LIFE

22 April 2026

Fenomena Eco-Anxiety: Ketika Kepedulian terhadap Lingkungan Jadi Tantangan bagi Kesehatan Mental


Fenomena Eco-Anxiety: Ketika Kepedulian terhadap Lingkungan Jadi Tantangan bagi Kesehatan Mental

Text by Hermawan Kurnianto (Lineisy Montero (Next Models) photography by Alexander Saladrigas for ELLE Indonesia March 2026; styling Jenny Kennedy)

Hal apa yang kerap menggelayuti pikiran Anda saat merebahkan diri di tempat tidur sebelum terlelap? Jika jawabannya berkisar pada pekerjaan yang tak kunjung usai, kondisi keuangan yang terasa lebih besar pasak daripada tiang, hubungan yang tampak baik-baik saja tetapi menyisakan ganjalan; itu masih tergolong lumrah.

Namun, Anda mungkin termasuk “one of a kind” bila yang membuat Anda sulit tidur adalah kekhawatiran tentang Bumi yang kita tinggali: kerusakan lingkungan, krisis iklim, dan bencana alam akibat ulah manusia. Ketika membaca laporan tentang penebangan dan konversi hutan yang berkontribusi terhadap banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera pada akhir 2025, Anda bereaksi hingga panik dan mengeluarkan keringat dingin. Saat membeli makanan atau minuman dan pilihan kemasan plastik semata, Anda diliputi rasa bersalah yang mendalam. Ketika berselancar di media sosial dan menemukan berita tentang pencairan es di Kutub Utara yang kian cepat, Anda dihantui ketakutan yang intens.

Jika gejala-gejala tersebut sering atau selalu Anda alami, bisa jadi Anda mengalami apa yang disebut sebagai eco-anxiety. Secara singkat, eco-anxiety adalah kecemasan berlebih sebagai respons terhadap kondisi perubahan lingkungan dan krisis iklim. Menurut American Psychiatric Association (APA), eco-anxiety digambarkan sebagai ketakutan kronis akan malapetaka lingkungan yang akan datang.

Apakah ini bentuk kepekaan dan kepedulian yang melampaui rata-rata? Atau justru varian kecemasan yang perlu dikelola secara serius?

Lily Jane Dale (Freedom Models LA) photography by Sam Spence for ELLE Indonesia April 2023; styling Karolina Frechowicz).

KENALI GEJALA ECO-ANXIETY

Meski krisis iklim dan kerusakan lingkungan berdampak pada kesehatan mental, eco-anxiety belum diklasifikasikan sebagai gangguan mental dalam pedoman Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition. Karena itu, para profesional kesehatan mental umumnya tidak menganggapnya sebagai kondisi medis yang dapat didiagnosis secara formal. Namun, dampaknya tetap nyata.

Survei yang dilakukan oleh Yale University dan George Mason University pada 2018 menunjukkan sekitar 70% responden di Amerika Serikat merasa khawatir terhadap perubahan iklim dan 51% merasa tidak berdaya menghadapi situasi tersebut. Eco-anxiety juga menjangkiti generasi muda. Banyak anak muda merasa cemas karena masa depan Bumi dianggap tidak pasti, serta khawatir krisis ini tidak cukup menggugah kesadaran kolektif untuk mencegah dampak yang lebih buruk. Penelitian berjudul Concern about the Future: Climate Change Perception Predicts Eco-Anxiety Among Young Generations in Indonesia (2025) oleh Ardianto, B.T., Adiwena, B.Y., dan Siswanto terhadap 165 responden muda di Indonesia menemukan bahwa semakin tinggi kesadaran seseorang terhadap krisis iklim, semakin tinggi pula tingkat kecemasannya terhadap kondisi lingkungan.

Beberapa faktor yang dapat memicu eco-anxiety antara lain:

1.) Trauma Akibat Bencana Alam. Mereka yang pernah mengalami banjir, tanah longsor, atau gempa bumi secara langsung berpotensi mengalami trauma berkepanjangan, serupa dengan gangguan stres pascatrauma. Dunia terasa tidak lagi aman, dan cara pandang terhadap masa depan berubah.

2.) Tinggal di Wilayah Terdampak Perubahan Lingkungan. Kekeringan, krisis air bersih, atau penurunan kualitas lingkungan secara bertahap juga dapat memengaruhi kesehatan mental masyarakat yang mengalaminya.

3.) Konsumsi Informasi Tentang Krisis Iklim. Paparan berita dan konten mengenai perubahan lingkungan memang meningkatkan kesadaran. Namun, jika memicu kecemasan berlarut-larut yang mengganggu fungsi sehari-hari, kondisi ini perlu diwaspadai.

Studi kualitatif tahun 2022 yang dipublikasikan di International Journal of Environmental Research and Public Health mengidentifikasi enam gejala utama eco-anxiety:

1.) Kekhawatiran terhadap masa depan dan generasi berikutnya.

2.) Empati yang berkembang menjadi “penderitaan sekunder”, yakni merasakan emosi negatif akibat menyaksikan orang lain terdampak krisis lingkungan.

3.) Konflik dengan keluarga atau teman akibat perbedaan sikap terhadap isu iklim.

4.) Distres akibat perubahan kondisi lingkungan yang dapat memicu gejala fisik seperti serangan panik.

5.) Gangguan kecemasan atau gangguan suasana hati.

  • 6.) Rasa tidak berdaya dan frustrasi menghadapi besarnya tantangan ekologis.

Alicia Tubilewicz (IMG Models) photography by Valentina Quijada for ELLE Indonesia August 2021; styling Francesca Lopresti; makeup & hair Madeline Rouge.

EFEK ECO GENDER GAP

Dimensi lain dari eco-anxiety adalah kesenjangan gender dalam praktik hidup berkelanjutan. Menurut Jack Duckett, Senior Consumer Lifestyle Analyst di badan intelijen pasar terkemuka di dunia, Mintel, perempuan masih menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik dibandingkan laki-laki. Hal ini membuat perempuan lebih terlibat dalam pengambilan keputusan terkait konsumsi rumah tangga, termasuk pilihan produk yang berkelanjutan.

Dalam konteks sosial, perempuan dibesarkan dan diajarkan untuk memiliki kepedulian tinggi, lebih bertanggung jawab, dan merawat berbagai hal. Di luar dari job description perempuan dalam rumah tangga, mulai dari mengurus rumah, anak, hingga masa depan keluarga, perempuan ternyata juga mengemban tanggung jawab untuk mengatasi tantangan ekologi. Inilah sebuah fenomena yang disebut dengan eco gender gap, yang menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki tingkat komitmen yang berbeda dalam pengelolaan lingkungan. Laki-laki menunjukkan antusiasme yang lebih rendah terhadap praktik-praktik berkelanjutan. Sementara perempuan lebih cenderung melakukan beragam tindakan yang sadar lingkungan.

Istilah eco gender gap sendiri mengacu pada sebuah penelitian yang dilakukan Mintel pada tahun 2018. Dari hasil penelitian, terungkap bahwa 71% perempuan berusaha untuk hidup lebih etis dibandingkan dengan 59% laki-laki. Selain itu, 65% perempuan mendorong teman dan keluarga mereka untuk menjalani gaya hidup lebih ramah lingkungan, dibandingkan 59% laki-laki yang melakukan hal serupa.

Hedvig Palm & Ty Olson (Next) photography by Alessandro Burzigotti for ELLE April 2023; styling Micaela Sessa; makeup Giovanni Iovine; hair Simone Prusso.

Dalam keseharian, seperti sudah menjadi kelaziman bahwa perempuan akan lebih peduli dengan aksi-aksi yang berkontribusi positif terhadap lingkungan, seperti pemakaian air yang lebih bijak, memilah sampah berdasarkan materialnya (plastik, kertas, dan lainnya), dan berbelanja dengan memilih produk-produk yang ramah lingkungan.

Dengan fakta-fakta tersebut, tidak mengherankan apabila ada lebih banyak perempuan yang mengalami eco-anxiety ketimbang laki-laki. Sebuah survei yang dilakukan Women’s Forum for the Economy & Society terhadap hampir 10.000 responden di negara-negara G20 menemukan bahwa perempuan lebih khawatir terhadap dampak perubahan iklim bagi generasi mendatang. Ini secara tidak langsung memaksa perempuan untuk mengurangi penggunaan air, mengurangi konsumsi daging, dan melakukan daur ulang.

Di Indonesia, penelitian Variasi eco-anxiety Pada Masyarakat Pesisir: Berdasarkan Usia dan Gender (2025) oleh Indah Luthfiyah Kasim dan Amalia Kahar dari Universitas Khairun di Ternate, menunjukkan bahwa mayoritas responden perempuan (78,6%) memiliki skor eco-anxiety rata-rata lebih tinggi dibandingkan laki-laki, dari seluruh 117 responden. Berdasarkan usia, skor tertinggi terdapat pada kelompok usia 41-55 tahun, diikuti kelompok usia 21-30 tahun. Hal ini memperlihatkan bahwa perempuan dan kelompok usia 40-an ke atas cenderung memiliki tingkat eco-anxiety lebih tinggi. Faktor-faktor yang berpengaruh adalah tingkat paparan informasi isu lingkungan, kesadaran terhadap perubahan iklim, dan tanggung jawab sosial yang lebih besar pada kelompok tersebut.

Soal kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam menyikapi isu lingkungan, Aaron Brough dan rekannya mengaitkan hal ini dengan stereotipe maskulinitas, dalam penelitian Is Eco-Friendly Unmanly? The Green-Feminine Stereotype and Its Effect on Consumption (2016). Perilaku ramah lingkungan sering diasosiasikan dengan feminitas, sehingga sebagian laki-laki menghindarinya demi mempertahankan citra maskulin. Stereotipe yang diyakini, konsumen ramah lingkungan adalah mereka yang memiliki sikap feminin. Menurut penelitian tersebut, laki-laki merasa bahwa kepedulian terhadap lingkungan akan melukai maskulinitas mereka.

Lineisy Montero (Next Models) photography by Alexander Saladrigas for ELLE Indonesia March 2026; styling Jenny Kennedy

PEDULI LINGKUNGAN, PEDULI DIRI SENDIRI

Di tengah derasnya kabar tentang krisis iklim dan kerusakan lingkungan, mereka yang memiliki tingkat eco-anxiety tinggi rentan merasa tertekan, lelah, bahkan apatis. Mereka terjebak antara keinginan untuk terus peduli pada Bumi dan kebutuhan untuk menjaga kewarasan diri.

Beberapa langkah berikut dapat membantu agar kepedulian terhadap lingkungan tetap terjaga, tetapi tidak menggerus kewarasan:

1.) Kelola emosi dengan sadar. Semua emosi valid, tetapi perlu diarahkan agar tidak melumpuhkan. Jadikan kecemasan sebagai energi untuk bertindak.

2.) Berfokus pada yang bisa dikendalikan. Tindakan kecil yang konsisten lebih berdampak daripada memikirkan persoalan global yang berada di luar kuasa pribadi.

3.) Hindari perfeksionisme. Hidup berkelanjutan adalah proses, bukan perlombaan menuju kesempurnaan. Meski bersifat kecil dan sederhana yang ada di sekitar, tetapi bisa berdampak positif apabila dilakukan secara rutin dan konsisten. Ini lebih baik ketimbang berkutat pada hal-hal besar yang berada di luar kuasa, misalnya mengurangi emisi karbon yang disumbangkan oleh industri.

4.) Batasi paparan informasi. Tetap terinformasi, tetapi konsumsi berita secara proporsional agar tidak kewalahan.

5.) Bangun komunitas. Terhubung dengan orang-orang yang memiliki kepedulian serupa dapat mengurangi rasa kesepian.

6.) Cari bantuan profesional bila diperlukan. Jika kecemasan mulai mengganggu fungsi sehari-hari, konsultasi dengan psikolog atau psikiater adalah langkah bijak.

Bumi kian rapuh. Kita pun bisa merasa rapuh. Namun, kepedulian—sekecil apa pun—tetap berarti. Menjaga Bumi tidak harus mengorbankan kesehatan mental. Kita bisa merawat keduanya, bersamaan.