FASHION

3 Oktober 2026

Christian Louboutin Berjalan Melintas Zaman dalam Mendefinisikan Feminitas


PHOTOGRAPHY BY Otto Masters

Christian Louboutin Berjalan Melintas Zaman dalam Mendefinisikan Feminitas

text Tamison O'Connor; styling Nina Gahrén Williamson

Saat saya bertemu Christian Louboutin, ia tengah mengenakan topi papakha tradisional berbulu pendek, yang ia beli dalam perjalanannya baru-baru ini ke Georgia. Ia berada di sana beberapa minggu lalu, katanya, untuk menghadiri sebuah pesta ulang tahun. “Indah sekali. Makanannya lezat. Gereja-gerejanya indah. Museum-museumnya cantik. Kota Tbilisi sungguh sangat luar biasa,” tuturnya antusias. Dalam hal lain, Louboutin tampil cukup bersahaja. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, sikapnya pun tidak menonjolkan diri. Namun, ketika kami mulai memotretnya untuk keperluan pembuatan artikel ini, saya seketika terpikat. Perpaduan topi bulu tersebut dan mantel Georgia berpotongan longgar yang dikenakannya—temuan lain dari perjalanan itu—membuatnya tampil begitu khas dan mencuri perhatian; nyaris seperti seorang anggota kerajaan. Namun, barangkali penampilan ini memang seharusnya tidak mengherankan. Karena bagaimanapun juga, ia adalah raja stiletto yang ikonis.

Sepanjang dekade 2000-an dan awal 2010-an, sepatu hak tinggi Louboutin menjelma sebagai simbol status tertinggi dalam dunia alas kaki, yang dapat langsung dikenali lewat sol merah terangnya, yang telah didaftarkan sebagai trademark (ya, agar dapat dilindungi secara hukum). Sepatu hak tinggi tersebut menjadi penanda mudah bagi kemewahan kelas tertinggi dan modal budaya. Namun tren kemudian bergeser: di mana budaya sneakers menguat, streetwear merambah panggung peragaan high fashion, dan perempuan meninggalkan sepatu hak demi sepatu datar yang lebih nyaman. Pandemi seolah membunyikan lonceng kematian terakhir bagi stiletto, sebab kebijakan yang mewajibkan orang untuk tinggal di rumah di berbagai negara meniadakan kesempatan untuk mengenakan sepatu berhak menjulang di berbagai acara.

Kini, sepatu hak tinggi Louboutin kembali populer, dengan Gen Z membawa sepatu bersol merah tersebut kembali menjadi sorotan. Zendaya nyaris tidak pernah terlihat di ajang karpet merah tanpa sepasang stiletto So Kate dari Louboutin. Sementara itu, Addison Rae hampir tidak pernah melepas miliknya, bahkan berlatih untuk pertunjukan dengan tetap mengenakan high heels tersebut. Dua Lipa baru saja menikah dengan mengenakan sepasang Louboutin—pumps Miss Z menjadi pilihannya—sedangkan Ariana Grande juga tampil mengenakannya dalam tur dunianya ketika artikel ini tengah ditulis. Tyla pun sering kali kembali pada sepatu hak bersol merah andalannya.

La Pigalle heels, Christian Louboutin; Rok, McQueen; Tights, Calzedonia.

Inilah jenis keberhasilan pemasaran yang biasanya membuat merek-merek mewah rela mengeluarkan biaya besar untuk meraihnya. Namun, tidak demikian dengan Louboutin. “Saya tidak berusaha menjadi bagian dari budaya pop,” ujarnya. Namun ketika bintang rap besar seperti Cardi B bernyanyi tentang sepatu mewah bersol merahnya, hal itu dengan sendirinya memberi merek tersebut sebuah status prestise kultural. Sang desainer melihat persilangan ini terjadi dalam ekosistem yang lebih besar, “Yang berkaitan dengan desain, hasrat, seksualitas dalam arti tertentu, femininitas... tapi juga kebebasan.” Ia terdiam sejenak. “Hal itu sangat lekat dengan kebebasan,” katanya. “Dan itu membuat saya sangat bahagia.”

Louboutin selalu membiarkan gairah menuntun kompas batinnya. Banyak tokoh mapan dalam ranah mode yang memulai langkah dengan impian memimpin imperium global, digerakkan ambisi yang terfokus tajam dan rencana bisnis jangka panjang. Namun, jalan Louboutin lebih berkelok. Selepas pekerjaan pertamanya di industri mode, ia beralih menjadi penata taman. “Saya selalu berpikir, ikuti ke mana hidup membawa Anda. Saya bukan seorang perfeksionis. Saya ingin mengerjakan segala sesuatu dengan baik, tapi saya tidak ingin menjalani hidup di bawah tekanan sebesar itu,” tuturnya pada saya seusai pemotretan, ditemani secangkir teh. Pelajaran itu ia terima dari ayahnya, seorang tukang kayu, yang mengajarkan bahwa ketika bekerja dengan kayu, maka kita harus mengikuti arah seratnya; karena melawan arah itu hanya akan membuat kayu menyerpih. Louboutin memaknainya sebagai pelajaran filosofis: ikuti arus kehidupan dan hargai arah yang ditujunya. “Setelah beberapa lama, saya menyadari bahwa kemungkinan itu tidak terbatas jika Anda sendiri tidak menetapkan batas. Segalanya mungkin jauh lebih menarik ketika bukan Anda yang mengendalikannya.” Beruntung, ia menemukan jalan pulang menuju desain sepatu, dan kegemaran masa kecilnya menggambar sepatu hak tinggi berkembang menjadi imperium alas kaki global yang pada tahun 2021 silam bernilai €2,25 miliar.

Meski semasa muda Louboutin tidak pernah bercita-cita bekerja di dunia mode, tapi salah satu kegiatan favoritnya adalah menggambar sepatu hak. Ia menjalani masa kecil yang sangat bahagia, kendati tidak lazim, dalam keluarga kelas pekerja di distrik ke-12 di pinggiran timur Paris bersama ayahnya, Roger; ibunya, Irene, seorang ibu rumah tangga; serta tiga orang kakak perempuan. Bosan dengan sekolah (“Saat berusia 13 tahun, saya tidak lagi memiliki antusiasme untuk sekolah,” ujarnya), ia justru menghabiskan waktu pergi ke klub, menonton film Bollywood dan Mesir era 1970-an di bioskop lokal, serta menjelajahi Museum of African and Oceanic Art di dekat rumahnya—sederet minat yang menyalakan kecintaannya pada perjalanan dan beragam budaya. “Saya menemukan bahwa dunia lebih luas daripada lingkungan tempat tinggal saya,” jelasnya.

La Pigalle heels, Christian Louboutin; Christian: Kemeja, Paul Smith; Celana panjang, Giorgio Armani; Sepatu, Christian Louboutin; Effy: Jaket dan rok, Dolce & Gabbana; Atasan, Joseph.

Ia juga kerap menyelinap masuk ke Folies Bergère, gedung pertunjukan kabaret tersohor di Faubourg-Montmartre. “Saya terobsesi pada para penari kabaret,” katanya. “Saya sering pergi ke gedung pertunjukan itu bersama sahabat saya kala itu, dan kami biasa menyelinap masuk. Yang paling saya sukai adalah pertunjukan musikal, sehingga saya berpikir harus menggambar sepatu untuk para penari ini."

Hasrat mengembara mendorong Louboutin menghabiskan awal usia 20-an dengan berkeliling dunia, dari Mesir hingga India. Ia mendanai perjalanannya melalui program magang di Charles Jourdan di Paris dan pekerjaan lepas menjual sketsa sepatu kepada rumah mode seperti Saint Laurent dan Chanel. “Pola saya seperti ini: menghasilkan uang, bepergian selama dua bulan, pulang, menggambar, menghasilkan uang lagi, lalu kembali bepergian,” ia mengenang masa lalunya. Kemudian, ia mendapat pekerjaan sebagai asisten Roger Vivier, membantunya mengerjakan beberapa proyek, termasuk sebuah pameran retrospektif karya Vivier di Paris. “Setelah itu, saya berpikir, saya tidak akan bekerja dengan orang lain. Tidak ada orang lain yang dapat membangkitkan antusiasme sebesar yang saya rasakan ketika bekerja bersama Roger, yang sangat saya kagumi.” Pada saat itulah ia memutuskan beralih ke dunia pertamanan.

Kegelisahan membawanya kembali pada desain sepatu. “Saya menyadari, Anda membutuhkan banyak kesabaran untuk menata taman; dalam 10 tahun taman itu baru akan terlihat bagus. Ketika berusia 26 tahun, saya berpikir, ‘Namun bagaimana kalau saya akan mati dalam 10 tahun!’ Lantas saya akhirnya memutuskan bahwa itu terlalu lama.” Meyakini ia tidak akan pernah lagi bekerja untuk sosok seinspiratif Vivier, ia memutuskan bekerja untuk dirinya sendiri. Maka, ia membuka toko miliknya di Galerie Véro-Dodat di tahun 1991.

Sol merah ikonisnya lahir beberapa tahun kemudian, ketika sang desainer melihat seorang model yang bekerja dengannya sedang mengecat kuku dengan warna merah. “Itu berawal dari keinginan saya agar hasil akhir pembuatan sepasang sepatu tetap sesuai dengan gambar-gambar saya. Saya menggambar dengan warna-warna cerah, memikirkan serigrafi dan pop art era 1960-an,” tuturnya. Padahal, sepatunya memiliki sol hitam besar yang terlihat dari belakang. “Saya menyadari tidak ada warna merah dalam gambar saya; saya harus menghapus warna hitam itu. Jadi saya mengambil cat kuku tersebut dan benar-benar mengecat solnya menjadi merah.”

Spontanitas yang riang inilah yang bersemayam di jantung merek Louboutin. Salah satu film favoritnya saat kecil adalah musikal era 1960-an berjudul Les Demoiselles de Rochefort, tentang dua saudari kembar yang, “Tidak ambil pusing. Mereka sangat feminin, sangat suka bersenang-senang,” katanya. “Anda bisa serius sekaligus santai dan suka bersenang-senang, dan bagi saya itu perpaduan yang sangat penting.”

Formula inilah yang memastikan sepatunya tetap laris, bahkan setelah bertahun-tahun. “Louboutin tidak pernah mengompromikan visi kreatifnya demi mengejar tren. Dari sol merah yang ikonis hingga siluet yang jelas berciri feminin, setiap desain mencerminkan sudut pandang khas yang seketika dikenali di seluruh dunia,” jelas Tiffany Hsu, Chief Buying and Group Fashion Ventures Officer di Mytheresa, yang menyebut bahwa merek tersebut mencatatkan “kinerja luar biasa” bagi peritel itu. “Di jantung merek ini berdiri Louboutin sendiri, seorang kreator visioner. Imajinasi, karisma, dan gairahnya yang tak pernah surut terus menjaga relevansi dan vitalitas rumah mode ini."


“Yang terus membedakan Louboutin adalah kreativitasnya yang tak tertandingi dan kesediaannya mendobrak batas,” ujar Josie Gardner, Head of Accessories and Shoes di Harrods. Ia menunjuk pengalaman teatrikal spektakuler yang dihadirkan Louboutin selama Paris Fashion Week sebagai contoh, seraya mengenang interpretasi kontemporer yang sangat berkesan atas visual balet air Hollywood bergaya 1950-an, yang dibawakan tim renang artistik Olimpiade Prancis sambil mengenakan sepatu hak Miss Z. “Merek ini secara konsisten menghadirkan kegembiraan dan fantasi yang memikat audiensnya, sekaligus menegaskan posisi uniknya di pasar barang mewah.”

Sepatu hak Louboutin terkenal kurang nyaman karena lebih mengutamakan gaya (lihat video viral Law Roach, stylist Zendaya, yang menjelaskan bagaimana Zendaya melatih diri menahan sakit dari mengenakan So Kate andalannya untuk berbagai ajang karpet merah). Louboutin sendiri telah menyatakan secara terbuka bahwa, sebagai desainer, kenyamanan bukan prioritasnya—tampilan sepatulah yang utama. Karena itu, cukup mengejutkan mengetahui bahwa sang desainer menghabiskan empat tahun terakhir untuk “menyempurnakan” sepatu La Pigalle, yang diluncurkan kembali lebih dari dua dekade setelah debutnya, seraya merekayasa ulang desain tersebut agar lebih mudah dikenakan. “Siluetnya sama, tetapi saat dipakai, sepatu itu benar-benar berbeda,” jelasnya. “Kenyamanan telah menjadi kenyataan, sekaligus kondisi yang ingin dirasakan orang. Ini bukan semata soal berjalan dengan sepatu Anda, tetapi juga memiliki zona nyaman ketika segala sesuatu terasa begitu keras.” Meski demikan, ia kemudian menambahkan: “Bagaimana mungkin Anda membuat sepatu hak tinggi jika yang dipikirkan adalah kenyamanan? Itu tidak akan terjadi.”