CULTURE

27 Januari 2026

Kolaborasi Max Mara dan Collezione Maramotti Dengan Museum MACAN untuk Penghargaan The Max Mara Art Prize for Women Periode 2025-2027


Kolaborasi Max Mara dan Collezione Maramotti Dengan Museum MACAN untuk Penghargaan The Max Mara Art Prize for Women Periode 2025-2027

Text by Emily Hartono ; (photo: Collezione Maramotti)

Museum MACAN (Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara) dengan bangga mempersembahkan kolaborasi baru dengan Max Mara dan Collezione Maramotti untuk penghargaan Max Mara Art Prize for Women periode 2025-2027. Di edisi yang ke-10, penghargaan ini memulai tradisi baru yang memperluas cakupannya hingga pasar internasional melalui format nomadik yang akan membawa setiap edisi penghargaan ini ke berbagai negara. Max Mara Art Prize for Women periode 2025-2027 yang diselenggarakan di Indonesia menandai kehadiran pertamanya di kawasan Asia Tenggara. 

Penghargaan Max Mara Art Prize for Women pertama didirikan pada tahun 2005 silam oleh rumah mode Italia Max Mara bersama dengan koleksi seni kontemporer privat, Collezione Maramotti, dengan tujuan mendukung para seniman perempuan yang berada di tahap awal maupun pertengahan kariernya. Dalam dua dekade terakhir, Max Mara dan Collezione Maramotti telah konsisten mendukung perupa perempuan pendatang baru sekaligus memperluas visibilitas dan peluang pengembangan profesional bagi para pemenang. Tak hanya itu, Max Mara Art Prize for Women terus berperan dalam mendorong kesetaraan, merayakan keberagaman praktik artistik, dan menginspirasi generasi mendatang melalui pertukaran berskala global.

Museum MACAN 


Kurator pertama yang dipercaya untuk membentuk babak baru dari penghargaan ini adalah Cecilia Alemani yaitu Direktur dan Kurator Utama High Line Art di New York. Beliau akan memilih negara, mitra institusi, serta merancang sebuah kerangka kolaborasi internasional yang berkelanjutan serta dukungan struktural bagi perupa di berbagai belahan dunia. Adapun dewan juri untuk edisi kesepuluh Max Mara Art Prize for Women yang diketuai oleh Cecilia Alemani terdiri dari Venus Lau (Direktur, Museum MACAN), Amanda Ariawan (kurator), Megan Arlin (galerist, ara contemporary), Evelyn Halim (kolektor seni), dan Melati Suryodarmo (perupa). 

Cecilia Alemani selaku Kurator Max Mara Art Prize for Women dan Ketua Dewan Juri menyatakan bahwa format nomadik yang bersifat global akan mengarahkan penghargaan Max Mara Art Prize for Women untuk menjadi sarana diplomasi budaya dan dialog internasional yang utuh. Ia melanjutkan bahwa keputusan untuk mengadakan edisi kesepuluh ini untuk pertama kalinya di Asia Tenggara tepatnya di Museum MACAN bukan sekadar memperluas geografis, namun menjadi sebuah penegasan bahwa inovasi artistik sudah tidak lagi dimonopoli oleh Barat. Tradisi baru Max Mara Art Prize for Women di ranah internasional akan memberikan ruang eksperimental bagi para perupa pemenang untuk bereksperimen, mengolah, dan memperkenalkan warisan tradisi dan budaya kepada dunia melalui ekspresi kreatif yang baru. Di masa yang baru ini, Max Mara Art Prize for Women berkomitmen untuk bangun secara kokoh dan berkelanjutan yang tak hanya penting bagi berkembangnya karier individu para perupa perempuan, tetapi juga bagi pertumbuhan dan pembaruan ekosistem seni rupa kontemporer secara keseluruhan.