Jenahara Nasution Memaknai Semangat ‘Modest’

Jenahara Nasution interview elle indonesia

Satu dekade mewujudkan cita-cita masa kecilnya, Jenahara Nasution menuturkan kisahnya menembus pasar modest wear serta impian masa depan.

Dinamika pasar modest wear selalu menarik untuk disimak. Tak lagi dipandang sebelah mata, ia kini diterima baik dan dapat ditemukan hampir di mana saja, baik di jalanan maupun di panggung catwalk dunia sekali pun. Lewat sebuah laporan yang dilansir akhir 2019 silam, The State of the Global Islamic Economy 2019/20 memperkirakan setidaknya sebesar USD293 miliar dikeluarkan masyarakat Muslim di dunia untuk membeli busana dan alas kaki. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya, yakni sebesar USD260 miliar.

Tak mudah untuk mengukur seberapa besar perkembangan industri modest fashion itu sendirinya. Namun laporan pengeluaran tersebut menjadi indikator penting dalam melihat kesempatan bisnis. Di Indonesia, gaya berbusana modest selaras dengan warisan budaya dan nilai sosial yang diturunkan dari generasi ke generasi, menjadikannya sebagai ladang bisnis yang begitu atraktif. Sejumlah desainer modest wear pun terlahir di Indonesia, menawarkan gaya berbusana dan perspektif baru akan modest fashion sesungguhnya.Salah satunya yang kian bersinar, Jenahara Nasution.

photo DOC Jenahara

Proses Kreatif Desainer

Nanida Jenahara Nasution lahir di Jakarta, 27 Agustus 1985. Jenahara—sebagaimana ia akrab disapa—merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara, dari pasangan aktris dan desainer mode, Ida Royani, serta musisi, Keenan Nasution. Sejak kecil, Jenahara memiliki kecintaan terhadap mode. Di usia tiga tahun, ia bercita-cita menjadi desainer mode, mengikuti jejak sang ibu.

“Masa kecil saya banyak dihabiskan dengan mengikuti kegiatan ibu,” ujarnya mengenang. “Ibu saya seorang desainer dan cukup aktif di luar rumah. Beliau sering mengajak saya ke toko bahan, toko alat jahit, hingga bahkan fashion show.”

Peran Ida Royani memang begitu besar dalam membentuk kecintaan Jenahara terhadap dunia mode. Jenahara pun banyak menghabiskan masa kecilnya di workshop sang ibu yang terletak di belakang rumah mereka. Lambat laun, ia menikmati keterlibatannya di dunia mode dan bercita-cita ingin menjadi seorang desainer.

“Semuanya berawal dari toko bahan. Saya suka sekali melihat gulungan-gulungan kain dan sering bertanya banyak hal kepada ibu. Saya selalu memerhatikan proses saat ibu belanja, mencoba mengombinasikan kain dan kancing, maupun detail-detail lainnya. Semua terekam jelas dan saya pun menganggap dunia mode adalah dunia yang sangat menarik,” tambahnya.

Karakter Bold dan Modest

Kecintaan Jenahara pada dunia mode mengantarkannya pada peluncuran lini busana modest eponimnya di tahun 2011. Jenahara mendirikan lini busananya sendiri untuk menjawab kebutuhan para perempuan berhijab. Menurut Jenahara, mode hijab saat itu cenderung konservatif. Minimnya pilihan dan keterbatasan padu-padan membuat gaya hijab masa itu begitu monoton, sementara ia ingin mengeksplorasi lebih banyak gaya.

“Saya menanggap berhijab seharusnya tidak membatasi kebebasan bergaya. Ada tantangan tersendiri dalam membuat busana berhijab yang simpel, minimalis, tapi tetap elegan,” ujar alumni Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo tersebut.

Lewat garis rancang yang clean dan modern, label Jenahara membawa angin segar dan menjadi salah satu pionir tampilan modest fashion yang kontemporer. Ia pun dikenal lewat potongan busana yang sederhana, presisi, minimalis, sekaligus distingtif. Perpaduan elemen busana laki-laki dan perempuan juga kerap tersirat dalam potongan busananya. Ia tak takut untuk mewujudkan tampilan androgini dan bermain dengan siluet. Tak hanya itu, Jenahara selalu memastikan tiap rancangannya dapat dengan mudah dipadu-padankan dalam gaya apa pun dan dinikmati oleh siapa pun.

“Banyak orang beranggapan bahwa modest wear selalu dikaitkan dengan busana Muslim. Bagi saya, modest wear lebih menekankan persoalan berpakaian sopan dan menutupi bagian tubuh. Potongannya lebih panjang, lebih longgar, dan tidak menunjukkan lekuk tubuh. Busana Muslim pasti menganut konsep modest wear, tapi modest wear bukan berarti harus berhijab,” ujarnya.

photo DOC Jenahara

Jenahara sendiri mengaku bahwa pendekatannya dalam merancang biasanya berangkat dari pengalaman sehari-harinya dalam berpakaian. “Saya merasa apa yang nyaman saya pakai barangkali juga nyaman dikenakan orang lain. Berdasarkan pengalaman ini, saya mencoba membuat berbagai koleksi yang bersifat multiway dan berdetail edgy,” katanya.

Sosok perempuan merupakan inspirasi penting dalam koleksi-koleksinya. Tak jarang bahkan karya-karyanya menggambarkan kekuatan perempuan. “Perempuan adalah sosok istimewa yang luar biasa hebat. Perempuan mampu melakukan banyak hal dan merasakan segala emosi. Perempuan sepatutnya memberdayakan sesama perempuan, sebab kekuatannya menular dan menginspirasi banyak orang di sekitarnya. Saya rasa pakaian adalah media yang tepat untuk membuat perempuan merasa nyaman dengan dirinya sendiri, sekaligus memiliki keberdayaan untuk melakukan kebaikan dan bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

Berkembang Selaras Zaman

Satu dekade Jenahara berkarier sebagai desainer modest wear. Sejak debut pertamanya, ia telah menjadi salah satu sosok berpengaruh di komunitas Muslim Indonesia. Karya-karyanya telah dipamerkan di atas panggung mode dunia seperti Hong Kong, Singapura, Kuala Lumpur, Seoul, Tokyo, Moskow, Melbourne, dan London.

Butik Jenahara di Kota Kasablanka

Di Indonesia, Jenahara melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka butik di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan Balikpapan. Salah satu butik terbarunya terletak di pusat perbelanjaan Kota Kasablanka, yang dibuka di penghujung tahun 2020 silam.

“Sebetulnya butik di Kota Kasablanka sudah kami persiapkan sejak awal tahun 2020. Begitu pandemi merebak, banyak hal yang tertunda. Pada Desember lalu, kami memutuskan untuk membuka butik tersebut. Di tengah lesunya industri mode selama beberapa bulan sebelumnya, saya merasa perlu melakukan sesuatu untuk mendobrak semangat teman-teman pelaku industri fashion ini,” jelasnya.

Optimisme Jenahara didukung oleh kesiapan butiknya yang beroperasi dengan standar protokol kesehatan serta pembatasan jumlah tamu untuk menjaga kenyamanan para pengunjungnya saat berbelanja. Layanan private shopping pun turut ditawarkan olehnya untuk memberikan pengalaman berbelanja lebih di butik Jenahara Kota Kasablanka.

Meski telah berkarier selama satu dekade, Jenahara masih memiliki mimpi-mimpi yang ingin diwujudkannya. Ia menginginkan label Jenahara menjadi salah satu modest wear brand yang kian diperhitungkan. Di tengah gempuran fast fashion, Jenahara ingin labelnya menempati hati banyak perempuan, tak hanya bagi mereka yang berhijab.

“Mudah-mudahan label Jenahara nantinya bisa menjadi sebuah lifestyle brand, yang tidak hanya menawarkan pakaian tetapi juga kebutuhan sehari-hari perempuan. Saya ingin dikenang sebagai perempuan yang karyanya dapat dinikmati banyak orang. Bukan semata-mata ingin dilihat sukses, tetapi karena bermanfaat bagi sesama perempuan,” pungkasnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.