5 Oktober 2026
Maria Grazia Chiuri Memaknai Kehidupan Kontemporer Mode Haute Couture
PHOTOGRAPHY BY Tony Menicucci
text Manuela Ravasio
Di sebuah ruangan tempat ia duduk, Maria Grazia Chiuri tersenyum tulus seiring menelusuri kembali jejak waktu yang membawanya pulang.
Setelah bertahun-tahun tinggal di Paris—tempat ia belajar mengubah langit yang (terkadang) tak begitu cerah di ‘Kota Cahaya’ menjadi peluang-peluang gemilang—sang Direktur Kreatif kini siap membahas karya yang akan ditampilkan hanya beberapa hari setelah pertemuan kami: koleksi Fendi Couture pertamanya. Koleksi ini menandai perayaan satu dekade lini Haute Couture dari rumah mode asal Roma tersebut (sebuah tonggak sejarah yang dirayakan lewat pameran di Palazzo della Civiltà Italiana yang memukau di Roma, sebuah lokasi yang sarat makna bagi Fendi).
Pada suatu sore di musim panas yang cerah, ia menjelaskan kepada kami makna lokasi peragaan busana yang telah dipilih tersebut—baik baginya maupun bagi Fendi—yaitu Galleria Nazionale d’Arte Moderna e Contemporanea di Roma; tempat di mana, pada tahun 1985, sebuah pameran inovatif yang didedikasikan oleh Karl Lagerfeld untuk merayakan 20 tahun kolaborasinya dengan para saudari Fendi pernah diselenggarakan. Pameran tersebut bertajuk Un percorso di lavoro. Fendi / Karl Lagerfeld—sebuah Perjalanan Berkarya: Fendi / Karl Lagerfeld—yang kala itu dikurasi oleh Ida Panicelli.
Empat puluh satu tahun kemudian, Chiuri memutuskan untuk menelusuri kembali alur pameran tersebut—yang kala itu memicu kontroversi hebat karena dunia mode belum dianggap layak masuk museum (dan sebagai pelengkap yang pas, materi tambahan mencakup ulasan pers yang ekstensif, yang mencerminkan suasana zaman itu sekaligus semangat avant-garde yang dibawa Lagerfeld)—dengan menambahkan satu kata saja pada judul aslinya: After.
Di balik pilihan ini terdapat keinginan untuk menceritakan keberanian masa-masa tersebut, yang dibagi menjadi beberapa bagian: Tablets, Kaleidoscope, Design Matrices, Theatre, Comb, Video, Sketches, dan Computer (terbuka untuk umum hingga 25 Oktober).

Chief Creative Officer Fendi telah lama memiliki ketertarikan mendalam terhadap seni; namun, lebih dari sekadar aspek hedonistik yang mungkin direpresentasikan oleh karya seni itu sendiri, hal yang mendorong penelusurannya adalah bagaimana kita mengalami seni—sensasi yang ditimbulkannya, rasa ingin tahu mengenai para penciptanya (yang sering kali lebih banyak perempuan daripada laki-laki), serta berbagai sudut dunia yang menjadi tempat berkarya atau benih kreativitas dengan masa depan yang masih harus dibangun.
Chiuri mengamati, mempelajari, dan berkeliling dunia untuk menyelami esensi dari segala sesuatu—karyanya tak pernah sekadar berupa satu koleksi busana yang indah, meskipun ia diakui secara bulat oleh para klien maupun kalangan industri sebagai salah satu perancang paling rendah hati di dunia mode.
Hal ini juga tercermin jelas dalam koleksi adibusana perdananya yang diperagakan di Roma—kota yang nuansanya jauh dari kesan kuno: kain grain de poudre membelai lembut kulit para model, memancarkan nuansa erotis, bahkan saat aksen sisipan hitam-putihnya seolah menggemakan ketegasan gaya dari era lampau.
Teknik draperi membuka babak baru: ini adalah soal kain, soal gerak, dan kemampuan untuk membalut sesuatu yang tak lagi bisa dikekang—sebuah perpisahan dengan korset serta sensualitas yang tak lagi terasa relevan dengan masa kini.
Sekali lagi, hadir rasa membumi serta perhatian terhadap keindahan yang tulus dan kebutuhan paling mendasar di balik tindakan berpakaian: melindungi diri kita sendiri. Bagaimanapun juga, Maria Grazia Chiuri telah lama menyelami cerminan kehidupan kontemporer.
Di salah satu ruangan tempat makhluk-makhluk berbahan kain dan gagasan Chiuri hadir, sungguh sebuah kebetulan yang brilian saat menjumpai karya Joseph Kosuth yang memuat kutipan dari filsuf Ludwig Wittgenstein: “Apa yang Anda anggap sebagai sebuah hadiah adalah masalah yang harus Anda pecahkan."

Roma adalah awal sekaligus tempat pulang bagi Anda: di manakah letak pusat kota ini?
“Saya tumbuh besar di sini dan sangat mengenal kota ini, meskipun saya merasa tidak pernah benar-benar mengenalnya secara utuh—kenyataannya, memang ada begitu banyak hal untuk dilihat. Roma adalah kota yang begitu kompleks, memiliki beragam sisi, dan penuh kontradiksi; mungkin itulah rahasianya: sifatnya yang berlapis-lapis. Dan sejujurnya, inilah kota tempat Fendi bermula. Saya sangat yakin untuk menggelar peragaan busana pertama ini di Galleria Nazionale d’Arte Moderna e Contemporanea di Roma, karena sering kali orang tidak sepenuhnya menyadari betapa eratnya ikatan Fendi dengan Roma, atau bagaimana sejarahnya di kota ini. Bukan suatu kebetulan jika, bersamaan dengan peragaan busana tersebut, kami menghadirkan kembali pameran yang pernah diadakan pada tahun 1985. Hal ini sangat bermakna bagi saya pribadi karena saya ingat betul saat menyaksikannya; namun, saat itu tidak ada katalog maupun internet, sehingga generasi muda tidak mengetahuinya—mereka bahkan tidak tahu bahwa pameran itu pernah ada. Padahal, penting bagi mereka untuk mengetahuinya, karena itu adalah pameran mode pertama yang pernah diselenggarakan di dalam museum!”
Pergeseran budaya dan zaman mana yang paling mengejutkan Anda?
“Saat pembukaannya pada tahun 1985, muncul kritik dan kecaman keras—bahkan, edisi ulang ini juga akan memuat kembali artikel-artikel dari masa itu yang memandang langkah dunia mode masuk ke museum seni kontemporer hampir sebagai sebuah penistaan. Membaca artikel-artikel tersebut saat ini menyadarkan kita betapa banyak hal telah berubah dalam waktu yang begitu singkat, serta bagaimana—pada dasarnya—dunia mode (terutama di Italia) kala itu dipandang semata-mata sebagai keterampilan kriya atau bisnis, dan tidak pernah dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem budaya. Menghadirkan kembali pameran ini—yang kala itu merupakan terobosan besar berkat tata pamerannya dan cara ia memaparkan proses kreatif di balik sepotong busana—mengajak kita merenungkan betapa sulitnya mengenali perubahan yang sedang berlangsung di tengah zaman kita sendiri...”
Apakah Anda merasa terharu saat melangkah masuk ke museum itu setelah sekian tahun, sembari menyadari bahwa dengan menambahkan kata “AFTER” di depan judulnya, Anda juga sedang membuka babak baru dalam hidup Anda sendiri?
“Ya, tentu saja! Dan Anda juga merasakan besarnya tanggung jawab itu. Saya telah menerima begitu banyak hal dari perusahaan ini, sama seperti saat saya banyak belajar dari Valentino dan Dior. Anda tidak pernah sendirian dalam hal ini—ada banyak sekali yang Anda terima. Fendi adalah tempat saya mengawali karier, jadi saya juga merasa bertanggung jawab untuk memberikan kontribusi terbaik yang saya mampu. Tentu saja, segalanya kini berbeda dan jauh lebih kompleks; ini bukan lagi bisnis keluarga di mana keputusan bisa diambil hanya dalam waktu lima menit. Saat saya baru memulai dulu, situasinya benar-benar berbeda. Namun, entah bagaimana, hal itu membuat Anda kembali terhubung dengan mereka seperti saat Anda berusia 25 tahun—meskipun usia Anda tak lagi 25 tahun (tertawa, red.)—sebagian karena adanya antusiasme dan keberanian untuk mengambil risiko yang sama, serta dorongan kuat untuk membawa segalanya melangkah maju ke masa depan.”

Terkait dengan couture, apa saja tantangan terbesar dan imbalan tersembunyi di balik karya-karya seni ini?
“Dunia couture merupakan ranah yang sangat kompleks karena pada dasarnya bergantung pada tradisi. Tradisi couture Italia berbeda dengan tradisi Prancis, yang menempuh jalur evolusi yang sama sekali berbeda. Tantangan terbesarnya tak diragukan lagi adalah mempertahankan dan mewariskan savoir-faire—keahlian khusus—di balik teknik-teknik tertentu yang saat ini hanya dapat dilakukan di atelier khusus. Dalam mode readyto-wear, sulit untuk mempertahankan keahlian tangan yang begitu rumit, namun di saat yang sama, ranah ini juga memungkinkan kita untuk bereksperimen dan kelak memanfaatkan hasil eksperimen tersebut dengan cara-cara yang mengejutkan—(sebagai contoh, dalam koleksi yang baru saja ditampilkan, material kulit dianyam untuk menciptakan kembali jubah dedaunan yang luar biasa, red.).
Saya menyebutnya sebagai sebuah ‘wilayah’ karena couture adalah ranah yang sungguh khas: di setiap maison, misalnya, atelier Haute Couture—dan pada umumnya keahlian orang-orang yang bekerja di dalamnya—sering kali mencerminkan jejak sang pendiri. Setelah bertahun-tahun berkecimpung di berbagai rumah mode, saya menyadari bahwa keindahannya terletak pada upaya mempertemukan atelier-atelier yang begitu berbeda dalam sebuah dialog—seperti atelier Haute Couture dengan atelier bulu serta kulit, yang biasanya tidak saling berinteraksi.
Saat ini, mungkin aspek paling menarik dari Haute Couture justru terletak pada hal ini: bereksperimen lintas atelier, memadukan berbagai teknik untuk menciptakan sesuatu yang baru—sesuatu yang benar-benar unik. Ini adalah sebuah proses yang terus berkembang.
Haute Couture bukanlah sesuatu yang sekadar bisa Anda ‘rancang’: segalanya bermula dari sebuah gagasan, dan Anda harus terus menjalin komunikasi dengan pihak atelier di sepanjang prosesnya—untuk setiap detail, setiap nuansa, dan setiap tahapan—karena setiap meja kerja merupakan tempat sebuah proyek dikembangkan. Ini benar-benar kerja tim. Anda membutuhkan ikatan personal dengan pihak atelier, dengan para première (kepala penjahit yang memimpin setiap tim, red.), serta dengan orang-orang yang mewujudkan busana tersebut selangkah demi selangkah. Tidak ada unsur mekanis dalam prosesnya; semuanya benar-benar dikerjakan dengan tangan. Sesungguhnya, itulah sisi indah dari dunia ini: sifatnya yang sangat mengedepankan keahlian tangan atau seni kriya (ia mengatakannya dengan tenang namun tegas, tampak jelas menikmati pelafalan kata-kata terakhir tersebut, red.).”
Anda dikenal sebagai sosok yang memahami kebutuhan perempuan, serta mampu memadukan keinginan untuk memiliki busana yang tak lekang oleh waktu dengan kenyamanan bagi pemakainya. Bagaimana Anda mewujudkannya?
“Menurut saya, ini bukan soal mode, melainkan tentang gagasan mengenai pakaian sebagai sebuah ruang untuk berdiam. Pada akhirnya, pakaian adalah rumah bagi tubuh Anda—bagaimana Anda ingin menjalani hidup di dalamnya? Sebagai contoh, saya tidak akan pernah menempatkan sofa baja di rumah saya sendiri, ataupun di rumah orang lain. Bagaimana Anda ingin melangkah menjalani hidup? Hal ini tidak hanya berlaku bagi perempuan, tetapi juga bagi semua orang—termasuk laki-laki dan anak-anak. Bagaimana Anda ingin menampilkan diri? Saya rasa orang ingin merasa nyaman dan tenteram; mereka ingin menyukai diri sendiri sekaligus disukai orang lain. Tentu saja, jika Anda menginginkan sofa baja, silakan saja—itu pilihan Anda! Namun, ada satu hal yang menurut saya benar-benar esensial: bagaimana Anda ingin menjalani hidup dan bagaimana Anda menyikapi kehidupan. Hal itu tecermin pula dalam pakaian yang Anda kenakan.”

Kapan Anda memutuskan bahwa mode akan menjadi bahasa Anda?
“Tidak, saya tidak pernah benar-benar memutuskan apa pun! Saya adalah tipe orang yang tidak terlalu suka membuat keputusan—saya tidak pernah menyusun rencana hidup, kecuali untuk proyek-proyek jangka pendek seperti peragaan busana—atau hal-hal yang memang harus saya lakukan. Saat mengawali karier, saya bahkan tidak sepenuhnya paham apa artinya; kita bicara soal era yang berbeda. Saya ingin masuk sekolah seni karena gemar menggambar, tetapi malah diarahkan ke SMA dengan jurusan sains. Kemudian, saya harus menempuh pendidikan mode—yang melibatkan pekerjaan desain—namun saya juga diharuskan kuliah, karena bidang tersebut saat itu belum dianggap sebagai ‘pekerjaan’ sungguhan... segalanya masih dalam tahap pembentukan. Saya beruntung menjadi bagian dari generasi yang tidak terbebani oleh perencanaan masa depan yang ketat seperti sekarang; itu adalah era di mana segala kemungkinan bisa terjadi. Situasinya berbeda sekarang: terkadang saya merasa iba pada anak muda yang harus menentukan jalan hidup yang pasti bahkan sejak memilih sekolah atau universitas. Dulu, kami hanya mencoba-coba berbagai hal: segalanya terasa lebih ringan, pandangan terhadap masa depan pun berbeda, dan kami tidak berpikir soal membangun karier langkah demi langkah—semuanya mengalir begitu saja. Tentu saja, ada juga tuntutan praktis: Anda ingin mencari pekerjaan agar bisa hidup mandiri, dan Anda bisa mengambil berbagai jenis pekerjaan untuk mewujudkannya. Saat itu lebih merupakan pencarian jati diri, tanpa gambaran masa depan yang terlalu kaku atau pasti. Jangan lupa satu hal yang menurut saya krusial: dulu tidak ada banjir informasi seperti sekarang, jadi Anda benar-benar bebas membayangkan diri Anda menjalani berbagai peran yang berbeda.”
Anda berkecimpung di dunia mode pada saat industri ini menghadapi tantangan dari berbagai sisi, dan di mana keseimbangan dalam diri Anda antara sikap membumi dan kemampuan untuk bermimpi terasa begitu nyata.
“Menurut saya, hal itu benar-benar menjadi bagian dari hidup saya: Anda bisa membayangkan diri Anda seperti apa pun yang Anda inginkan, namun Anda juga harus tetap berpijak pada kenyataan dan yakin bahwa Anda benar-benar mampu mewujudkannya. Saat saya baru memulai, tidak ada batasan dalam membayangkan diri sendiri, tetapi saya harus mencari cara untuk menyelaraskan kedua hal itu dan memastikan saya mampu membiayainya. Ketika saya memutuskan untuk hidup mandiri, saya berkata pada diri sendiri, ‘oke, tapi kamu harus membiayai hidupmu sendiri’—sangat sederhana, sebuah pemikiran mendasar; Anda meyakinkan diri sendiri bahwa ‘kita pasti akan menemukan jalan’, lalu Anda mulai melangkah dengan memanfaatkan peluang apa pun yang ada. Karya desain pertama saya adalah sepatu laki-laki; seandainya saat itu saya diminta merancang kursi, saya pasti akan merancang kursi! Begitulah sisi praktis saya bekerja, karena saya ingin bisa membayar sewa tempat tinggal dan hidup mandiri. Ada nuansa petualangan dalam pengalaman itu—berbagi apartemen, berbagi segalanya—sekaligus ada sisi naif dalam diri saya saat menjalaninya. Praktis sekaligus naif.”
Adakah suatu objek atau pakaian yang Anda rancang, yang membuat Anda berpikir, “Inilah saya, inilah jati diri saya”?
“Tergantung pada periode yang berbeda. Tapi ya, ada beberapa yang sangat saya sukai, karena berbagai alasan. Ya, ada beberapa...”
Anda menyebutkan soal keberanian terkait penyelenggaraan kembali pameran tersebut.
“Jika ditengok kembali saat ini, pameran tersebut merupakan sebuah langkah yang sangat berani pada zamannya. Sungguh menarik membaca ulang artikel-artikel dari masa itu—termasuk suara-suara dan nama penulis yang mengulasnya—di tengah serangan politik dan skandal nyata yang dipicu oleh pameran semacam itu.”
Kini, saat dihadapkan pada pameran semacam ini, tahukah kita cara untuk menjadi lebih berani, siap, dan bernyali?
“Menurut saya—dan saya sampaikan ini secara khusus terkait Italia—masih belum ada kesadaran penuh mengenai betapa besarnya peran mode sebagai bagian dari sistem budaya Italia. Mode sering kali hanya dikaitkan dengan merek; dalam tradisi Italia, tidak ada kajian mengenai mode sebagai sebuah disiplin budaya tersendiri—berbeda dengan di Inggris, di mana pusat-pusat budaya seperti Victoria and Albert Museum turut mengangkatnya, atau di Prancis, yang memiliki institusi pendukung seperti Palais Galliera. Saya sangat merasakan hal ini selama sepuluh tahun tinggal di Paris: di sana, mode adalah bagian dari sistem budaya dan mendapat perhatian besar, terlepas dari ada atau tidaknya merek tertentu di baliknya. Di Italia, mode masih dipandang sebagai salah satu seni kelas dua atau sekadar aktivitas desain yang bersifat kewirausahaan—peran kuncinya sebagai bagian dari keahlian khas nasional kita pun belum sepenuhnya diakui. Hal ini sungguh mengherankan mengingat banyaknya perusahaan yang ada, serta keragaman keahlian kriya dan keaslian yang dimiliki oleh setiap wilayah. Italia sungguh luar biasa dan memiliki tradisi seni yang kuat, namun tradisi-tradisi tersebut masih lebih sering diperlakukan sebagai sekadar kebiasaan turun-temurun, bukan sebagai bagian dari esensi budaya negara kita.”
Bagaimana Anda memuaskan rasa ingin tahu Anda yang tak terbendung ini?
“Roma juga tempat yang luar biasa untuk hal ini: ada begitu banyak orang menarik yang berwawasan luas, termasuk banyak teman. Saya memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar dan sering kali terlalu antusias membahas topik-topik tertentu; saya akan mendalaminya lalu belajar, belajar, dan terus belajar…. Ada jalinan interaksi yang sangat aktif dengan orang-orang yang memiliki minat serupa—mereka juga gemar menjelajahi kota, mengamati keadaan, dan terus belajar. Selain itu, menurut saya cerita pada umumnya sungguh memikat, bukan? Segala jenis cerita. Baru-baru ini saya berkunjung ke Tiongkok, dan orang-orang terdekat masih sering menggoda saya karena sejak saat itu saya melahap segala bacaan yang bisa saya dapatkan—saya pulang dengan perasaan sangat antusias; meskipun sebelumnya sudah beberapa kali ke sana, perjalanan kali ini terasa sangat menginspirasi berkat kehadiran seseorang yang juga sangat memancing daya pikir. Saya bahkan tidak ingat sudah berapa banyak buku yang saya baca sejak saat itu! Tidak ada yang bisa menandingi cerita yang bagus: karena tidak ada gambar visual yang tersaji, Anda harus membayangkannya sendiri. Tidak ada hal lain yang memberikan kebebasan berimajinasi sebesar tulisan.”
Pernahkah Anda meluangkan waktu untuk merasa bosan?
“Terus terang, saya benar-benar tidak tahu apa itu rasa bosan... saya tidak pernah merasa bosan. Itu memang bukan sifat saya—sebentar, saya coba ingat-ingat... (ia terdiam sejenak, red.). Ah, saya menemukannya! Memang ada orang-orang yang membuat saya bosan. Tapi kalau mereka membosankan, saya tinggal memikirkan hal lain saja. Anda tahu kan tipe orang seperti itu—orang yang menganggap diri mereka terlalu serius? Orang yang terlalu percaya diri secara berlebihan... tapi harus saya akui, belakangan ini mereka justru agak menghibur saya, karena faktor usia telah memberikan saya ketenangan hati yang luar biasa. Tahu tidak? Sekarang, bagi saya, sebagian dari mereka itu sangat jenaka. Hal itu malah jadi semacam hiburan tersendiri.”
Siapa yang paling banyak mengubah dan memengaruhi cara Anda memandang dunia?
“Putri saya Rachele (yang duduk di sampingnya, red.), tak diragukan lagi. Begitu pula putra saya.”
Musik latar, detail pengaturan tempat duduk, transisi dari kegelapan menuju cahaya: peragaan busana adalah momen yang intim meskipun dialami secara kolektif. Bagaimana Anda menciptakan momen-momen tersebut?
“Para hadirin dalam pertunjukan tersebut merupakan bagian darinya—mereka yang hadir pada momen-momen itu bukanlah sekadar penonton, melainkan bagian dari pertunjukan itu sendiri; suasananya menyerupai teater (pada tahun 2020, Chiuri membeli dan membuka kembali Teatro della Cometa yang bersejarah di Roma, red.). Pada saat-saat itu, kita semua berbagi energi istimewa yang menyebar ke seluruh ruangan.”
Haruskah hasrat-hasrat terindah melewati suatu bentuk rasa sakit?
“Saya perlu memikirkan hal itu... karena ya, hasrat itu entah bagaimana berkaitan dengan penderitaan; jarang sekali hasrat semata-mata berkaitan dengan kebahagiaan. Secara pribadi, saat ini, tujuan saya adalah mulai memiliki hasrat kembali lewat cara yang sehat—bukan hasrat akan mode, melainkan sekadar hasrat untuk hidup sejahtera.”