LIFE

16 Agustus 2026

Endy Arfian Bertransformasi Dari Aktor Cilik Jadi Pemeran Utama


PHOTOGRAPHY BY Ikmal Awfar

Endy Arfian Bertransformasi Dari Aktor Cilik Jadi Pemeran Utama

styling Ismelya Muntu & Alia Husin; fashion Givenchy grooming Morin Iwashita; hair Ichaana; production assistants Rachel Noriska, Kayla Shabia, Sarah Aliyyah

Kariernya dimulai melalui sebuah iklan televisi ketika usianya baru lima tahun. Dari sinetron-sinetron seperti Cinta IndahSuami-Suami Takut Istri, hingga Dear Nathan Series, Endy perlahan menjadi wajah yang akrab bagi penonton televisi Indonesia. Layar lebar kemudian memperluas lanskap permainannya melalui The Perfect HouseBrandal-Brandal Ciliwung, hingga Pengabdi Setan dan Ghost in Cell—dua film yang menandai fase berbeda dalam pertumbuhan artistiknya. Perjalanan panjang itu juga membawanya meraih nominasi Pemeran Pendukung Pria Terbaik di Indonesia Box Office Movie Awards 2018 serta penghargaan Aktor Utama Terbaik Genre Horor pada Festival Film Wartawan Indonesia 2022. 

Endy tidak tumbuh mengikuti garis kehidupan yang lazim. Ketika anak-anak lain pulang sekolah untuk bermain bersama teman-temannya, ia menghabiskan hari di lokasi syuting, berhadapan dengan kamera, sutradara, dan para aktor senior. Ia belajar profesionalisme bahkan sebelum memahami arti profesional itu sendiri. “Mungkin saya kehilangan masa kecil. Saya tidak punya pengalaman nongkrong atau bersosialisasi seperti teman-teman lain. Saya lebih banyak menghabiskan waktu di tempat kerja.” Pernyataan itu mudah dibaca sebagai kehilangan. Namun Endy tidak mengucapkannya dengan nada penyesalan. Sebaliknya, ia melihat seluruh pengalaman itu sebagai bentuk percepatan hidup.

“Saya merasa seperti ikut sekolah akselerasi. Di usia sekarang saya sudah mengalami banyak hal yang mungkin baru dialami orang lain beberapa tahun kemudian.” Ungkapan “sekolah akselerasi” terasa sangat tepat menggambarkan hidupnya. Dua puluh tahun berada di industri hiburan membuatnya belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kegagalan, kelelahan, dan ketahanan mental jauh lebih dini daripada kebanyakan orang. Ia mengenal arti tepat waktu ketika teman-teman seusianya baru belajar membaca jam. Ia belajar menerima kritik ketika anak-anak lain masih menganggap kesalahan sebagai bagian dari permainan. Bahkan kenangan dimarahi sutradara kini justru menjadi pelajaran yang paling ia syukuri. “Dulu saya lumayan sering kena marah. Banyak adegan harus diulang berkali-kali. Tapi dari situ saya belajar soal disiplin dan ketepatan waktu.”

Perjalanan panjang itu tidak lantas membuat Endy merasa dirinya cepat dewasa. Justru sebaliknya. Ketika ditanya apa arti menjadi dewasa, jawabannya sama sekali tidak berkaitan dengan usia.“Menurut saya, dewasa itu state of mind. Cara kita berpikir, cara kita menghadapi masalah, cara kita menyikapi sesuatu. Hasil dari kedewasaan itu adalah pikiran yang jernih, sikap yang tenang, dan perilaku yang bijak.” Definisi itu terasa lahir bukan dari teori, melainkan dari pengalaman hidup yang panjang. Endy telah memainkan begitu banyak karakter, tetapi pada akhirnya ia menyadari bahwa kedewasaan tidak pernah ditentukan oleh peran yang dimainkan seseorang. Kesadaran itu pula yang membuatnya perlahan melepaskan identitas sebagai “aktor cilik”. Titik baliknya datang ketika ia dipercaya memerankan Dimas, seorang jurnalis dalam Ghost in Cell. “Saya sadar profesi jurnalis bukan profesi yang main-main. Ada tanggung jawab ketika memerankan karakter seperti itu.” Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya memikirkan bagaimana memainkan sebuah tokoh, tetapi juga bagaimana menghormati profesi yang sedang ia representasikan dan memahami bahwa setiap karakter membawa tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar dialog yang harus dihafal.

Perubahan terbesar dalam hidup Endy ternyata bukan ketika ia berpindah dari peran anak menuju karakter orang dewasa. Perubahan itu terjadi secara perlahan, ketika ia mulai memahami hubungan dirinya dengan pekerjaan yang telah dijalaninya hampir sepanjang hidup. “Saya akan jawab sejujur mungkin ya, awalnya saya terpaksa.” Kisahnya bukan tentang seorang anak yang sejak kecil bermimpi menjadi aktor. Yang terjadi justru sebaliknya. Pekerjaan itu datang lebih dulu daripada pilihan. Endy menjalankannya karena keadaan, lalu perlahan ‘dipaksa’ belajar akting, disiplin, tanggung jawab, dan ritme kerja yang tidak pernah benar- benar dipahami oleh seorang anak berusia enam tahun. 

Bertahun-tahun kemudian, di tengah kelelahan yang menumpuk dan rutinitas syuting yang nyaris tanpa jeda, ia justru menemukan alasan mengapa ia memilih bertahan. “Saya mulai mencintai pekerjaan ini ketika sadar bahwa ini bukan lagi sesuatu yang main-main. Saya juga sadar, kalau saya tidak mencintai pekerjaan ini, hasilnya pasti akan terlihat. Karena akting itu memakai rasa.” Akting, bagi Endy, bukan semata keterampilan teknis. Ia lahir dari kesediaan seseorang menghadirkan dirinya secara utuh. Mustahil memainkan emosi dengan meyakinkan jika seseorang tidak lagi memiliki hubungan emosional dengan pekerjaannya. Kesadaran itu justru datang melalui kelelahan. “Ada masa saya capek luar biasa. Saya mulai mengeluh, mulai tidak menikmati pekerjaan ini. Di situ saya sadar, saya harus memutuskan apakah saya mau terus menjalani hidup seperti ini atau tidak.” Ada ironi yang menarik. Bukan keberhasilan yang membuat Endy mencintai profesinya, melainkan kelelahan. Ketika tenaga, waktu, dan emosinya terkuras, ia justru menyadari bahwa pekerjaan itu telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya.

Ketika ditanya prinsip hidup yang ingin terus ia pegang, Endy tidak berbicara tentang popularitas atau pencapaian berikutnya. Ia justru mengingatkan dirinya sendiri tentang betapa kecilnya manusia. “Saya tidak punya keinginan untuk membuktikan apa pun, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Kita ini cuma butiran kecil di semesta yang luas. Saya merasa perlu mengingatkan diri supaya tetap rendah hati, bersikap baik dan jangan jadi orang jahat,” Kalimat itu terasa seperti simpulan dari seluruh perjalanan hidupnya. Seorang anak yang dahulu menganggap lokasi syuting sebagai arena bermain, kini tumbuh menjadi lelaki yang tidak lagi merasa perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.

Selama hampir dua dekade, kamera merekam hampir setiap fase kehidupan Endy Arfian. Namun arsip yang paling penting barangkali bukanlah adegan yang berhasil disimpan layar, melainkan perubahan-perubahan kecil yang tak pernah benar-benar terlihat: seorang anak yang perlahan belajar mencintai pekerjaannya, melepaskan kebutuhan untuk membuktikan sesuatu, dan akhirnya menemukan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.