20 Januari 2026
Andini Effendi: 2026 Melompat Lebih Jauh Usai Belajar Menerima Ketakpastian Di Tahun 2025
Menurut beberapa teman dekat saya, 2025 terasa... aneh. Energinya seperti dunia sedang melakukan update software besar tanpa memberi tahu kita patch note-nya. Lihat saja geopolitik global: ketika banyak yang mengira Amerika akan semakin condong ke MAGA, New York City justru memilih seorang sosialis berusia 30-an, mantan rapper, kelahiran Uganda, dan kebetulan seorang Muslim sebagai anggota kongres. Sementara itu, Elon Musk dan Donald Trump berubah dari besties to frenemies lebih cepat daripada X mengganti logo aplikasinya.
And don’t get me started with Indonesian politics. Di negara ini, reshuffle kabinet lebih cepat dari expiry date susu almond saya. Dunia tidak hanya bergerak; dunia berputar, melompat, dan kadang salto tanpa aba-aba.
Saya selalu percaya bahwa manusia ingin satu hal sederhana: kepastian. Tapi riset justru menunjukkan betapa rapuhnya kita terhadap ketakpastian. Penelitian dari Harvard Center for Brain Science (Kim, 2016) menemukan bahwa dalam situasi uncertainty and threat anticipation, aktivitas amygdala (pusat rasa takut di otak) meningkat hingga 37 persen lebih tinggi dibanding saat menerima kabar buruk yang pasti.
MIT Sloan School of Management memperkuat temuan itu lewat penelitian Decision-Making Under Stress (2018) yang menunjukkan bahwa ketidakpastian meningkatkan decision fatigue hingga 25–30 persen, membuat kita lebih impulsif, lebih lelah, dan lebih mudah salah langkah.
Secara biologis, otak kita sebetulnya “anti-ambiguity.” Bad news feels safer than no news.

Mungkin itu sebabnya saya sering ketahuan meng-Google ending sebuah serial sebelum nonton. Siapa pembunuhnya? Siapa yang mati? Siapa yang selingkuh? I kill the suspense just to feel in control. Karena, jujur saja, dalam hidup nyata kita punya sangat sedikit kontrol—jadi film dan serial menjadi satu-satunya tempat kita memegang remote.
Dan setiap kali Januari datang, tekanan itu makin terasa. Kita memperlakukan Januari seolah Januari adalah bos besar di akhir game, padahal ia hanya... bulan lain. Tidak lebih sakral daripada April, tidak lebih penting daripada Oktober.
Saya baru sadar bahwa kecemasan terbesar saya tentang “new year” muncul bukan karena target tahunan, tapi karena label. You are what you think people think you are. Dan saya, yang selama ini merasa “tidak peduli pendapat orang,” ternyata peduli terhadap pendapat orang yang saya pikir orang pikir tentang saya. It’s exhausting just writing it down.
Di tengah semua kegelisahan itu, saya membaca Secrets of Divine Love karya A. Helwa. Saya bukan orang religius, tapi buku ini memberi saya pemahaman baru tentang konsep pasrah atau dalam bahasa spiritualnya, surrender.
Surrender atau pasrah, bukan berarti berhenti berusaha. Pasrah berarti berhenti mengontrol hasil. Kita tetap berniat, tetap bergerak, tetap bekerja, tapi tidak memaksa hidup berjalan persis sesuai bayangan kita. Let go of the illusion, not the intention.

Pemahaman itu semakin dalam ketika berbincang dengan Pardamean Harahap atau Bang Dame, di salah satu episode Uncensored with Andini Effendi. Ia berkata bahwa kebahagiaan sejati bermula dari mengenal “Sang Aku.”
Kita sibuk mencari kebahagiaan di luar diri, padahal akar ketenangan adalah kejelasan di dalam kepala dan dada.
Bang Dame yang pernah mati suri dua kali terus mencari siapa “aku”-nya. Dan ia mengingatkan: jika kita hanya memberi tanpa pernah menerima, kita tidak akan pernah utuh. Begitu pula sebaliknya. Dalam dunia penuh ketidakpastian, inner clarity adalah jangkar terbaik.
Ketidakpastian bukan hanya pengalaman personal; ia adalah kenyataan struktural. World Economic Forum, dalam Global Risks Report 2024, menyebut era kita sebagai era polycrisis: situasi ketika krisis-krisis ekonomi, perang, iklim, teknologi, dan kesehatan tidak hanya terjadi bersamaan, tapi saling memperburuk satu sama lain. Dunia menjadi “unpredictable, interconnected, and compounding.”
Yale Center for Emotional Intelligence (2020) menunjukkan bahwa kondisi seperti ini meningkatkan perceived stress hingga 23-25 persen, karena otak manusia dipaksa mengolah terlalu banyak variabel yang bergerak. MIT Sloan (2018) menambahkan bahwa “poly-uncertainty” mempercepat decision fatigue membuat kita lebih cepat panik, lebih cepat menyerah, dan lebih rindu kepastian yang mustahil. Dengan kata lain: it’s not just you. The world really is more complicated.
Jadi kalau ketidakpastian tidak bisa kita hindari, apa yang bisa kita lakukan? Mungkin jawabannya sederhana namun universal: kita belajar mengganti kulit. Seperti ular yang melepaskan kulit lama, 2025 menjadi tahun untuk menanggalkan ekspektasi yang tidak lagi relevan, identitas lama yang kita pertahankan hanya demi kenyamanan, dan target yang dipasang bukan oleh jiwa, tapi oleh ego. Shedding is not glamorous, but it’s essential.

Letting go of what doesn’t serve us, so we can make space for what is meant for us. Dan setelah semua kulit itu luruh, kita memasuki Tahun Kuda Api 2026. Dalam astrologi Tiongkok, Kuda Api adalah perputaran 60 tahunan: penuh pergerakan, penuh keberanian, penuh transformasi. Kuda melambangkan kebebasan dan daya tahan; api membawa intensitas, kreativitas, dan momentum. Tahun ini historisnya tidak pernah tenang, tetapi selalu membuka ruang untuk reinvention.
Mungkin ini tepat: setelah 2025 mengajari kita menerima ketidakpastian, 2026 memberi kita energi untuk melompat lebih jauh. To run freely like a fire horse.
So, here’s to a year of renewal, courage, and bold steps. A year to trust what we cannot see. A year to embrace uncertainty, not fear it. Karena semakin kita menerima bahwa hidup tidak pernah pasti, semakin kita menemukan kepastian di dalam diri kita sendiri.