20 Maret 2026
Superwoman of Impact dan ELLE Magazine Rancang Transformasi Teknologi Masa Depan Bagi Perempuan
PHOTOGRAPHY BY Bubu.com
Text by Shabira Putri
Bertepatan dengan International Women’s Day 2026 pada jumat 13 Maret 2026, sebentuk frekuensi terpancarkan dari Jakarta menuju panggung dunia. Melalui kehadiran Superwomen of Impact, gerakan global ini menjadi wadah dimana perempuan mampu membentuk masa depan melalui kepemimpinan, inovasi, dan dampak yang bermakna. SOI membentuk sebuah perjalanan global yang mencakup pertemuan virtual dan forum dimana sekumpulan perempuan dapat menciptakan platform untuk koneksi, kolaborasi, dan pertukaran pengetahuan di berbagai negara, sektor, dan komunitas. Digagas oleh Bubu.com, konferensi virtual eksklusif Superwoman of Impact (SOI) hadir bukan hanya sebagai selebrasi. Ajang ini menjadi sebuah undangan terbuka dalam rangka merancang kembali ekosistem digital di mana perempuan berdiri sebagai arsitektur utamanya.
Dalam kemitraan komunitas bersama ELLE Magazine dan dukungan pengetahuan dari World Innovation Technology and Services Alliance (WITSA.org), gerakan transformasi ini mempertemukan para pemimpin visioner yang dimoderatori oleh Emily S. Barner, Program Director WITSA yang telah membangun ekosistem inovasi global selama dua dekade di lebih dari 80 negara. Diskusi transformatif ini menghadirkan Shinta Dhanuwardoyo, pendiri Bubu.com sejak 1996 yang memiliki pengalaman penting dalam teknologi dan budaya. Terdapat pula Elain Lockman, CEO Ata Plus yang menggerakkan equity crowdfunding di Malaysia, Amy Kunrojpanya, penasihat dewan di Emm Technology yang sebelumnya juga berkarier di Netflix APAC, serta Asih Karnengsih, spesialis ekosistem aset digital dan ahli dalam Web3 yang berfokus pada keadilan kepemilikan teknologi finansial di Asia Tenggara.
“Kami tidak memulai dengan panggung. Kami memulai dengan sebuah pertanyaan,” ujar Shinta Dhanuwardoyo, sang inisiator. Pertanyaan itu pun terjawab melalui dialog yang melintasi batas geografi, membuktikan bahwa akses terhadap diskusi transformatif tidak seharusnya terhambat oleh jarak. Dari ruang virtual ini, perjalanan terus berlanjut ke Melbourne, Bali, hingga Paris dan New York yang memperluas komunitas serta pengetahuan bagi perempuan.
Fokus utama dalam gerakan ini adalah memastikan bahwa suara perempuan tertulis dengan jelas dalam arsitektur masa depan, mulai dari sistem finansial Web3 hingga keberanian untuk mengubah narasi yang selama ini tidak terdengar. Setiap momen dari perjalanan ini akan diabadikan dalam bentuk coffee table dan e-book interaktif sebagai bukti dari sebuah pergerakan yang terus tumbuh. Dengan itu, teknologi bukan lagi hanya sebuah alat, melainkan bahasa baru agar perempuan dapat mengubah dunia jadi lebih setara dan sebuah undangan luas bagi kita semua untuk menuliskan sejarah.