18 Mei 2026
Timothy Marbun: Di mana Kita Berdiri dalam Menciptakan Seni yang Membangun Sebuah Kota?
Akhir tahun lalu, saya bertemu dengan salah satu seniman tari senior Indonesia. Kami bertemu di Semarang, sebuah kota yang kaya budaya, yang akhirnya membawa kami membicarakan bagaimana sebuah kota bisa berkembang dan bahkan termahsyur karena pengaruh budayanya.
Ia berbicara tentang Paris, dan semakin dalam pembicaraan kami, badan saya semakin condong karena ingin mendengarkan ceritanya dengan seksama. Saya menemukan kekaguman baru pada seni dan budaya, yang selama ini sering kali hanya diperlakukan sebagai hiburan semata. No, seni dan budaya memang menghibur, tapi sayang sekali kalau kita membatasinya sebatas “indah dilihat”.
Semua orang tahu Paris. Saya tidak bilang semua orang suka Paris, karena istilah “Paris Syndrome” sudah hampir se-beken kota Paris itu sendiri. Namun tidak ada yang bisa memungkiri bagaimana kota ini memang telah lama menaruh seni dan budaya di posisi penting, dan ini terlihat di jalanan kotanya. Mulai dari arsitektur gerbang dan tanda papan Metro (kereta bawah tanah) bergaya Art Nouveau, deretan gedung-gedung berusia ratusan tahun dengan ukiran neo-klasik dengan presisi tinggi, hingga lampu jalanan besi tempa antik yang membuat Paris sempat dinamai 'The City of Lights' karena keindahannya pada malam hari. Semuanya dibuat dengan pertimbangan seni yang tinggi, oleh para maestro abad-abad sebelumnya.
Lalu apa yang membuat saya kagum? Karena semua itu tidak mungkin kalau Paris tidak memiliki pusat budaya, yang salah satunya bernama Montmartre. Inilah tempat nongkrong-nya para jiwa kreatif Eropa abad ke-19 yang memberi jiwa pada kota yang sedang berkembang pesat karena revolusi industri.
Saya bukan mau mengagungkan kota Paris, tapi lewat obrolan tentang Paris inilah saya jadi bisa memahami mengapa seni dan budaya menjadi begitu penting, terutama saat sebuah kota, negara, atau bangsa sedang berkembang. Paris yang kita lihat, adalah Paris yang sangat dipengaruhi oleh penguasanya di abad 19: Napoleon III, yang dikenal terobsesi dengan keindahan dan estetika. Seorang pencinta seni yang percaya budaya tidak hanya akan mengubah penampilan kota, tapi juga menjadi instrumen yang kuat untuk memenangkan hati masyarakat, baik di dalam Paris, maupun dunia. Ia merombak area kota yang kumuh menjadi bulevar yang luas, taman-taman, dan gedung-gedung opera. Ia memberi panggung bagi para seniman yang ditolak dengan memamerkan karya mereka di Salon de Refuses, hingga menyelenggarakan pameran dunia di kota ini.
Para seniman abad ke-19 pun memanfaatkan ruang bebas ini untuk berekspresi dengan lebih berani, hingga melahirkan Revolusi Seni Modern. Nama-nama seperti Picasso, Monet, hingga Van Gogh, adalah penghuni Montmartre di era ini. Begitu kuat tiga daya ini: pemerintah, seniman, dan jutaan pengagum seni; hingga membuat Paris dikenal hingga saat ini, dan bahkan tetap bertahan menjadi Ibu kota seni dan destinasi favorit dunia.
Seni untuk Semua, Semua untuk Seni
Memiliki kekayaan seni dan budaya sudah menjadi sebuah berkah yang luar biasa bagi sebuah kota, atau bahkan bangsa. Tentu cerita tentang Paris tadi langsung membuat saya berpikir: tidakkah Indonesia juga kaya akan seni budaya? Seharusnya bisa juga dong seperti Paris?
Saya jadi membayangkan bagaimana gemasnya para seniman kita, yang saya yakini telah menaruh semangat, dedikasi, dan pengorbanan yang tidak kalah peliknya dengan para seniman ternama dunia, untuk memajukan seni dan budaya Indonesia. Namun harus diakui terkadang, boro-boro memajukan, banyak juga seniman yang berjuang untuk berkarya semata agar seninya tidak punah terlupakan oleh zaman. Padahal seharusnya kekayaan seni dan budaya itu adalah instrumen terbaik untuk menggambarkan siapa itu Indonesia, apa identitas kita, dan seberapa kita cinta pada Tanah Air ini.
Mungkin salahnya adalah kita menaruh semua beban itu pada para seniman, dan merasa bahwa menghidupkan seni sudah jadi tugas mereka. Seni memang membutuhkan seniman, tapi seni hanya akan bertahan sebagai sebuah identitas apabila mendapatkan penghargaan yang layak dari penikmatnya. Seni bisa berkembang pesat bila diberikan ruang gerak oleh penguasa. Seni bisa bertumbuh kuat bila didukung oleh industrinya, orang-orang yang menyadari bahwa ciptaan kreatif ini bukan hanya sekadar indah dilihat, tapi jadi cahaya yang menerangi identitas kita sebagai manusia Indonesia. Anda sendiri, akan memilih peran yang mana?