22 April 2026
Gita Syahrani: "Status 'Luxury' Barangkali Penting, Tapi Ukurannya adalah Ketetapan Diri Masing-Masing"
Lineisy Montero (Next Models) photography by Alexander Saladrigas for ELLE Indonesia March 2026; styling Jenny Kennedy
Beberapa waktu lalu saya menghadiri sebuah pertunjukan seni di Jakarta. Sebelum pertunjukan dimulai, sang kurator menjelaskan mengapa karya tertentu dipilih untuk ditampilkan. Ia tidak menciptakan lukisan itu. Tugasnya lebih sunyi, tetapi menentukan. Ia memilih mana yang diberi ruang dan pada akhirnya, mana yang dianggap bernilai.
Saya pulang dengan satu kesadaran sederhana: kurator tidak menciptakan karya, tetapi ia menentukan makna dan nilai. Sebagai perempuan, kita melakukan hal yang sama hampir setiap hari. Kita mengkurasi apa yang kita kenakan, apa yang kita bawa, apa yang kita sajikan kepada tamu, bahkan brand mana yang kita izinkan masuk ke dalam hidup kita. Pilihan kita tidak hanya membentuk citra, tetapi juga membentuk arah. Dalam banyak ruang sosial, selera perempuan sering menjadi referensi tentang apa yang dianggap bernilai dan bahkan mewah.
Saya masih ingat ketika menerima gaji pertama saya. Saya menabung untuk membeli tas dari rumah mode global yang sudah lama saya incar. ‘Luxury’, istilahnya. Saat berhasil membelinya, rasanya seperti pencapaian. Menggunakannya membuat saya lebih percaya diri.

Reti Ragil photography by Zaky Akbar for ELLE Indonesia; styling Alia Husin; fashion Dior (t-shirt, anting, dan tas).
Luxury selalu memberi lebih dari sekadar fungsi—ia memberi posisi dalam percakapan sosial, simbol bahwa kita berada dalam status tertentu.
Namun bahkan dalam industri luxury sendiri, makna itu kini berkembang. Secara global, istilah seperti single origin, traceable, dan craftsmanship menjadi bagian dari bahasa baru. Banyak brand dengan citra luxury berinvestasi pada transparansi dan material yang lebih bertanggung jawab secara lingkungan dan sosial. Luxury saat ini tidak lagi berdiri hanya di atas citra, tetapi juga di atas cerita.
Status tidak menghilang. Ia berevolusi.
Kebanggaan kini bisa datang bukan hanya dari harga atau logo, tetapi dari kualitas, proses, dan dampak di baliknya. Kita tetap ingin merasa bangga saat menggunakannya. Bedanya, rasa bangga itu kini juga menyentuh hati.
Di Indonesia, pergeseran ini terasa semakin nyata. Tekstil lokal dengan serat alami dan kerja tangan komunitas pembuatnya mendapat ruang baru. Parfum dan kosmetik berbasis bahan botani Nusantara dibicarakan dengan kebanggaan. Kopi tidak lagi sekadar kopi, tetapi Gayo atau Toraja. Cokelat disebut berdasarkan daerah asalnya. Kita tidak lagi hanya membeli sesuatu, tetapi mengapresiasi proses dan manusia di baliknya.

photo DOC. SukkhaCitta.
Jika dulu luxury banyak dirayakan karena harga dan eksklusivitasnya, kini ukurannya perlahan bergeser pada kualitas alam dan kualitas hidup manusia yang terlibat di dalamnya.
Dan di negeri seperti kita, pergeseran itu menjadi sangat nyata. Cerita di balik produk bukan sekadar strategi pemasaran. Ia berasal dari tanah dan air yang menumbuhkan kopi, kakao, pala, kelapa, nilam, vanili, dan berbagai serat alam—keanekaragaman hayati yang mengisi dapur, lemari pakaian, rak kosmetik, dan bahkan merawat kesehatan kita. Di sepanjang prosesnya, jutaan keluarga menggantungkan hidup. Ketika alam terganggu, dampaknya menjalar hingga ke pasar dan meja makan, seperti yang kita saksikan saat bencana melanda Sumatera.
Bagi saya, di situlah makna menjadi orang Indonesia dalam menjaga Bumi hari ini. Kita hidup di negeri yang alamnya kaya dan pasarnya diperhitungkan dunia. Menjaga Bumi bukan hanya soal mengurangi, tetapi juga tentang memilih, memastikan bahwa apa yang kita anggap bernilai ikut menjaga tanah dan manusia yang menopangnya.

Reti Ragil photography by Zaky Akbar for ELLE Indonesia 2026; styling Alia Husin; fashion Sapto Djojokartiko (outer, rok, dan clutch).
Indonesia adalah salah satu pasar konsumsi terbesar di Asia Tenggara, dengan lebih dari 284 juta penduduk dan kelas menengah urban yang terus bertumbuh. Pasar luxury fashion dan lifestyle Indonesia diperkirakan bernilai lebih dari USD 3 miliar dan terus meningkat. Di kategori fashion, kecantikan, dan lifestyle, perempuan merupakan segmen pengguna terbesar sekaligus penggerak tren. Ketika selera perempuan Indonesia bergeser, dampaknya tidak kecil. Pilihan adalah bahasa paling sunyi dalam ekonomi, tetapi juga yang paling menentukan. Maka luxury, but make it ours, bukan sekadar slogan, melainkan sikap. Status yang melekat pada luxury tetap penting, namun cara kita mengukurnya perlahan berubah.
Saya merasakannya sendiri. Kepercayaan diri saya hari ini justru bertambah ketika saya mengenakan pakaian dari brand Indonesia dengan tekstil berbasis agroforestri, atau menjamu tamu dengan cokelat dari hutan yang sehat dan menghirup kopi di pagi dari petani yang sejahtera dan alam yang terjaga. Rasa itu tidak lagi berdiri di atas simbol semata, tetapi di atas keterhubungan yang bisa saya ceritakan dengan bangga.
Saya sering teringat pada riset ilmuwan hutan Suzanne Simard tentang bagaimana pohon-pohon saling terhubung melalui jaringan akar di bawah tanah. Hutan tidak bertahan karena satu pohon yang paling tinggi, tetapi karena konektivitasnya.
Ekonomi pun serupa. Ketika relasi antara pembuat, brand, dan konsumen diperkuat, sistem menjadi lebih tangguh.
Dan seperti kurator di awal cerita, kita pun menentukan nilai apa yang ingin kita beri ruang. Karena mengkurasi bukan hanya soal estetika tapi juga etika. Karena pada akhirnya, yang kita kurasi bukan hanya barang—melainkan masa depan yang ingin kita hidupi.