21 Maret 2025
Di Balik Estetika Chic Rona Putih dan Perak ala Prancis yang Menggurat Pernikahan Shenina Cinnamon & Angga Yunanda Di Bali

photography by Govinda Rumi (We Are Graf) for ELLE Bride Indonesia 2025

photography by Govinda Rumi (We Are Graf) for ELLE Bride Indonesia 2025

photography by Govinda Rumi (We Are Graf) for ELLE Bride Indonesia 2025

photography by Govinda Rumi (We Are Graf) for ELLE Bride Indonesia 2025

photography by Govinda Rumi (We Are Graf) for ELLE Bride Indonesia 2025






photography by Govinda Rumi (We Are Graf) for ELLE Bride Indonesia 2025



photography by Govinda Rumi (We Are Graf) for ELLE Bride Indonesia 2025

photography by Govinda Rumi (We Are Graf) for ELLE Bride Indonesia 2025

photography by Govinda Rumi (We Are Graf) for ELLE Bride Indonesia 2025

photography by Govinda Rumi (We Are Graf) for ELLE Bride Indonesia 2025




photography by Govinda Rumi (We Are Graf) for ELLE Bride Indonesia 2025
Shenina Cinnamon dan Angga Yunanda berkenalan untuk pertama kalinya di ajang Festival Film Indonesia. Kala itu, tahun 2019, keduanya datang terpisah memenuhi undangan perseorangan sekaligus membawa prestise karya sinema masing-masing. Shenina tengah dalam rangkaian publikasi film Ratu Ilmu Hitam; sementara Angga mengawal perayaan film Dua Garis Biru yang meraih 12 kategori nominasi (dan memenangkan dua Piala Citra di antaranya). “Saya sangat mengagumi performa Angga sebagai aktor. Menurut saya, tidak banyak aktor yang mampu bermain karakter dengan muatan emosional yang begitu berat. Jadi, ketika akhirnya bertemu langsung, saya secara spontan memuji penampilan aktingnya; persis seperti seorang penggemar!” Shenina mengenang momen interaksi awalnya dengan sang pujaan hati—yang pada tahun tersebut merupakan salah satu nomine Pemeran Utama Pria Terbaik.
Tidak jauh berbeda dengannya, Angga pun ternyata telah lama memerhatikan sosok Shenina melalui presensinya di layar sinema. “Saya tidak seperti dia yang bisa berkata-kata eksplisit menyatakan kekaguman. Jadi saya ingat hanya tersenyum membatin, ‘Oh, ini Shenina’,” Angga mengenang, “Malam hari itu pun kami tidak punya kesempatan mengobrol lebih dari sebatas berkenalan. Kami baru benar-benar menjadi akrab ketika terlibat dalam satu proyek film yang sama.”
photography by Ifan Hartanto for ELLE Bride Indonesia 2025; styling Ismelya Muntu; gown Monica Ivena; makeup Ryan Ogilvy; hair Ichanna.
Selama syuting film (Di Bawah Umur) itu, rasa ketertarikan di antara mereka meletup secara magis. Bagaikan dua kutub yang saling tarik-menarik, “Tahu-tahu tanpa sadar kami selalu mencari satu sama lain dan menghabiskan waktu berdua,” ungkap keduanya. Padahal, pribadi Angga sebenarnya cukup pendiam; ia tidak terbiasa menginisiasi sebuah interaksi, apalagi cenderung bersikap “sok akrab”. “Tapi entah bagaimana saya bisa tidak malu-malu bersikap kepadanya,” kata Angga. Cinta lokasi? Mungkin begitu. Namun asalnya perasaan yang mengikat keduanya secara organik sebenarnya tumbuh jauh lebih kuat daripada yang mereka sadari.
Demi kebutuhan backstory adegan film, Shenina dan Angga secara kompak bersedia menjalankan adegan balik layar yang bahkan tidak terekam kamera. “Kalau tidak dengan Angga saat itu, barangkali saya akan merasa tidak nyaman. Saya benar-benar gugup kala itu, sehingga kalau dipikir-pikir lagi rasanya tidak mungkin saya merasa sebegitu gugup melakukannya apabila tidak ada perasaan lebih (di luar tuntutan peran),” ungkap Shenina. Kala itu, dikisahkan karakter yang diperankan oleh Angga membutuhkan tanda kecupan di wajahnya, dan Shenina bersedia membantu sebagaimana keperluan alur cerita. Kendati adegan ‘romantis’ mereka tidak pernah terlihat di layar sinema, memorinya tetap abadi dalam sebuah rekaman video yang diambil oleh Angga secara diam-diam menggunakan ponselnya—untuk alasan yang, ternyata, sama dengan Shenina. “Saya sudah menyukainya saat itu,” aku Angga. Senyum merona di wajahnya. Rekaman itu—yang masih ia simpan sampai sekarang—bukan sekadar dokumentasi memori, melainkan bagian jejak monumental atas perjalanan romansa mereka selanjutnya.
photography by Ifan Hartanto for ELLE Bride Indonesia 2025; styling Ismelya Muntu; gown Yogie Pratama; suit Agus Lim; makeup Ryan Ogilvy; hair Ichanna.
Empat tahun berpacaran, Angga menyatakan komitmen seriusnya melamar Shenina pada bulan Agustus 2024 di Bali. “Bali telah menyimpan banyak kenangan, sehingga menjadi tempat yang istimewa bagi kami,” Angga berujar, “Saya tidak bisa memikirkan tempat yang lebih tepat selain Bali.” Kala itu tanggal 16, ia mengajak sang kekasih melakukan perjalanan singkat—hanya satu hari—ke Pulau Dewata di tengah jeda agenda pekerjaan masing-masing. Saat langit mulai gelap gemerlapan bintang-bintang, keduanya berjalan-jalan menapaki pantai berpasir. Sebuah perjalanan yang meneteskan air mata bahagia Shenina.
“Pernikahan sudah lama mengisi topik percakapan kami sehari-hari. Bahkan, secara lugas saya mengutarakan permintaan khusus akan desain cincin tunangan kami—yang jadi impian saya, hahaha,” Shenina bercerita, “Walau begitu, saya sangat terkejut ketika akhirnya benar-benar melihat ia berlutut satu kaki memegang cincin itu, dan melamar. Saya sempat terkulai lemas sesaat sebelum mengiyakan lamarannya.” Angga melamar dengan cincin emas putih bertatah berlian berpotongan oval. Tidak ada bunga, rangkaian lilin, ataupun set berdekorsi semarak yang sengaja ditata untuk menciptakan atmosfer romantis. “Momen itu benar-benar hanya milik kami berdua, dan karenanya jadi sempurna,” ujarnya.
Tak ada ruang untuk keraguan dalam hati kedua sejoli manakala menerima satu sama lain masuk dalam kehidupan pribadi mereka. Bagi Shenina, sikap lembut dan gentleman sang kekasih berhasil menaklukan standarnya akan figur lakilaki idaman yang selama hidupnya dimanifestasi oleh sang ayah. Sementara di mata Angga, Shenina adalah satu-satunya sosok yang ia dambakan untuk tumbuh bersama hingga hari tua. Di atas segalanya, saat Anda menemukan orang yang tepat, konon Anda hanya akan mengetahuinya begitu saja—kadang tanpa perlu rangkaian penjelasan atas alasan. “Dalam beberapa hal, saya bisa merasakan bahwa Angga adalah versi laki-laki Shenina. Pikiran dan gerak kami seperti linier,” ujar perempuan kelahiran 1 Februari 1999 itu. Paralelisme karakter yang dijabarkan Shenina termasuk dalam hal merancang pernikahan. “Kami sama-sama menginginkan pernikahan intimate,” kata mereka kompak.
Butuh waktu kurang lebih satu tahun untuk Angga dan Shenina merencanakan pernikahan impian. “Sedari awal, kami telah menetapkan visi yang jelas,” Shenina berkisah memaknai hari bahagianya, “Pernikahan bukan sekadar pesta, tetapi selebrasi cinta di mana kami ingin dikelilingi oleh orang-orang tercinta dan yang juga mencintai kami.” Selain keluarga, 40 tamu undangan yang terdiri atas para sahabat turut menambah warna bagi kebahagiaan pasangan.
photography by Govinda Rumi (We Are Graf) for ELLE Bride Indonesia 2025.
Mereka pun kembali ke Bali—tempat yang penuh memori—untuk melangsungkan pernikahan pada 10 Februari 2025—selang empat bulan setelah bertunangan secara resmi di hadapan keluarga besar. “Februari merupakan bulan yang spesial buat kami. Banyak perayaan, dan momen penuh makna terjadi di bulan Februari. Salah satunya, kami resmi berpacaran di tanggal 10 Februari,” kata Angga. Dan mereka memutuskan bahwasanya tak ada yang lebih romantis dari merayakan romansa tahun kelima dengan membangun rumah tangga secara sah.
Pada hari itu, hujan mengguyur kawasan Pecatu yang menaungi perayaan cinta Angga dan Shenina. Calon pengantin, yang telah bersiap sejak sebelum matahari terbit untuk gelaran akad, tampak tenang (terlepas dari hati yang berdebar hebat menanti akad, itu adalah cerita yang berbeda). Alih-alih mencurangi alam, keduanya memilih untuk menghargai setiap momen dan berbahagia menjalankan skenario alternatif. Mereka sadar tidak bisa mengontrol segalanya (termasuk soal teknis mikrofon yang mendadak mati di tengah akad). Oleh karenanya, mereka telah “bersiap merencanakan dengan segala kemungkinan.”
photography by Govinda Rumi (We Are Graf) for ELLE Bride Indonesia 2025.
Saat tiba waktunya menjalankan prosesi akad, mempelai laki-laki lebih dulu memasuki area seremoni. Ia mengenakan busana pengantin adat Minang—lengkap dengan kain songket dan saluak—dalam nuansa modern padu-padan warna putih dan perak. Sekitar pukul 9 pagi, pengantin perempuan menyusul dengan berbalut kebaya putih berdetail sulaman tangan dipadu kain songket serupa calon suami. Mahkota sunting perak turut mempercantik tatanan rambutnya yang digelung minimalis terselubung veil bersulam senada kebaya. “Padu-padan keperakan ini menyesuaikan dengan aksesori serta perhiasan kami yang seluruhnya dominan emas putih atau perak,” ungkap Shenina. Sementara busana adat Minang sendiri dipilih pasangan mempelai sebagaimana relasi budaya Sumatera di dalam keluarga besar Shenina. “Sebenarnya bukan keluarga keturunan langsung. Tapi terlepas dari itu, kami berdua memang selalu terinspirasi oleh mode adat Minang dalam merancang busana pernikahan,” ujar Angga.
Beranjak petang, gempita kebahagiaan berlanjut dengan perjamuan resepsi yang diadakan di paviliun bergaya tradisional, yang pada malam itu digubah dalam tata ruang kontemporer dengan dekorasi dominan rona putih dan sentuhan abu-abu keperakan. “Kami menyukai estetika klasik yang berkesan timeless,” ujar Shenina. Kain-kain berjuntaian lembut membentuk gelombang megah di langit-langit. Nuansanya sedikit rustic dipadu aksentuasi lampu senar bohlam mikro. Dinding ruangan, lantai, hingga meja makan tampil penuh pernyataan dalam elegansi rangkaian bunga lili, mawar, peony, anemone, daisy, hingga krisantemum. Kedua pasangan mengaku banyak terinspirasi oleh estetika chic ala Prancis ketika merancang tema pernikahan, termasuk perihal busana.
photo DOC. Shenina Cinnamon & Angga Yunanda | photo DOC. Shenina Cinnamon & Angga Yunanda |
Shenina berganti busana mengenakan gaun pengantin yang memadukan garis desain klasik dan kontemporer rancangan tangan Hian Tjen. Gaun berpotongan strapless itu memeluk tubuh Shenina dalam siluet mermaid berekor panjang dan melebar, serta memiliki detail draperi pada bagian pinggang yang memberikan aksen sculpted. “Menemukan gaun yang tepat sungguh tantangan. Idenya adalah menemukan kombinasi segar atas desain modern classic. Saya dan koh Hian melakukan improvisasi beberapa kali sebelum akhirnya menemukan yang sesuai visi kami berdua,” katanya. Bersinergi dengan pengantinnya, Angga tampil dapper dibalut celana tailored dan kemeja warna putih yang dipadu jas hitam buatan custom rumah mode Wong Hang. Dasi kupu-kupu hitam turut melengkapi karismanya. “Saat memikirkan tampilan yang tidak biasa, kami terinspirasi oleh karakteristik French Riviera,” cerita Angga.
photo DOC. Shenina Cinnamon & Angga Yunanda | photography by Govinda Rumi for ELLE Bride Indonesia 2025. |
Perjamuan malam itu memancarkan atmosfer hangat yang sangat akrab. Begitu akrab hingga sejumlah tamu silih berganti mengambil mikrofon dan memeriahkan suasana dengan menyanyikan lagu persembahan bagi sang mempelai—di antaranya Vidi Aldiano serta Anggun C. Sasmi. “Kami sangat berterima kasih kepada semua tamu. Kehadiran mereka menambah memori yang membuat hari bahagia kami kian istimewa,” ucap Shenina. Usai rangkaian acara makan malam, kedua sejoli bergandengan tangan dan berdansa untuk pertama kalinya sebagai pasangan suami-istri. Bayangan akan hidup bersama menjejaki rumah tangga membuat mereka bersemangat. Setiap orang yang menyaksikan pun dapat melihat kebahagiaan mereka terlukis lewat senyum dan suara tawa keduanya. “Kami tidak sabar!” ungkap mereka tergelak. Pada titik ini Angga dan Shenina berbicara dengan saling menimpali satu sama lain selayaknya belahan jiwa yang seiasekata dalam pikiran dan suara. “Kami sadar bahwa pernikahan adalah sebuah perjalanan yang tidak selalu lurus, pasti akan berliku, pun bisa juga naik-turun…. Karena bagaimana pun pernikahan adalah tentang dua manusia yang bersatu menjalani sebuah kehidupan baru secara bersama-sama… Tapi selama kami berdua melaluinya bersama-sama, saya yakin setiap permasalahan dapat terselesaikan.”
photography by Govinda Rumi for ELLE Bride Indonesia 2025.
Shenina lalu meraih tangan Angga sebelum berujar, “Dan saya hanya ingin melakukan perjalanan ini bersama dengan Angga Yunanda.” Begitu pula yang dipikirkan oleh Angga, “Tidak ada sosok yang lebih tepat—dan yang saya inginkan—selain Shenina. Ketika bersama orang yang tepat, saya yakin bahwa saya akan baik-baik saja.”
Menjelang akhir resepsi, Angga menanggalkan jasnya; sementara Shenina berganti ke penampilan terakhirnya malam itu—sebuah gaun mini keperakan bertabur elemen berkilauan serta aksen petals dan detail bunga rancangan Yogie Pratama untuk berdansa sepanjang malam bersama orang-orang tersayang.

Chayuda Jiaravanon Kenakan Gaun Pengantin Ikonis Oscar de la Renta Untuk Menikahi Ian Daniel Santoso Di Lake Como, Italia

Dibalut Gaun Danielle Frankel, Tiffany Mediana Menikahi George Stopczynski Dalam Latar Estetika Abad Ke-19 Sebuah Hotel Di Maroko

Cut Beby Tsabina Menikahi Rizki Aulia Dalam Prosesi Pernikahan Adat Aceh dan Gelaran Klasik Resepsi Internasional

Prananda Surya Paloh Jalankan Prosesi Budaya Aceh Untuk Menikahi Rifiyota Aprilia Widjaja Di Hotel Milik Keluarga Di Bali