Perempuan dan Mode di Mata Yohji Yamamoto

Meski terlahir sebagai seorang lelaki, ia mampu melihat dunia melalui kacamata seorang perempuan. Inilah cara pandang desainer Yohji Yamamoto.

Tak seperti desainer-desainer pada umumnya yang beraspirasi untuk mempersembahkan pakaian sesuai tren; musim demi musim, Yohji Yamamoto menemukan panggilannya sebagai seorang desainer dengan mengembalikan fungsi paling utama sebuah pakaian. Titik mula karier Yamamoto diawali dengan keinginannya untuk melindungi tubuh manusia. Sejak awal kariernya, ia setia ‘menyembunyikan’ tubuh perempuan dari sesuatu—bisa jadi dari pandangan para lelaki atau mungkin sekadar terpaan angin yang dingin.

Yohji Yamamoto mengamati seorang model yang memperagakan salah satu kreasinya.

                  Ketika ia mulai merancang pakaian untuk lini Y’s di tahun 1977, ia menginginkan perempuan untuk mengenakan busana laki-laki. Ia terpikir untuk melindungi dan menyembunyikan perempuan dalam balutan mantel laki-laki. Baginya, seorang perempuan yang tenggelam dalam pekerjaan—tak memedulikan apakah ia mendapatkan perhatian seseorang atau tidak, kuat dan subtle pada waktu yang sama—tampil lebih seduktif. Semakin ia menyembunyikan dan menelantarkan sisi femininnya, semakin muncul pula pesona tersebut dari hatinya yang terdalam. Bagi Yamamoto, sepotong celana panjang katun bisa jadi lebih indah dari secarik gaun sutra.

Suasana balik panggung show Fall/Winter 2015 Yohji Yamamoto.

                  Visi ini memantulkan dengan jelas ide Yamamoto akan bagaimana seorang perempuan seharusnya berpakaian dan membawa dirinya pasca perang. Yamamoto menawarkan ‘baju zirah maskulin’ untuk para perempuan saat itu. Alih-alih menyalin motif bebungaan ala Eropa yang merefleksikan masa depan cerah penuh pengharapan seperti yang dibuat sang ibu, rancangan monokromatis Yamamoto menceritakan kisah anak-anak yang dipaksa melihat peran ibu mereka berubah dari seorang pengasuh menjadi seorang disipliner. Warna hitam begitu sinonim dengan nama Yohji Yamamoto. Di saat para kritikus dan jurnalis mode mempertanyakan mengapa ia terus menciptakan pakaian-pakaian ‘kotor’, Yamamoto menganggap karya-karyanya indah apabila disandingkan dengan garmen-garmen bergaya modis para desainer ternama saat itu. “Dirty is good,” ungkap Yamamoto.

THE COLOUR OF WAR (Halaman 3)

Segelap warna hitam yang kerap mewarnai rancangan-rancangannya, persona Yohji Yamamoto yang kita kenal saat ini sedikit-banyak terbentuk dari tragedi personal yang ia alami semasa belia. Yamamoto terlahir sebagai anak semata wayang orangtuanya pada tahun 1943 di distrik Shinjuku, Tokyo. Terlahir di tengah peristiwa Perang Dunia II, Yamamoto kehilangan sang ayah, Fumio, dalam sebuah perang melawan sekutu. Walau tubuhnya tak pernah ditemukan, Yamamoto ingat bahwa sang ibu, Fumi, menghelat sebuah pemakaman, tak lama setelah Yamamoto menginjak usia sekolah dasar. Liang kubur yang kosong hanya diisi dengan kamera Leica kesayangan sang ayah.

Yohji Yamamoto di balik panggung show Fall/Winter 2016.
Photography by Elise Toïdé

                  Di usia beranjak empat tahun, Yamamoto sudah memiliki pemahaman bahwa hidup sangatlah sulit. “Saya harus berjuang. Saya harus melindungi ibu saya,” ujar Yamamoto dalam sebuah wawancara. Sepeninggal sang suami, ibu Yamamoto belajar menjahit di Bunka Fashion College, sekolah mode pencetak desainer-desainer seperti Junya Watanabe, Kenzo Takada, Jun Takahashi, dan Nigo (Bathing Ape); lalu membuka sebuah tempat jahit di area red light district, Kabukicho, Tokyo, untuk menyambung hidup mereka. Tumbuh besar seusai Perang Dunia II sebagai putra satu-satunya seorang janda perang, mendorong Yamamoto untuk melihat dunia melalui kacamata sang ibu. Ia percaya bahwa melihat dunia melalui pandangan seorang perempuan merupakan sebuah takdir baginya dan memungkinkan semua hal yang ia lakukan sekarang.

Proses fitting di studio Yohji Yamamoto.

                  Di usia 12 tahun, Yamamoto pindah sekolah ke sebuah sekolah Katolik Prancis ternama, Ecole de L’Etoile du Matin (School of the Morning Star). Di sekolah prestisius inilah, Yamamoto bertemu dengan partner bisnis masa depannya, Goi Hayashi. Konon, pertemuan pertama antara Yamamoto dan Hayashi terjadi ketika Hayashi melempar sebuah batu pada Yamamoto.

Yohji Yamamoto di balik panggung show Fall/Winter 2020.
Photography by Elise Toïdé

                  Pada tahun 1966, Yamamoto lulus dari Keio University dengan mengantongi gelar hukum. Alih-alih mengejar karier sebagai seorang pengacara, Yamamoto memutuskan untuk mengikuti jejak sang ibu, sebuah keputusan yang awalnya membuat sang ibu marah besar. Lambat laun, ibu Yamamoto mengizinkan Yamamoto untuk bekerja di tokonya. Ia juga ‘memaksa’ Yamamoto untuk belajar menjahit di Bunka Fashion College. Tamat dari Bunka, Yamamoto memenangkan sebuah hadiah untuk pergi ke Paris selama setahun penuh. Pengalaman ini menjadi kekecewaan pertama Yamamoto di dunia mode. Ia gagal merayu majalah-majalah setempat untuk meliput karyanya. Kecewa, ia hijrah kembali ke Tokyo.

MASCULINE ARMOR (Halaman 4)

Kembali ke Jepang, Yamamoto mulai menemukan suara khasnya sebagai seorang desainer. Di sela kesehariannya membantu sang ibu di toko—melakukan fitting pada tubuh klien, berlutut dan memperbaiki panjang hem—Yamamoto menyadari ketidaksukaannya pada busana-busana feminin nan seksi yang mengeksploitasi tubuh perempuan. Ketidaksukaannya semakin bertambah mengingat fakta bahwa toko sang ibu berada di area Kabukicho, Shinjuku, sebuah area yang sesak dipenuhi perempuan-perempuan yang pagi-malam bekerja untuk merangsang fantasi laki-laki. Gambaran ini sedikit banyak membentuk impresi kaum hawa Yamamoto sejak kecil. Ia pun bertekad untuk tidak pernah mendandani perempuan cute bak boneka yang begitu dielu-elukan para lelaki. Sebaliknya, ia ingin membuat busana maskulin untuk melindungi perempuan.

                  Yamamoto kemudian mendirikan perusahaan ready-to-wear miliknya sendiri yang lambat laun digandrungi para buyer dari kota-kota besar di Jepang. Kesuksesan konstan ini memunculkan pemikiran Yamamoto untuk kembali ke Paris. Pada awal tahun ’80-an, Yamamoto kembali ke ibukota Prancis, dan membuka toko pertamanya bertepatan dengan hari gelaran show pertama rekan desainer Jepang sejawatnya, Rei Kawakubo. Ketiganya, bersama Issey Miyake, membuat geram para kritikus mode yang saat itu hanya terbiasa pada busana-busana ‘normal’ seperti Thierry Mugler dan Claude Montana. Estetika yang diterapkan trio avant gardist ini cenderung jauh dari definisi indah kebanyakan orang. Walau banyak media mencaci Yamamoto dan menganjurkan dirinya untuk kembali ke Jepang, tak sedikit pula para buyer pemburu kebaruan, mengagumi kreasi ciptaannya.

                  Sejak saat itu, Yamamoto memiliki sejumlah pengikut setia yang menggemari karya-karyanya. Kedua lini utamanya, Yohji Yamamoto dan Y’s, tersedia di department store dan pusat perbelanjaan high-end dunia. Per tahun 1982, Yamamoto telah mengumpulkan pendapatan sebesar 15 juta dolar Amerika per tahun. Kesuksesan menghampiri Yamamoto walau ia lebih senang menyebutnya semata-mata sebagai sebuah keberuntungan. “Saya sangatlah beruntung. Orang-orang tengah menanti angin baru berhembus. Ada terlalu banyak orang fashionable yang sudah lelah dengan mode stereotip, warna-warni, dan girlish; mereka tengah menanti sesuatu dan semuanya terjadi seperti ini,” ujar Yamamoto dengan penuh rendah hati.

                  Pada tahun 2003, Yamamoto menjadi pionir dalam sebuah pergerakan industri modern—kolaborasi antara lini fashion dan olahraga—ketika ia meluncurkan koleksi kolaborasi khususnya dengan Adidas, Y-3. Lini Y-3 mempersembahkan kebaruan yang belum pernah ada sebelumnya, dimana sebuah sinergi antara high fashion dan high tech bertemu; sportswear diimbuhkan siluet khas Yamamoto yang berakar pada teknik tailoring. Untuk menjelaskan misi ini, Yamamoto menggunakan analogi layaknya pada manusia. “Ketika manusia dengan darah yang berbeda jauh menikah, sang bayi akan mewarisi bagian-bagian terbaik kedua orangtuanya,” ujarnya, “Kami melakukan sesuatu seperti itu, suatu hybrid.” Lini yang ditujukan untuk mass-market ini pun mengecap kesuksesan, terutama produk alas kakinya yang begitu didambakan para sneakerhead dunia.

                  Kesuksesan yang menghampiri Yamamoto bukan berarti perjalanan kariernya selalu mulus. Badai menerpa Yamamoto di tahun 2009 ketika perusahaannya terbelit hutang sebesar 65 juta dollar Amerika dan dengan terpaksa harus mengajukan pailit. Yamamoto yang marah pada situasi tersebut, hampir mengakhiri kariernya di industri mode untuk selamanya. Sang putri, Limi Feu, menurut Yamamoto, menjadi orang yang membuatnya kembali bangkit. Limi Feu mengingatkannya untuk mempertimbangkan karyawan dan pekerja yang menggantungkan hidup mereka pada label Yamamoto. “Ketika saya memikirkan mereka, saya harus memulai lagi. Saat itu merupakan momen yang sangat sulit,” akunya. “Tetapi saat saya memutuskan untuk melakukannya lagi, saya merasa kekuatan saya menjadi dua kali lipat.” Beruntung, sebuah private equity firm, Integral Corp, mengulurkan tangannya untuk merestruktur perusahaan Yohji Yamamoto Inc. Pada bulan November 2010, perusahaan ini dinyatakan sudah lepas dari segala belitan hutang.

Yohji Yamamoto di balik panggung helatan show Spring/Summer 2020.
Photography by Elise Toïdé

                  Hingga saat ini, Yamamoto tidak berencana untuk  pensiun dalam waktu dekat. Selain dirasa membosankan, ia mengaku sulit membayangkan labelnya tanpa kehadiran dirinya. Ia masih bahagia melakukan segala hal yang saat ini ia lakukan, baik melindungi perempuan dari tatapan-tatapan yang tak diinginkan, ataupun melawan status quo lewat tiap gebrakan visionernya. “Saya rasa Yohji Yamamoto akan mati dengan Yohji Yamamoto.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.