8 Maret 2026
Pandji Pragiwaksono: Menjadi Indonesia (dan Latihan Seumur Hidup di Dalamnya)
Jasmine Kusuma (IVY Model) photography by Julius Juan Justianto for ELLE Indonesia October 2025; styling Ismelya Muntu.
Menjadi orang Indonesia, bagi saya hari ini, berarti menjadi seseorang yang terbiasa hidup dalam perbedaan. Bukan sekadar tahu bahwa kita berbeda-beda, tapi benar-benar hidup di dalamnya. Kita lahir di negara dengan belasan ribu pulau. Artinya apa? Artinya kita otomatis lahir bersama belasan ribu bahasa, belasan ribu baju adat, belasan ribu cara berpikir, belasan ribu latar belakang, dan, yang sering dilupakan, belasan ribu potensi salah paham. Itu bukan bonus. Itu paket. Tidak bisa refund.
Karena itu, kalau ada orang yang tidak bisa hidup dengan perbedaan, menurut saya dia belum sepenuhnya “lulus” jadi orang Indonesia. Mungkin bukan salahnya juga. Bisa jadi dia lahir dan besar di lingkungan yang homogen—agamanya sama, etnisnya sama, cara pandangnya mirip. Ketika kemudian dia pindah ke ruang yang lebih heterogen—entah kota besar, kantor, atau kolomkomentar—reaksinya wajar: kaget. Tapi setelah kaget, selalu ada pilihan. Mau belajar beradaptasi, atau mau ngotot mempertahankan cara pikir homogen sambil berharap dunia menyesuaikan diri dengannya. Spoiler: dunia jarang mau.
Makna menjadi Indonesia ini juga berubah buat saya. Sepuluh sampai lima belas tahun lalu, kita masih agak kagok mengaku sebagai bangsa yang beragam. Keberagaman waktu itu lebih sering jadi jargon, bahkan sekadar pesta kostum. Hari Kartini dirayakan dengan lomba baju adat, bukan diskusi soal emansipasi.

Jasmine Kusuma (IVY Model) photography by Julius Juan Justianto for ELLE Indonesia October 2025; styling Ismelya Muntu.
Maknanya diperkecil, substansinya ditinggal. Setelah reformasi, kita seperti kaget bareng-bareng: “Loh, kita beragam banget ya?” Dan keberagaman itu bukan cuma antaragama atau antaretnis, tapi juga di dalamnya. Islam, misalnya, bukan satu warna hijau. Ada hijau tua, hijau muda, sampai hijau yang bikin orang lain bilang, “Itu Islam apaan sih?” Sekarang, meski masih sering ribut, setidaknya kita mulai terbiasa berdiskusi, walaupun kadang diskusinya tetap pakai huruf kapital.
Hal yang paling membuat saya bangga sebagai orang Indonesia justru progresnya. Kita sering merasa bangsa ini parah: korupsi di mana-mana, pejabat ditangkap. Padahal dulu juga ada. Bedanya, dulu tidak diberitakan, tidak ditangkap, tidak diadili. Sekarang semua itu terjadi. Terlihat buruk, tapi sebenarnya ini tanda kemajuan. Ini seperti orang yang baru mulai olahraga: pegal, ngos-ngosan, ingin nyerah tapi justru itu tanda tubuhnya bekerja. Masalahnya, orang maunya sehat tanpa pegal.
Kegelisahan saya justru ada pada kebiasaan kita menyalahkan politisi atas semua kekacauan, seolah kita cuma penonton. Padahal demokrasi itu dari kita, oleh kita, untuk kita. Kalau arah politik berantakan, ada peran kita di sana. Tapi orang Indonesia, secara umum, enggak suka disalahkan. “Enak aja, bukan salah gue.” Padahal, semakin cepat kita mengakui ada peran kita, semakin cepat juga kita bisa berhenti pura-pura kaget tiap lima tahun sekali.
Dalam keseharian, nilai yang sangat Indonesia tapi sering kita anggap sepele adalah gotong royong. Saya sering bilang, gotong royong punya saudara kembar: keroyokan. Bentuknya mirip: sama-sama ramai, sama-sama bergerak, tapi tujuannya beda. Yang satu membersihkan selokan, yang satu membersihkan reputasi orang lain sampai habis. Di internet, batas ini sering kabur. Kita merasa sedang gotong royong menegakkan keadilan, padahal sedang keroyokan sambil bilang, “Ini demi kebaikan kok.”
Dari situ muncul fenomena “No Viral No Justice”. Banyak yang sinis dengan kalimat ini, tapi menurut saya justru ini kekuatan. Untung diviralkan, makanya dapat keadilan. Bayangkan kalau tidak. Ini gotong royong digital yang dahsyat, asal kita sadar kapan harus berhenti. Karena beda tipis antara “bantu” dan “habisi”. Soal niat inilah yang saya juga bahas panjang di pertunjukan Mens Rea: tentang niat, tentang kesadaran, dan tentang bagaimana kita sering merasa benar tanpa sempat bertanya, “Gue lagi ngapain, sih?”
Keberagaman Indonesia hari ini terasa sebagai potensi. Tapi namanya potensi, ia tidak otomatis menjadi kekuatan kalau tidak dikelola. Bisa jadi energi kolaborasi, bisa juga jadi sumber konflik yang diwariskan turun-temurun.

Jasmine Kusuma (IVY Model) photography by Julius Juan Justianto for ELLE Indonesia October 2025; styling Ismelya Muntu.
Rasa keindonesiaan saya justru semakin kuat ketika tinggal di luar negeri. Di New York, memberi tip adalah kewajiban, bukan empati. Mau pelayanannya bagus atau jelek, tetap harus kasih. Di Indonesia, kita memberi karena kita ingin. Ada rasa peduli di situ. Sebaliknya, sifat sungkan yang di sini dianggap sopan, di sana dianggap penghambat. “Kalau ada kesempatan di depan, ambil aja,” kata mereka. Tapi kita kebanyakan mikir, “Ini buat gue enggak ya? Buat orang lain enggak ya?” Di situlah saya sadar: oh, ini ternyata mental Indonesia yang selama ini saya bawa ke mana-mana.
Kalau bicara ke generasi muda, satu hal penting adalah belajar menerima perbedaan pendapat dan selera. Sampai hari ini, beda selera masih sering dianggap kesalahan. Padahal buat apa? Ada yang bilang “Prabowo presiden terbaik”, ada yang bilang “Jokowi presiden terbaik”, ada juga yang bilang “Ahok kalau jadi presiden pasti jadi terbaik”. Semua sah-sah saja. Boleh- boleh saja. Asal jangan berantem. Pendapat yang berbeda tidak otomatis berarti pendapat orang lain salah. Tapi sering kali kita tersinggung, seolah perbedaan itu serangan personal, padahal tidak ada yang bilang begitu.
Pada akhirnya, bagi saya, menjadi orang Indonesia adalah menjadi orang yang terbiasa hidup dalam perbedaan, mampu bekerja sama di dalam perbedaan itu, dan menjadikannya sesuatu yang produktif dan bermakna. Bukan slogan. Tapi latihan seumur hidup—yang kadang bikin capek, tapi sejauh ini masih layak dijalani.