada frame budaya (cultural frame). Yang penting bagi mereka hanya pakaian tersebut terlihat bagus, baru, dan mereka tertarik untuk mencoba menjualnya.”

Koleksi Toton untuk Time International Woolmark Prize 2016.
Kecintaan Toton pada budaya dan tekstil Indonesia turut mengantarkannya untuk berkompetisi di The International Woolmark Prize pada tahun 2016. International Woolmark Prize sendiri merupakan salah satu ajang kompetisi paling bergengsi di dunia yang merayakan talenta mode luar pada kebudayaan atau kerajinan tangan tertentu yang sifatnya tradisional, pelajari terlebih dahulu. Kenali asal muasalnya, apakah sifatnya sakral atau seremonial, apakah ia memiliki arti tertentu untuk masyarakat tertentu. Kemudian cari tahu pula kedekatan kita dengan kebudayaan tersebut, apakah kita menyukainya karena kita memiliki kedekatan secara fisik, spiritual, mental, atau garis keturunan. Hal-hal ini dapat dilakukan untuk menghindari apropriasi, agar kita tidak asal ‘comot’ dan memasukannya ke dalam karya-karya kita, serta dapat menghargai dan menghormati.”
Namun di sisi lain, Toton mengungkapkan pendapatnya bahwa budaya itu luas, dan tak melulu bersifat sakral atau seremonial yang memiliki aturan yang cukup rigid. “Ada juga, yang lebih suka saya sebut dengan istilah ‘pasar’, yang sifatnya merakyat dan keseharian,” ujarnya. “Saya senang mencari inspirasi dengan pergi ke pasar, saya ingin melihat apa yang orang-orang kenakan, kain apa yang mereka sukai dan memadukannya dengan aksesori apa.” Menurut Toton, sosok-sosok yang ia temui di pasar lebih instingtif dan kreatif dalam berbusana, dan akhirnya sebuah budaya dapat terbentuk dan berkembang. “Sifatnya street, inilah streetwear orang Indonesia asli,” tuturnya lagi.
Pada tahun 2017, di gelaran Dewi Fashion Knights 2017, Toton kembali mengejutkan para pengamat mode dengan mempergunakan bahan-bahan bekas sebagai materi utama koleksinya. Koleksi ini pun menjadi cikal bakal komitmen Toton dalam mempergunakan bahan bekas untuk tiap koleksinya, hingga hari ini. “Awalnya, kami bekerja sama dengan beberapa pabrik untuk mengumpulkan materi denim sisa yang masih layak pakai,” ujarnya. Toton pun menjelaskan bahwa ketika berkarya dengan bahan-bahan bekas, tentu ada tantangannya tersendiri. “Kita tentu tidak dapat memilih bahan yang kita mau,” tuturnya seraya tertawa. “Kita hanya dapat merespons dari bahan-bahan yang tersedia.”
Tak disangka, proses ini secara tidak langsung mengubah cara Toton bekerja. “Tak hanya dari sisi produksi; dari awal proses desain, saya harus memikirkan untuk merespons apa yang kita punya,” jelasnya. “Dengan cara merespons apa yang sudah ada, saya meminimalkan mencari dan membeli bahan baru. Mudah-mudahan, langkah biasa dari seluruh dunia untuk menyoroti keindahan dan keserbagunaan wol Merino Australia. Beberapa nama besar yang pernah berkompetisi di ajang prestisius ini meliputi Yves Saint Laurent (1953), Karl Lagerfeld (1954), Ralph Lauren (1992), Christian Wijnants (2013), dan Rahul Mishra (2014).
Koleksi Toton Dewi Fashion Knight 2017. |
Koleksi Toton musim gugur/dingin 2015. |
Toton pun maju untuk berkompetisi dengan membawa karya terbaiknya. Di tingkat Asia, Toton mempergunakan benang wol Merino, yang kemudian diproses menjadi kain tenun dengan melibatkan para perajin dari Garut, Jawa Barat. “Pada saat itu, kami harus mengolah benang wol menjadi kain. Sebenarnya ada pilihan untuk membeli kain wol jadi tanpa harus membuatnya dari nol, tetapi saya memilih untuk memulai dari nol karena saya tahu bahwa salah satu kekuatan Indonesia adalah wastra,” kenangnya. “Saya pun membayangkan apa jadinya ketika alat tenun bukan mesin bertemu dengan benang wol. Itulah yang menjadi pemikiran saya saat itu.”
Koleksi persembahan Toton pun mencuri perhatian para juri dan mengantarkannya pada kemenangan di tingkat Asia. Permainan teknik dan tekstur yang diperlihatkan Toton membuat para juri melihat wol dengan perspektif baru, yang mana dinilai sangat kontemporer dan relevan. Tak hanya itu saja, koleksi TOTON untuk The International Woolmark Prize berhasil menjembatani konteks atau identitas lokal dengan selera internasional yang kontemporer.

Koleksi Toton untuk Time International Woolmark Prize 2016.
Sejak koleksi pertamanya, karya-karya Toton dikenal memiliki napas budaya Indonesia tanpa menjadikannya sehelai kostum adat atau pakaian tradisional yang hanya dikenakan di acara formal. Garis rancangnya begitu segar, kontemporer, namun elemen-elemen budaya yang tersemat di dalamnya tetap dapat dengan mudah dikenali. Tentunya tidak mudah untuk mengimbangi porsi tradisi—yang tak jarang datang bersama pakem-pakem tertentu—dengan porsi kontemporernya. Lebih lagi, mengadopsi sebuah budaya tanpa memahami betul asal-usulnya bisa menjadi isu sensitif. “Cara kita memandang budaya harus benar terlebih dahulu,” ujar Toton. “In my humble opinion, ada dua hal yang bisa kita kerjakan. Yang pertama, apabila Anda tertarik kali yang saya terapkan ini bisa mengurangi apapun itu yang nantinya menjadi sampah.”
“Kini, memakai bahan bekas sudah menjadi sebuah norma bagi kami. Setidaknya 70-80% dari koleksi kami mempergunakan bahan-bahan upcycle,” ujarnya. Ragam materi yang dipergunakannya pun semakin beragam dan tak hanya sebatas denim. “Selain denim, yang banyak kami pakai adalah benda-benda rumah tangga seperti tirai dan taplak. Tentunya ada tantangan juga ketika berkarya dengan bahan-bahan seperti ini karena kondisi mereka tidak selalu prima. Dibutuhkan proses trial and error yang panjang, termasuk tes cuci dan tarik, untuk memastikan mereka layak dijadikan sehelai pakaian.”

Koleksi Ingatan karya Toton tahun 2024.
Pada 20 Juli 2023, Toton mempersembahkan koleksi tahunannya yang dipresentasikan di Hotel Mulia dengan menyoroti keindahan kebaya kontemporer. Meski sebelumnya pernah mempergunakan kebaya sebagai bagian dari koleksi-koleksi terdahulunya, presentasi ini menjadi kali pertama Toton sepenuhnya mendedikasikan koleksinya untuk menyoroti garmen klasik satu ini.
“Ketika pandemi, kami memulai sebuah koleksi modifikasi kebaya menjadi bentuk vest,” ujarnya. “Koleksi tersebut pun berlanjut di tahun 2023 untuk koleksi 2024.” Apabila sebelumnya Toton rutin menelurkan koleksi baru setiap musimnya, ia mengubah sistem berjualannya dengan hanya meluncurkan satu koleksi yang lebih besar untuk satu tahun. Langkah ini diambilnya dengan pertimbangan munculnya keinginan untuk berubah sejak pandemi. Selain itu, Toton yang tak lagi mempresentasikan koleksinya dua kali setahun di showroom Paris, ingin fokus di Indonesia. “Kami pun memutuskan untuk membuat koleksi satu tahun sekali, namun yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan selama satu tahun.”
|
|
“Selain karena sifatnya nostalgic dan sentimental bagi saya, saya merasa kebaya merupakan sebuah bentuk yang universal,” tambahnya. Selain itu, Toton mengaku terpilihnya kebaya sebagai Warisan Budaya Tak Benda di UNESCO tahun itu, mendorongnya untuk semakin merayakan kebaya lewat sebuah presentasi mode bertajuk Ingatan. “Saya pun berbicara dengan beberapa orang yang saya anggap mumpuni di bidang kebaya serta orang-orang yang memiliki kenangan dan ikatan sentimental dengan kebaya. Oleh karenanya saya menamainya Ingatan, karena saya mengumpulkan ingatan orang-orang akan kebaya, termasuk ingatan saya sendiri.”
Pendekatan Toton pada kebaya pun terbilang segar. Ia tidak melihatnya sebagai ‘kebaya’. Ia melihatnya sebagai baju, sebuah kosakata busana; baik itu busana tradisional maupun kontemporer, busana pagi, siang, atau malam. “Saya melihat kebaya seserbaguna itu,” ungkapnya. “Saya pun mengolahnya sebagai sesuatu yang dapat bertransformasi di setiap sudut kehidupan perempuan.”
Di sela kesibukannya menangani berbagai proyek yang berjalan bersamaan, sang desainer turut merefleksikan sebagaimana dirinya ingin dikenang suatu hari nanti. “Tentunya saya ingin dikenang sebagai seseorang yang berguna, punya manfaat, dan bisa dikaitkan dengan sesuatu yang baik dan sesuai dengan bidang saya,” ujarnya. “Tanpa bermaksud untuk terdengar arogan, selama ini saya selalu berusaha untuk membawa identitas Indonesia ke dalam mode kontemporer. Mode kontemporer ini mudah-mudahan tidak hanya di dalam negeri tapi juga dikenal di luar sana. Indonesia, tidak hanya saya, memiliki creative force yang patut diperhitungkan dan kita memiliki warisan yang pantas mendapatkan tempat yang sejajar dengan warisan negara lain di seluruh dunia. I would love to be remembered as part of that,” tutupnya.





