31 Maret 2026
Apakah Usia Semata Hitungan Linear Waktu, atau Justru Konstruksi yang Dibentuk Kondisi Fisik, Mental dan Sosial?
Belakangan, media sosial diramaikan oleh kutipan para ahli yang menyebutkan bahwa orang-orang yang lahir antara tahun 1985 hingga 1995 terlihat lebih muda dibandingkan Gen Z. Bagi Anda yang tahun lahirnya masuk rentang tersebut, sah-sah saja jika refleksi ini disambut dengan senyum-senyum kecil di depan cermin.
Meski secara usia lebih tua, banyak Milenial justru menampilkan rupa yang lebih muda dibandingkan generasi setelahnya. Fenomena ini dikaitkan dengan kombinasi berbagai faktor; gaya hidup, genetik, serta pengaruh kultural, termasuk penggunaan skincare, pola makan, dan kebiasaan sehari-hari. Dibandingkan Gen X, Milenial dikenal lebih konsisten dalam menerapkan gaya hidup sehat dan perawatan diri. Hasilnya, mereka tampak lebih segar dan vibrant ketimbang usia biologisnya.
Namun euforia ini tetap perlu ditempatkan dalam konteks. Silakan kalau Anda sekarang ingin memekik penuh kemenangan. Milenial yang lahir pada 1986 dan 1996, akan memasuki usia ke-40 dan ke-30 pada 2026. Angka yang, bagi sebagian orang, masih kerap diasosiasikan dengan fase “menurun”. Di sinilah frasa “age is just a number” kembali diagungkan sebagai sebuah cara pandang. Apakah usia semata hanya hitungan linear waktu, atau justru konstruksi yang dibentuk oleh kondisi fisik, mental dan sosial? Pertanyaan inilah yang membuka diskusi lebih luas tentang bagaimana Milenial memaknai proses menua.
Anne Hathaway (photo via Instagram.com/@hungvanngo) |
Emily Blunt (photo via Instagram.com/@emilybluntoff) |
MELAWAN STEREOTIPE
Milenial adalah generasi yang terlahir antara tahun 1981 hingga 1996. Sebagian di antaranya sedang menuju atau sudah berada di dekade keempat dalam hidup alias usia 40, dan mereka menjalaninya dengan melawan ekspektasi dan stereotipe yang kerap diasosiasikan dengan midlife atau usia paruh baya. Tidak seperti generasi sebelumnya yang memandang usia 40 sebagai titik penurunan berbagai aspek dalam hidup yang berefek mencemaskan, milenial merangkul sang kepala empat dengan optimisme. Mereka meredefi nisikan makna menjadi seseorang di usia 40 dari sisi penampilan fi sik, keluarga, karier, dan pencapaian personal. Milenial berupaya mengoptimalkan segala kemajuan yang terjadi di bidang kecantikan dan wellness, serta menyalakan pola pikir yang dipenuhi semangat perbaikan diri.
Ketika Anne Hathaway berperan sebagai ibu berusia 40 tahun dalam film The Idea of You (2024), sempat ada perdebatan di ranah maya. Sebagian orang berkomentar bahwa Hathaway terlihat seperti gadis remaja dan terlalu muda untuk karakter tersebut. Padahal, saat film itu dirilis, Hathaway yang kelahiran 1982 memang sudah berumur 40-an.

Mariacarla Boscono starring Gucci 2025 Valentine campaign. (photo DOC. Gucci)
Bagi Milenial, cara pandang terhadap penuaan bergeser dari persepsi tradisional, sehingga frasa age is just a number tidak dimaknai sebagai bentuk penyangkalan atau sekadar penghiburan diri. Jean Twenge, profesor psikologi di San Diego State University, menilai bahwa gagasan “40 is the new 30” memiliki dasar yang relevan. Banyak Milenial memandang usia 40 bukan lagi sebagai titik balik krusial dalam hidup, melainkan bagian dari fase yang tetap produktif. Pandangan ini, menurut Anne Barrett, profesor sosiologi di Florida State University, berangkat dari antisipasi terhadap rentang hidup yang lebih panjang dan masa depan dengan kondisi kesehatan yang lebih baik.
Twenge mengungkapkan bahwa Milenial menggeser standar konvensional tentang kemapanan yang dibentuk oleh generasi-generasi sebelumnya. Ketika mendengar usia 40, sudah menjadi kelaziman kalau kita membayangkan seseorang yang kehidupannya sudah mapan dari berbagai sisi; sudah menikah lama, karier yang menjulang, anak-anak yang sudah dewasa, aset pribadi yang memadai berupa rumah, mobil, dan bentuk kekayaan lainnya. Menurut data yang dikeluarkan Census, di tahun 1960, rata-rata usia perempuan Amerika yang menikah adalah di awal 20 tahun, sementara saat ini berada di usia 28 tahun. Laporan yang dirilis oleh Pew pada 2023 membeberkan bahwa 25% perempuan berusia 40 tahun tidak pernah menikah. Milenial juga menaruh perhatian besar terhadap penampilan mereka, yang didukung oleh sikap lebih terbuka terhadap intervensi kecantikan. David Kim, seorang dermatolog di New York menyebut Milenial sebagai “generasi Kardashian”, yaitu generasi pertama yang menjadi saksi kehebatan perawatan tubuh yang digaungkan melalui influencer seperti Kim dan Khloé Kardashian. Dalam menghadapi pertambahan usia, David mencatat adanya peningkatan signifi kan dalam minat terhadap perawatan kosmetik, termasuk laser, botox, dan fi ller. Menurutnya, keterbukaan Milenial terhadap berbagai bentuk perawatan tubuh berkontribusi pada tampilan yang tetap terlihat ageless di usia 40-an. Pendekatan Milenial terhadap proses penuaan mencerminkan sikap yang lebih positif terhadap diri sendiri. David menilai bahwa Milenial tampil lebih bahagia, segar, dan cerah, serta menunjukkan tingkat kenyamanan yang tinggi terhadap kondisi tubuh mereka. Menurutnya, mereka cenderung jarang mengeluhkan aspek penampilan seperti rambut, kulit, atau gigi, dan lebih menikmati diri mereka apa adanya.
Demi Moore (photo via Instagram.com/@demimoore) |
Michelle Yeoh (photo via Instagram.com/@michelleyeoh_official) |
Sebagai generasi pertama yang mengalami pesatnya perkembangan internet, Milenial banyak bergantung pada informasi yang tersebar di berbagai media daring dan media sosial. Pada 2025, 84% Milenial mengungkapkan bahwa user-generated content memengaruhi mereka dalam hal keputusan pembelian produk kecantikan, menurut fi rma konsultasi strategi brand DCDX.
Masih dalam konteks penampilan, kebutuhan Milenial untuk mengekspresikan diri turut membentuk cara pandang mereka terhadap fashion. Salah satu manifestasinya adalah istilah millennial pink, yang diperkenalkan oleh Fashion Features Director ELLE, Véronique Hyland, sebagai penanda generasi perempuan profesional. Dalam analisisnya, Hyland melihat bahwa di era girl boss, pilihan mengenakan suit berwarna pink pucat bukan sekadar soal estetika, melainkan strategi visual yang disengaja. Warna tersebut menjadi cara menghadirkan feminitas ke dalam struktur kekuasaan yang didominasi laki-laki, sehingga memungkinkan perempuan melebur ke dalam sistem tanpa harus menanggalkan identitas dirinya. (Sumber: Millennials Are Changing What 40 Looks Like, elle.com)
Di sisi lain, Milenial merupakan generasi yang dibesarkan dengan harapan, yang telah melalui masa peralihan ke milenium baru (Y2K, anyone?). Milenial cenderung lebih optimis dan memiliki harapan lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya di usia yang sama. Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh Deloitte, lebih dari 50% Milenial mengatakan bahwa mereka merasa optimis dalam hal kemampuan untuk menciptakan perubahan positif di sekeliling mereka, seperti meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental dan akses terhadap pendidikan.
Mariana Renata (photography by Ryan Tandya, via Instagram.com/@marianardantec) |
Gemma Chan (photo via Instagram.com/@gemmachan) |
BERBEDA DALAM MENUA
Di awal tulisan ini, ada paradoks yang terjadi dengan membandingkan milenial dan Gen Z dari segi tampilan fisik. Tanpa bermaksud membenturkan satu generasi dengan generasi lainnya dan mencari “pemenangnya”, mengetahui perbedaan persepsi lintas generasi justru memperkaya insight. Sebuah survei diadakan oleh EduBirdie, dengan melibatkan 2.000 orang yang terdiri dari Milenial dan Gen Z. Menggali perspektif mereka terhadap ketakutan yang terkait dengan usia, tujuan masa depan, dan keyakinan apakah masa keemasan mereka telah lewat. Hasilnya adalah temuan menarik yang menggambarkan pandangan berbeda dari tiap generasi terhadap beragam topik.
Tentang “Di usia berapa seseorang dianggap sudah tua?”, untuk usia 35 dan 40 tahun, hasilnya adalah dari Milenial masing-masing 7% dan 20%, sementara dari Gen Z masing-masing 13% dan 26%. Soal apa yang membuat mereka cemas seiring pertambahan usia, 62% Milenial mengkhawatirkan kesehatan mereka, sedangkan 49% Gen Z merasa belum meraih banyak pencapaian. Mengenai apakah usia memengaruhi daya tarik seseorang, 44% Milenial dan 33% Gen Z menganggap bahwa penuaan bukanlah hal yang membuat seseorang tidak lagi menarik.

Jennifer Aniston & Courtney Cox. (photo via Instagram.com/@jenniferaniston)
Apa yang dianggap sebagai sesuatu yang norak dan memalukan untuk dilakukan oleh orang berusia 30-an? 49% Milenial menjawab, orang yang masih tinggal dengan orangtua, sementara menurut 47% Gen Z, orang yang masih terus berpesta setiap akhir pekan. Untuk pertanyaan “Apa yang akan dilakukan untuk tetap terlihat muda?”, 54% milenial dan 57% Gen Z menjawab “Skincare, fitnes, dan makanan sehat”. Kemudian, tentang hal yang dianggap sudah terlambat untuk dikejar, 33% Milenial menjawab “Banting setir dalam karier”, sedangkan 38% Gen Z menjawab “menjadi terkenal”.
Pertanyaan “Apa yang membuat mereka tertekan untuk meraihnya sebelum usia 35 tahun?” Jawaban terbanyak ialah “Membeli rumah”, berdasarkan 53% Milenial dan 60% Gen Z. Menariknya, baik Milenial dan Gen Z sama-sama memiliki optimisme tinggi. 70% Milenial dan 76% Gen Z meyakini bahwa masa-masa terbaik menanti mereka di depan.
MENUA BAHAGIA

Nicky & Paris Hilton (photo via Instagram.com/@parishilton)
Bagaimanapun juga, sampai kapan pun, terlepas dari apa pun yang Anda sudah perjuangkan, tubuh kita secara fisik akan mengalami penuaan (kecuali kalau Anda mengidap anomali seperti yang dialami oleh Brad Pitt di film The Curious Case of Benjamin Button). Kacamata sudah beralih ke tipe progresif, muncul kerutan di wajah, uban mulai bertebaran, metabolisme tubuh sudah tidak lagi seperti di masa muda, hasil medical check-up yang mungkin menyingkap fakta yang bikin overthinking. Kita tidak bisa menyangkal bahwa tubuh memiliki waktu biologis yang menyampaikan kondisi, pesan, dan peringatan. Tentu ada perbedaan signifikan dalam konteks fisik dan kapabilitas tubuh antara Anda dalam versi sweet seventeen, pertengahan 20-an, hingga mengisi kolom usia dengan diawali angka 4.
“Age is just a number” akan lebih tepat ditempatkan dalam koridor pemaknaan akan pentingnya pola pikir positif dan gaya hidup sehat terlepas berapa pun usia Anda. Terus menjaga agar tubuh dan pikiran tetap aktif sepanjang hayat berpengaruh penting terhadap kesehatan dan wellbeing.
Aktivitas fisik secara rutin, mulai dari berjalan, berenang, yoga, bersepeda, berlari tidak hanya berfungsi untuk menjaga berat badan dan meningkatkan kesehatan, tetapi juga berdampak positif terhadap kesehatan mental, dengan mengurangi risiko depresi dan kecemasan. Ini akan lebih optimal apabila dilengkapi dengan konsumsi makanan sehat dan berimbang yang menyuplai beragam nutrisi untuk tubuh. Jangan lupakan juga aktivitas untuk pikiran yang lebih sehat, seperti membaca, bersosialisasi, belajar keterampilan baru, yang dapat membantu menjaga fungsi kognitif dan kesehatan emosional. Selain itu, yang juga fundamental untuk kesehatan secara holistik adalah tidur yang cukup, pengelolaan stres, dan tetap terhidrasi.
Mungkin, “age is just a number” perlu diperbarui menjadi “age is not just a number—it’s beyond”.





