Yenny Wahid: Merayakan Pluralisme dan Membangun Kehidupan Toleran

Profile Yenny Wahid - elle indonesia styling SIDKY MUHAMMADSYAH photography MICHAEL TIMOTHY - writer rianty rusmalia

Yenny Wahid meneruskan perjuangan sang ayah dalam merawat pluralisme dan kemanusiaan, serta membangun kehidupan yang damai dan toleran.

Yenny Wahid meyakini bahwasanya untuk merayakan kemanusiaan berarti memuliakan hubungan antarmanusia yang penuh keragaman. “Sebab bicara kemanusiaan artinya bicara soal manusia yang jamak,” katanya. Ia meneruskan prinsip dan cita-cita intelektual Abdurrahman Wahid, akrab disapa Gus Dur, dalam memajukan visi kemanusiaan, mendorong terciptanya demokrasi, memelihara multikulturalisme, mengembangkan toleransi, serta memperluas nilai-nilai perdamaian dan non-kekerasan di Indonesia dan seluruh dunia.

Yenny Wahid menggagas Wahid Foundation yang ia dirikan pada September 2004. Dalam tingkatan regional dan global, yayasan tersebut memfasilitasi dialog dan membangun pemahaman antara Islam dengan agama dan budaya lain sekaligus mendorong munculnya aktivis-aktivis muda untuk meneruskan dan mewujudkan komitmen Gus Dur. Lewat Wahid Foundation, Yenny memberdayakan manusia sambil gigih menyebarkan nilai pluralisme demi terwujudnya masyarakat yang inklusif dan toleran.

Profile Yenny Wahid - elle indonesia styling SIDKY MUHAMMADSYAH photography MICHAEL TIMOTHY - writer rianty rusmalia

Sejauh mana pemikiran Gus Dur memengaruhi hidup dan pemikiran Anda?
“Bagi saya, nilai-nilai yang Gus Dur ajarkan menjadi rambu untuk menentukan langkah dalam membuat keputusan politik. Bapak adalah orang yang sangat idealis, sehingga bagi kami untuk bersikap pragmatis dalam politik itu seolah-olah mengkhianati perjuangan politik beliau. Maka kami sebagai pengikut garis politik Gus Dur, tentu harus mengedepankan idealisme yang artinya mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Kondisi ini yang kemudian membuat kami akhirnya berjuang ‘sendiri’. Sebab di Indonesia, jumlah orang yang kompromistis lebih banyak daripada yang idealis. Idealisme memang kerap jadi menyulitkan seseorang dalam memperoleh jabatan politik dan meraih keuntungan. Namun saya selalu yakin, jauh lebih penting untuk menjaga idealisme dan nama baik ketimbang semata-mata mengincar jabatan tanpa kita sendiri yakin apakah mampu mengemban amanah dan memperjuangan kepentingan seluruh masyarakat di Indonesia.”

Apa yang melandasi berdirinya Wahid Foundation?
“Usai menyelesaikan kuliah di Amerika, saya pulang ke Indonesia dan melihat bapak makin sering sakit. Saya lantas berpikir. Bapak selama ini menjadi sosok penyangga dalam kehidupan yang toleran dan damai di Indonesia. Jika suatu saat beliau tidak ada, siapa yang meneruskan peran dan perjuangannya? Saya tentu tidak bisa melanjutkannya seorang diri. Akhirnya saya memutuskan bikin yayasan untuk menciptakan kader-kader baru yang berpikiran sama seperti Gus Dur. Saya minta izin ke bapak dan beliau setuju, bahkan ikut berperan aktif dalam kegiatan Wahid Foundation. Kami rutin menyelenggarakan konferensi dan mengundang banyak pemikir Islam di kalangan internasional. Beliau antusias sekaligus senang karena pemikiran-pemikirannya jadi terfasilitasi dan terdiseminasi semakin luas.”

Apa yang dilakukan untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan berdaya?
“Saat pertama kali didirikan, kami banyak bergerak dalam kegiatan diskusi, konferensi, seminar, forum dialog, dan penerbitan buku. Dalam perjalanannya, kami kemudian menggabungkan kegiatan awal dengan pendekatan ekonomi dan sosial lewat pemanfaatan teknologi dengan cara-cara yang lebih relevan dengan zamannya.

Sejak 2012, kami menjalankan Koperasi Cinta Damai untuk mengatasi bibit intoleransi lewat pendekatan ekonomi. Membantu kelompok tertinggal dan masyarakat miskin melalui program kredit usaha mikro, sambil menebalkan sikap toleransi beragama. Keanggotaannya dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari orang-orang yang berbeda suku, agama, dan keyakinan. Kami juga melakukan kegiatan Microfinances for Religious and Ethnic Harmoni dan mendorong kewirausahaan sosial lewat pelatihan pengelolaan keuangan, manajemen bisnis, dan membantu membuka akses modal. Program ini telah menjangkau sejumlah kabupaten di Jawa Barat dan lebih dari 2.000 orang telah menerima manfaat di antaranya melalui unit usaha dan fasilitas akses modal.

Kami juga memiliki program Desa Damai dan Sekolah Damai. Pembangunan ekonomi desa dan pemberdayaan perempuan jadi dua aspek utama dalam program Desa Damai. Bentuk perwujudannya adalah pembentukan kelompok kerja yang keanggotaannya minimal 30% beranggotakan perempuan. Desa Damai telah diterapkan di 31 desa yang tersebar di Pulau Jawa. Wahid Foundation juga merespon kampanye-kampanye konservatif gender dan narasi keislaman yang kaku di kalangan anak muda. Lewat media sosial, kami rutin memproduksi dan mendiseminasikan infografis dan narasi tentang Islam damai, toleransi, serta kesetaraan gender di berbagai sekolah yang tersebar di 4 provinsi di Pulau Jawa: DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Tahun ini, kami turut menambah muatan isu yakni soal perubahan iklim dan pentingnya gaya hidup berkelanjutan yang memiliki berbagai program kegiatan di bawah payung Desa Iklim.”

Termasuk upaya bantuan advokasi terhadap orang-orang yang terkena kasus kekerasan?
“Kami memonitor kasus-kasus intoleransi beragama, pembatasan hak-hak beragama, penyebaran permusuhan bermotif agama, dan konflik berdasarkan agama. Kami menyoroti, mencatat, dan mengumumkan nama-nama pelakunya. Hasil pengawasannya diterbitkan dalam laporan Wahid Foundation yang kemudian dapat menggambarkan situasi kontemporer kehidupan keagamaan di Indonesia. Kami juga melakukan advokasi serta penyelesaian kasus secara adil yang dialami kelompok minoritas. Melakukan pendampingan, pembelaan, hingga pengeluaran pernyataan di tingkat pengadilan.”

Bagaimana Anda melihat peran perempuan dalam penyebaran pluralisme?
“Peran perempuan sangat strategis karena kegigihannya luar biasa masif. Jika seorang perempuan meyakini sesuatu, militansinya bisa melebihi laki-laki. Selain itu, perempuan punya rasa komunal yang sangat tinggi. Jika merasa terpanggil untuk melakukan suatu, perempuan bisa melibatkan banyak orang sehingga gerakannya menjadi besar- besaran. Perempuan juga seorang pendidik. Ia menanamkan nilai kepada anaknya dan pada akhirnya memengaruhi cara berpikir generasi muda. Karena itu, pemberdayaan perempuan merupakan salah satu pilar utama dari Wahid Foundation dan Desa Damai didukung oleh UN Women di mana fokusnya adalah perempuan menjadi agen perdamaian di lingkungannya masing-masing.”

Menurut Anda, apa cara yang paling efektif untuk menguatkan toleransi di Indonesia?
“Membangun kesadaran agar setiap orang mulai bersuara. Di Indonesia, orang yang toleran itu jumlahnya lebih banyak dibanding yang intoleran. Namun yang toleran dan moderat kerap memilih untuk diam. Padahal diamnya orang baik bisa dimanfaatkan dan dikuasai oleh orang-orang yang berniat jahat. Karena itu, penting bagi kita untuk menyuarakan pendapat dan melakukan perlawanan dengan cara-cara yang baik.”

Sebagai aktivis sekaligus politisi, apa yang sesungguhnya ingin Anda capai?
“Saya mau ketiga anak perempuan saya hidup dalam kehidupan yang baik dan ramah terhadap kaum perempuan. Saya juga ingin Indonesia menjadi bangsa yang toleran, damai, dan penuh cinta kasih. Dan hal itu bisa tercapai dengan terciptanya masyarakat yang kuat secara sosial, politik, dan ekonomi. Menyebarluaskan nilai-nilai toleransi dan perdamaian sambil meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Bagi saya, apa yang saya kerjakan membuat saya semakin yakin bahwa hidup jadi bermakna ketika apa yang kita lakukan berdampak positif bagi kehidupan orang lain. Saat orang lain bahagia dan merasa hidupnya berubah jadi lebih baik, saat itulah saya tahu saya telah melakukan sesuatu yang benar.”

styling SIDKY MUHAMMADSYAH photography MICHAEL TIMOTHY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.