CULTURE

1 April 2026

KUN Menegaskan Evolusi Artistik Lewat Album Kedua yang Menandai Debut Internasional


KUN Menegaskan Evolusi Artistik Lewat Album Kedua yang Menandai Debut Internasional

photo DOC. KUN

KUN tengah melalui momen titik balik. Ketika Deadman dirilis pada 2025 silam, musisi asal Tiongkok ini berjalan ke panggung global dengan meluruhkan persepsi akan estetika idol C-pop yang selama ini telah melekat padanya. Ia melangkah dengan lanskap kreativitas yang terasa lebih personal, eksploratif, dan sinematik (Lihat saja bagaimana ia mengemas video musiknya).

Deadman ibarat prolog yang mengisyaratkan kematangan dalam arah musikalitas KUN, sekaligus menunjukkan keberanian Kun dalam meredefinisi dirinya di tengah ekspektasi masa lalu. Kini, melalui album kedua yang diberi tajuk Kun, narasi pergeseran kreativitas sang musisi telah menunjukkan bentuk yang utuh. Proyek eponim ini merupakan peneguhan atas arah visinya. Sebuah pernyataan terkait evolusi artistik yang terkurasi secara presisi.

11 lagu tercantum dalam daftar putarnya. Masing-masing memperdengarkan narasi penuh kejujuran dan kebebasan. KUN seolah-olah tengah mengartikulasikan identitas baru. Kepada ELLE, Kun mengisahkan perjalanan transformatif yang melandasi kreativitas bermusiknya saat ini dan di masa depan.

photo DOC. KUN

KUN, mengapa Anda memilih album studio kedua sebagai manifestasi karya eponim?

“Musik, dan setiap album yang saya buat adalah cara saya berkomunikasi langsung kepada para penggemar. Di album kedua ini, khususnya, saya mencurahkan segenap perasaan dan bahkan jiwa saya dengan penuh kejujuran. Saya rasa, album ini adalah karya di mana saya mengizinkan pribadi saya untuk hanya menjadi diri sendiri seutuhnya. Sebab itu, saya pikir, tidak ada judul yang lebih tepat merepresentasikan esensinya selain nama saya sendiri.”

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembuatan album ini?

“Saya telah mengerjakan album ini selama lebih dari dua tahun.”

Di antara 11 lagu dalam daftar putar album Kun, termasuk Deadman, karya single yang menandai debut internasional Anda sebagai artis solo. Bagaimana karya tersebut merepresentasikan kreativitas bermusik Anda saat ini?

Deadman tidak hanya mengawali penciptaan album ini, tetapi juga sebuah era baru dalam perjalanan karier saya. Lagu tersebut memungkinkan saya untuk kembali ke akar; untuk membuat musik yang benar-benar beresonansi dengan suara saya, dan karenanya saya merasa lebih bebas dalam berkarya.”


Single teranyar album ini, Colder, dirilis beserta video musik yang narasinya berlatarkan dunia bersalju. Yang lebih menarik, Anda bermain peran dengan manusia salju berteknologi robotik. Apa narasi inspiratif di balik visualisasi konsep tersebut?

“Semula, penceritaan video musik Colder berangkat dari sebuah ide sederhana; saya hanya memikirkan sesuatu yang dingin, seperti salju. Lalu, saya dan tim mengembangkan ide tersebut dengan menghadirkan sosok perempuan bersalju—yang kemudian saya juluki Coldy. Selebihnya, narasi yang terjalin mengalir begitu saja. Saya sesungguhnya tidak terlalu ingin menerapkan satu gagasan tertentu untuk narasi video ini. Saya lebih berharap, setiap orang yang menontonnya dapat merangkul perasaan dan perspektif masing-masing.”

photo DOC. KUN

Syuting adegan di lanskap bersalju tampak tidak mudah. Ada adegan tertentu yang paling menantang dalam pembuatannya?

“Dikejar-kejar di tengah salju adalah bagian yang paling menantang. It was freezing, and my body hurt! Namun justru kondisi dan situasi tersebut membuat saya merasa lebih terhubung dengan karakter, serta lebih menghayati adegan tersebut secara lebih baik.”

Ada nuansa elemen sci-fi dalam visualisasi musik video Colder. Apakah Anda menggunakan metode CGI atau bantuan AI?

“Pengambilan gambar video musik Colder direkam di Islandia. Saya sudah lama mendamba membuat karya dengan berlatarkan lanskap Islandia. Kesempatan itu akhirnya datang ketika kami mencari lokasi yang tepat untuk pembuatan Colder.”

Saat bermusik mencipta sebuah lagu, apa landasan kreatif yang memengaruhi naluri artistik Anda?

“Setiap lagu berangkat dari emosi atau suasana hati pribadi yang tengah saya rasakan. Saat menumpahkan perasaan pribadi ke dalam lagu, benak saya sekaligus memvisualkan bagaimana saya ingin menampilkan lagu tersebut secara maksimal. Misalnya ketika menulis Colder, saya merasakan unsur ekspresif dan kemegahan dalam atmosfernya. Berbeda dengan Don’t Call atau Back in Time yang terasa lebih menenangkan.”

photo DOC. KUN

Apakah Anda mempertimbangkan elemen pertunjukan live dalam menulis setiap lagu?

“Tentu! Saya tidak merilis musik hanya untuk diputar di layanan streaming. Saya ingin musik saya memiliki kehidupan di luar telinga pendengarnya. Mentalitas ini membuat saya selalu memikirkan elemen pertunjukan langsung dalam setiap lagu yang saya ciptakan. Bagaimana saya ingin mempersembahkan setiap lagu melalui sebuah pengalaman sarat makna kepada para pendengar.”

Dan berikan gambaran singkat tentang pengalaman penuh makna yang Anda ingin persembahkan bagi penggemar lewat tur pertunjukan An Evening with KUN.

“Tur An Evening With KUN akan dimulai pada bulan April. Tur ini akan menjadi momen yang intim bagi saya dan setiap penggemar. Tentu saya akan didampingi dengan band, namun pertunjukan ini dibuat sebagai malam di mana saya dapat menceritakan kisah saya, dan saya akan membawa setiap penggemar menelusuri perjalanan hidup saya bersama-sama.”

Kita hidup di era di mana media sosial telah membentuk dunia tersendiri bagi kehidupan suatu karya musik. Bagaimana unsur keviralan memengaruhi cara Anda berkarya?

“Dalam bermusik, saya hanya menciptakan karya yang jujur terhadap diri sendiri. Saya cukup puas ketika lagu, album, atau video musik yang saya buat telah memenuhi standar saya pribadi; dan saya rasa begitu pula para pendengar akan dapat merasakannya.”


Apa yang berusaha Anda perdengarkan melalui Kun?

“Saya mencintai musik, pada dasarnya. Saya menyukai berbagai genre dan gaya bermusik. Ketika berkarya menciptakan sebuah album, saya cenderung gemar mengeksplorasi ragam jenis musik yang berbeda untuk setiap lagu. Meski begitu, di album ini, saya berusaha untuk memadukan keragaman tersebut secara harmonis sehingga dapat menciptakan alur yang mengalir, yang menjalin keterhubungan narasi dengan utuh. Saya pikir, proses tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembuatan album ini.”

Adakah genre musik atau tema tertentu yang menarik atensi Anda dalam mengeksplorasi kreativitas bermusik di masa depan?

“Selalu ada musik baru dengan berbagai pendekatan genre yang berbeda-beda, dirilis setiap harinya. Sebagai pecinta musik, saya mencoba menyerap setiap kebaruan, sebanyak mungkin. Sangat menyenangkan bereksperimen dengan jenis-jenis suara baru, dan menggali inspirasi yang paling selaras dengan musik saya pribadi. Fase ini ibarat permulaan. Saya sangat bersemangat untuk merangkul apa pun yang menanti di masa depan.”