20 April 2026
Putri Marino Bicara Soal Ambisi, Keluarga, dan Menjadi Diri Sendiri
PHOTOGRAPHY BY HILARIUS JASON
Photography HILARIUS JASON styling ISMELYA MUNTU makeup SISSY SOSRO hair CLAUDYA CHRISTIANI PURBA
Putri Marino membangun karier sebagai aktris dengan reputasi kuat, namun perjalanan yang lebih menarik justru terjadi di luar sorot lampu; ketika ia menegosiasikan ulang ambisi, identitas, dan makna keberhasilan sebagai perempuan. Di tengah industri yang menuntut visibilitas tanpa henti, ia menemukan kekuatan dalam ketenangan dan keberanian untuk hidup jujur terhadap dirinya sendiri.
Putri Marino tidak pernah terdengar terburu-buru. Bahkan lewat sambungan telepon, ada jeda-jeda kecil yang ia biarkan hidup—seolah ia menimbang setiap kata sebelum dilepaskan. Di industri yang bergerak cepat dan menuntut perempuan untuk selalu lebih keras, lebih lantang, lebih terlihat, Putri memilih sebaliknya. Ia berbicara tentang hidup dengan tenang, tanpa tergesa membuktikan apa pun. “Saya tidak merasa harus menjadi lebih besar,” katanya pelan. “Saya hanya ingin menjadi lebih jujur.” Dan mungkin, justru di situlah letak kekuatannya, pada perempuan yang tidak perlu berisik untuk memiliki kuasa atas hidupnya sendiri.

Putri Marino adalah contoh perempuan yang hidup di antara banyak peran sekaligus. Ia seorang aktris yang telah mengukir reputasi kuat di perfilman Indonesia, tetapi ia juga seorang ibu, seorang istri, seorang anak perempuan, dan seorang individu yang terus belajar memahami dirinya sendiri. Dalam percakapan kami, yang berlangsung beberapa hari sebelum pemotretan cover majalah ini, Putri berbicara tentang hidup dengan nada yang tenang namun reflektif. Beberapa hari kemudian, di studio pemotretan, ia berdiri di bawah cahaya lampu yang lembut, mengenakan koleksi musim Semi/Panas 2026 dari Chanel, koleksi debut Matthieu Blazy sebagai Direktur Kreatif rumah mode tersebut. Siluetnya bersih dan modern, interpretasi baru dari warisan Chanel yang sejak lama identik dengan kebebasan perempuan. Namun sebelum kamera menyala dan busana dikenakan, percakapan kami bergerak jauh dari dunia fashion, menuju sesuatu yang lebih personal.
Lahir dengan nama Ni Luh Dharma Putri Marino di Denpasar, Bali, Putri tumbuh dalam keluarga dengan latar budaya Bali dan Italia. Perjalanan kariernya di dunia hiburan dimulai bukan sebagai aktris, melainkan sebagai presenter acara petualangan My Trip My Adventure. Dari sana ia belajar satu hal penting tentang kamera: kehadiran yang jujur sering kali lebih kuat daripada performa yang dibuat-buat. Ketika akhirnya ia melakukan debut akting lewat film Posesif (2007), film drama psikologis yang disutradarai Edwin, penonton langsung merasakan sesuatu yang berbeda. Ia memainkan karakter Lala—seorang atlet remaja yang terjebak dalam hubungan romantis yang perlahan berubah menjadi relasi yang manipulatif dan posesif—dengan intensitas emosi yang terasa sangat nyata. Film tersebut tidak hanya mendapat pujian kritikus, tetapi juga membawanya meraih Piala Citra untuk Pemeran Utama Perempuan Terbaik di Festival Film Indonesia, sebuah pencapaian yang jarang terjadi bagi seorang aktris yang baru pertama kali tampil di layar lebar.

Sejak saat itu, Putri Marino dikenal sebagai aktris yang cenderung memilih karakter perempuan dengan lapisan emosional yang kompleks. Dalam film Losmen Bu Broto, ia memainkan Pur, perempuan yang berusaha mempertahankan idealisme di tengah tradisi keluarga. Dalam Cinta Pertama, Kedua & Ketiga, ia menghadirkan sosok perempuan yang bergulat dengan cinta dan tanggung jawab keluarga. Sementara dalam The Big 4, ia menunjukkan sisi lain dari dirinya lewat genre aksi yang lebih ringan namun tetap memerlukan presisi emosional.
Ciri khas aktingnya selalu sama: subtle, minimalis, tetapi kuat. Dalam industri yang sering memuja performa dramatis, Putri justru membuktikan bahwa emosi yang paling dalam lahir dari keheningan. Salah satu peran yang paling melekat di ingatan publik datang dari layar yang berbeda: serial Layangan Putus, di mana ia beradu akting dengan Reza Rahadian. Serial tersebut menjadi fenomena budaya pop yang mengangkat kisah rapuhnya sebuah pernikahan.
Ketika saya menyinggung soal peran-peran kuat yang ia mainkan, Putri justru membawa percakapan kembali pada kehidupan pribadinya. “Sekarang saya sedang jadi full-time ibu rumah tangga,” katanya santai. Selama setahun terakhir ia memilih untuk tidak mengambil proyek syuting baru setelah menyelesaikan film Empat Musim Pertiwi, film terbaru yang disutradarai Kamila Andini dan dijadwalkan tayang pada 2026. Film ini berkisah tentang Pertiwi, seorang perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah menjalani hukuman penjara karena membunuh pria yang pernah mencoba memperkosanya saat remaja. Ceritanya mengeksplorasi trauma, stigma sosial, dan pertanyaan tentang apa arti rumah bagi seseorang yang pernah disingkirkan oleh komunitasnya sendiri. Bagi Putri, karakter Pertiwi adalah salah satu peran paling emosional yang pernah ia mainkan. Setelah film itu selesai diproduksi, ia memilih untuk mengambil jeda dari industri.
Keputusan itu, katanya, sempat mengejutkan bahkan bagi dirinya sendiri. “Saya kira saya akan merasa bosan atau kesepian. Ternyata tidak sama sekali. Justru saya merasa jauh lebih bahagia dan lebih utuh sebagai manusia.” Ia mengakui pernah berada pada fase ketika ambisi menjadi pusat hidupnya. “Dulu saya agresif banget sama karier,” katanya. “Saya ingin mendapatkan semua yang terbaik di industri ini.” Namun seiring waktu, ambisi itu berubah bentuk. Ia mulai menyadari bahwa mengejar validasi publik tanpa henti justru menguras energi emosionalnya. “Sekarang saya enggak terlalu memikirkan itu lagi. Kalau dapat proyek bagus saya bersyukur, kalau tidak juga tidak apa-apa.” Bahkan piala-piala penghargaan yang dulu dipajang di ruang keluarga kini ia simpan di gudang. “Bukan karena tidak menghargai, tapi rasanya tidak perlu dipajang. Rasa bahagia itu cukup disimpan dalam hati.”

Dalam banyak diskusi tentang perempuan modern, keberhasilan sering kali diukur dari seberapa tinggi seseorang mendaki tangga karier. Namun pengalaman Putri menunjukkan bahwa perjalanan perempuan tidak selalu linear. Ada masa untuk bergerak maju, ada masa untuk berhenti sejenak, ada masa untuk kembali kepada hal-hal yang paling dasar dalam hidup. “Kalau sekarang tujuan hidup saya sederhana,” katanya. “Saya hanya ingin menjadi orang baik.”
Percakapan kami kemudian bergerak lebih dalam. Saya bertanya bagaimana rasanya menjalani kehidupan yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana: tinggal lebih banyak di rumah, jauh dari sorot lampu industri. Putri tidak terdengar defensif, juga tidak mencoba meromantisasi pilihannya. “Waktu awal menikah dan punya anak, ada masa saya merasa tidak berdaya sebagai perempuan,” katanya. Ia mengingat masa-masa ketika menjadi ibu terasa seperti sebuah pengurangan identitas, bukan penambahan. Melihat teman-temannya bekerja membuatnya sempat merasa tertinggal. Ia kembali bekerja dengan energi besar, mengambil banyak proyek, terus syuting. Namun ritme itu justru menghadirkan kelelahan yang berbeda. “Capek sekali rasanya harus menjadi Putri Marino versi yang berbeda dari Putri yang sebenarnya,” katanya. Industri hiburan menuntutnya untuk selalu hadir secara sosial, selalu terlihat ramah dan mudah bergaul. “Saya sebenarnya tidak seramai itu. Kadang energi saya habis hanya karena harus berada di tengah banyak orang.”
Perlahan-lahan pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya terhadap identitas diri. Ia mulai menyadari bahwa rasa kosong yang pernah ia rasakan bukan karena kekurangan pekerjaan, tetapi karena terlalu jauh dari dirinya sendiri. Ironisnya, rasa penuh itu justru kembali ketika ia menjalani kehidupan yang lebih sederhana. “Saya merasa ‘penuh’ kembali ketika menjadi ibu rumah tangga,” katanya. Di usia tiga puluh dua tahun ia merasa keputusan itu justru membuatnya lebih utuh. “Saya merasa lebih dicintai, merasa bisa menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura.” Ia juga menyebut peran suaminya, Chicco Jerikho, sebagai bagian penting dari perjalanan ini. “Saya bersyukur sekali karena Chicco selalu mendukung apa pun keputusan saya.”

Dalam percakapan tentang identitas perempuan setelah menikah, Putri berkali-kali kembali pada satu gagasan: pentingnya tidak melupakan diri sendiri. Ia pernah mengalami baby blues setelah melahirkan, fase emosional yang berat dan sering tidak terlihat oleh orang luar. “Saya pernah sangat stres, sangat emosional,” katanya. Dari pengalaman itu ia belajar bahwa merawat diri sendiri bukanlah tindakan egois. “Saya tidak akan pernah bisa memberi cinta ke suami dan anak kalau saya tidak memberi cinta ke diri sendiri dulu.” Cara ia merawat dirinya sendiri sering kali sederhana: minum kopi, menonton film favorit, membaca buku—hal-hal kecil yang memberinya ruang untuk kembali pada dirinya sendiri.
Percakapan kami juga menyentuh soal ambisi—topik yang sering menjadi pusat diskusi tentang perempuan di dunia kerja. Putri tidak menyangkal bahwa ia pernah memiliki ambisi besar. Ia ingin memainkan peran-peran terbaik, ingin mendapatkan pengakuan industri, ingin terus berkembang sebagai aktris. Namun seiring waktu, ia mulai melihat ambisi dari sudut pandang yang berbeda. “Dulu saya merasa harus selalu tampil di mana-mana,” katanya. “Saya ingin orang lain menilai saya sebaik mungkin.” Namun lama-kelamaan ia menyadari betapa melelahkannya hidup dengan beban tersebut. “Saya sampai berpikir, kenapa saya harus selalu memikirkan pendapat orang lain tentang saya?” katanya. Dalam satu tahun terakhir, ia mencoba kembali pada perasaan yang ia miliki ketika pertama kali berakting dalam film Posesif—perasaan polos seorang aktris yang hanya ingin menikmati proses bekerja tanpa beban ekspektasi. “Waktu itu saya tidak merasa lebih pintar dari siapa pun, tidak merasa lebih hebat dari siapa pun. Saya hanya menjalani syuting dengan senang.” Ia berhenti sejenak, lalu tertawa kecil. “Ternyata tidak berambisi itu ada enaknya juga.”

Menjelang akhir percakapan, saya bertanya tentang ketakutan terbesarnya saat ini. “Saya takut tidak bisa menjadi orang baik,” katanya. Tujuan hidupnya sederhana: menjadi orang baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, dan bagi anaknya. Ia menjelaskan bahwa dalam fase hidupnya sekarang, tujuan yang paling penting bukan lagi pencapaian profesional, melainkan integritas pribadi. Ia ingin menjadi orang baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, dan bagi anaknya. “Saya ingin membesarkan Suri supaya dia kelak menjadi orang baik,” katanya. Dalam kalimat itu ada sesuatu yang sangat manusiawi: sebuah ambisi yang tidak diukur dengan penghargaan atau pengakuan publik, tetapi dengan kualitas hubungan yang kita bangun dengan orang lain. “Perempuan yang sudah merasa cukup dengan dirinya sendiri, yang sudah mendapat cinta besar dari orang-orang di sekitarnya,” katanya perlahan, “rasanya tidak ada yang perlu ditakuti lagi.”
Di akhir percakapan, sebelum telepon ditutup, ia tertawa kecil dan mengatakan sesuatu yang terasa seperti epilog yang tidak direncanakan. “Seru ya,” katanya. “Biasanya wawancara ngobrol soal film saja. Tapi obrolan ini menyenangkan sekali. Saya memang suka ngobrol yang deep, ngobrol tentang kehidupan.” Kalimat itu terasa seperti penutup yang tepat. Karena pada akhirnya, kisah Putri Marino bukan hanya tentang seorang aktris yang sukses membangun karier di industri film. Ia juga tentang seorang perempuan yang sedang belajar memahami hidupnya sendiri dengan tenang, dengan jujur, dan dengan keberanian untuk memilih jalan yang paling sesuai dengan dirinya.