Visi Virginie Viard Untuk Koleksi Ready-To-Wear Chanel Fall Winter 2020

Simak rangkuman fashion show terbaru Chanel, digerakkan oleh armada perempuan muda modern, terinspirasi oleh masa muda Karl Lagerfeld di tahun ’80an.

Peragaan busana koleksi musim gugur/dingin 2020 dari rumah mode Chanel dibuka oleh dua wajah muda yang melintas setting minimalis yang seolah diselimuti kabut pagi di panggung utama Grand Palais. Setelan tweed berwarna hijau cerah yang diimbangi oleh jaket tweed hitam merupakan dua tampilan pertama yang bersematkan petunjuk dari koleksi terbaru Virginie Viard. Terinspirasi dari foto-foto lama gaya sang ikon Karl Lagerfeld, ia mengolah ulang trend dari tahun ’80an.

Elemen ready-to-wear seperti patch pockets dan kancing metalik terus bermunculan, layaknya seragam khusus untuk perempuan Chanel. Belahan di samping celana dan rok merupakan sebuah liberasi  berbusana dalam kehidupan aktif seorang perempuan. Liontin salib bertatahkan mutiara dan kristal warna-warni terlihat memeluk bagian atas jaket-jaket legendaris Chanel yang tak berkerah. Virginie Viard tidak enggan mengakui bahwa aksen religius ini, yang ia olah menjadi motif sweter rajutan intarsia, adalah buah kekagumannya akan jaket ikonik Christian Lacroix dari tahun 1988.

Aksen playful merupakan sorotan utama bagi para fanatik Chanel di pagi hari itu. Dimulai dari motif arsir kuda Pegasus berhiaskan bahan tulle, aksesori kotak airpods merah jambu berbahan tweed, hingga legging dengan embroidery logo Chanel merupakan hasil arahaneksepsional dari Virginie Viard. Kunci utama yang menyatukan semua gaya tersebut ialah sepasang sepati bot berkuda dengan lapisan kulit berwarna karamel dan hitam vinyl yang dikenakan setiap model. Konsistensi ini pun juga didukung oleh adanya sistem kancing pada setiap jaket dan celana.

Tema activewear pun berlanjut dengan adanya busana-busana malam berupa mantel panjang dalam warna monokromatik berbahan wol dan tweed yang membalut siluet para model. Tidak hanya itu, kali ini model plus-size Vivienne Rohtner dan Jill Kortleve pun ikut serta menjadi bagian dalam pasukan free women tersebut, membuat koleksi Chanel ini lebih relevan. Virginie Viard, seolah perlahan keluar dari bayang-bayang sang mentor, memperkenalkan infusi busana maskulin dalam lini eveningwear tersebut. Jaket-jaket mulai memiliki postur tegap dan kaku, kemeja putih yang memperlihatkan bagian perut perlahan memanjang dan mengambil wujud asli kemeja putih tradisional laki-laki bermahkota kerah hitam, berlengankan bulu burung unta, dan berhiaskan tumpukan rumbai berbahan tulle.

Untuk mengakhiri barisan 72 busana Chanel tersebut, Gigi Hadid menggandeng Mona Tougaard dan Hun Ji Shin, mengenakan 3 busana tweed yang kembar namun tak sama. Atasan bertemakan athleisure di padukan dengan jaket panjang berkerah lebar dan celana pendek high-waist berbentuk boxer brief. Untaian rantai emas khas Chanel pun ikut melengkapi tiga look tersebut; sebuah hommage implisit untuk Karl Lagerfeld.

Text: I Putu Kresnanda Hrisikesa, Shamira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.