LIFE

25 Mei 2026

Mengapa Seniman Dewasa Ini Tampak Kerap Melambat dalam Berkreasi?


Mengapa Seniman Dewasa Ini Tampak Kerap Melambat dalam Berkreasi?

text by Hermawan Kurnianto (photo: Shania (Persona) photography by Ikmal Awfar for ELLE Indonesia 2026; styling Alia Husin)

Maret 2025. Platform AI favorit banyak orang, ChatGPT, melansir sebuah terobosan, yaitu menghasilkan gambar yang mengadopsi cita rasa visual khas nan ikonis dari Studio Ghibli, sebuah perusahaan animasi kebanggaan Jepang yang memproduksi rentetan film yang telah berstatus klasik seperti Spirited Away, My Neighbor Totoro, dan Howl’s Moving Castle. Dengan versi ChatGPT yang terbarui, para pengguna dapat dengan mudahnya mentransformasi foto pribadi menjadi gambar yang mengusung signature yang ditorehkan pendiri Ghibli, Hayao Miyazaki. Hanya dalam hitungan detik. Bahkan, pihak White House di Amerika Serikat tidak mau ketinggalan tren viral ini dengan mengunggah versi mereka (gambar seorang perempuan Republik Dominika yang ditahan) dan ternyata justru menuai kritikan.

Kata “terobosan” di paragraf sebelumnya di atas akhirnya tidak diiringi oleh anggukan persetujuan dari semua orang. Lagi-lagi, perkembangan teknologi memunculkan polemik klasik; sisi yang membuat hidup manusia lebih mudah (dan menyenangkan) dan sisi yang menyodorkan kekhawatiran etis terkait batasan-batasan kecerdasan buatan dalam menjunjung nilai kreativitas manusia serta hak cipta. 

Bertahun-tahun sebelumnya, Miyazaki secara terang- terangan mengkritik apa yang dapat dilakukan oleh AI dalam karya animasi, seperti yang ditunjukkan dalam film dokumenter berjudul Never-Ending Man: Hayao Miyazaki (2016). Miyazaki yang tidak terbantahkan lagi kemampuan magisnya dalam menggambar dengan tangan dan menata cerita, memandang bahwa AI dan apa yang mampu dihasilkannya adalah sebuah hinaan terhadap kehidupan. 


Spirited Away (2001)

Dengan mempertimbangkan sosok Miyazaki yang seorang maestro dan legenda di dunia sinema, apa yang disampaikannya bukanlah pernyataan berlebihan untuk menabuh genderang perang melawan AI. Sebagai seorang seniman yang terus mengedepankan craftsmanship, Miyazaki tahu betul bahwa bagaimanapun juga, kecerdasan dan kreativitas manusia akan selalu memiliki keunggulan tersendiri yang tidak akan tergantikan oleh pesatnya kemajuan teknologi. 

Miyazaki adalah representasi dari cara pandang seniman yang masih menitikberatkan pada proses yang bertahap, perlahan, menghindari hasil yang instan, dan selalu mengejar kesempurnaan. Sementara AI mewakili tuntutan dunia dan keinginan banyak orang saat ini: harus gerak cepat alias gercep. Kalau ada karya seni yang sebelumnya dilakukan secara manual, misalnya menggambar dengan tangan, yang menghabiskan waktu bulanan hingga tahunan, maka teknologi, misalnya melalui kecerdasan buatan, menawarkan jalur potong kompas sehingga “karya seni” bisa tercipta dalam waktu yang jauh lebih singkat dengan kualitas yang sekilas sama, tetapi tidak akan pernah sama. 

Dalam dunia seni, menurunkan tempo bukanlah sinyal kelemahan dan kemalasan dalam berkreasi. Melambat kadang justru dapat mengakselerasi kreativitas yang lebih bermakna dan mindful

My Neighbor Totoro.

GERAKAN 'SLOW ART'

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, kecepatan adalah satu hal yang turut mendefinisikan dunia modern. Mulai dari waktu memproses makanan dan pelayanan di restoran, waktu tempuh untuk sampai di tujuan, hingga waktu penyelesaian pekerjaan. Dengan cepat kita beralih dari satu konten ke konten lainnya lewat scroll tanpa henti. Kita menyelesaikan satu series yang terdiri dari beberapa season dalam waktu satu minggu. Kita merayakan efisiensi, produktivitas, multitasking sebagai pencapaian, meski kerap mengorbankan mindfulness, kreativitas, dan kedalaman. Namun, timbul sebuah paradoks: ketika segalanya berjalan lebih cepat, tanpa disadari kita mulai mendambakan hal yang sebaliknya. 

Tunggu, apakah memang benar “segalanya”? Seni bisa menjadi pengecualian. Sebuah teritori yang memungkinkan elemen-elemen di dalamnya bisa bergerak lebih perlahan, lebih tenang, lebih kontemplatif. Ketika budaya pop saat ini terobsesi dengan viralitas, ada satu pergerakan seni yang ingin menentang arus pemuja kecepatan, yaitu slow art. Ini menjadi safe place bagi mereka yang ingin mendekap sisi reflektif dan introspektif dalam hal kreasi dan apresiasi artistik. Dengan menjalani slowness, baik seniman maupun penikmat seni dapat menyelami keterkaitan antara kreativitas, otentisitas, dan pengalaman manusia secara lebih komprehensif. 

Multiple Shadow House (2010) by Olafur Eliasson dalam ekshibisi Your Curious Journey' (photo courtesy Museum MACAN).

THE MEANINGFUL SLOWNESS

Dalam perjalanan sejarah, para filsuf telah menekankan pentingnya melambat dan melakukan refleksi. Friedrich Nietzsche menuangkan pendapatnya di Thus Spoke Zarathustra bahwa semua pemikiran hebat tercipta ketika sedang berjalan kaki. Hal itu selaras dengan esensi dari pergerakan slow art: kreativitas akan berkembang di momen-momen reflektif yang tidak ada ketergesaan di dalamnya. Sejarawan dan filsuf Hannah Arendt menggulirkan konsep “vita contemplative” yang menitikberatkan pada nilai kehidupan yang kontemplatif ketimbang aktivitas yang bergerak tanpa henti. Untuk menciptakan sesuatu yang bermakna, dibutuhkan waktu dan ruang untuk berintrospeksi. 

Gerakan slow art berakar pada filosofi “slow” yang bermula dari gerakan slow food di era 1980-an, sebagai sebuah reaksi terhadap maraknya kultur fast foodSlow art memberikan penghormatan tinggi pada pengalokasian waktu secara layak untuk berkreasi, mengobservasi, dan berinteraksi dengan karya seni. Ini berlawanan arah dengan komodifikasi dan konsumsi seni yang dangkal, seiring dengan era digital yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Jurnalis Carl Honoré menulis dalam bukunya yang terkenal, In Praise of Slow (2004), “Melambat bukan berarti melakukan segalanya dengan kecepatan siput, tetapi melakukannya dengan kecepatan yang tepat. Melambat artinya benar-benar hadir, menikmati setiap momen sepenuhnya, menempatkan kualitas di atas kuantitas di segala hal, mulai dari bekerja, makan, hingga pola asuh anak.” Apabila diaplikasikan ke ranah seni, ini merujuk pada cara mengolah kualitas kesadaran dalam proses kreatif. 

Slow art membuat seniman benar-benar fokus dan tenggelam dalam proses berkarya. Membangun ruang di mana mereka dapat bebas bereksperimen, mengolah, memperbaiki, dan menyempurnakan karya, tanpa harus tergesa-gesa atau mengikuti selera pasar. Pendekatan ini membuahkan karya seni yang lebih dalam, otentik, dan memiliki dampak. 

Kita bisa melihat manifestasi slow art dalam ragam bentuk seni kontemporer. Di seni visual, seniman seperti Olafur Eliasson menciptakan instalasi imersif yang mengajak pengunjung untuk meluangkan waktu lebih banyak dalam mengeksplorasi dan merefleksikannya. Kreasi Eliasson kerap mengundang audiens untuk berpartisipasi dan berinteraksi, sehingga terbangun koneksi antara seni dan pengamatnya. Belum lama ini karya-karya Eliasson bisa dinikmati di Museum MACAN, Jakarta, dalam sebuah pameran bertajuk Your Curious Journey

Di wilayah literatur, penulis seperti Marilynne Robinson merangkai cerita yang membutuhkan laju membaca yang perlahan dan tenang. Novelnya, Gilead, adalah sebuah karya meditatif mengenai keyakinan, memori, dan hubungan manusia, yang akan benar- benar bisa diresapi pembacanya yang meluangkan waktu untuk mereguk prosa nan ekspresif. 

Beralih ke sinema, sejumlah sutradara seperti Andrei Tarkovsky dan Terrence Malick begitu disegani berkat gaya bercerita yang kontemplatif, dengan pengambilan gambar yang panjang dan visual puitis. Mereka menciptakan karya film yang berseberangan dengan tipikal perfilman arus utama yang hiruk-pikuk. 

Sementara di bidang desain dan kerajinan, meningkatnya daya minat terhadap kerajinan tradisional seperti tembikar, menenun, dan pengolahan kayu, merefleksikan prinsip-prinsip yang dianut oleh slow art. Praktiknya memprioritaskan proses dibandingkan hasil akhir, serta penghargaan terhadap waktu dan perhatian dalam pengerjaan. 

SLOWER AUDIENCE 

Slow art tidak hanya berlaku bagi para kreator dalam berkarya, tetapi juga mendorong audiens untuk menghabiskan waktu lebih banyak dalam mengamati, meresapi, mengapresiasi, hingga berinteraksi dengan karya seni. Alih-alih hanya sekadar menelusuri sudut- sudut galeri seni, sekadar berjalan melintasi karya-karya, atau bahkan hanya sekadar mengabadikan momen dalam format foto dan video untuk meraup validasi di media sosial, slow art mengajak pengunjung untuk mengerahkan fokus dan waktu dalam mengapresiasi satu atau beberapa karya saja. Hal ini memungkinkan audiens untuk bisa lebih menangkap nuansa dan emosi dari apa yang ingin disampaikan oleh karya seni. 

Phil Terry, pendiri organisasi nirlaba Reading Odyssey mencetuskan ide tentang Slow Art Day pada tahun 2008. Ide ini ia peroleh ketika menghabiskan waktu berjam-jam di Jewish Museum di New York, hanya untuk menikmati dua lukisan abstrak: Convergence (Jackson Pollock) dan Fantasia (Hans Hoffman). Setahun kemudian, Terry meluncurkan ajang Slow Art Day yang pertama, berkolaborasi dengan 16 museum. Ajang ini terdiri dari beberapa agenda. Pertama, pengunjung mendaftar untuk mengobservasi lima karya seni, masing-masing selama 10 menit, yang dipandu oleh seorang host. Agenda lainnya adalah makan siang, yang melibatkan para pengunjung dan host, sambil mendiskusikan pengalaman yang mereka rasakan. Sejak 2009, lebih dari 700 tempat, termasuk museum, galeri, situs seni publik, ambil bagian dalam acara yang kini berlangsung secara reguler setiap tahunnya. 

Bagi audiens, pendekatan terhadap karya seni hariini bukan lagi soal “bagaimana menikmati,” melainkan bagaimana mempertajam cara membaca—melampaui impresi awal menuju pemaknaan yang lebih berlapis:

Tentukan Titik Masuk. Alih-alih menunggu karya “berbicara”, sadari bahwa setiap perjumpaan selalu berangkat dari posisi Anda sebagai penonton. Apa yang pertama kali menarik—komposisi, gestur, atau justru ketidaknyamanan? Jadikan itu sebagai pintu masuk, bukan kesimpulan.

Kelola Durasi, Bukan Sekadar Waktu. Bukan soal berapa lama Anda berdiri di depan karya, melainkan bagaimana waktu itu digunakan. Perhatikan bagaimana persepsi Anda bergeser dari detik ke menit—apa yang semula terasa dominan, lalu memudar, atau justru menguat?

Baca Struktur Visual. Lihat melampaui permukaan. Bagaimana relasi antara warna, ruang, ritme, dan material membangun logika internal karya? Apa yang disembunyikan, ditahan, atau sengaja dipecah oleh seniman?

Uji Konteks dan Referensi. Tempatkan karya dalam percakapan yang lebih luas—sejarah seni, lanskap sosial, atau praktik artistik sezamannya. Apakah ia mengafirmasi, menyimpang, atau justru mengganggu narasi yang sudah mapan?

Artikulasikan Tafsir. Refleksi tidak berhenti pada kesan personal. Uji pemaknaan Anda: sejauh mana ia dapat dipertanggungjawabkan? Diskusikan, tuliskan, atau bahkan perdebatkan. Karena pada akhirnya, pengalaman estetik yang kuat bukan hanya dirasakan—tetapi mampu dirumuskan dengan presisi.