LIFE

15 Agustus 2019

Luna Maya: Mencintai Adalah Jalan Menghargai Diri Sendiri


Luna Maya: Mencintai Adalah Jalan Menghargai Diri Sendiri

Perlu film horor populer, piala penghargaan, dan patah hati... tapi Luna Maya telah menemukan kembali suaranya di dalam diri.

Dibalut t-shirt berlapis jubah mandi, Luna Maya menyambut saya di kediamannya pada sore hari di bulan Mei 2019. “Terima kasih sudah bersedia datang di hari Sabtu. Maaf rumahnya sangat berantakan,” sapanya ramah. Saya selalu memandang Luna sebagai pribadi yang apa adanya.

Waktu sesi pemotretan bersama tim ELLE, ia datang dengan wajah tanpa makeup serta hanya mengenakan celana jeans belel dan atasan kaus. Sangat kasual. Pembawaannya luwes. Sepanjang pemotretan, ia menarikan apa pun lagu yang diputar sang fotografer sebagai posenya.

Satu kali ia minta diiringi musik bertempo cepat. Tangannya bertumpu pada dinding dengan satu kaki diangkat ke udara, dan ia berputar serupa balerina. Ia sempat terpeleset dalam gaun ruffle panjang. Alih-alih istirahat, ia hanya menertawai diri sebelum kemudian lanjut dansa. Ia sedang bersenang-senang mengikuti irama, bergerak bebas tanpa arahan atau peduli siapa yang melihat.

luna maya interview elle indonesia agustus 2019 - raja siregar - ismelya muntu
Busana: knitwear (DIOR), rok tule (HIAN TJEN), sepatu bot (THANG SHOES).

Realitas jiwa itu kembali tampak. Kehadiran saya tidak lantas membuatnya sengaja menyerasikan busana agar terlihat paripurna. Aktris kelahiran Bali 1983 tersebut baru kembali dari Los Angeles, Amerika Serikat, beberapa hari lalu. Ia sedang bersantai menikmati akhir pekan yang nyaman di rumah. Seperti orang pada umumnya, Luna tidak perlu berbusana rapih terlebih memulas riasan. Saya pun tidak mengharapkan, apalagi keberatan. Malahan timbul kesenangan tersendiri karena merasa seperti mengunjungi teman

Kami duduk di teras belakang di kelilingi tumbuhan hijau. Bagian dalam rumah tengah direnovasi, seluruh perabotnya tertutup plastik. Ia bukan baru pindah, kediaman ini sudah cukup lama ia tinggali. “Saya ingin suasana baru,” kata Luna saat saya membuka obrolan.

Belakangan, namanya rajin muncul sebagai tajuk utama. Jika mengetik ‘Luna Maya’ di mesin pencari web—seperti yang saya lakukan di perjalanan menemuinya—Anda bakal disuguhkan rangkaian headline dengan judul beragam. Luna mengaku tak lagi sering membaca pemberitaannya kecuali seseorang mengirimkan tautan. Jika kabar yang disampaikan bagus, ia senang. Tak jarang juga ia tergelak saat membaca ulasan ‘ajaib’ tentangnya.

luna maya interview elle indonesia agustus 2019 - raja siregar - ismelya muntu
Busana: gaun (DIOR), sarung tangan(RINALDY YUNARDI)

“Kalau dulu, saya bisa marah. Sebab ketika Anda muda, apa yang benar ya benar, dan salah berarti salah. Saat ditukar, saya merasa tidak diperlakukan adil.” Luna tak segan mengonfrontasi orang-orang yang bicara bertentangan dengan kebenaran. Ada masa di mana ia bisa membalas satu per satu penghuni Twitter yang mengirim tweet kepadanya. Menurutnya, saat itu, menghadapi langsung adalah cara terbaik memperbaiki masalah.

Tetapi prinsip semasa muda tersebut tidak lagi ia terapkan sekarang. Ia berusaha untuk lebih tidak peduli dengan berpikiran positif terhadap baik atau tidak pemberitaan yang berbedar. “Artinya sebagai pekerja di industri hiburan, saya masih memiliki daya tarik dan itu bagus.” Walau begitu, ia masih kerap tak paham jika ada orang yang menyebut diri sebagai penggemar Luna Maya.

“Saya enggak pernah percaya ada orang yang segitunya menyukai saya hingga jadi fans. Makanya, apa benar ada orang yang membaca kalau cerita saya jadi berita?” katanya tertawa. Luna pribadi lebih senang jauh dari pusaran perhatian. Jika Anda tak sengaja berpapasan di jalan dan kepalanya tertunduk seolah sibuk dengan ponsel, bukan karena ia menghindar agar tidak perlu meladeni permintaan foto. “Saya malu. Maksud saya, memang apa yang sudah saya lakukan untuk berhak mendapat perhatian begitu berlebihan?” tuturnya.

Seiring waktu, Luna berlapang dada. Pekerjaan yang ia pilih lekat sorotan, dan untuk tidak terlihat dari keramaian bukan opsional. “Pelan-pelan saya menerima semua milik saya, pekerjaan dan segala efeknya, termasuk fakta bahwa saya tenar. Saya harus bersyukur di saat banyak orang ingin berada di posisi saya.”

luna maya interview elle indonesia agustus 2019 - raja siregar - ismelya muntu
Busana: gaun aksen tumpuk (HIAN TJEN)

Salah satu headline menarik tentang Luna di tahun ini, ia terpilih sebagai pemenang pada dua ajang penghargaan film Indonesia. Sebagai Aktris Utama Terpilih di Piala Maya 2018 dan Pemeran Utama Wanita Terfavorit dalam Indonesia Movie Awards 2019. Kedua prestasi tersebut ia raih lewat film Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur yang dirilis November 2018.

Penampilannya memerankan figur Suzzanna, aktris horor legendaris yang merupakan jantung cerita, begitu fenomenal hingga pujian datang tidak hanya dari penonton tapi juga sesama sineas. Saya pun turut mengakui, Luna memang sangat mirip Suzzanna. “Saya bersyukur sekali jika Anda merasa begitu. Terima kasih,” katanya tersipu. Bisa dikatakan, film ini mendongkrak predikatnya sebagai aktris berbakat Indonesia kembali tinggi.

Pamor Luna di ranah sinema Indonesia sempat jatuh tatkala kejadian kurang menguntungkan menimpa dirinya tahun 2010. Saya yakin, Anda belum lupa peristiwa penyebaran video pribadi yang menampilkan sosok-sosok diduga mirip beberapa artis Indonesia. Luna adalah salah satu yang menerima dampaknya. Dari wajah langganan pemeran utama, nominator terbaik Festival Film Indonesia (berkat film Ruang yang rilis 2006) itu hanya dipasang menjadi peran kecil. Sederetan prestasi yang ditoreh sejak awal kemunculan di layar lebar tahun 2004 terbungkam dalam sekejap.

Pemberitaan-pemberitaan terkait persoalan pribadi yang kurang menyenangkan seolah menyerap seluruh narasi kehidupan Luna Maya. Di masa itu, ia sempat hilang dari layar lebar selama tiga tahun. Baru pada 2017, ia kembali terlihat dan tidak tanggung-tanggung dalam empat judul film, salah satunya Filosofi Kopi 2. Tahun ini, ia menegaskan tak pernah kehilangan kredibilitas meski pernah terdorong ke dasar terbawah.

luna maya interview elle indonesia agustus 2019 - raja siregar - ismelya muntu
Busana: gaun (DIOR), headpiece (RINALDY YUNARDI)

Sejalan keberhasilannya kembali merengkuh reputasi berprestasi, ada hal lain terlepas dari genggaman. Semesta seperti selalu punya cara mengingatkan bahwa untuk hidup ideal, neraca perlu imbang. Keunggulan datang satu paket dengan kekalahan. Tiga bulan sebelum film Suzzanna: Beranak Dalam Kubur pecah di pasaran dan mengembalikan nama Luna kian gemilang, kisah cintanya melankolis. Ia harus merelakan seseorang yang telah memenuhi hati selama lima tahun terakhir (Luna dan Reino Barrack mengakhiri hubungan asmara pada 16 Agustus 2018).

Lebih buruk lagi, publik menikmati perkara romansanya selayaknya menonton drama Korea. Terlebih ketika sang mantan telah menjalin hubungan baru dengan orang lain, sementara Luna masih bertahan sendiri. “Saat hubungan terakhir saya selesai, saya merasa butuh waktu untuk sendiri. Saya di tahap hidup tidak lagi mudah mengucap, ‘Hi, I love you. Let’s do this!’. Lalu jika kenyataannya tidak berhasil, ‘I don’t like you anymore, goodbye’,” ujar Luna.

Ia memberi batas minimal satu tahun. “Saya enggak pernah terlibat hubungan singkat. Tapi rasanya hampir enggak ada momen di mana hanya ada saya sendiri. Setiap menjalin hubungan dan selesai, penggantinya cepat datang. Saya sampai di titik merasa kehilangan diri sendiri. Jadi, sekarang tidak ingin buru-buru. Saya pikir, ini proses healing yang bagus untuk memperkuat keteguhan hati.”

Di poin ini, menulis tentang Luna Maya rasanya sulit untuk tidak mengindahkan pesona personalnya. Saya kemudian bertanya tentang perasaannya kehilangan jati diri.

luna maya interview elle indonesia agustus 2019 - raja siregar - ismelya muntu
Busana: blazer dan rok tule (HIAN TJEN), sepatu (THANG SHOES)

“Sebab, ketika Anda terus-menerus bersama seseorang, Anda melupakan berbuat sesuatu hanya untuk diri Anda. Anda ingin menyenangkan orang tersebut. Saat ia memiliki ekspektasi terhadap Anda, sebisa mungkin Anda ingin memenuhinya. Jadi, terkadang, Anda kehilangan diri sendiri pada saat mencoba membahagiakan orang lain,” jawabnya. Intonasi bicaranya tenang. Tidak ada semburat galau, karena sesungguhnya ia telah melanjutkan hidup sepenuhnya.

“Saya sudah move on sejak semua itu berakhir. Kami sudah jalan maju, masing-masing dengan lebih baik. Saya harus menghargai situasi ini. Lagi pula, membicarakan sesuatu yang sifatnya sudah selesai tidak akan mengubah jalan cerita.”

Sayangnya sudut pandang itu tidak berlaku buat sebagian orang, terutama yang tidak benarbenar berada dalam kisahnya. Jika tak ada kabar segar dari tokoh utama, pihak-pihak yang menikmati kerap menciptakan benang merahnya sendiri. “Persepsi orang akan selalu memandang kita secara berbeda-beda. It’s ok. Saat kita di jalur yang benar, menurut kita, orang toh akan melihatnya.”

Luna memilih mengutamakan fokus perhatian. Jika ia tahu kebenarannya dan orang lain tidak, ia akan terus berjalan tanpa merasa perlu mewujudkan pembenaran bagi dunia. Ia akan berani menyatakan diri salah bila ia memang melakukan hal tersebut. “Saya rasa semakin tambah usia, saya semakin dapat mengontrol ego. Semua ini adalah tentang menempatkan diri. Ketika berbuat salah apa itu berarti buruk? Tidak. It’s ok to make mistakes. Memang semua mata akan tertuju pada Anda, karena lebih mudah melihat sesuatu yang jelek. Tapi, bagaimana cara kita mengatasi permasalahan itu yang sebenarnya menunjukkan karakter kita seperti apa.”

luna maya interview elle indonesia agustus 2019 - raja siregar - ismelya muntu

Pengalaman hidup telah menempa Luna untuk melahirkan daya pikir yang jauh lebih matang. Ia punya resep pribadi. “Pertama, coba maafkan diri sendiri dulu. Ini enggak lebih gampang dari memaafkan orang lain. Butuh ikhlas dan penerimaan yang besar.” tuturnya. Kehidupan lajang mengajarkan Luna satu hal penting, yakni tidak lagi menjadi bunglon yang senantiasa berubah rona di mana pun berpijak.

“Dulu, saya cenderung terbawa sifat pasangan. Sekarang hanya ada saya, dan memegang 100% kendali atas diri rasanya sangat. Amat. Menyenangkan. Thank God, hal ini terjadi pada saya walau harus melewati berbagai hal enggak enak,” katanya sambil tertawa. Ia menghela napas, bibirnya melukis senyuman. Memberikan waktu untuk diri sendiri adalah keputusan terbaiknya.

“Saya enggak pernah menyangka bahwa mencintai diri sendiri sangat indah. Enggak ada beban sama sekali! Saya bisa beli tiket sekarang lalu pergi ke mana pun tanpa memikirkan siapa yang saya tinggalkan. Saya bebas! Saya sekarang punya waktu untuk bebas.”

Asyik dengan kehidupan sendiri bukan berarti Luna antipati memiliki pasangan. Ia masih optimis akan menemukan sosok pengisi relung hati. “Yes, saya pecaya itu. Tapi sekarang tidak ada prinsip ‘yang penting’; yang penting menikah, yang penting enggak sendiri. Semua ada waktunya,” katanya.

Hari sudah semakin petang, saya pamit seiring asisten Luna datang mengingatkan jadwal berikutnya ia akan merekam video tutorial sebagai konten NAMA Beauty, merek kecantikan yang rencananya diluncurkan bulan Juli 2019. Sebuah kesibukan baru yang digeluti Luna di luar film.

Photo: DOC. ELLE Indonesia; photography RAJA SIREGAR styling ISMELYA MUNTU makeup BUBAH ALFIAN hair ARNOLD