FASHION

19 Agustus 2026

Lebih Dari Sekadar Destinasi Berbelanja, Birkenstock Umah Ubud Hadir Menyatukan Alam, Kerajinan Tangan, dan Komunitas di Bawah Satu Atap


PHOTOGRAPHY BY BIRKENSTOCK

Lebih Dari Sekadar Destinasi Berbelanja, Birkenstock Umah Ubud Hadir Menyatukan Alam, Kerajinan Tangan, dan Komunitas di Bawah Satu Atap

Lama sebelum dikenal sebagai destinasi berlibur para pelancong global, Ubud telah menjadi jantung kebudayaan Bali, sebuah situs di mana kerajinan tangan, spiritualitas, dan alam telah membentuk kehidupan para masyarakat lokal secara turun temurun. Di tempat inilah, tradisi tidak hanya diabadikan sebagai sejarah, namun terus hidup di tangan para perajin lokal, di tiap semarak ritual upacara, dan dalam rasa hormat mendalam pada budaya dan alam yang membingkainya. 

Tempat ini tentunya turut mencuri perhatian Birkenstock yang turut memegang tiga nilai penting dalam tiap karya-karya mereka, yakni fungsi, kualitas, dan tradisi. Berlandaskan nilai-nilai ini, yang selaras dengan cara hidup warga Ubud, Birkenstock pun mendirikan Birkenstock Umah Ubud. Dalam bahasa Bali sendiri, umah berarti rumah, sebuah tempat di mana Anda merasa diterima dan menjadi bagian darinya, untuk menciptakan hubungan, dan berbagi pengalaman. Lewat filosofi ini pula Birkenstock Umah Ubud didirikan, tak hanya sebagai destinasi ritel, namun sebagai tempat untuk berkumpul, menemukan, dan berinteraksi dengan nilai-nilai yang dijunjung keduanya.

Sebuah perayaan istimewa pun dihelat Birkenstock untuk merayakan pembukaan Birkenstock Umah Ubud pada tanggal 14 Agustus 2026 silam. Rangkaian acara dibuka dengan beberapa patah kata dari Nicholas Jones selaku President Director dan CEO MAP Active, Klaus Baumann selaku Chief Sales Officer, dan Yoka Sara selaku arsitek di balik indahnya bangunan Birkenstock Umah Ubud. Acara kemudian dilanjutkan dengan tarian Bali yang menyambut para tamu dan dibukanya penjor penghias wajah butik yang mempersilakan semua hadirin untuk memasuki area toko sambil diiringi merdunya alunan gamelan Bali.

Terinspirasi oleh arsitektur tradisional Bali, bangunan Birkenstock Umah Ubud dibangun layaknya sebuah hunian khas Bali yang telah diperhitungkan dengan cermat oleh Yoka Sara, serta sang putra yang juga merupakan seorang arsitek, Iwan Sastrawan. Eksplorasi para pengunjung pun dimulai di area kedatangan bangunan tersebut yang dihiasi pintu gobyok khas Bali yang ditempatkan tepat di bali pintu utama. Lebih dari sekadar pintu, Yoka Sara menyebutkan bahwa pilihannya ini merefleksikan filosofi Tri Hita Karana, yakni harmoni antara manusia, alam, dan roh; menyambut para tamu untuk memasuki sebuah bangunan yang dibentuk oleh budaya, kerajinan, dan hubungan.

Kesan pertama yang begitu kuat dipertegas oleh pilihan material bangunan yang dipergunakan. Birkenstock memastikan bahwa bahan-bahan tersebut berasal sepenuhnya dari Bali sebagai bentuk rasa hormatnya pada Bali, kekayaan tradisi, dan hubungan eratnya dengan alam. Mulai dari batu lava, kayu-kayuan, keramik, bambu, rotan, serta bahan anyaman, seluruhnya diperoleh dari pulau Bali. Diolah sedemikian cermatnya, sang arsitek turut menginfusikan identitas Birkenstock pada karya bangunan teranyarnya ini. Sebut saja motif bebatuan di area kedatangan yang memimik motif sol cork-latex khas sandal-sandal Birkenstock.

Fita Anggriani, Dion Wiyoko, dan Sheila Dara turut hadir meramaikan acara pembukaan Birkenstock Umah Ubud.

Menaiki sedikit anak tangga, para tamu dengan segera disambut oleh senyuman hangat para pramuniaga yang siap melayani di lantai ritel. Di sisi kiri dan kanan bangunan, para pengunjung dapat dengan mudah menemukan koleksi khas dan musiman label asal Jerman tersebut. Tak lupa, Birkenstock turut mendedikasikan sebuah area khusus untuk anak-anak. Dipajang dengan begitu indahnya di atas instalasi bambu yang menempel di dinding, koleksi alas kaki yang dipersembahkan hadir sebagai jawaban dari kebutuhan bergaya sang buah hati.

Sedikit lebih tinggi dari lantai sebelumnya, Birkenstock mendedikasikan dua paviliun khusus di lantai ini. Pavilun pertama didedikasikan untuk menyoroti kriya khas Birkenstock—di mana para pengunjung dapat mengenal lebih dekat warisan, kerajinan tangan, evolusi desain, dan rangkaian pembuatan sepasang sandal Birkenstock—sementara paviliun keduanya menjajakan koleksi alas kaki premiumnya yang tak jarang berkolaborasi dengan desainer ataupun label besar dunia, 1774 Collection. Kerap diburu para kolekstor, koleksi eksklusif ini hanya tersedia di Birkenstock Umah Ubud untuk pasar Indonesia.


 Akhirnya, tiba lah para pengunjung pada jantung bangunan ini, yaitu sebuah Community Space dua lantai yang khusus dirancang untuk berkumpul, bertukar gagasan, merayakan kriya dan kerajinan tangan. Terletak di lantai paling atas Birkenstock Umah Ubud, ruang komunitas ini dirancang khusus untuk melahirkan perbincangan dan dialog. Dilengkapi pintu geser di belakang bangunan yang dapat dibuka untuk menampilkan pemandangan khas Ubud, menjadikan ruangan ini ideal untuk menyelenggarakan beragam aktivitas, mulai dari lokakarya wellness hingga ragam program budaya yang kembali mempererat hubungan antar manusia dengan alam.