21 April 2026
Yuyun Ismawati Melawan Krisis Lingkungan dan Polusi yang Tak Terlihat
photography James Park
Krisis lingkungan sering dibicarakan sebagai persoalan alam—tentang hutan yang hilang, udara yang kotor, atau angka emisi yang meningkat. Namun bagi Yuyun Ismawati, krisis itu pertama-tama hadir di dalam tubuh manusia: dalam racun yang menyusup ke darah, paru-paru, dan masa depan generasi yang bahkan belum lahir. Selama lebih dari dua dekade, ia menelusuri jejak polusi yang tak terlihat, membuka hubungan rapuh antara lingkungan, kesehatan, ketimpangan sosial, dan kuasa. Dari tempat pembuangan sampah hingga tambang emas rakyat, Yuyun menunjukkan bahwa krisis lingkungan selalu tentang kuasa: siapa yang menikmati kemakmuran, dan siapa yang menanggung racunnya.
Di ruang-ruang konferensi internasional, krisis lingkungan sering dipaparkan melalui grafik emisi, angka konsentrasi kimia, dan target pengurangan karbon. Namun bagi Yuyun Ismawati, persoalannya jauh lebih sunyi dan lebih dekat dengan tubuh manusia. Ia hadir dalam napas yang terhirup tanpa disadari. Dalam residu kimia yang menempel di darah. Dalam bayi yang lahir dengan kelainan yang tidak pernah tercatat sebagai statistik lingkungan. “Racun bekerja diam-diam,” katanya suatu sore. “Ia tidak selalu terlihat. Tetapi dampaknya sangat nyata.”
Selama lebih dari tiga dekade, Yuyun berdiri di garis depan perlawanan terhadap polusi, limbah beracun, dan bahan kimia berbahaya. Kerja-kerjanya bergerak di wilayah yang jarang menarik perhatian publik: merkuri yang mencemari tambang emas rakyat, limbah elektronik yang masuk secara ilegal, bahan kimia berbahaya dalam plastik dan kosmetik, hingga sistem pengelolaan sampah yang menciptakan ketidakadilan sosial.
Dalam perdebatan tentang iklim, kita sering lupa bahwa krisis lingkungan bukan sekadar persoalan alam. Ia adalah persoalan kuasa: siapa yang dilindungi, dan siapa yang dikorbankan. Bagi Yuyun, tubuh manusia adalah ruang pertama di mana krisis ekologis menjadi nyata.
Perjalanan menuju titik itu tidak berlangsung dalam satu momen dramatis. Ia tumbuh perlahan—dari pengalaman masa kecil hingga kerja lapangan yang memperlihatkan wajah ketidakadilan secara telanjang. Ayahnya seorang tentara di Kodam Siliwangi. Masa kecil Yuyun diwarnai perpindahan dari satu daerah ke daerah lain di Indonesia bagian timur. Ketika tinggal di Sumba pada 1970-an, ia menyaksikan ketimpangan sosial yang begitu mencolok. Pengalaman itu meninggalkan pertanyaan yang terus mengikutinya: mengapa sebagian orang hidup dengan begitu banyak keterbatasan, sementara yang lain menikmati sumber daya tanpa memikirkan dampaknya?
Saat kuliah di Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung pada 1980-an, ia sempat menyesal tidak lolos ujian masuk fakultas kedokteran. Tetapi minatnya pada toksikologi, ozon, pestisida, dan lingkungan perlahan mengubah arah itu. Skripsi membawanya ke Asmat, Papua. Ia ikut ekspedisi internasional di Pulau Seram. Lapangan menjadi sekolah yang sesungguhnya: tempat di mana ia melihat bahwa persoalan lingkungan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu bersinggungan dengan kemiskinan, kesehatan, dan politik.
Setelah lulus, Yuyun sempat bekerja di perusahaan sistem air minum Perancis–Indonesia dan mengajar di Universitas Trisakti. Namun kehidupan profesional yang stabil justru meninggalkan kegelisahan. Ada sesuatu yang terasa belum tersentuh oleh diskusi publik Indonesia. “Sesuatu yang nyata, tetapi tidak terlihat,” kenangnya. Ia pindah ke Bali menjelang runtuhnya Orde Baru dan bergabung dengan Yayasan Wisnu. Pada tahun 2000 ia mendirikan BaliFokus—organisasi yang kemudian berkembang menjadi Nexus3 Foundation. Lembaga ini bekerja di persimpangan lingkungan, kesehatan masyarakat, dan keadilan sosial. Fokusnya bukan hanya mengurangi polusi, tetapi menelusuri bagaimana bahan kimia berbahaya memengaruhi tubuh manusia—terutama kelompok paling rentan. Program sanitasi berbasis masyarakat yang ia rancang—SANIMAS—kemudian berkembang menjadi program nasional yang menjangkau ratusan kota di Indonesia. Di Gianyar, Bali, ia membangun fasilitas pengelolaan limbah berbasis komunitas yang menghasilkan kompos dan material daur ulang sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi perempuan. Solusi lingkungan, menurutnya, tidak bisa berhenti di ruang kebijakan. “Solusi harus berakar di masyarakat,” ujarnya.
Kerja-kerja itu juga membawanya ke wilayah yang jauh lebih berbahaya: racun yang tidak terlihat. Pada 2007, Yuyun ditangkap polisi saat memprotes pembangunan insinerator di dekat kawasan padat penduduk di Bandung. Ia ditahan dua hari bersama tiga aktivis lain. Kampanye ini mendorong masyarakat untuk membuka mata tentang racun dari insinerator. Kejadian tersebut juga jadi pengingat agar pembuat kebijakan memihak rakyat dan kesehatan publik.
Beberapa tahun kemudian, risetnya mengenai penggunaan merkuri dalam tambang emas rakyat mengungkap kenyataan yang lebih mengerikan. Di Bombana, Sulawesi Tenggara, di Cisitu, Bandung, dan di Sekotong, Nusa Tenggara Barat, ia menemukan anak-anak yang lahir dengan cacat akibat paparan logam berat. Banyak dari kasus itu tidak pernah tercatat dalam sistem kesehatan. “Tidak ada data bukan berarti tidak ada masalah,” katanya. Temuan-temuan itu ia bawa ke tingkat internasional. Ia ikut mendorong lahirnya kebijakan larangan impor merkuri di Indonesia dan terlibat dalam negosiasi Perjanjian Minamata tentang merkuri. Kerja advokasinya juga berperan dalam mengungkap perdagangan limbah elektronik ilegal dari Eropa ke Indonesia. Pada 2009 ia menerima Goldman Environmental Prize—penghargaan lingkungan paling bergengsi di dunia yang sering disebut sebagai “Nobel Lingkungan”.
Sejak 2024, Yuyun memimpin International Pollutants Elimination Network (IPEN)—jaringan global lebih dari 700 organisasi di lebih dari 130 negara yang berjuang menghapus bahan kimia berbahaya dari lingkungan. Namun bagi Yuyun, perjuangan itu tidak pernah sekadar soal racun. Ia selalu kembali pada pertanyaan yang sama: bagaimana sebuah sistem memungkinkan ketidakadilan itu terjadi.

Anda bekerja di wilayah yang sering tak terlihat: limbah beracun, polusi, paparan kimia. Apa yang membuat Anda memilih “musuh yang sunyi” ini sebagai medan perjuangan?
“Sejak remaja saya senang mengamati alam dan hubungan manusia dengan alam. Tetapi selalu ada rasa penasaran tentang sesuatu yang terjadi di sekitar kita yang tidak terlihat oleh mata. Setelah lulus kuliah, saya merasa ada sesuatu yang belum disentuh dalam diskusi publik di Indonesia. Banyak persoalan lingkungan dibicarakan secara kasat mata—hutan yang ditebang, sungai yang tercemar. Tetapi ada dimensi lain yang jauh lebih sunyi: bahan kimia yang masuk ke tubuh kita setiap hari. Saya sempat mengajar di Universitas Trisakti dan bekerja di perusahaan pengolahan air bersih berharap menemukan jawaban. Titik baliknya terjadi ketika saya mengikuti forum World Summit for Social Development di Johannesburg tahun 2003. Di sana saya bertemu jaringan aktivis dari International Pollutants Elimination Network. Mereka membicarakan hal-hal yang selama ini hanya ada dalam kepala saya: plastik, merkuri, pestisida, bahan kimia berbahaya yang memengaruhi kesehatan manusia. Saat itu saya merasa tidak lagi sendirian. Isu yang selama ini “tidak terlihat” ternyata sedang diperjuangkan secara serius di tingkat global. Sejak itu saya semakin yakin bahwa kita harus membuat racun yang tak terlihat itu menjadi terlihat oleh publik.”
Dalam pengalaman Anda, bagaimana polusi memperlihatkan wajah ketidakadilan sosial yang paling nyata?
“Contoh paling sederhana adalah tempat pembuangan akhir sampah. Di hampir semua kota di Indonesia, sampah dari rumah-rumah kelas menengah, dari pusat perbelanjaan, dari restoran dan kantor—semuanya berakhir di satu tempat. Lalu siapa yang memilah sampah itu? Orang miskin. Pemulung memilah sampah dari gaya hidup kita yang konsumtif. Mereka menghirup asap, bau, dan racun dari sisa-sisa kenikmatan orang lain. Ini ironi yang jarang kita pikirkan. Masalahnya bukan hanya perilaku individu, tetapi sistem. Infrastruktur pengelolaan sampah kita masih sangat buruk. Padahal negara lain bisa mengubah kebiasaan pilah sampah dalam 10–20 tahun. Contoh lain adalah penggunaan merkuri dalam tambang emas rakyat. Harga emas yang terus naik membuat banyak orang rela mengambil risiko kesehatan yang sangat besar. Mereka menggunakan merkuri untuk mengekstraksi emas tanpa memahami dampaknya. Racun itu mencemari udara, tanah, dan air. Anak-anak lahir cacat. Orang dewasa mengalami gangguan saraf. Sementara itu, para broker dan perantara menikmati keuntungan besar dari perdagangan emas. Di situlah kita melihat wajah ketidakadilan sosial yang sebenarnya.”

Banyak orang melihat isu sampah sebagai persoalan teknis. Mengapa menurut Anda ini juga persoalan politik dan etika?
“Secara teknis, persoalan sampah sebenarnya bisa diselesaikan. Teknologi pengolahan sampah sudah tersedia. Tetapi persoalan utamanya adalah politik dan etika. Apakah pemerintah punya political will untuk mengubah sistem? Apakah perusahaan mau bertanggung jawab atas produk yang mereka produksi? Apakah kita mau mengubah cara konsumsi kita? Jika regulasi lemah dan penegakan hukum tidak berjalan, teknologi tidak akan banyak membantu. Isu sampah selalu berkaitan dengan keputusan politik dan kepentingan ekonomi.”
Siapa yang paling diuntungkan dari sistem pengelolaan limbah yang tidak adil?
“Yang paling diuntungkan tentu saja perusahaan-perusahaan yang menghasilkan polusi. Dengan regulasi yang lemah, mereka bisa memproduksi barang tanpa memikirkan dampak limbahnya. Biaya lingkungan dialihkan kepada masyarakat. Ini yang disebut environmental injustice. Perusahaan mendapatkan keuntungan ekonomi, tetapi masyarakat menanggung biaya kesehatan dan kerusakan lingkungan.”
Mengapa perempuan dan anak sering menjadi korban pertama paparan polusi?
“Dalam banyak penelitian, perempuan dan anak memang lebih rentan terhadap bahan kimia berbahaya. Misalnya endocrine disruptor chemicals (EDCs)—bahan kimia yang mengganggu sistem hormon. Zat ini ditemukan dalam berbagai produk sehari-hari seperti plastik, kosmetik, dan parfum. Dampaknya sangat luas. Perempuan mengalami menstruasi lebih dini, fertilitas terganggu, dan anak-anak terpapar racun sejak dalam kandungan. Kualitas sperma laki-laki juga menurun secara global. Ada penelitian yang memprediksi bahwa pada tahun 2045 fertilitas laki-laki bisa mendekati nol jika tren ini terus berlanjut. Masalahnya adalah kurangnya penelitian tentang bahan kimia beracun. Sekali lagi, tidak ada data bukan berarti tidak ada masalah. Karena itu kami bekerja sama dengan berbagai ilmuwan dan universitas dan perguruan tinggi untuk mengumpulkan data. Tanpa data, advokasi kebijakan berbasis data dan sains tidak akan kuat.”
Anda pernah ditangkap polisi pada 2007 ketika menolak pembangunan insinerator di Bandung. Apa yang sebenarnya terjadi saat itu?
“Waktu itu kami menolak rencana pembangunan insinerator di dekat kawasan padat penduduk. Banyak warga khawatir karena teknologi insinerator berpotensi menghasilkan dioksin dan furan—dua senyawa kimia yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Dioksin, misalnya, dikenal sebagai salah satu zat paling toksik yang pernah diteliti oleh ilmuwan. Ia dapat menyebabkan kanker, gangguan reproduksi, kerusakan sistem kekebalan tubuh, dan masalah perkembangan pada anak. Kami datang bukan sebagai kelompok yang anti-teknologi. Kami hanya ingin memastikan bahwa kebijakan publik untuk pembangunan dibuat untuk melindungi lingkungan dan kesehatan, tanpa mengorbankan kesehatan masyarakat. Namun situasinya memanas. Bersama tiga aktivis lainnya saya ditangkap oleh polisi dan ditahan selama dua hari. Itu pengalaman yang cukup membuka mata. Saat seseorang mempertanyakan proyek yang melibatkan kepentingan besar—baik politik maupun ekonomi—risiko seperti itu bisa terjadi.”
Apa yang Anda rasakan saat itu? Apakah ada momen ketika Anda mempertanyakan pilihan menjadi aktivis?
“Tentu ada rasa takut. Saya juga memikirkan keluarga dan anak-anak. Tetapi pada saat yang sama saya sadar bahwa apa yang kami lakukan bukanlah sesuatu yang salah. Justru peristiwa itu memperlihatkan betapa kuatnya kepentingan yang bermain dalam isu lingkungan. Ketika kita berbicara tentang limbah, polusi, atau bahan kimia berbahaya, kita sebenarnya sedang berbicara tentang industri besar dan keputusan politik yang menyertainya. Itulah sebabnya saya selalu mengatakan bahwa persoalan lingkungan tidak pernah netral. Ia selalu berkaitan dengan kuasa. Kalau kita diam saja, yang paling dirugikan adalah masyarakat yang tidak punya akses terhadap informasi atau kekuatan politik. Karena itu, menurut saya, diam justru menjadi bagian dari masalah.”
Apakah Anda pernah merasa lelah melawan sesuatu yang tak kasatmata?
“Capek dan frustrasi tentu ada. Tetapi saya selalu berusaha menjaga optimisme. Perubahan memang tidak pernah terjadi dalam satu malam. Saya percaya banyak orang Indonesia yang sebenarnya baik hati dan cerdas. Masalahnya, orang-orang baik ini sering tidak bersatu. Yang bersatu justru orang-orang yang punya kepentingan untuk mempertahankan kekuasaan. Krisis lingkungan yang kita hadapi hari ini bukan sekadar krisis ekologis. Ia adalah krisis sistem—kolusi antara kekuatan ekonomi, politik, dan industri yang menghasilkan polusi. Tetapi saya tetap percaya bahwa perubahan bisa terjadi jika lebih banyak orang mengambil bagian. Karena pada akhirnya, lingkungan yang sehat bukanlah hak istimewa bagi segelintir orang. Ia adalah hak semua manusia.”
Apa yang membuat Anda tetap bertahan di jalan ini?
“Karena saya sudah melihat langsung dampaknya di lapangan. Saya melihat anak-anak yang lahir dengan cacat akibat paparan merkuri di tambang emas. Saya melihat komunitas yang hidup di sekitar tempat pembuangan sampah besar dan harus menghirup racun setiap hari. Ketika kita sudah melihat kenyataan seperti itu, sulit untuk berpura-pura tidak tahu. Saya percaya bahwa dunia yang sehat adalah hak semua orang, bukan hak istimewa milik segelintir orang. Dan selama ketidakadilan itu masih ada, pekerjaan ini belum selesai.”