8 Maret 2026
Prawita Tasya Karissa Mendedikasikan Diri Merestorasi Terumbu Karang Melalui Teknologi Biorock.
photography Johannes P Christo/DOC. Prawita Tasya Karissa
Laut menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, termasuk terumbu karang yang hidup di dalamnya. Terumbu karang merupakan habitat bagi hewan laut, seperti halnya hutan bagi satwa di daratan. Jika terumbu karang hilang, maka kehidupan banyak spesies laut akan terancam. Terumbu karang dunia luasnya diperkirakan 284.300 km2. Saat ini 60% dari total luasan terumbu karang dunia menghadapi ancaman yang membuat terumbu karang sekarat dan bahkan mati. Di Indonesia, luas terumbu karang diperkirakan mencapai 50.875 km2 dan 36%nya telah mengalami kerusakan. Angka ini akan meningkat 90% pada tahun 2030 dan mencapai 100% pada 2050. Kerusakan terumbu karang terus membesar akibat pemanasan global, sedimentasi, pencemaran, sampah, aktivitas perikanan yang merusak, dan perubahan iklim yang membuat terumbu karang sulit untuk bertahan hidup.
Situasi genting yang mendesak adanya gerakan konservasi karang, salah satunya yang dilakoni Prawita Tasya Karissa, aktivis lingkungan yang konsisten melakukan perbaikan terumbu karang. Seorang ahli konservasi laut yang berpengalaman selama lebih dari satu dekade di industri manajemen dan organisasi nonprofit. Prawita Tasya Karissa meraih gelar Sarjana Perikanan dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Lulus kuliah, perempuan kelahiran 40 tahun silam ini sempat bekerja di EcoSecurities sebelum merambah karier di Save The Children Indonesia. Sepak terjang profesional Tasya bergulir di mana ia juga pernah menjadi konsultan di perusahaan Carbon One dan Begawan Foundation. Tasya mengenal teknologi Biorock sejak 2004 langsung dari ahlinya, Profesor Wolf Hillbertz dan Dr. Thomas J Goreau hingga akhirnya tertarik dengan metode ini. Ia kemudian menyelesaikan studi dengan skripsi Penerapan Biorock pada Pearl Oyster Juvenile, Pinctada Maxima (Kerang Mutiara), yang dipresentasikan di seluruh dunia pada konferensi Society Ecological Restoration di Merida, Meksiko pada 2011 lalu dipublikasikan dalam buku Innovative Methods of Marine Ecosystem Restoration tahun 2013. Dan sejak 2015, Tasya bersama rekan-rekannya mendirikan Biorock Indonesia dan mulai mengkoordinasikan proyek penerapan teknologi di 16 titik pantai di Indonesia, di antaranya Pemuteran di Bali, Pulau Gangga di Sulawesi Utara, Desa Sebalang di Lampung, Gili Trawangan di Nusa Tenggara Barat, dan Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu. Biorock Indonesia merupakan organisasi campuran nonprofit dan social enterprise yang bergerak di bidang rehabilitasi terumbu karang dan perlindungan pantai dengan visi agar masyarakat pesisir di seluruh Indonesia mampu menggunakan teknologi Biorock dalam upaya melindungi dan memperbaiki terumbu karang. Teknologi biorock dipatenkan pada tahun 1979 oleh ilmuwan asal Jerman, Prof Wolf Hilbertz. Biorock telah digunakan pada tahun 2000 di Pantai Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng Bali untuk restorasi terumbu karang berbasis komunitas.
Bisakah Anda menjelaskan, bagaimana teknologi Biorock bekerja?
“Teknologi Biorock merupakan teknologi yang memanfaatkan arus listrik untuk menumbuhkan dan memperbaiki struktur laut di skala apa pun secara cepat. Teknologi ini diinisiasi oleh Profesor Wolf Hillbertz yang kemudian dikembangkan oleh Dr. Tom Goreau. Cara kerjanya mirip seperti kita sedang ingin menyepuh emas, mencelupkan logam atau besi yang bertekstur dan berulir. Besi ini dapat didesain modelnya tergantung kebutuhannya, apakah buat wisata laut atau untuk nelayan. Tempat kerangka yang sudah jadi juga bisa digunakan untuk karang atau pearl oyster. Biorock bekerja menggunakan proses elektrolisis air laut, yaitu dengan meletakkan dua elektroda di dasar laut dan dialiri dengan listrik tegangan rendah yang aman sehingga memungkinkan mineral pada air laut mengkristal di atas elektroda. Arus listrik yang masuk akan menghantarkan ion- ion dan membuat kadar keasaman di air laut menjadi semakin tinggi atau basa di sekitar struktur biorock. Hal ini menyebabkan zat kapur yang terlarut di laut menjadi terkristalisasi pada struktur biorock dan memudahkan untuk pertumbuhan kerangka karang. Ini seperti kita sedang menyediakan medan atau area yang nyaman buat makhluk laut, dalam hal ini karang.
Metode ini dianggap sebagai metode tercepat untuk menumbuhkan karang, karena dapat menumbuhkan karang 2-8 kali lebih cepat dari biasanya. Teknologi biorock membantu mempercepat pemulihan terumbu karang karena jika mengandalkan keadaan secara alami, terumbu karang butuh energi yang jauh lebih besar. Jadi tanpa bantuan teknologi apa pun, pada saat kondisi air laut buruk karena pencemaran atau sedimentasi misalnya, pemulihan terumbu karang akan sangat lambat dan kecil kemungkinan untuk dilakukan.”
Mengapa teknologi ini dianggap sebagai metode efektif untuk restorasi terumbu karang?
“Teknologi ini terbukti dapat bekerja di kondisi laut yang buruk misalnya keruh karena sedimentasi tinggi, dimana orang lain beranggapan karang tidak mungkin tumbuh, namun ternyata bisa, contohnya waktu kita memasang teknologi ini di Teluk Ambon. Teknologi ini juga dapat di desain secara unik, sehingga dapat sekaligus menjadi atraksi wisatawan untuk menumbuhkan ekonomi lokal secara berkelanjutan. Teknologi biorock sangat cocok untuk mengatasi beberapa gangguan lingkungan yang diperkirakan akan dipengaruhi oleh perubahan iklim global di masa depan seperti air laut yang pH nya semakin asam. Meskipun sebenarnya teknologi biorock tidak bisa berdiri sendiri, harus ada upaya lain untuk mengurangi penyebab kerusakan ekosistem laut.”
Selain teknologi, apa saja program-program Biorock?
“Biorock Indonesia memiliki beberapa program, seperti Biorock Garden yakni usaha pemulihan terumbu karang yang dilakukan dengan cara transplantasi karang pada struktur biorock serta akan dirawat oleh tim gardener dan volunteer Biorock Indonesia. Kemudian program Scholar Reef sebagai gerakan pengenalan ekosistem terumbu karang pada generasi muda agar dapat memahami pentingnya perbaikan ekosistem terumbu karang yang berkelanjutan. Program berikutnya Shore Protection yaitu upaya perbaikan atau pemulihan pantai yang telah mengalami erosi, program Laut Sehat yakni peningkatan kesadartahuan dan keterlibatan masyarakat dalam konservasi terumbu karang melalui event atau pelatihan, serta Biorock Experience dimana wisatawan maupun praktisi konservasi bisa belajar memulihkan terumbu karang secara lebih berkelanjutan.”
Termasuk melibatkan wisatawan dalam menciptakan siklus dampak yang berkelanjutan?
“Masyarakat menjadi kunci dari keberhasilan upaya pemulihan terumbu karang yang berkelanjutan. Maka perlu upaya untuk melibatkan masyarakat dalam program-program yang mendukung perlindungan dan pemulihan ekosistem laut. Masyarakat dapat melihat, mempelajari, dan memahami lebih baik terkait pemulihan terumbu karang melalui edukasi wisata yang dibangun bersama mitra-mitra. Mereka dapat mengikuti edukasi teknologi biorock atau melakukan transplantasi untuk karang dengan snorkeling. Karang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk sembuh, itu sebabnya kami bermitra dengan bisnis setempat dan juga memberdayakan generasi muda serta kaum perempuan di desa dan pulau-pulau kecil agar ekonomi lokal dapat tumbuh sekaligus karang terlindungi.”
Seperti apa dan bagaimana Anda mengukur keberhasilan proyek restorasi terumbu karang, dan metrik apa yang Anda gunakan untuk mengevaluasi efektivitasnya?
“Kami menggunakan pendekatan ilmiah untuk mengukur dampaknya, baik terhadap laut maupun masyarakat di desa. Kami telah melibatkan lebih dari 1000 orang masyarakat dalam restorasi karang dan perlindungan pantai di 16 desa atau pulau di Indonesia untuk memulihkan 200 km2 terumbu karang yang rusak, 5 km pantai yang telah dipulihkan dari erosi, agar tercipta peningkatan ekonomi masyarakat lokal sehingga rehabilitasi tetap terlaksana secara berkelanjutan. Proyek Biorock di Pemuteran, Bali, juga telah diteliti pada tahun 2016 bahwa terumbu karang di proyek tersebut memberi manfaat ekonomi senilai satu setengah miliar rupiah tiap tahunnya.”
Dengan terbatasnya sumber daya yang untuk upaya konservasi, bagaimana Anda memprioritaskan wilayah pesisir mana yang menjadi fokus penerapan teknologi biorock?
“Kami telah memiliki 19 calon lokasi baru yang didasarkan pada kesanggupan penduduk setempat di wilayah tersebut sebab salah satu kunci penting ialah kesiapan dari masyarakat. Maka ketika menentukan lokasi, saya memilih berdasarkan keseriusan dan ketertarikan mereka untuk memulihkan terumbu karang. Kalau semangat itu sudah menyala, barulah kita bergerak ke stakeholder lainnya, termasuk pemerintah.”
Di dunia di mana aktivisme lingkungan sering menghadapi sikap apatis dan ketidakpedulian, bagaimana mempertahankan motivasi sambil menginspirasi orang lain?
“Saya rasa apa yang dilakukan organisasi sama halnya seperti kita berjualan sesuatu. Bedanya, organisasi ‘menjual’ isu yang intinya, this is important and you need to support us. Kalau kemudian masyarakat tidak mendukung, artinya kita belum bisa memasarkan dengan masuk dalam ketertarikan tiap-tiap orang. Namun saya lihat semakin lama, kesadaran dan kepedulian orang terhadap masalah-masalah lingkungan semakin besar dan nyata. Kita hanya perlu terus bergerak bersama-sama ke arah yang lebih baik.”
Mengingat pesatnya kemajuan teknologi, apakah Anda khawatir mengenai potensi teknologi biorock menjadi ketinggalan zaman atau digantikan metode yang lebih baru di masa depan?
“Selama misi kita untuk melestarikan ekosistem laut dan memulihkan terumbu karang, maka saya selalu terbuka dengan berbagai bentuk kolaborasi ataupun kehadiran metode lain yang mungkin lebih baik dan lebih bagus dari biorock. Sama seperti smartphone, teknologi akan selalu berkembang menyesuaikan dengan permasalahan manusia dan kebutuhan warga dunia. Ada satu kutipan dari seorang entrepreneur berusia 80 tahun yang pernah saya temui bahwa kadang tidak ada yang salah dengan menjadi latar yang berdiri di belakang dan biarkan orang lain yang bersinar, asalkan niat baik dan misi kita tercapai adanya."