LIFE

13 Maret 2026

Abimana Aryasatya Menapaki Fase Baru Jauh Dari Gemerlap


PHOTOGRAPHY BY Norman Fideli

Abimana Aryasatya Menapaki Fase Baru Jauh Dari Gemerlap

styling Alia Husin; grooming Ananda Christy; fashion Louis Vuitton; styling Assistant Istigosah Annissa; photographer assistant Geraldy Jason

Abimana Aryasatya tidak pernah hadir dengan kebutuhan untuk mendominasi ruangan. Ia datang tanpa sikap tergesa, tanpa gestur yang ingin mencuri perhatian. Cara bicaranya pelan dan tertata, sering kali diselingi jeda—bukan karena ragu, melainkan karena ia memilih kata yang paling tepat. Ada kesan bahwa setiap kalimat yang keluar darinya telah melewati proses berpikir yang panjang. Tujuh tahun sejak pertemuan terakhir kami pada 2018, Abimana kembali duduk di hadapan ELLE sebagai sosok yang berbeda, namun tetap setia pada satu hal: kejujuran terhadap dirinya sendiri. “Mindset saya berubah,” katanya. “Sekarang bukan lagi soal diri sendiri. Tapi soal legacy.”

Kalimat itu bukan sekadar pembuka percakapan, melainkan fondasi cara Abimana memandang hidupnya hari ini. Jika dahulu ia mendorong dirinya keras keras demi pencapaian personal—peran yang lebih menantang, film yang lebih besar, pengakuan yang lebih luas—kini dorongan itu bergeser arah. Ia tetap menuntut dirinya, bahkan lebih keras dari sebelumnya, tetapi dengan tujuan yang berbeda: meninggalkan sesuatu yang bisa diteruskan dan dilampaui oleh generasi setelahnya. “Kalau saya melakukan sesuatu dengan nilai enam atau tujuh,” ujarnya, “seharusnya mereka bisa melakukan dengan nilai yang jauh lebih baik.”

fashion Zegna (suit).

Abimana lahir sebagai Robertino Aguinaga pada 24 Oktober 1982, dan pertama kali dikenal publik lewat serial televisi Lupus Milenia pada 1999. Kala itu, ia masih menggunakan nama Robertino—seorang aktor muda dengan wajah khas dan berperangai cuek. Tahun-tahun berikutnya menjadi fase pencarian, baik sebagai seniman maupun sebagai manusia. Setelah itu ia memilih mengganti namanya menjadi Abimana Aryasatya, sebuah keputusan personal yang juga menandai babak baru dalam hidupnya.

Perjalanan kariernya bergerak pelan namun konsisten. Ia membintangi film-film dengan spektrum genre yang luas—dari 12.00 AM, 99 Cahaya di Langit Eropa, Haji Backpacker, hingga Sabtu Bersama Bapak yang menyentuh lapisan emosi keluarga. Di sisi lain, ia juga menantang tubuh dan psikologinya lewat film-film seperti The Night Comes for Us, Gundala, dan The Big 4. Empat kali ia dinominasikan Piala Citra sebagai Aktor Terbaik, sebuah pencapaian yang tidak pernah ia rayakan dengan gegap gempita.

Di tengah perjalanan itu, Abimana sampai pada satu kesadaran yang tidak mudah. “Dulu saya merasa saya bagian dari perfilman Indonesia,” katanya perlahan. “Tapi seiring waktu, perasaan itu berubah.” Ia mengatakannya bukan dengan nada kekecewaan, melainkan refleksi. Ia menyadari bahwa industri memiliki dinamika dan lingkarannya sendiri. Dalam beberapa pengalaman—terutama ketika mulai membuat film pendek—ia justru merasakan penerimaan yang lebih cair di ruang-ruang internasional. Perasaan itu subjektif, ia akui, namun cukup untuk membawanya pada pilihan yang lebih sunyi: bekerja dengan cara yang ia yakini, tanpa dorongan untuk terus-menerus membuktikan diri pada sistem.

Di akun Instagram-nya, Abimana hanya menulis dua kata: Human Being. Tidak ada embel-embel aktor atau sutradara. Dua kata itu terasa seperti pernyataan paling jujur tentang cara ia memandang dirinya hari ini—sebagai manusia terlebih dahulu, sebelum apa pun yang ia kerjakan. Identitas ini bukan penyangkalan terhadap profesinya, melainkan titik awal. Dari sanalah ia melangkah ke set film, ke ruang sunyi penulisan naskah, ke balik kamera sebagai sutradara, dan sesekali kembali ke depan kamera sebagai aktor. “Filmmaker itu semua orang yang terlibat di film,” katanya. “Bukan hanya sutradara.”

fashion Hermès (knit top, cotton shirt, & high-waisted pants).

Kesadaran itulah yang membentuk perjalanannya sebagai sutradara. Bukan jalan yang instan. Abimana menunggu hampir dua puluh tahun sebelum akhirnya benar-benar mengambil peran di balik kamera. Ia memilih menahan diri, belajar sambil berjalan, dan jujur pada batas kemampuannya sendiri. Pandemi menjadi titik hening yang mengubah banyak hal. Dalam jeda panjang itu, ia menulis naskah film panjang, lalu berhadapan dengan kenyataan bahwa membuat film bukan hanya soal gagasan dan emosi, tetapi juga pendanaan, distribusi, dan keberlanjutan. Setelah satu setengah tahun tanpa titik terang, istrinya menyarankan langkah sederhana namun krusial: mulai dari film pendek. Dengan dana pribadi, Abimana menyutradarai Ini Ibu Budi, film pendek tentang kehilangan—tema yang sangat dekat dengannya. Dari proyek ini, ia belajar bahwa pekerjaan sutradara justru dimulai setelah kamera dimatikan: mengurus festival, screening, hingga membangun dialog dengan penonton. “Mengurus film itu seperti mengurus anak,” katanya.

Pengalaman itu memperkuat keyakinannya bahwa film adalah komitmen jangka panjang. Ia mendirikan rumah produksi sendiri, dan menerima bahwa mencipta adalah proses seumur hidup. Menariknya, ketika berada di balik layar, Abimana justru merasa paling bebas. Tanpa beban ego atau perfeksionisme, ia menikmati proses sepenuhnya. Menyutradarai baginya bukan beban tambahan, melainkan pulang ke rumah di hatinya.

Namun dunia akting tidak ia tinggalkan. Hingga kini, Abimana masih terus bermain film, memilih peran dengan kesadaran yang sama seperti ia memilih cerita di balik layar. Film terbarunya, Ghost in Cell (2026), kembali mempertemukannya dengan Joko Anwar, bersama Lukman Sardi, Morgan Oey, dan Tora Sudiro—sebuah proyek yang menegaskan bahwa akting dan menyutradarai baginya bukan dua dunia yang saling meniadakan, melainkan saling memperkaya. Dalam seni peran, pendekatannya menjauh dari konvensi. Ia tidak meniru karakter; ia menciptakan. Ia mengambil bagian dari dirinya dan menanamkannya ke dalam peran. Karena itu pula, ia tidak pernah kesulitan melepaskan karakter. “Kesadaran akan siapa diri saya menjadi kunci. Pulang ke rumah, saya kembali menjadi ayah dari lima anak dan suami bagi istri saya. Akting, bagi saya, adalah proses mengenali emosi dan pengalaman hidup—semacam terapi yang jujur,” ujar Abimana.

fashion Zegna (cashmere sweater)

Di luar layar, hidupnya jauh dari hiruk-pikuk selebritas. Ia jarang hadir di pesta industri. Pandemi, usia, dan kepergian orang-orang terdekat membuatnya semakin sadar bahwa waktu manusia terbatas. “Kalau belum bisa melakukan sesuatu yang besar,” katanya pelan, “setidaknya buat orang lain bahagia.” Prinsip itu ia praktikkan pertama-tama di rumah. Sebagai ayah, Abimana menerapkan demokrasi: semua keputusan dibicarakan, ada ruang untuk berbeda pendapat. Dari ruang domestik itulah definisinya tentang keberhasilan bergeser. Bukan piala, bukan popularitas, melainkan dampak. Pengetahuan yang dibagi. Kesadaran yang ditumbuhkan. Kebaikan yang dirasakan orang-orang terdekat. Ketakutan terbesarnya sebagai seniman bukan soal teknologi atau AI, melainkan ketika film kehilangan narasi—ketika visual mengalahkan cerita dan keresahan manusia tersisih. Film, baginya, harus tetap menjadi medium untuk bertanya dan memahami. Maka tak mengherankan jika, diberi kebebasan penuh, ia memilih drama tentang kehilangan—pengalaman paling universal yang dimiliki manusia.

Di akhir percakapan, ketika ditanya tentang prioritas hidupnya hari ini, Abimana terdiam sejenak. Lalu menjawab pelan: membangun kesadaran sebagai manusia. “Karena dari sanalah semuanya bermula—cara saya membuat film, cara saya mencintai keluarga, cara saya hadir di dunia,” tutup Abimana.