CULTURE

3 Maret 2026

Suntikan Energi Transformatif dalam Estetika Bermusik Wolf Alice


Suntikan Energi Transformatif dalam Estetika Bermusik Wolf Alice

Photo DOC. Wolf Alice/Rachel Fleminger Hudson

Era ‘70-an rasanya kuat beresonansi dalam lanskap kreatif Wolf Alice. Band asal London ini menemukan inspirasi nama mereka dari sebuah prosa pendek dalam buku The Bloody Chamber karya Angela Carter yang terbit di tahun 1979. Meskipun energi Britpop-alternative tahun 2000-an lebih kental mengemas musik Wolf Alice sejak memperkenalkan diri di awal periode 2010-an (dengan lagu hit Bros dan Don’t Delete the Kisses; debut album My Love is Cool sebagai penegas eksistensi; album kedua, Visions of a Life, yang memperoleh penghargaan Mercury Price; dan album Blue Weekend yang mengantarkan mereka menduduki puncak tangga lagu Inggris), namun karya lansiran teranyar mereka, The Clearing, tengah menjadi topik pembicaraan karena secara subtil menggaung dalam karisma melodi pop khas tahun ‘70-an.

Kilau nostalgia itu memancar kuat sejak peluncuran single pembuka albumnya, Bloom Baby Bloom. Terlebih lewat video musiknya yang menampilkan band pemenang Brit Awards itu di antara sekelompok penari berseragam leotard modern. Ellie Rowsell—sang vokalis utama, gitaris, dan pianis—memimpin para penari dalam tampilan elektrik dibalut bodysuit berkilauan, sepatu bot tinggi, plus wajah yang dirias penuh karakter dengan smokey-eyes biru bergliter dan lipstik merah menyala. Sebuah potret adegan yang mengingatkan pada sinematografi All That Jazz.


Nuansa ’70-an dalam The Clearing tidak hadir sebagai estetika semata. Pada musiknya, elemen nostalgia didefinisikan kembali membentuk sebuah relevansi untuk telinga masa kini. Produksinya lapang. Setiap lagu diberi ruang bernapas lewat melodi yang mengalun tanpa tergesa, dan lirik yang berdiri dengan penuh kepercayaan diri hingga nyaris sinematik sebagaimana visualisasi videonya. (Coba Anda dengar The Sofa, Bread Butter Tea Sugar, atau Just Two Girls.)

The Clearing sekaligus menandai babak baru kiprah bermusik Wolf Alice. Pada 2024, Wolf Alice resmi menandatangani kontrak dengan Columbia Records. Sebuah langkah yang dalam narasi industri sering diasosiasikan dengan kompromi. Namun alih-alih terdengar tereduksi, The Clearing justru memancarkan konsolidasi identitas Wolf Alice. Sepanjang sebelas lagu yang menyusun daftar putar albumnya, palet rock dan indie pop yang diperkaya synth tetap menjadi fondasi esensial. Hanya saja,  detailnya kini lebih terkendali. Lengking gitar yang dulu bisa terdengar meledak-ledak dan dentuman drum yang tak terduga digantikan pendekatan yang lebih refined—tapi bukan untuk meredam energi. Wolf Alice seolah-olah memilih bermain dengan presisi, dan memperlihatkan kematangan yang mengalir organis dalam pertumbuhan musik mereka selama 15 tahun berkarya.

Hampir setahun terakhir, Wolf Alice tengah dalam perjalanan panjang tur keliling dunia untuk The Clearing. Band pemenang Brit Awards itu ini sempat berlabuh di Jakarta pada bulan Januari 2026 silam. Para pendengar Wolf Alice di Indonesia pun mendapatkan sebuah pertunjukan–konser perdana yang telah dinanti para pendengar mereka di Indonesia sejak mini album Blush (2013) memperluas reputasi mereka di luar radar arus utama. Bertempat di Bengkel Space, tata panggungnya disulap gemerlap dengan tirai aksen fringe material perak berkilauan. Tampilannya menyerupai ballroom dansa dalam Saturday Night Fever—meski pertunjukan berlangsung pada Selasa malam.

photo DOC. Collective Mind Asia

Beberapa jam sebelum menggelar konsernya di Jakarta, kami duduk bersama Ellie Rowsell, Joel Amey, Joff Oddie, dan Theo Ellis; mendengarkan mereka bicara proses kreatif di balik The Clearing, mengeksplorasi kebaruan bermusik di bawah kontrak label besar, hingga mendefinisikan ikatan keterhubungan dalam sebuah band di masa kini.

Kehidupan touring memberikan pengalaman tak terlupakan, di sisi lain sekaligus bisa menguras energi. Di titik perjalanan kalian sejauh ini, bagaimana dinamika perjalanan tur memengaruhi pribadi Anda?

Ellis: “Agenda tur kami sebenarnya sudah berjalan, saya pikir bahkan sebelum The Clearing dirilis. Barangkali mulai sekitar musim panas tahun lalu.”

Amey: Yeah, bermula dengan sebuah pertunjukan di Irlandia."

Ellis: “Beberapa waktu silam, sebelum ini, kami pernah menjalani serangkaian pertunjukan yang puncaknya membawa kami, untuk pertama kalinya, menggelar pertunjukan arena yang berskala masif di Inggris. It was a crazy experience for us, benar-benar di luar bayangan. Sebelum itu, kami pernah berkeliling Eropa; sebelumnya juga menjelajah Amerika. Sekarang, rute perjalanan kami semakin jauh melintasi belahan Bumi lain, hingga akhirnya kami tiba di sini. Kami seakan-akan tidak pernah berhenti bergerak. Saat melakukan perjalanan tur, rasanya kehidupan pun bergerak begitu cepat. Dan berada dalam kondisi tersebut sesungguhnya menuntut banyak hal, secara fisik maupun pikiran. Namun di atas rasa lelah itu sesungguhnya ada semacam rasa kebanggaan tersendiri untuk bisa tampil membawakan musik kami di hadapan para pendengar. It’s something, I thought, we’re really proud of.”

Mari bicara tentang The Clearing. Apa makna 'The Clearing' bagi Anda, secara pribadi mupun secara kolektif sebagai sebuah band, di fase perjalanan karier Wolf Alice sampai saat ini?

Rowsell: “Di album ini, saya rasa, kami benar-benar menantang diri sendiri untuk tidak sekadar menciptakan musik yang berbeda dari album-album sebelumnya. Ada keinginan untuk kami dapat melampaui batasan kapabilitas masing-masing secara musikal. Rasanya seolah-seolah The Clearing mendorong kami untuk mengasah insting bermusik dengan lebih tajam; baik dari cara bermain alat musik, menulis lagu, bahkan cara kami berkomunikasi satu sama lain.”

Ellis: “Secara pribadi, saya merasa proses pembuatan album ini semacam fase transisional, di mana kami merangkul sebuah format musikalitas yang baru. Suatu kebaruan yang benar-benar mendorong kreativitas saya sebagai musisi. Beberapa lagu di album ini juga beresonansi dengan perjalanan saya dari waktu ke waktu selama menjadi bagian band ini.”

Ellie Rowsell (photo DOC. Collective Mind Asia)

Theo Ellis (photo DOC. Collective Mind Asia)

Aransemen album ini terdengar lebih terstruktur; jarang terdengar permainan gitar atau tabuhan drum yang ‘nyeleneh’ di luar tempo, yang kerap terdengar menyuntikkan kejutan di album-album terdahulu. Bagaimana naluri artistik Anda melandasi kreativitas penciptaan album ini?

Amey: “Tentu naluri untuk selalu mencoba menantang diri sendiri. Saya pikir, naluri inilah yang menghadapkan kami pada sebuah tantangan yang menggairahkan; tentang mendorong diri kami melampaui batasan dan menjadi lebih berani lewat setiap pilihan-pilihan yang telah kami buat.”

Bagaimana wujud keberanian di album ini?

Amey: “Menjadi berani tidak mesti selalu berarti melakukan ‘lebih banyak’ hal. Sebab terkadang, menjadi berani bisa berarti bertindak ‘lebih sedikit.'”

Apa maksudnya dengan bertindak 'lebih sedikit'?

Amey: “Ketika mengerjakan sebuah album, Anda dihadapkan pada ruang kreativitas yang sangat besar. Menyenangkan, tapi sekaligus memberikan tantangan tersendiri, terlebih saat Anda bekerja dengan orang lain–empat orang jika bicara lebih spesifik terkait grup kami, yang masing-masing orang memiliki naluri kreatif berbeda-beda. Bayangkan, hasil karya musik kolektif empat orang selama bertahun-tahun harus dirangkum dalam 40 menit. Tentu saja perlu adanya rasa pengendalian diri. I think that was kind of new for us. Sebab itu, saya pikir, pada akhirnya kami menelusuri landasan kreatif untuk menuju tantangan-tantangan yang menarik di masa depan; dan untuk terus mencoba sesuatu yang baru serta berbeda."

Joel Amey (photo DOC. Collective Mind Asia)

Joff Oddie (photo DOC. Collective Mind Asia)

Rowsell, olah vokal Anda dikenal mengalir luwes. Anda bisa bernyanyi nada tinggi sekuat tenaga, lalu pindah ke nada rendah yang nyaris seperti bisikan. Di album ini, Anda lebih banyak bernyanyi presisi dengan lantang; apakah Anda secara sadar terdorong untuk mengeksplorasi lanskap vokal yang lebih terkendali?

Rowsell: I think I did. Dalam kadar tertentu, yeah. Barangkali bukan dengan cara yang disengaja sepenuhnya, tetapi ada semacam gairah untuk melampaui batasan vokal; you know, layaknya kebutuhan untuk menjaga agar suara saya terdengar tetap segar. Barangkali juga mencoba cara sedikit bernyanyi melantang. Ada sekelumit rasa khawatir karena cara itu lebih sulit. Sebab, jika tidak dilakukan dengan tepat, suaranya akan terdengar dipaksakan dan sangat mengganggu di telinga. Lain halnya dengan menyanyi berbisik lalu mendengking, atau sebaliknya, perpindahan itu terasa lebih mudah. Namun ketika Anda bernyanyi melantang dan tetap mampu berada dalam kendali, stabilitas tersebut adalah hal yang sangat menantang. Dan saya sangat menikmati eksplorasi vokal ini sekarang.”

Adakah lagu di The Clearing yang terasa rumit, atau justru sangat mudah, dalam proses penciptaannya?

Rowsell: “Entah ini berarti rumit atau mudah, namun kami banyak melakukan eksperimen sturukturisasi nada dalam menciptakan Bloom Baby BloomBread Butter Tea Sugar, dan The Sofa. Kami memiliki beberapa versi berbeda untuk masing-masing dari ketiga lagu tersebut, seolah-olah kami kesulitan menetapkan formula aransemen yang tepat.”

photo DOC. Collective Mind Asia

Lalu bagaimana kalian menetapkan rumusan formulanya?

Rowsell:Actually, saya tidak lagi ingat bagaimana kami menuntaskannya. Tapi saya ingat ketiga lagu tersebut seperti puzzle.”

Konon perpindahan ke label besar mendorong titik evolusi kreatif yang terkadang mengarahkan pada kompromi. Apakah terjadi penyesuaian dalam proses artistik Wolf Alice?

Amey: “Kami telah bekerja sama cukup lama dengan Sony (pemilik Columbia Records) dalam hal skema lisensi. Kami bekerja sama dengan mereka untuk lisensi musik tiga album sebelumnya di wilayah Amerika Utara. Jadi, sebenarnya, relasi di antara kami sebenarnya sudah terbentuk secara organis. Meski begitu, satu hal yang selalu kami pertahankan dengan gigih adalah kebebasan dalam hal kreativitas. Bahwasanya, kebebasan berkreasi harus sejalan dengan visi kami. Prinsip itulah yang senantiasa kami pegang teguh ketika bernegosiasi terkait perpindahan label. Beruntungnya, Sony memiliki kepercayaan yang sama terhadap visi kami. Pada akhirnya, kepercayaan menjadi fondasi terpenting dalam setiap hubungan, baik dalam bisnis maupun yang lainnya."

photography Chris Dauhiong

photography Chris Dauhiong

Wolf Alice telah bermusik selama lebih dari sepuluh tahun. Bagaimana kalian memaknai hidup sebagai anggota sebuah band, saat ini, dibandingkan kali pertama memulainya?

Ellis: “Bagi saya, sekarang, hidup sebagai anggota band hampir menjelmakan definisi kehidupan saya pribadi. It’s my whole life. Ada momen–di awal perjalanan Wolf Alice–di mana saya sempat berpikir bahwasanya kebersamaan kami terlalu muluk untuk berlangsung dalam waktu yang lama; dan dalam diam saya berharap segalanya tak akan pernah berubah; saya meyakinkan diri bahwa kami bisa terus bermusik bersama untuk waktu yang lama. Namun perjalanan kami selama beberapa tahun terakhir telah memberikan saya suatu kesadaran bahwasanya keyakinan saya selama ini adalah benar; this is my life, dan saya benar-benar bisa menjalaninya untuk waktu yang sangat lama. Ada rasa kebanggaan pribadi saat saya menyadari realitas tersebut, terutama karena kami masih tumbuh dan menciptakan musik bersama-sama sampai hari ini. Tentu saja, perjalanan ini cukup menyita waktu dan energi, sebagian besar hidup kami habis untuk tur, panggung, dan proses kreatif yang tak ada habisnya. Sepuluh tahun seolah-olah berlalu dalam sekejap mata. Barangkali dulu saya berpikir dua kali akan kemungkinan mencapai titik ini, tapi sekarang, saya bisa dengan yakin berkata bahwa keberadaan kami saat ini adalah impian yang menjadi kenyataan. This is so cool! Sebab itu, setiap kali merasa lelah menjalaninya, saya akan berintrospeksi diri sendiri dan mengingat kembali betapa dahulu saya begitu menginginkan hidup yang kini sedang saya jalani.”

photography Chris Dauhiong

Bagaimana kebersamaan Anda hingga selama ini mengajarkan tentang kompromi, kepercayaan, atau kebahagiaan berkreasi?

Rowsell: “Yang menarik, banyak keterampilan dari menjadi bagian sebuah band yang akhirnya terbawa ke kehidupan pribadi. Di awal perjalanan, rasanya kami selalu berada dalam mode siaga. Kami seolah-olah bergerak penuh kecepatan tanpa sesekali menoleh ke belakang. Sekarang, setelah melewati waktu yang cukup panjang, saya punya lebih banyak pengalaman untuk direnungkan dan disyukuri.”

Ellis: “Belakangan, saya sering memikirkan soal kompromi. Kadang orang menganggap kompromi layaknya sesuatu yang negatif, seolah-olah harus mengorbankan visi pribadi. Padahal, justru dari proses itu karya kami terbentuk. Tentu ada tantangan, tetapi menciptakan sesuatu bersama-sama sebagai kesatuan juga menawarkan kemudahan yang tidak bisa didapat saat berkarya seorang diri. Saya bangga pada dinamika bermusik itu. Justru karena datang dari empat perspektif yang saling bertemu, berkompromi, dan akhirnya menjadi kesatuan karya seni, sehingga musik kami terasa lebih unik.”

Apa yang masih membuat bersemangat—atau bahkan memicu kekhawatiran—dari membuat musik bersama?

Oddie: “Pendapat ketiga orang ini (anggota band-nya) membuat saya bersemangat sekaligus sesekali khawatir. Jika saya hendak mengirim sesuatu di grup WhatsApp kami, saya kerap berhenti sejenak dan memikirkannya—apakah mereka akan merasakannya seperti yang saya rasakan? Tapi justru di situlah benang merah yang menyatukan kami. Sensasi berbagi ide dan bekerja sama dengan mereka masih selalu memotivasi saya untuk terus maju melampaui segala rasa takut akan apa yang menanti di masa depan, definitely.”