20 Mei 2026
Olivia Dean Menggambarkan Gagasan Feminismenya Terkait Romansa
PHOTOGRAPHY BY Felix Cooper
text: Sylvia Obell (styling Alex White; fashion Gucci; jewellery Cartier; makeup Celia Burton; hair Sophie Jane; manicure Elia Vivii
Laga Super Bowl dijadwalkan berlangsung akhir pekan. Saya berdiri di dalam sebuah warehouse seluas 18.581 m2 di dermaga tepi laut di San Francisco. Situasinya ramai, di antaranya termasuk sejumlah wajah familiar dunia olahraga dan industri hiburan. Russell Wilson dan Ciara bergandengan tangan melewati area VIP. Cardi B, Jon Hamm, dan Ty Dolla$ign terlihat berpindah dari satu kelompok tamu ke kelompok lain. Atlet-atlet kenamaan juga memadati hampir di tiap sudut ruangan. Agenda pertandingan baru akan dihelat dua hari mendatang; di malam hari Jumat ini, semua orang hadir untuk menonton pertunjukan musik yang paling dinantikan dari Olivia Dean. “Ini penampilan pertama saya sejak memenangkan Grammy,” ucapnya tersenyum dari atas panggung diiringi riuh bersorak menyelamatinya.
Dalam lima hari sejak ia membawa pulang penghargaan Best New Artist dari ajang Grammy, Dean nyaris tak punya waktu istirahat. Pesta pembuka Super Bowl yang diselenggarakan oleh Uber ini menjadi pertunjukan terakhir sebelum ia pulang ke London untuk dapat beristirahat. Namun, dari caranya tampil di atas panggung, Anda tak akan menyangka bahwa ia sangat membutuhkan istirahat.
Beberapa jam sebelum penampilannya, saya menemui penyanyi berusia 27 tahun tersebut di kamar suite The St. Regis. Ia menyambut saya dengan senyuman lebar dan pelukan ramah. Kami duduk di sofa, tergelak melalui perbincangan ringan; seketika jelas terlihat bahwasanya Dean meromantisasi kehidupan sebagaimana caranya membuat musik; ia mengubah momen-momen sederhana menjadi memori berharga yang layak dinikmati lebih lama. Manakala ia mengetahui hari itu adalah peringatan ulang tahun saya, ia bersikeras memberikan sebotol sampanye Veuve Clicquot. “Mengapa Anda bekerja?!” serunya. “Apa Anda sadar siapa diri Anda?” timpal saya, “Anda baru saja memenangkan Grammy!” Dean menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil tertawa pelan. Ia masih belum sepenuhnya percaya akan realitas tersebut. “Jujur saja, saya belum pernah memenangkan penghargaan musik sebelumnya,” katanya.

fashion Gucci (mantel), Christen (sepatu); jewellery Cartier (anting, gelang, dan cincin).
Memenangkan salah satu kategori piala paling diinginkan di Grammy sebagai penghargaan pertama adalah hal yang monumental. Namun, hal itu juga merupakan hasil dari momentum yang terus dibangun Dean sejak perilisan The Art of Loving pada bulan September 2025 silam. Meski bukan karya debut—karena sebelumnya ia sudah merilis beberapa EP dan album studio, Messy, pada 2023—tetapi ini adalah pertama kalinya ia benar-benar menembus pasar di kedua sisi Atlantik. Album tersebut dengan cepat meraih status platinum di Inggris, juga berpredikat emas di Amerika Serikat; lagu-lagu seperti So Easy (To Fall in Love), Man I Need, dan A Couple of Minutes pun turut viral di media sosial. Ditambah penampilan live yang memukau, kampanye bersama Burberry, serta pujian dari para kritikus, sosok Dean menjadi sulit untuk diabaikan. Saat mendengarkan albumnya, saya pun benar-benar terkesan. Karyanya memikat lewat perenungan akan cinta kasih dan romansa, di saat kita tengah hidup di masa yang terasa hampa akan perasaan-perasaan itu.
Dean duduk santai bersila satu kaki. Ia mengenang momen mengharukan yang terjadi seminggu sebelum pertemuan kami, manakala ia berbagi ruang dengan begitu banyak idola musiknya. “Saya harus mencoba menjelaskan ini dengan tepat, supaya Anda benar-benar bisa membayangkannya,” ujarnya, “Saat itu, saya berdiri di tengah kerumunan Grammy. Saya melihat Lauryn Hill yang menampilkan tribute untuk D’Angelo. Kami saling berada dalam satu garis pandang, meski sepertinya ia tidak memperhatikan saya. Ia menang Best New Artist pada tahun kelahiran saya, bahkan nama tengah saya terinspirasi olehnya. Momen tersebut layaknya putaran penuh takdir. Bayangkan, saya masih duduk di sofa di rumah saya di London beberapa minggu sebelumnya. Lalu tiba-tiba saya memenangkan Grammy, dengan Queen Latifah memandang saya.”
Malam itu, di antara rasa takjub dan keterkejutan, Dean berhasil menyampaikan salah satu pidato paling menyentuh yang ia persembahkan untuk figur pahlawan pribadinya: “Saya berdiri di sini sebagai cucu dari seorang imigran,” katanya di atas panggung, “Saya adalah hasil dari keberanian, dan menurut saya, mereka berhak dirayakan... kita tiada artinya tanpa satu sama lain.” Keputusan untuk membicarakan nenek dari pihak ibunya—yang pindah ke Inggris dari Guyana pada usia 18 tahun—muncul secara natural. “Ibu dan bibi saya berkata bahawasanya saya adalah representasi keluarga, sekaligus upaya keberanian nenek. Rasanya sangat tulus untuk mengapresiasi beliau di momen itu.”

fashion Chanel (gaun); jewellery Cartier (anting, gelang, dan cincin).
Jika Anda bertanya-tanya dari mana Dean mendapatkan keberaniannya, adalah tak lain dari para perempuan yang membesarkannya. Digambarkan oleh Dean, mereka ialah figur-figur yang berani bersuara juga bertindak. “Mereka benar-benar membangun rasa kebersamaan. Dapur bibi saya adalah ruang berkumpul. Saya dan ibu selalu menghabiskan waktu di sana. Mereka minum wine, sembari kami mendengarkan Angie Stone. Di sana saya mendapatkan pendidikan tentang musik.”
Ibu Dean, Christine, adalah seorang pengacara bidang hukum anak dan keluarga; sebelum kemudian menjadi perempuan kulit hitam pertama yang menjabat Wakil Pemimpin Women’s Equality Party di Inggris. Dari ibunya, Dean belajar pentingnya kerja keras dan memberdayakan sesama perempuan. “Ibu selalu berpesan bahwa kita perlu berusaha lima kali lebih baik. Perihal itu menanamkan nilai kerja keras dalam diri saya. Dan saya adalah seorang feminis sejati.”
Orangtua juga guru pertama yang menanamkan nilai cinta kepadanya. “Mereka mengajarkan bahwa cinta adalah buah pilihan dan usaha,” kata Dean,“Cinta adalah konsistensi. Tentang memilih untuk mencintai seseorang setiap hari, bukan frustrasi atau lari. Mereka telah mengajarkan saya makna kebersamaan.” Pengertian akan cinta tak bersyarat pun ia rengkuh melalui dukungan penuh orangtua terhadap keputusannya mengejar mimpi di musik. Bahkan, ibunya yang menyarankan ia mendaftar ke BRIT Musical Arts School.

fashion Gucci (gaun); jewellery Cartier (anting, gelang, dan cincin).
Bagi Dean, BRIT Arts School lebih dari tempat mengasah naluri bermusik; di sana ia menemukan penerimaan serta keberanian menjadi diri sendiri. “Rasanya sangat melegakan berada di kelilingi orang-orang yang menganggap musik serta impian untuk bersinar merupakan hal keren. Membuat saya membebaskan diri dari rasa malu terhadap diri sendiri,” ungkapnya, “Di sekolah sebelumnya, orang-orang kerap membuat saya merasa pribadi saya ‘terlalu berlebihan’. Padahal sebenarnya tidak. Bahkan, saya belum cukup melakukan apa yang harus dilakukan untuk mencapai impian saya. Malah saya belum benar-benar memulainya.” Ia ragu untuk mengatakan bahwa dirinya pernah dirundung. Tapi ia mengaku bahwa menjalin pertemanan dengan sesama perempuan cukup sulit baginya semasa remaja, hingga akhirnya ia bertemu sahabat-sahabatnya di BRIT.
Persahabatan membantu Dean tetap rendah hati. “Terkadang hidup saya terasa sangat ekstrem, karena saya tengah berada di momen-momen kehidupan yang rasanya di luar kemasukakalan. Saya bisa mengerti mengapa orang dapat tersesat di industri ini. Anda harus punya mental yang kuat,” ujarnya, “Saya sangat beruntung memiliki ruang di luar dunia ini, di mana ingar-bingar tersebut tidaklah begitu penting.”
Esensi kekuatan jati diri yang telah dibangun Dean menjadi semacam kekuatan super yang terasa melalui karya-karyanya. Ia sangat percaya diri, dan memiliki visi yang jelas akan bagaimana ia ingin dipandang sebagai seniman. “Lewat musik, saya bertujuan untuk membantu banyak orang, termasuk di antaranya diri saya sendiri, untuk menemukan belas kasih dan keterhubungan yang lebih mendalam antar satu sama lain. Saya percaya bahwasanya banyak orang ‘lapar’ akan substansi yang lebih jujur dan penuh makna; sesuatu yang memuaskan jiwa. Saya berusaha menciptakan ruang di mana keterhubungan semacam itu serta kebahagiaan bisa terjadi,” ujarnya.
Komitmen Dean tertuang dalam The Art of Loving. Di era serba cepat dan berprinsip maksimalisme, Dean melandaskan kreativitasnya melalui pendekatan subtil. Ia memberi ruang bagi vokal, penceritaan, serta pilihan musikalitas. Albumnya, yang berisikan 12 lagu dengan total durasi putar hanya 34 menit, merangkum musik R&B, pop, neo-soul, dan berbagai genre lainnya dalam harmonisasi nan effortless. Dari segi lirik, album ini mencerminkan kecerdasan emosional Dean. Formulanya menyuarakan nilai diri sendiri: bersikap bijak saat diperlakukan tidak adil (Let Alone the One You Love), atau berani mengambil keputusan untuk melepaskan orang tercinta (A Couple Minutes). Dean sukses menghasilkan musik yang menenangkan sistem saraf sekaligus segar di telinga. The Art of Loving adalah album bagi healed lover girls—para perempuan yang telah melalui proses healing, mungkin bahkan terapi, tapi tetap merindukan romansa yang sejalan pertumbuhan diri.
“Kondisi di mana saya tengah berada sekarang,” ungkap Dean mengenai perspektif albumnya yang menggambarkan sebuah cinta yang sehat. “Saya sudah lama menjalani terapi. Prosesnya membuat saya memiliki kesadaran personal bahwa saya benar-benar tidak punya waktu untuk terjebak dalam emosi negatif akan cinta dan laki-laki. Tidak ada manfaatnya buat pribadi saya. Saya bisa merasa kesal dan terluka, tapi saya berusaha menemukan perspektif dan rasa empati. Membaca karya-karya Bell Hooks sedikit banyak juga membentuk cara pandang saya akan hal tersebut.”
Dean menggambarkan gagasan feminismenya terkait romansa sebagai sesuatu yang memotivasi perempuan untuk melakukan apa yang terbaik bagi diri sendiri, sembari senantiasa mendukung laki-laki untuk menjadi versi terbaiknya. “Man I Need ibarat ajakan untuk bertindak,” jelas Dean. Namun, ia tidak menyangka lagu tersebut akan beresonansi dengan begitu banyak orang. “Saya telah membuat karya yang sangat saya banggakan. Pun saya tahu, hal itu tak serta merta merefleksikan suatu keberhasilan,” katanya. “Banyak sekali musik bagus di luar sana yang tidak didengar dengan cara yang sama. Tapi untuk alasan tertentu orang-orang berkata, ‘Yeah, kami menyukaimu, Sis.’ Dan saya hanya bisa bersyukur.”

fashion Balenciaga (jaket), Dolce & Gabbana (celana); jewellery Cartier (anting dan cincin).
Meski apresiasi yang diterima Dean bagaikan mimpi baginya, ia tetap berhati-hati menjaga diri agar setiap pujian tak memengaruhi caranya memandang diri sendiri. Setelah Grammy, ia menghapus semua aplikasi media sosial dari ponselnya. “Saya sudah lama berpikir ingin melakukannya,” katanya, “Meski dukungan publik media sosial sangat luar biasa, tetapi hal itu juga kadang tidak sehat. Saya rasa tidak seharusnya kita tahu pendapat semua orang tentang diri kita. Saya memutuskan ingin hidup dalam manisnya ketaktahuan.”
Kemenangan Grammy mendorong Dean pada lapisan baru dunia maya: suatu zona di mana seseorang bisa menjadi terlalu disukai hingga memicu reaksi negatif dari sebagian oranglainnya. Sebuah fase kurang menyenangkan yang sering kali harus dihadapi oleh banyak perempuan berprestasi, terutama perempuan kulit berwarna. Dean memahami bahwa ia harus mendefinisikan dirinya sendiri. Apabila tidak, ia akan dimakan hidup-hidup oleh ekspektasi orang lain terhadapnya. “Saya tahu siapa diri saya, dan saya tahu bahwa kreativitas serta karya saya lahir dari kejujuran. Anda tidak bisa menyenangkan semua orang. Saya telah berdamai dengan fakta tersebut.”
Kendati demikian, Dean antusias ketika menemukan dirinya disebut dalam aplikasi permainan The New York Times Games—salah satu yang katanya tidak akan pernah ia hapus. Sudah tiga tahun terakhir ia bermain teka-teki silang, dan baru-baru ini menyadari bahwa namanya muncul sebagai salah satu petunjuk. Keterangannya: kata untuk menggambarkan genre musik Olivia Dean dan Daniel Caesar. “Jawaban saya salah!” katanya tertawa, “Barangkali jawabannya R&B. Meski saya tidak benar-benar menyebut musik saya demikian, tapi tak mengapa.”
Terlepas dari selingan candanya, Dean masih terus mendefinisikan arti kesuksesan. Ia bukan tipe orang yang mudah terhanyut oleh penghargaan. “Buat saya, kesuksesan adalah seberapa banyak orang yang bisa Anda ajak berkumpul dalam satu ruangan yang sama,” ujarnya, “Seberapa banyak jiwa yang dapat Anda sentuh.” Berdasarkan tolok ukur tersebut, Dean telah melampaui ekspektasi. Tiket untuk tur arena Amerika Utara pertamanya sebagai headliner terjual habis dengan sangat cepat, banyak diantaranya terbeli oleh bot untuk dijual kembali, hingga banyak penggemar justru tidak kedapatan karena harganya melonjak. Sebuah masalah yang sering kali dihadapi banyak musisi terkenal, tapi Dean menjadi salah satu yang berani menuntut solusi dari Ticketmaster. Pada akhirnya, perusahaan tersebut setuju mengembalikan dana kepada penggemar yang membeli tiket dengan harga terlalu mahal dari reseller, dan memberlakukan pembatasan harga jual kedepannya. Dean berharap ini bisa menjadi contoh agar artis lain juga berani bersuara. “Saya ingin orang-orang tetap bisa membeli tiket dan datang ke konser. Tidak seharusnya musik favorit hanya untuk dinikmati orang yang memiliki uang lebih banyak,” tegasnya.
Turnya akan dimulai pada 22 April di Inggris, lalu berlanjut ke Amerika Utara sepanjang bulan Juli dan Agustus. Dean mengatakan para penggemar bisa mengharapkan pengalaman kolektif di mana semua orang datang untuk bernyanyi dan menari. Ia mempersiapkan rangkaian kostum panggung (yang detailnya masih ia rahasiakan, tapi ia berkedip penuh makna saat saya tanya apakah setiap kota akan menampilkan atribut khusus), juga deretan lagu yang belum pernah ia mainkan secara langsung.
“Saya merasa paling percaya diri dan nyaman saat berdiri di atas panggung” katanya, ”Di sana karya saya benar-benar bernapas dan hidup. Kami bisa bermusik dengan bebas, rasanya sangat segar dan menyenangkan.” Melihat seorang perempuan kulit hitam muda menjalani hidup dengan kebebasan dan optimisme terasa menenangkan—dan dengan caranya sendiri, juga terasa radikal. “Terkadang saya merasa bertanggung jawab untuk menunjukkan bahwa kita mampu hidup seperti demikian. Kebahagiaan saya lebih kuat ketimbang apa pun pikiran orang tentang saya. Saya akan selalu memilih kebahagiaan,” katanya, “Pekerjaan ini terlalu luar biasa untuk tidak saya nikmati. Akan sangat ironis jika saya sudah bekerja sekeras ini, lalu menyadari bahwa saya tidak menikmatinya. Saya harus bersenang-senang sebanyak mungkin.”