LIFE

1 Mei 2024

Angga Yunanda & Shenina Cinnamon Berdiskusi Seni Akting dan Karier Di Perjalanan Hidup Seperempat Abad


PHOTOGRAPHY BY Ryan Tandya

Angga Yunanda & Shenina Cinnamon Berdiskusi Seni Akting dan Karier Di Perjalanan Hidup Seperempat Abad

styling Ismelya Muntu; jewellery BVLGARI B.zero1; fashion Stellarissa (Shenina), Jan Sober (Angga); makeup & hair Twig

“Sayang, ayo cepat!” Shenina Cinnamon berseru kepada Angga Yunanda yang terpesona memandangi sosok salah satu member girlband K-Pop paling populer di dunia saat ini, Blackpink, Lisa Manoban tengah berdiri tak jauh dari jangkauannya. Angga seolah-olah sulit melangkahkan kakinya. Ia terpaku selama hampir lima menit, dibelenggu perihal ragu apakah ia berkesempatan sekadar menyapa Lisa. Bertolak belakang dengan Shenina; ia menarik tangan Angga dan dengan mantap melangkahkan kaki mereka menghampiri Lisa. Tak hanya menyapa, ketiganya sempat berbincang sejenak dan berfoto bersama. “Angga sempat starstruck sewaktu bertemu Lisa!” Shenina tergelak bercerita pada kami. (Well, kami bisa memahami perasaan Angga saat itu). Angga pun tak kuasa untuk ikut menertawakan momen magis tersebut. Keduanya berjumpa dengan Lisa manakala kami menghadiri pesta peluncuran Bulgari Studio (sebuah platform kreatif yang merayakan visi kreatif rumah perhiasan Bulgari, dengan menampilkan kolaborasi seni lintas disiplin ilmu atas koleksi ikonis B.zero1) di Seoul, Korea Selatan, pada bulan Maret silam.

Baca juga Bulgari Hadirkan Inovasi Artistik Terbaru Bertajuk Bulgari Studio



“Mereka berdua seperti diciptakan untuk satu sama lain. Pasangan yang manis,” Fashion Editor ELLE berujar memperhatikan chemistry Angga dan Shenina. Landasan opini tersebut bukan sekadar dilatari interaksi menggemaskan keduanya. Tetapi bagaimana cara mereka saling melengkapi karakter satu sama lain. Selang beberapa hari mengunjungi Bulgari Studio, kami turut berpindah kota dalam agenda pemotretan cover eksklusif untuk web ELLE.co.id bulan ini. Sepanjang trip itu, tidak terhitung kami mendengar Angga kerap mengingatkan Shenina yang aktif—yang rupanya memiliki riwayat mag—agar tidak melewatkan waktu makan. Ia juga senantiasa sigap membantu Shenina menjinjing gaunnya yang menyapu jalan, dan dengan penuh perhatian menggandeng tangan Shenina tiap berjalan melintasi rute jalur landai hingga naik turun anak tangga mercusuar. Itu hanya sepenggal kisah yang merefleksikan betapa selarasnya Angga dan Shenina.

Selayaknya belahan jiwa, mereka beraksi dalam keharmonisan setiap kali bersama—kendati terdapat perbedaan yang menonjol dari kepribadian keduanya. Sering kali—yang saya sadari di setiap perjumpaan kami—ketika salah satu kesulitan mengutarakan pikiran, yang lain dapat menginterpretasikan apa yang dimaksud secara lugas. Tak jarang mereka mengisi, melengkapi, atau menimpali kalimat satu sama lain. Saat dua individu terhubung begitu erat secara emosional, apa yang kerap tumbuh dari korelasinya? Kebergantungan. Suatu kondisi, yang jika mencapai titik maksimal, mampu meleburkan identitas seseorang. Suatu kondisi yang tidak tampak melingkari interaksi Angga dan Shenina. Bila bergerak terpisah, keduanya senantiasa berdiri sebagaimana individu mandiri yang berkarakter kuat, dan menggenggam narasi hidupnya masing-masing.

Angga Yunanda dan Shenina Cinnamon merupakan salah dua aktor muda paling bereputasi di generasinya saat ini. Setiap tahun, dalam satu dekade terakhir, sosok keduanya hampir tak pernah absen menyalakan panggung sinema Indonesia. Tidak sedikit dari performa mereka yang memperoleh pujian kritis dari berbagai festival film bergengsi atas kepiawaian masing-masing menghidupkan beragam persona karakter. Yang teranyar dalam portofolio Shenina Cinnamon ialah nominasi Aktris Pendukung Pilihan Festival Film Tempo 2024 untuk kinerjanya di film Badrun & Loundri; sedangkan Angga Yunanda kembali mencatatkan namanya di Festival Film Indonesia sebagai nomine Pemeran Utama Pria Terbaik tahun 2023 (untuk peran Muklas di Budi Pekerti).

Usai perjalanan ELLE bersama kedua aktor ke Korea Selatan, saya mulai (kembali) kesulitan merancang janji temu dengan mereka. Angga sedang hidup nomaden berkeliling kota-kota di Indonesia seiring penayangan film Dua Hati Biru (sekuel film Dua Garis Biru yang dirilis tahun 2019), di mana ia menjelmakan kembali tokoh Bima yang melejitkan kredibilitas berperannya. Sementara Shenina, kesehariannya tengah terpusat di Yogyakarta untuk produksi karya teranyar sutradara Garin Nugroho. Dan dalam beberapa minggu mendatang, muatan pekerjaan Shenina akan bertambah dua kali lipat manakala film barunya yang berjudul Do You See What I See dilepas ke pasar. Terima kasih pada para ilmuwan pencipta teknologi; kami tetap bisa berbincang melalui komunikasi video. Saat saya menghubungi Shenina di suatu akhir pekan, tanpa terduga malah sekaligus mendapati kedua aktor duduk berdampingan dalam satu jendela video. Di kesempatan reuni itu, obrolan kami merangkai topik yang berlapis-lapis. Berawal dari update kesibukan terkini, diselingi mengenang pengalaman di Korea Selatan, sisipan proyek yang akan datang, hingga pengutaraan mereka berkontemplasi perjalanan hidup seperempat abad.

jewellery Bulgari B.zero1; watches Bulgar BB Aluminium (Angga); fashion Lily by Sally (Shenina).

Pertama-tama, bagaimana bisa kalian berada di satu lokasi yang sama? Apakah ini berarti kalian sedang terlibat proyek bersama?!

Shenina: “Kalau itu benar, akan sangat menyenangkan sekali! Tapi tidak, sekarang saya masih menjalani syuting film Tepatilah Janji bersama mas Garin (Nugroho). Ini sebetulnya merupakan proyek sekuel dari karya film Kejarlah Janji yang sebelumnya dirilis. Kalau Angga, ia cuma melakukan kunjungan singkat.”

Angga: “Iya, saya sedang ada kegiatan workshop untuk proyek baru bersama Base Entertainment. Kebetulan lokasinya bertempat di Solo, sehingga saya memutuskan untuk berkunjung sesaat. Setelah selesai agenda publikasi Dua Hati Biru, saya akan langsung memulai syuting.

Sebuah kunci menjaga keharmonisan hubungan: quality time.

Angga: “Kami sangat paham bagaimana waktu berjalan cukup fleksibel dalam pekerjaan kami, pun terkadang bisa menjadi begitu tidak konsisten. Saling mengunjungi satu sama lain di lokasi syuting selagi  ada waktu, cuma merupakan salah satu cara kami menemukan kebersamaan.

Shenina, dengan kesibukan Anda sekarang, apakah Anda sudah meluangkan waktu menonton Dua Hati Biru? Beritahu kami pendapat Anda.

Shenina: “Oh my God! Saya sudah dua kali menontonnya; dan di kedua waktu itu, saya selalu menikmatinya. Salut kepada Gina S. Noer yang tidak pernah gagal memberikan rasa hangat di hati melalui setiap karyanya. Dua Hati Biru membukakan sudut pandang saya akan peran orangtua. Tanggung jawab kepada anak tidaklah mudah, dan tidak akan pernah berakhir bahkan setelah sang anak beranjak menjadi orangtua bagi keluarganya sendiri. Saya sekaligus menemukan bagaimana komunikasi menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan; bukan cuma dengan pasangan dan keluarga, tapi juga semua orang di sekitar kita.”

Renungan Anda akan peran orangtua sedikit terdengar lebih dalam.

Shenina: “Hahaha. Emosi saya memang mudah tersentuh ketika menonton film yang mana saya dapat merasa relate dengan kisahnya. Menarik memang bagaimana film bisa memberikan pemahaman baru tentang kehidupan. Terlebih lagi apabila usia karakter ceritanya tidak berbeda jauh dengan saya, buat saya pribadi, rasa empati itu akan menjadi lebih kuat. Saya pikir, Angga berhasil menaklukkan peran Bima di film ini dengan luar biasa. Tidak cuma Angga sebetulnya, chemistry seluruh pemeran di film ini sangatlah meyakinkan.”

Apakah Anda sempat meragukan penampilan Angga?

Shenina: “Sebab untuk seorang aktor memerankan kembali suatu karakter dalam sebuah sekuel dengan latar waktu yang berkembang, bukanlah perkara sederhana. Ada yang bisa terjebak dalam gambaran cerita sebelumnya, dan tidak jarang berakhir menyuguhkan akting yang monoton. Menurut saya, Angga memperlihatkan permainan peran yang baru, yang selaras dengan pertumbuhan cerita karakternya.”

Anda yakin tidak berpendapat bias?

Shenina: “Angga juga selalu merasa demikian setiap kali saya berkomentar positif terkait performanya!”

Angga: “Karena kamu cenderung bias jadi sulit diyakini kebenarannya. Hahaha.”

Shenina: “Enggak, kan saya mendiskusikan peranmu dengan orang lain—tapi memang di hadapanmu. Hahaha. Tapi sungguh pendapat saya murni tanpa dipengaruhi asas kedekatan.”

jewellery Bulgari B.zero1; watches Bulgari BB Aluminium (Angga); fashion Jan Sober (Angga), Jeffry Tan (Shenina).

Saya menyetujui penilaian Shenina. Angga, dahulu Anda pernah sampai tidur di set lokasi rumah untuk menjiwai peran di Dua Garis Biru. Apakah metode serupa juga Anda lakukan untuk kembali medekatkan diri pada karakter Bima?

Angga: “Hahaha, betul. Tapi kali ini tidak sampai demikian.”

Shenina: “Ia tidak selalu sebegitunya menerapkan akting method ketika membangun karakter dalam dirinya. Ia bisa beralih dari pribadinya dan menjelma ke dalam karakter dengan cepat, seperti ada tombol sakelar dalam dirinya.”

Angga: “Kalau boleh jujur, sebetulnya saya tidak merasa teknik akting method berdampak efisien bagi pengembangan kreativitas saya. Saya tidak keberatan apabila memang harus menerapkannya. Tapi saya akan menjaga kadarnya tetap ringan. Sebab, buat saya pribadi, akting method bisa sangat menguras energi. Jika tidak berhati-hati bisa kontradiktif berdampak pada emosional pemeran.”

Shenina: “Saya sepakat betapa itu bisa berdampak pada energi kita saat berperan.”

Angga: “Meski begitu, ketika dalam periode melakoni suatu peran, terkadang juga ada beberapa ciri dari sang karakter yang sengaja saya bawa ke alam realitas. Misalnya sewaktu berperan dengan aksen bahasa atau logat bicara yang spesifik, atau yang membutuhkan perubahan fisik tertentu; seperti karakter Muklas di Budi Pekerti. Di luar hal-hal krusial yang memang dibutuhkan demi menjaga stabilitas karakternya hingga syuting berakhir, saya cenderung menerapkan batasan perbedaan antara pribadi saya dan setiap karakter yang saya mainkan. Saya beruntung, saya telah bersahabat baik dengan diri sendiri, sehingga tidak sulit menetapkan perbedaan itu. Kuncinya memang harus kenal diri sendiri dengan baik. Sebab, saat mengenakan sepatu orang lain dalam rentang waktu yang cukup panjang hingga berbulan-bulan, karakter peran yang kita mainkan bisa mencuat ke realitas tanpa disadari.”

Bicara dialog bahasa sebagai elemen esensial dalam pembentukan karakter. Shenina mendapat tantangan untuk berdialog Bahasa Indonesia formal sebagai gaya bicara sehari-hari di film 24 Jam Bersama Gaspar. Bagaimana pendekatan Anda dalam penerapannya?

Angga: “Saya pikir, Shenina sukses mengeksekusi tantangan berbahasa formal di 24 Jam Bersama Gaspar.”

Shenina: “Terima kasih, sayang.”

Angga: “Sebelum syuting, Shenina tidak bisa berhenti overthinking. Tapi saya bisa mengerti kekhawatirannya. Meski dari lahir lidah berbahasa Indonesia, kosakata formal bukanlah gaya bicara kita sehari-hari. Tantangan berdialognya jadi sedikit lebih tricky. Tapi menurut saya, ia melakoninya dengan sangat baik. Salah satu penampilan Shenina yang menjadi favorit saya.”

jewellery Bulgari B.zero1; watches Bulgari LVCEA; fashion Sapto Djojokartiko.

Sebagai orang yang berdiri paling dekat dengan situasi di balik layar, bagaimana Anda menyaksikan upaya satu sama lain ketika mendalami peran?

Angga: “Shenina berani menawarkan diri untuk melakukan perubahan fisik khusus apabila ia pikir itu dibutuhkan bagi penampilan karakternya. Seperti memangkas rambutnya lebih pendek demi Agnes di 24 Jam Bersama Gaspar.”

Shenina: “Sepertinya bukan cuma saya, kita berdua selalu melakukannya. Saya dan Angga senang berinisiatif. Sikap tersebut merupakan kesamaan di antara kami dalam menciptakan sebuah karakter. Kami banyak menawarkan hal-hal yang di luar permintaan sutradara, semata-mata karena insting kami merasa itu adalah hal yang akan dilakukan karakter kami.”

Anda berdua telah bermain peran selama hampir satu dekade. Sejauh ini, karakter apa yang paling berdampak bagi kreativitas Anda dari berbagai peran yang pernah dimainkan?

Angga: “Bisa dibilang, peran Bima merupakan salah satu karakter monumental yang menjadi titik balik kreativitas saya di seni peran. Ia selalu punya cara dalam menuntut saya untuk bersikap dan bertindak jauh lebih dewasa dari usia saya sebenarnya; juga merasakan pengalaman hidup yang belum pernah saya alami sebelumnya. Rasanya saya sendiri ikut bertumbuh seiring memerankannya. Bima membuat saya merefleksi banyak makna kehidupan. Sebab itu, ia cukup berarti personal buat saya.”

Shenina: “Entah kebetulan atau takdir, tetapi saya kerap mendapat karakter peran yang memiliki latar belakang trauma. Ada satu film garapan Kawan-Kawan Media bersama sutradara muda, Lulu Hendra, yang berjudul Tale of the Land—belum dirilis, akan segera rilis—di mana dalam film tersebut saya tampil memerankan seorang perempuan penyandang trauma dengan tingkat kompleksitas emosional yang sangat tinggi. Pembicaraan terkait trauma sangatlah sensitif. Untuk karakternya, saya harus memahami bagaimana cara yang baik dalam menarasikan ceritanya tanpa memvalidasi maupun menepikan pandangan yang lain; bahwa trauma adalah suatu permasalahan, tetapi sekaligus berkata bahwa tidak apa-apa untuk seorang manusia memiliki permasalahan.”

Saya sudah melihat posternya yang diunggah Kawan-Kawan Media, dan semakin penasaran setelah mendengar sinopsis Anda. Kapan rencana penayangannya?

Angga: “Filmnya sendiri dijadwalkan untuk lebih dulu diputar di festival-festival film internasional. Barangkali setelah itu,”

Menarik mendengar Anda berujar seolah-olah pemeran di dalamnya. 

Angga: “Sebetulnya, saya juga ikut terlibat dalam proyek tersebut.”

Setelah kali terakhir tahun 2020 (untuk film Di Bawah Umur), akhirnya kami bisa menikmati Anda berdua kembali beradu peran di satu proyek yang sama.

Angga: “Keterlibatan saya di film ini sebetulnya sebuah ketaksengajaan, yang menyenangkan.”

Ceritakan lebih banyak.

Shenina: “[Singkatnya] Kami cukup kesulitan menemukan kandidat yang tepat untuk memerankan salah satu karakter kunci di film ini, sampai mendekati hari terakhir memasuki waktu produksi. Pada hari terakhir proses reading, Angga datang menjemput saya di studio dengan berpakaian serba hitam—yang di mata tim sangat merefleksikan karakternya. Maka, kami semua sepakat untuk mengajak ia bergabung.”

Talk about the right person at the right time.

Shenina: "Hahaha. Kami berdua percaya kalau antara peran dan aktor itu saling berjodoh. Semudah apa pun jalannya, bagaimana pun cara mendapatkannya; pada akhirnya keduanya akan saling menemukan satu sama lain."

Angga: “Saya dan Shenina memang terbiasa untuk saling membantu berlatih dialog setiap kali masing-masing mempersiapkan sebuah proyek, sehingga kebetulan saya juga sudah familier dengan dialog dan naskahnya. Plus, saya menyukai ide cerita serta bagaimana produksi film ini mengambil latar kehidupan masyarakat di wilayah Kalimantan."

jewellery Bulgari B.zero1; fashion Jan Sober (Angga), Sean Sheila (Shenina).

Tidak dipungkiri, ada sebuah keberuntungan sendiri ketika memiliki pasangan dengan bidang profesi yang sama. Bagaimana pasangan Anda memotivasi atau menginspirasi jiwa artistik Anda?

Angga: Kami kerap bertukar pikiran untuk membedah karakter. Shenina banyak membantu saya ketika kesulitan menemukan arah yang tepat dalam mengembangkan suatu peran. Tidak jarang kami juga saling bantu memberi masukan dalam memilah-milah proyek yang sesuai dengan visi.”

Shenina: “Barangkali seiring bertambah usia, kami jadi lebih memikirkan setiap proyek yang datang; bagaimana dampaknya bagi kami di masa depan. Apakah 25 tahun kemudian Shenina Cinnamon akan bangga jika sekarang ikut terlibat di proyek film ini; hal-hal seperti itu kami diskusikan berdua, juga dengan mempertimbangkan orang-orang di sekeliling kami masing-masing. Tetapi kami tidak pernah sekonyong-konyong memutuskan proyek mana yang harus diambil satu sama lain. Keputusan itu adalah hak milik masing-masing. Yang kami lakukan hanya mengemukakan pandangan akan kelebihan dan kekurangan sebagai bahan pertimbangan.”

Orang bilang usia 25 adalah fase yang krusial dalam hidup seseorang.  Dan sebagai perempuan, Shenina, kita kerap mendapat “tuntutan sosial” ketika sudah mencapai usia tertentu. Have you hit your quarter-life crisis, yet?

Shenina: “Pasang-surut emosi itu ada. Tapi saya beruntung memiliki orangtua serta keluarga yang sangat memahami setiap tindakan saya,  dan mereka menghormati pilihan pribadi saya itu. Namun memang dalam mengambil keputusan di usia sekarang ini, saya jadi memikirkan berbagai aspek melampaui diri sendiri.”

jewellery Bulgari B.zero1; fashion Lily by Sally (Shenina).

Dan “tuntutan sosial” itu pun tidak menjadikan laki-laki sebagai pengecualian. Angga, apakah ada perasaan anxious menuju usia 25?

Angga: “Sewaktu remaja, konsep waktu tidak pernah begitu saya perhatikan. Saya pernah merasakan menjadi yang paling muda di lokasi syuting, dan memandang mereka yang berusia 25 tahun sebagai sosok yang sangat senior. Lalu kini, hanya dalam waktu berganti beberapa tahun, saya telah berada di fase usia mereka yang pernah saya anggap senior. Hidup terasa berjalan sangat cepat, kadang saya masih menemukan diri sendiri tidak percaya sudah sampai di titik ini. Tentu saja ada momen-momen di mana kalau pikiran dan hati sedang kalut, saya merasa mental seperti benar-benar tertekan. Tetapi saya telah belajar untuk tidak menutup diri, dan tidak sungkan terbuka dengan orang-orang di sekitar yang saya percayai.”

Terlebih Anda berdua menjalani kehidupan profesi yang sangat diawasi oleh publik sedari usia remaja. Bagaimana kemudian pengalaman mendewasakan Anda?

Angga: “Konsep waktu benar-benar membuat saya merenungkan banyak hal. pekerjaan, hubungan dengan orang di sekitar, hingga eksistensi. Panggung hiburan telah mempertemukan saya dengan orang-orang hebat dari berbagai latar belakang. Di sini, saya mendapatkan wawasan yang sebelumnya tidak saya temukan di bangku sekolah. Profesi keaktoran sendiri juga memberikan pengalaman hidup yang meluaskan perspektif kemanusiaan saya. Tumbuh di dunia seni peran telah mendewasakan pola pikir serta cara saya dalam memandang sesuatu secara jauh lebih cepat dari usia saya sebenarnya. Saya merasa seperti berada satu langkah di depan dari orang-orang seusia saya; in a good way. Salah satu contohnya—barangkali Shenina juga sependapat—dalam menata kemapanan finansial masa depan.”

Shenina: “Iya, kami menyadari bahwa setiap profesi memiliki masa baktinya masing-masing. Di luar pendewasaan pola pikir serta kepribadian dari bermain peran, berkarier sejak usia remaja mengajarkan kami untuk lebih menghargai diri sendiri. Saya pribadi belajar untuk menempatkan diri sendiri alih-alih kepentingan orang lain; bahwasanya tidak apa-apa untuk berkata tidak.”