21 April 2026
Adinia Wirasti Bergerak dalam Visi Kreatif Karakter Perempuan Berlapis
PHOTOGRAPHY BY Ryan Tandya
styling Ismelya Muntu; fashion Biasa; makeup Aditya Vagueskin; hair Jovita
“Bahasa William Shakespeare sangatlah khas,” kisah Adinia. Ia memetik sepenggal kalimat dari potongan karya Shakespeare: Not proud you have, but thankful that you have. Proud can I never be of what I hate. But thankful even for hate that is meant love. “Ada intensitas emosional dalam kepuitisan narasinya,” Adinia berujar, pun saya sependapat, “Dan kedua aspek tersebut tidak selalu mudah untuk diartikulasikan.” Diskusi kami terkait Shakespeare secara khusus diantarkan oleh drama Romeo & Juliet. Sebuah tragedi romantika berlapis kompleksitas kemanusiaan. Sebuah kisah legendaris yang, pada waktu itu, sudah ia pelajari selama tiga bulan sebagai bagian prosesnya mempersiapkan debut berpentas teater.
Awal Juli 2025, Adinia mengabarkan bahwa untuk pertama kalinya ia akan menapaki panggung teater. Kiprahnya ditandai dengan pertunjukan Romeo & Juliet produksi Bell Shakespeare yang berbasis di Australia. Momentum ini berawal ketika ia mendengar kabar dari aktor—yang juga suaminya sedari 2023—Michael Wahr, bahwasanya sutradara sekaligus Direktur Artistik Bell Shakespeare, Peter Evans, tertarik melibatkan ia dalam jajaran pemerannya. “Saya lalu menanggapinya dengan canda,” kenangnya. Tak lama Evans benar-benar menghubunginya personal. Lewat komunikasi video, ia secara resmi meminang Adinia untuk memerankan Lady Capulet.

fashion Shushu Tong - Masari (gaun).
Adinia merasa terhormat, antusias, sekaligus skeptis. Pemantik utama keskeptisannya ialah ketiadaan pengalaman berpentas teater sebelumnya. Sejak kali pertama ia menjejaki ranah seni peran lewat Ada Apa dengan Cinta? di awal tahun 2000-an, sinema selalu menjadi ruang kreatif Adinia Wirasti. Sementara, “Teater, dengan segala budayanya, adalah dunia yang berbeda,” ujarnya kali terakhir kami bertemu sekitar setahun silam.
Tidak seperti sinema. Teater tak memiliki ‘jaring pengaman’ dalam prosesnya. Tidak ada pengulangan adegan, apalagi penyuntingan. Suatu gambaran proses yang nyaris di luar lazim bagi Adinia. Ia berkontemplasi. Namun kebimbangan yang sama itu pula yang menuntun ia kembali pada naluri paling mendasar: hasrat untuk terus bertumbuh. “Selama peradaban manusia masih berkembang, saya percaya, begitu pula roda seni peran. Sebab itu, sebagai aktor, saya tidak bisa sekadar jalan di satu tempat. Dunia ini terlalu luas untuk dipahami hanya dari satu sudut pandang,” jelas perempuan lulusan New York Film Academy itu.

fashion Prada (rok).
Perjalanan Adinia berkeliling Australia bersama teater Romeo & Juliet berlangsung pada 29 Agustus hingga 7 Desember 2025. Sebanyak 70 pertunjukan dihelat sepanjang kurun waktu tersebut. “Saya sempat sangsi dapat bertahan sampai akhir,” aku Adinia, “Berperan mengulang dialog yang sama bisa menjadi tantangan yang menguras energi. Konon, tidak sedikit aktor yang kehilangan gairah dalam pementasan berkepanjangan.” Realitas berjalan sebaliknya. Ia berhasil menuntaskan perjalanan, bahkan menutupnya dengan kuat. Teori tentang repetisi yang mencekik kreativitas aktor itu rupanya tidak berlaku pada Adinia. Malah ia memanfaatkan metode repetitif keteateran sebagai ruang untuk terus merawat kesegaran emosi, agar penampilannya senantiasa terasa hidup setiap kali tirai terangkat.
Sebagaimana Michael Wahr—yang memerankan Lord Capulet—menilai, “Pembawaan diri Adinia tenang, sarat keanggunan, dan penuh kepekaan. Perihal itu tidaklah sederhana. Ada banyak hal yang harus dihadapinya sekaligus; berperan, berbicara dalam bahasa Shakespeare, dan ia melakukannya di tengah perbedaan budaya Australia. It’s a lot. Tidak semua orang bisa mudah beradaptasi. Tapi Adinia, she’s very professional.”
Opini Michael bisa saja bias. Namun manakala pujian serupa turut bergulir dari para penonton, kebenaran pandangannya pun menjadi tak terbantahkan. Michael mengungkap bahwasanya Adinia kerap kali memperoleh kunjungan penonton selepas pertunjukan. Mereka datang untuk menyampaikan apresiasi atas penampilannya yang, bagi banyak orang, terasa menggerakkan hati. “Tiap orang datang dengan kisahnya sendiri,” ujar Michael, “Ada ibu yang merasa dimengerti dalam pergulatannya membesarkan remaja perempuan; juga ada diaspora Indonesia yang baru pertama kali menonton teater dan seketika jatuh cinta pada pengalamannya.”

fashion Prada (jaket).
Adinia tersenyum menanggapinya, "He's very kind." Wajahnya tampak merona. Saya bisa melihatnya dengan jelas, meski kami duduk di dalam The Library Hotel Dharmawangsa Jakarta yang berpencahayaan hangat. Saya dan Adinia menepati janji untuk berjumpa kembali sepulang ia ke Tanah Air pada bulan Februari silam. “Nanti saya lanjut bercerita kepada Anda bilamana tirai pertunjukan telah diangkat,” pesannya sebelum berangkat tur Australia. Maka, kisah ini pun memuat babak kedua dari perjalanan teranyar sang aktor dalam memperkaya laju kiprahnya.
“Berpentas teater benar-benar merendahkan hati,” ujar Adinia. Ada keterhubungan yang lebih mendalam dengan penonton, yang terasa sangat pribadi baginya, saat melakoni teater. “Because it was all happening live,” katanya, “Pengalamannya benar-benar raw. Ketika bernarasi di atas panggung, saya merasakan keintiman yang penuh kejujuran.”
Bell Shakespeare menghadirkan Romeo & Juliet dalam ruangan berkapasitas maksimal 400 penonton. Tata panggung dibingkai minimalis dengan kain hitam. Kostumnya juga bersahaja selaras palet warna set, jauh dari nuansa glamor ala film Baz Luhrmann—kecuali pada adegan Capulet Ball di mana para pemeran mengenakan busana beraksentuasi rona. Peter Evans memang sengaja menitikberatkan pemvisualan cerita lewat gestur dan dialog yang mengikat penonton. “Konsep intim yang dibangun Peter memberikan tantangan menarik. Kami para aktor harus bisa menemukan keseimbangan antara kehadiran di atas panggung dan di tengah audiens,” kata Adinia, “Buat saya pribadi, terlebih di tengah audiens. Sebab mereka lebih dari sekadar objek menonton aktor; mereka adalah bagian dari keseluruhan pengalaman.”

fashion Lanvin (jaket, rok, dan syal).
Kapabilitas Adinia Wirasti menjalin keterhubungan emosional melalui karakter peran sebetulnya bukan lagi sebuah pertanyaan. Lebih dari 30 judul karya—meliputi film dan serial—yang telah ia bintangi menjadi manifestasi kredibilitasnya. Walau begitu, panggung teater selalu menyisakan ruang bagi situasi di luar kendali. Suatu kejutan, yang bahkan aktor berkaliber pun tak luput dari kesilapan. Adinia menceritakan peristiwa di mana salah seorang aktor tak sengaja memeleset dari waktunya naik panggung, dan memotong dialog Lady Capulet bersama Juliet. “Sutradara telah memberikan lampu hijau apabila kami harus berimprovisasi di momen-momen seperti itu. Tapi pada detik itu, tiba-tiba saya membeku dan sulit berkata-kata,” kisahnya.
Tanpa mengutuk keadaan, atau mencari siapa yang patut disalahkan, Adinia memilih fokus mentransformasikan momen-momen distraktif yang menantang konsentrasi semacam itu sebagai medium berlatih kedisiplinan untuk terus melaju. “Detik di mana suatu peristiwa berlalu, semuanya sudah menjadi masa lalu. Tidak ada yang bisa saya lakukan selain memetiknya sebagai pelajaran untuk masa depan, dan move on,” katanya, “Kesadaran saya harus kembali pada fokus. Sebab, apa pun yang terjadi, pertunjukan harus terus berlanjut.” The art of letting go adalah praktik kebijaksanaan yang terus ia pelihara demi menjaga keseimbangan mental selama tur. Teater menuntut Adinia menempuh proses melampaui sekadar hafalan naskah. Ia menyelisik jauh ke dalam dunia Shakespeare. Setiap makna di balik kalimat arkais dalam teksnya diresapi secara cermat. Keliterasiannya diikuti pendalaman terhadap teknik Iambic Pentameter untuk meluweskan pelafalan. Ia juga mengasah rentang vokal dengan intensif agar suaranya mampu menjangkau penonton hingga baris paling belakang. Bahkan aspek teknis seperti desain ruang pertunjukan tidak luput dari perhatiannya.
Tak berhenti pada ketelitian narasi dan teknik panggung. Adinia turut memaksimalkan pembangunan karakter melalui detail-detail kecil, yang salah satunya ia sebut sebagai “a hot object.” Sebuah objek yang ia ciptakan pribadi dalam berproses menarik kesadaran masuk dan keluar karakter peran. “Kebiasaan itu berangkat dari pengalaman syuting film yang alurnya tidak selalu berjalan urut,” ujarnya, “Detail kecil itu menjadi semacam kunci yang mengantarkan saya menghayati karakter, sekaligus menyadari realitas.” Bentuknya macam- macam untuk setiap peran. Pada produksi Romeo & Juliet, objek itu datang dari ranah yang sangat personal: keluarga. Adinia meminjamkan cincin pemberian neneknya kepada Lady Capulet. Sembari membelai cincin bertatahkan batu berpotongan emerald di jari tangannya, ia berujar, “Barangkali ini bagian kedewasaan diri saya sebagai aktor; kesiapan menerima bahwa saya akan selalu memberi sedikit bagian dari diri sendiri dalam setiap peran yang saya mainkan, dan tidak lagi merasa kehilangan.”

fashion Celine (mantel).
Di dunia peran, seorang pemeran dituntut untuk berulang kali meninggalkan dirinya; masuk ke kehidupan orang lain; merasakan emosi yang bukan miliknya; lalu kembali ke realitas. Proses tersebut sarat kerentanan. Meski tidak selalu, seorang pemeran bisa saja kehilangan pijakan terhadap jati dirinya. Adinia mengaku pernah merasakan hal serupa di masa-masa awal mendalami seni peran. “Saya selayaknya kura-kura yang keluar dari tempurung, lalu masuk tempurung lain supaya bisa jadi kura-kura berbeda; tanpa ingat letak keberadaan tempurung asli,” ujarnya, “Dulu saya merasa baik-baik saja dengan kondisi tersebut. Bahkan cenderung bangga, karena saya pikir artinya saya berhasil menghidupkan karakter seutuhnya.” Ia tergelak ringan, “Saya masih sangat muda kala itu, dan tidak benar-benar memperhatikan diri sendiri. Belakangan saya menyadari betapa proses itu dapat membekaskan luka.” Adinia mengisahkan pengalamannya tanpa nada dramatis, layaknya sebuah kesadaran yang direngkuh setelah perjalanan panjang. Ia telah lama kembali pulang ke tempurung aslinya. Bagaimana ia menemukan jalan? “Self-care,” ia menjawab lugas, “Saya mulai melakukan hal-hal yang mengembalikan kesadaran diri, seperti menulis jurnal,” Dalam proses tersebut, ia belajar menegosiasikan jarak antara personalitasnya dan karakter; bagaimana keduanya dapat saling memberi tanpa mengikis satu sama lain.
Dalam produksi Romeo & Juliet, kesadaran identitas tersebut menjadi pijakan Adinia menghadapi salah satu tantangan peran yang tak kalah subtil. Di atas panggung, ia dan Michael beradu peran sebagai pasangan suami-istri. Turun dari panggung, keduanya pun lanjut berbagi kehidupan berumah tangga. Irisan dua wilayah tersebut menambah lapisan persona yang tak selalu sederhana bagi Adinia. “Terkadang orang tidak selalu melihat saya sebagai individu yang berdiri sendiri seutuhnya,” ujar perempuan kelahiran Jakarta tahun 1987 itu. Identitasnya kerap terbingkai kefiguran sang pasangan.
Adinia bukan sekadar pasangan seorang. Sebelum genap berusia 20 tahun, ia telah memperoleh dua nominasi Indonesian Movie Actors Awards, dan memenangkan Piala Citra atas kompetensinya memerankan deuteragonis dalam film Tentang Dia. Manakala ia merajut duka berselimut perasaan bersalah seorang ibu di Critical Eleven, pada 2018, ajang internasional Asian Academy Creative Awards mengapresiasi kredibilitasnya dengan piala Aktris Pemeran Utama Terbaik. Rekam jejak keaktorannya kuat. Walau begitu, dalam teater Romeo & Juliet, ia berada pada posisi paradoks: seorang aktor berpengalaman sekaligus pendatang baru, juga satu-satunya warga asing di antara para pemain.
Lazimnya saat berada dalam situasi seperti itu, seseorang kerap terpantik untuk menegaskan diri. Tapi tidak dengan Adinia. Ia hadir dengan sikap tenang. Ia beradaptasi, mengamati dan memahami ekosistem kehidupan di sekitarnya. Ia membiarkan karyanya berbicara. Panggung menjadi saksi, dan pernyataan dirinya tergurat secara organis lewat performa. “Satu hal esensial yang saya sadari sepanjang pengalaman berperan, pada akhirnya akting adalah akting,” ujarnya. Akting, seni kehidupan yang telah ia lakoni secara profesional selama dua per tiga perjalanan hidupnya. Kesadaran itu menumbuhkan kebijaksanaan bahwa pengalaman yang ia miliki cukup untuk dihargai, terutama oleh dirinya sendiri.

fashion Pamela Usanto (gaun).
“Terus terang saya masih belum merasa sudah benar-benar matang sebagai aktor,” kata Adinia. Dalam sebuah alur laju karier petakannya sendiri, ia berpandangan, “Sepuluh tahun pertama adalah masa belajar. Sepuluh tahun kedua masih seputar proses yang sama, namun mulai disertai upaya menerapkan pembelajaran. Pada dekade ketiga, pemahaman dari dua puluh tahun sebelumnya diuji dalam praktik. Lalu akhirnya bisa lebih banyak memberi manakala mulai dekade keempat berkarya.”
Di periode proyeksi personalnya saat ini, ia berdiri dengan keterampilan dan pengalaman sepanjang 25 tahun. Selayaknya padi di saat semakin berisi, Adinia semakin merunduk. Ia tak pernah berhenti mendorong naluri artistiknya untuk terus-menerus gelisah. “Saya ingin membuka diri pada lebih banyak narasi klasik,” gairahnya usai mengecap pentas teater, “Tidak harus selalu Shakespeare. Penceritaan wayang juga sangat menarik untuk ditelusuri. Saya berhasrat meleburkan diri pada figur-figur perempuan yang kompleks.”

fashion Lanvin (jaket, rok, dan syal).
Ketika kami bertemu hari itu, karya teranyar Adinia Wirasti tengah diputar meramaikan bioskop-bioskop Indonesia. Berjudul Sadali, sekuel drama Dunia Ini Terlalu Banyak Kamu (2024). Narasinya bukan adaptasi teks klasik. Tapi di sini Adinia memerankan karakter dengan kompleksitas yang tak tampak. Sebagai Mera, seorang perempuan yang nyaris kehilangan personalitas di bawah bayang-bayang institusi pernikahan, hingga cinta baru datang di luar kendali dan membawanya kembali pada jalan penemuan diri. “Anda melihat Mera demikian?” katanya berseri. Ia tampak senang intensinya tertangkap. “Melalui Mera, dan setiap karakter peran yang saya mainkan sebetulnya, saya ingin menegaskan bahwa menjadi perempuan tidak hanya soal menjadi siapanya seseorang. Tak seharusnya perempuan selalu didefinisikan oleh relasinya dengan siapa pun, sebagaimana yang masih kerap mengakar dalam struktur sosial kita. Senang sekali ketika pesan itu terlihat,” katanya.
Sepanjang merajut karier, Adinia memang kerap melandaskan insting kreatifnya pada karakter peran berlapis. “Perempuan—terutama perempuan Indonesia—sejatinya jauh dari sosok dua dimensi. Di balik apa yang tampak di permukaan selalu ada konteks, entah pengalaman hidup, situasi, dan struktur sosial yang membentuk lapisan dalam diri seseorang,” ujarnya. Bagi Adinia, penting menghadirkan perspektif tersebut.
Sebelum berpisah, ia mengungkapkan akan segera kembali ke layar perak. Tidak banyak yang bisa ia kisahkan sekarang. Tapi satu hal yang pasti, hasrat Adinia Wirasti semakin menggebu-gebu dalam menyuratkan lapisan rasa seorang perempuan melalui esensi karakter perannya.