22 Mei 2026
Memaknai Nasionalisme Kini: Antara Empati dan Relevansi
Text by Indah Ariani (photo DOC. Getty Images)
Apabila kita andaikan negara-negara di dunia dilingkupi dinding es sebagai batas wilayahnya, teknologi informasi digital serupa matahari yang panasnya, pelan tapi pasti, melelehkan dinding- dinding batas itu. Informasi sewaktu yang bisa diakses dari mana saja, berbagai aplikasi pertemuan yang bisa menjembatani jarak dan waktu, membuat batas- batas wilayah terasa mencair, memuai menjadi nisbi. Pertukaran berbagai budaya dan ideologi terjadi dengan deras yang dampaknya bisa meresap tanpa disadari. Seperti sebuah spons, masyarakat bisa menyerap apa saja yang tersedia di lini masa jejaring maya tanpa hambatan.
Kewarganegaraan saat ini barangkali baru terasa perlu dibicarakan saat mengurus paspor dan berbagai dokumen kependudukan. Selebihnya, kita merasa lebih keren bila disebut sebagai global citizen atau warga negara dunia. Di tengah perubahan ini, juga mencairnya batas- batas geopolitik negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, muncul pertanyaan besar tentang bagaimana nasionalisme dimaknai dan masihkah nasionalisme serta rasa kebangsaan menjadi sebuah pengikat yang relevan bagi Indonesia?
Untuk membicarakan hal tersebut, ELLE Indonesia mengajak tiga tokoh yakni Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Andi Widjajanto, Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Hilmar Farid dan aktris-musisi yang menjadi Juru Bicara Presidensi G20 Republik Indonesia, Maudy Ayunda, untuk urun pendapat melalui perspektif mereka.

photo DOC. Getty Images.
ESENSI NASIONALISME 4.0
Nasionalisme kebangsaan yang selama ini disesap dan mengikat Indonesia, sejatinya merupakan sebuah ide yang muncul jauh sebelum kemerdekaan bangsa berhasil diperjuangkan dan diproklamirkan pada 17 Agustus 1945. Di tengah perjuangan melawan penjajahan kolonial yang terjadi di banyak wilayah Hindia yang dilakukan secara terpisah dan cenderung bersifat primordial atau kedaerahan, cetusan tentang pentingnya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sebagai sebuah bangsa muncul dari sekumpulan pemuda Indonesia yang tengah menuntut ilmu di negeri Belanda.
Mereka bergabung dalam sebuah organisasi yang dinamai Perhimpoenan Indonesia, yang pada 1925 membuat Manifesto Politik untuk menyuarakan prinsip perjuangan yang meliputi persatuan, kesetaraan, dan kemerdekaan. Selain mendukung penuh perjuangan kemerdekaan, Perhimpoenan Indonesia yang didirikan pada 1922 itu merupakan perkumpulan pertama yang menggunakan kata Indonesia untuk mengganti kata Hindia yang merupakan nama yang digunakan penjajah untuk menyebut negeri kita. Namun seiring berjalannya waktu, tentu saja nasionalisme terus bermetamorfosis, berubah bentuk dan cara pemaknaan agar ia tetap relevan dengan zaman. Menurut Hilmar Farid, ada beragam nasionalisme di dunia ini yang berakar pada sejarah dan kebudayaan yang berbeda-beda. “Nasionalisme Indonesia dibentuk dalam perjuangan untuk keadilan sosial melawan kolonialisme. Ini tentu berbeda dengan nasionalisme di Eropa misalnya. Tingkat kedalaman rasa kebangsaan juga bervariasi dan berubah-ubah dari waktu ke waktu. Biasanya di masa krisis rasa kebangsaan itu menguat, seperti yang kita saksikan waktu 1998 dan seterusnya,” katanya.
Hilmar meyakini bahwa empati merupakan pengikat paling penting dalam nasionalisme. “Empati bisa tumbuh dan menguat karena bermacam hal dengan berbagai saluran sepanjang kita tak jadi lebih sibuk dengan saluran atau media daripada substansinya, yakni memperkuat empati sesama anak bangsa,” kata Hilmar. Pendapat Hilmar tentang empati ini, tampaknya selaras dengan apa yang dimaknai Maudy Ayunda dan generasi milenial tentang nasionalisme. Menurut Maudy, saat ini anak muda memaknai nasionalisme dengan cara lebih beragam. Bukan lagi sekadar mengikuti upacara bendera, kendati Maudy menganggap kegiatan ini tetap penting untuk mengajarkan tentang kedisiplinan dan mengingatkan pada kebanggan terhadap bendera dan lagu nasional, atau menghafalkan isi UUD45 serta Pancasila, namun melakukan langkah nyata untuk menjalani nasionalisme itu dengan hati. Dikatakannya, dari apa yang ia amati, generasi muda saat ini lebih memaknai nasionalisme sebagai aksi nyata yang memberi dampak positif yang lebih besar dan lebih luas bagi masyarakat. “Hal-hal yang bersifat simbolis patriotik, saat ini menjadi less relevant bagi anak muda memaknai nasionalisme bangsa. Saya adalah salah satu dari banyak generasi muda yang mengedepankan social impact. Jadi apa pun yang kami lakukan harus dapat memberi dampak yang lebih besar dan lebih luas. Bagi saya, nasionalisme adalah tentang menyadari peran kita untuk berkontribusi ke negara dan menyadari hak- hak yang perlu dipenuhi negara kepada kita sebagai warga negara,” katanya.

photo DOC. Getty Images.
Maudy percaya, ada banyak sekali anak muda yang punya cara sangat kreatif dalam memaknai sejarah dan romantisisme perjuangan kemerdekaan. “Mungkin sesederhana membuat dan mengunggah konten grafis yang sangat menarik tentang perjalanan dan perjuangan Jendral Sudirman yang mampu dimengerti oleh generasi saat ini. Mungkin juga membuat lagu atau film dengan ‘eksekusi’ kreatif yang mampu diterima oleh generasi muda atau on the next level, bikin NFT Ibu Kartini. Who knows? Lewat cara ini, anak muda jadi lebih paham sejarah. Tapi percayalah bahwa itulah cara anak muda masa kini memaknai arti nasionalisme,” cetusnya penuh keyakinan.
Menjadi relevan, menurut Hilmar, memang merupakan hal terpenting bagi nasionalisme untuk bisa ditakzimi oleh generasi yang berbeda di setiap zaman. “Kata kuncinya relevansi. Situasi sekarang tentu berbeda dengan awal abad 20 atau 1945. Ada banyak tantangan baru yang oleh pendahulu kita dulu belum terlihat tapi sekarang menjadi sangat serius, yaitu lingkungan hidup. Ini bukan hanya soal membuang sampah pada tempatnya, yang tentu saja sangat penting, tapi juga soal pengelolaan sumber daya bumi yang terbatas sehingga mencukupi bagi seluruh bangsa dan lestari bagi generasi mendatang. Itu yang ada di benak para pendahulu kita ketika memperjuangkan kemerdekaan,” ungkap Hilmar.
Hal lain yang menurut Andi Widjajanto tak bisa dinafikan dapat menjadi pengikat terkuat kesadaran berbangsa adalah pengalaman empiris berupa pergulatan bersama suatu bangsa untuk bersama-sama mencapai suatu tujuan nasional. Pengalaman empiris bagi Indonesia, direntangkan Andi antara masa awal pergerakan nasional pada 1908 hingga era reformasi pada 1998 dengan berbagai peristiwa penting yang menjadi tonggak yang menegakkan dan menata ulang kadar nasionalisme anak bangsa Indonesia. “Di era Reformasi, kita bersama-sama berkomitmen untuk melakukan proses konsolidasi demokrasi yang diyakini bisa membawa Indonesia sebagai salah satu negara ekonomi terkuat di dunia. Pergulatan empiris panjang ini membentuk kesadaran bersama tentang pentingnya ada rasa satu identitas sebagai bangsa yang dibutuhkan untuk bergerak bersama mencapai tujuan negara,” kata Andi. Lanjutnya, ia menganggap memori kolektif tentang tonggak-tonggak sejarah penting itu dapat membentuk kebanggaan nasional yang dapat menghasilkan satu bingkai sejarah yang memperkuat pemahaman sejarah tentang dimensi-dimensi perjuangan dan mempertebal rasa nasionalisme sebuah bangsa.

photo DOC. Getty Images.
BEREVOLUSI BERSAMA TEKNOLOGI
Perubahan geopolitik dan perkembangan teknologi yang tak terbendung, tentu bisa menjadi pisau bermata dua. Dengan cara yang benar, alih-alih menghancurkan, teknologi sebenarnya memiliki potensi besar menjadi perangkat utama merawat nasionalisme kita. Sergapan teknologi ini, dikatakan Hilmar Farid, tentu berpengaruh terhadap rasa kebangsaan meski tidak ada rumus yang baku. “Media sosial, misalnya bisa menjadi alat mobilisasi rasa kebangsaan, tapi pada saat bersamaan menjadi alat penyebaran kebudayaan pop dunia. Kalau melihat pengalaman Indonesia, arus deras informasi di awal abad 20 justru melahirkan gerakan nasionalis yang luar biasa hebat. Jadi masalahnya bukan pada arus informasi itu sendiri tapi kepentingan sosial serta daya cerna kebudayaan masyarakat bersangkutan,” Hilmar yang juga seorang sejarawan mengungkapkan.
Senada dengan Hilmar, Andi Widjajanto juga sepakat bahwa teknologi memiliki pengaruh yang signifikan dalam perkembangan dan pemaknaan nasionalisme bagi sebuah bangsa. Menurut Andi, nasionalisme amat terkait dengan identitas masyarakat sebagai suatu bangsa. “Identitas bersama ini dibentuk berdasarkan pengalaman sejarah tentang pembentukan negara-bangsa yang akan terus berevolusi mengikuti perjalanan ke depan untuk mewujudkan cita-cita bersama,” katanya.
Maudy memberi dua contoh aksi konkret generasi muda tentang bagaimana teknologi membantu memperkokoh nasionalisme. “Kolaborasi, misalnya, salah satu langkah yang menurut saya keren banget. Banyak anak muda yang berkolaborasi dengan melakukan aksi nyata untuk menemukan solusi-solusi dari masalah yang ada di sekitar mereka. Hal ini merupakan bentuk nasionalisme yang dijalani sesungguhnya oleh anak muda. Contoh lainnya; Indonesia saat ini sedang memegang Presidensi G20 Indonesia, dan salah satu engagement group yang selalu ada dalam kegiatan G20 adalah Youth20. Ada banyak sekali anak muda yang tertarik dan bersemangat menjadi bagian dari acara besar ini, baik sebagai delegasi maupun penyelenggara. Bahkan di era digital sekarang ini, pertukaran budaya bisa terjadi di media sosial maupun platform-platform digital lainnya, in some ways, hal ini juga merupakan bentuk nasionalisme yang mengikuti perkembangan zaman,” katanya.
Nasionalisme pasti berevolusi dan beradaptasi dengan dinamika politik yang ada. Nasionalisme tidak statis. Arus informasi yang masuk justru bisa memperkuat nasionalisme jika kita menggunakannya untuk memperkaya substansi kebangsaan kita. Arus informasi yang bergerak lebih bebas dan deras karena perkembangan teknologi informasi sangat bisa kita manfaatkan untuk menebar algoritma kebangsaan kita di semua ruang digital yang tersedia. Perkembangan teknologi kecerdasaan buatan dapat kita optimalkan untuk memastikan agar nilai-nilai kebangsaan kita hadir di kanal-kanal media sosial dalam bentuk- bentuk yang lebih interaktif yang disesuaikan dengan budaya populer yang sedang berkembang.
Dalam evolusi tersebut, dikatakan Andi, teknologi selalu memainkan peranan penting. “Pembangunan identitas bersama dulu diperkuat melalui pengembangan teknologi komunikasi seperti jaringan kabel telegraf, telepon, siaran radio, siaran televisi, hingga perkembangan jaringan satelit komunikasi. Saat ini, penguatan identitas kebangsaan juga bisa terjadi karena perkembangan teknologi digital seperti kanal media sosial, algoritma maha data, maupun kecerdasan buatan. Teknologi sebaiknya dilihat sebagai alat untuk memperkuat nasionalisme. Penguatan nasionalisme bisa sejalan dengan perkembangan teknologi terkini,” ujar Andi.
Hal ini tentu saja menjadi sebuah kabar yang menggembirakan sebab kekhawatiran akan memudarnya nasionalisme bangsa karena tersapu perkembangan zaman dan teknologi menjadi tak perlu lagi. Sebab nasionalisme, akan selalu hidup dan bisa menjadi pengikat rasa kebangsaan selama kita mau bersama-sama merawat, meremajakan, dan membuatnya tetap relevan.