CULTURE

22 April 2026

Atreyu Moniaga Project Hadirkan Selebrasi Seni di CAN’S Gallery


Atreyu Moniaga Project Hadirkan Selebrasi Seni di CAN’S Gallery

Text by Shabira Putri ; (photo DOC. AARO)

Di tengah gegap gempita riuhnya Jakarta, Atreyu Moniaga Project—inisiatif independen yang mendukung lahirnya talenta baru sejak 2013—kembali mempersembahkan aksi nyatanya dalam sebuah pertunjukan seni rupa kontemporer dengan meluncurkan pameran tahunan ke-13 bertajuk AARO. Mengambil tempat di CAN’S Gallery yang telah mendukung AARO lebih dari dua dekade, pameran ini menjadi wadah pembuktian bagi empat seniman pendatang baru yang dikenal sebagai rangers, yaitu Ada Khansa, Ansn Martin, Red Maerra, dan Oddyendry—setelah melakukan proses program inkubasi Mixed Feeling selama 19 bulan di bawah bimbingan mentor Atreyu Moniaga. Melalui istilah yang bermakna “gunung yang menjulang kokoh” tersebut, pameran ini merayakan semangat eksplorasi diri yang berpadu dengan ketangguhan artistik.

Press Conference Atreyu Moniaga Project: AARO.
Oddyendry.
Red Maerra.
Ada Khansa.
Ansn Martin.

Visual utama AARO memberikan sebuah refleksi terdalam atas kehidupan urban dan pencarian identitas. Keempat seniman masing-masing menghadirkan narasi visual yang berbeda namun saling berhubungan. Ada Khansa mengeksplorasi memori melalui seri Sandbox, sementara Ansn Martin menangkap perubahan nilai hidup dengan seri WOY. Selanjutnya, terdapat Red Maerra yang membawakan fenomena alienasi digital lewat seri ASLPLS, san Oddyendry mengajak pendatang menelusuri jejak kampung halaman dalam seri Tungkal. Keberagaman karya di atas kanvas ini menghidupkan energi kreatif yang jujur dan personal.

Atas: Rinintha Pradiza, Sebastian Gunawan, Atreyu Moniaga, Cipry Tjan, Inge Santoso, Jazz Pratama, Winola Sebastian, Rizky Amom. Bawah: Ada Khansa, Red Maerra, Oddyendry, Ansn Martin.

Pameran ini juga menguatkan nilai kolaborasi dan proses di balik layar yang komprehensif, sekaligus membuka mata bahwa dibalik seluruh estetika, tersimpan tantangan yang penuh perjuangan. Tidak hanya tentang hasil akhir, para seniman terlibat langsung dalam setiap aspek produksi, mulai dari pengarsipan hingga koordinasi ekosistem seni rupa. Kehadiran kolaborator AMP, seperti Wilhemus Willy sebagai Perancang Grafis; Joshua Agustinus sebagai Perancang Pameran; dan penulis Nin Djani; semakin memperkaya dimensi dalam pemeran tersebut. Dokumentasi perjalanan mereka pun dirayakan secara eksklusif dalam buku AARO yang dicetak secara terbatas sebagai bentuk apresiasi terhadap craftsmanship dan literasi seni.

Pameran Seni AARO.

Selebrasi seni yang dibuka sejak 18 April hingga 11 Mei 2026 ini juga dimeriahkan oleh serangkaian program publik yang dinamis. Dimulai dengan art jamming hingga sesi tur galeri bersama para seniman, AARO mengundang para pecinta seni untuk merasakan pengalaman yang imersif. Puncak acara akan ditandai dengan peluncuran buku dan diskusi pada 9 Mei 2026, memberikan ruang untuk audiens untuk bertanggapan langsung mengenai visi masa depan seni rupa Indonesia.